Muhammad Aprizal • Jun 04 2026 • 9 Dilihat

Generasi Z tumbuh sebagai generasi paling terhubung secara digital dalam sejarah, namun justru menghadapi krisis empati yang serius. Data Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat bahwa 1 dari 3 mahasiswa Indonesia mengalami gejala kecemasan sosial, sebagian besar dipicu oleh lingkungan pergaulan yang kompetitif dan tidak suportif. Sementara itu, laporan KPAI (2022) menunjukkan peningkatan kasus cyberbullying sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya mayoritas dilakukan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa.
Paradoks ini nyata: semakin mudah kita terhubung secara virtual, semakin sulit kita merasakan apa yang orang lain rasakan secara nyata. Nilai-nilai kemanusiaan kasih sayang, toleransi, keadilan, dan tolong-menolong yang menjadi fondasi peradaban, perlahan tergerus oleh budaya serba instan dan individualistis. Artikel ini membahas bagaimana nilai-nilai tersebut perlu diinternalisasi secara aktif oleh generasi muda.
Nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam bukan sekadar konsep normatif, melainkan panduan praktis yang mendesak untuk diterapkan oleh generasi Z di tengah derasnya arus digitalisasi. Tekanan akademis dan godaan dunia digital tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan kepedulian terhadap sesama. Justru di sinilah agama hadir sebagai kompas moral yang membantu kita tetap manusiawi di tengah dunia yang semakin transaksional dan mekanis.
Konsumsi media sosial berlebihan melahirkan desensitisasi kondisi di mana seseorang menjadi kebal terhadap penderitaan orang lain karena terlalu sering melihatnya hanya sebagai konten di layar. Riset dalam jurnal Computers in Human Behavior (Twenge, 2019) menemukan bahwa mahasiswa yang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial memiliki skor empati 20% lebih rendah. Padahal, dalam Islam, empati adalah syarat keimanan. Rasulullah SAW bersabda:
โTidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.โ (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kasih sayang dalam Islam bersifat aktif dan transformatif tidak cukup hanya merasa kasihan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Algoritma media sosial menjebak kita dalam echo chamber yang melahirkan intoleransi. Di sinilah Al-Qur’an hadir dengan solusi yang jauh melampaui zamannya. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 135:
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐููู ุขู ููููุง ููููููุง ูููููุงู ูููู ุจูุงููููุณูุทู ุดูููุฏูุงุกู ูููููู ูููููู ุนูููููฐ ุฃููููุณูููู ู ุฃููู ุงููููุงูุฏููููู ููุงููุฃูููุฑูุจูููู
โWahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu…โ (QS. An-Nisa: 135)
Keadilan dalam ayat ini bukan sekadar konsep abstrak ia berarti berani bersikap objektif bahkan ketika kebenaran itu merugikan diri sendiri. Dalam konteks kampus, ini berarti tidak pilih kasih dalam kerja kelompok, tidak ikut-ikutan men-judge teman yang berbeda pandangan, dan berani bersuara ketika ada yang tidak beres.
Allah SWT memerintahkan tolong-menolong secara langsung dalam QS. Al-Maโidah: 2:
ููุชูุนูุงูููููุง ุนูููู ุงููุจูุฑูู ููุงูุชููููููููฐ ููููุง ุชูุนูุงูููููุง ุนูููู ุงููุฅูุซูู ู ููุงููุนูุฏูููุงูู
โ…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…โ (QS. Al-Maโidah: 2)
Secara empiris, riset dari Harvard (Fowler & Christakis, 2010) membuktikan bahwa satu tindakan kebaikan dapat menginspirasi hingga tiga orang lain untuk ikut berbuat baik dalam lingkaran sosial yang sama. Tolong-menolong tidak harus heroik: membantu teman yang ketinggalan materi, mendengarkan tanpa menghakimi, atau sekadar tidak menyebarkan gosip semuanya adalah wujud nyata nilai ini. Allah juga menegaskan pentingnya perdamaian aktif dalam QS. Al-Anfal: 61:
ููุฅูู ุฌูููุญููุง ูููุณููููู ู ููุงุฌูููุญู ููููุง ููุชูููููููู ุนูููู ุงูููููู
โDan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah…โ (QS. Al-Anfal: 61)
Menginternalisasi nilai kemanusiaan membutuhkan kolaborasi dari tiga lapisan sekaligus.
Pertama, dari sisi individu. Nilai-nilai kemanusiaan harus terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari, bukan sekadar hafalan teori. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Qashash: 77:
ููุฃูุญูุณูู ููู ูุง ุฃูุญูุณููู ุงูููููู ุฅููููููู ููููุง ุชูุจูุบู ุงููููุณูุงุฏู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ุฅูููู ุงูููููู ููุง ููุญูุจูู ุงููู ูููุณูุฏูููู
โ…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi…โ (QS. Al-Qashash: 77)
