Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • PANCASILA DI ERA FYP

    Jun 03 202610 Dilihat

    Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa

    PENDAHULUAN

      Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu meja, namun tak ada satu pun yang saling berbicara. Semua sibuk menatap layar gawai, terhanyut dalam lini masa atau For You Page (FYP) masing-masing. Di dunia maya, perdebatan panas tentang hal sepele bisa memicu hujatan kasar dan cyberbullying dalam hitungan detik. Era globalisasi dan modernisasi telah memberikan dampak baik dan buruk atas dasar kebebasan, yang tidak hanya mempengaruhi batas negara tetapi juga memunculkan kesan negatif akibat akulturasi budaya. Fenomena ini menjadi alarm bahwa generasi muda kita mungkin cerdas secara digital, namun mulai kehilangan pedoman.

      Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa. Untuk menyatukan keberagaman tersebut, kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan seluruh rakyat. Di sisi lain, nilai-nilai keagamaan juga menjadi pedoman moral dan etika dalam bersikap dan bertindak. Namun, pertanyaannya kini: ke mana perginya nilai agama dan luhurnya Pancasila ketika kita sedang bebas berselancar di dunia maya?

      PERNYATAAN OPINI / TESIS

        Melemahnya pengamalan nilai-nilai agama dan Pancasila di kalangan anak muda saat ini telah menciptakan generasi yang cakap teknologi namun krisis empati. Pancasila tidak hanya menjadi dasar hukum semata, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan nilai kebangsaan. Oleh karena itu, generasi muda harus kembali menginternalisasi nilai-nilai agama dan sila-sila Pancasila tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital, agar kebebasan berekspresi tidak melewati batas-batas kemanusiaan dan norma agama.

        ARGUMEN ILMIAH

          3.1. Ketuhanan di Balik Akun Anonim

          Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa bangsa Indonesia mengakui dan menghormati keberadaan Tuhan. Sila ini sangat penting karena menjiwai semua sila lainnya dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

          Dalam ajaran pendidikan agama Islam, hal ini selaras dengan QS. Al-Ikhlas 112:1 yang berbunyi:

          ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ูฑู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

          yang artinya: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”.

          Di era digital, kesadaran bahwa kita adalah makhluk Tuhan sering kali memudar ketika seseorang berlindung di balik akun fake atau anonim. Padahal, jika esensi ketuhanan ini benar-benar ada di hati setiap manusia, maka seluruh perbuatannya termasuk saat mengetik