Kedua, dari sisi lingkungan pergaulan. Kampus yang multikultural menuntut kedewasaan bersikap. Keadilan dan toleransi menjadi perekat sosial yang mencegah diskriminasi dan pengucilan. Ketika ada teman yang terpinggirkan, individu yang sudah menginternalisasi nilai ini tidak akan diam ia akan menjadi jembatan, bukan tembok.
Ketiga, dari sisi institusi pendidikan. Perguruan tinggi perlu menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian integral dari budaya kampus, bukan sekadar mata kuliah agama yang dilewati dengan hafalan ujian. Penghargaan nyata bagi mahasiswa yang berkontribusi sosial tidak hanya berprestasi akademis akan mengirim pesan yang jelas: menjadi manusiawi adalah standar, bukan bonus.
Berdasarkan analisis di atas, berikut rekomendasi konkret yang dapat diterapkan secara langsung.
Mahasiswa dapat menjalankan tantangan 21 Hari Empati Aktif kebiasaan kecil yang terukur setiap hari: satu sapaan bermakna kepada teman yang tampak kesulitan, satu tindakan nyata menolong tanpa diminta, atau sekadar mematikan HP saat berbicara langsung dengan orang lain. Riset Lally et al. (2010) menunjukkan bahwa 21 hari cukup untuk membangun momentum awal sebuah kebiasaan baru.
Bukan menghindari dunia digital, melainkan menggunakannya secara lebih intentional: membatasi waktu scroll harian, mengikuti konten yang membangun empati, dan menetapkan zona bebas HP saat berinteraksi langsung. UKM dan BEM dapat memfasilitasi workshop Digital Mindfulness yang sudah terbukti efektif di berbagai kampus.
Perguruan tinggi perlu mengembangkan modul Etika Sosial Digital yang terintegrasi dalam mata kuliah wajib membahas secara praktis bagaimana nilai kemanusiaan diterapkan dalam konteks digital, mulai dari cara berkomentar yang konstruktif hingga etika berbagi informasi. Bukan hafalan teori, tetapi latihan berbasis skenario nyata.
Generasi Z menghadapi paradoks terbesar dalam sejarah: paling terhubung secara teknologi, namun paling rentan terhadap isolasi dan kehilangan empati. Nilai-nilai kemanusiaan Islam kasih sayang, toleransi, keadilan, dan tolong-menolong bukan warisan kuno yang ketinggalan zaman; justru di era algoritmik ini, nilai-nilai tersebut menjadi semakin berharga dan semakin mendesak.
Kecerdasan buatan boleh jadi bisa menjawab ribuan pertanyaan teknis dalam satu detik. Tapi ia tidak akan pernah bisa duduk di sebelah temanmu yang sedang berjuang dalam diam, lalu mengulurkan tangan dan bertanya dengan tulus, “Hei, kamu baik-baik saja?” Hanya kamu yang bisa melakukan itu. Dan itulah yang membuat kemanusiaanmu di era digital sekalipun tetap tak tergantikan.
Departemen Agama RI. (2011). Al-Qurโan dan terjemahnya. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.
Fowler, J. H., & Christakis, N. A. (2010). Cooperative behavior cascades in human social networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(12), 5334โ5338.
Irawan, I. K. (2020). Merajut Nilai-Nilai Kemanusiaan Melalui Moderasi Beragama. Prosiding Seminar Nasional Moderasi Beragama STHD, 82โ88.
Islami, N., Fitria, R. N., & Azizah, T. N. (2023). Nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam. Jurnal Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, 1(4), 1038.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Laporan Kesehatan Jiwa Mahasiswa Indonesia 2023. Jakarta: Kemenkes RI.
Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998โ1009.
Safrudin, M., Nasaruddin, N., & Ihwan, I. (2023). Tafsir Ayat-Ayat Kemasyarakatan: Implementasi Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Kehidupan Modern. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 135โ148.
Twenge, J. M. (2019). More time on technology, less happiness? Current Directions in Psychological Science, 28(4), 372โ379.
Kontributor:ย Muhammad Aprizal
Editor:ย Ahmad Fauzi, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...
1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan tertinggi di dunia, ...

1. PENDAHULUAN Setiap tahun menjelang Idul Adha, pertanyaan yang sama selalu muncul di tengah masyarakat: “Kapan sebenarnya niat kurban it...

1. PENDAHULUAN Korupsi sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah paling kompleks di Indonesia. Hampir setiap tahun, bahkan setiap bulan, ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan serius yang masih menjadi tantangan besar dalam tata kelola pemerintahan di berbagai negara, terma...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan sistemik yang paling menghambat pembangunan nasional di Indonesia. Berdasarkan laporan ...

No comments yet.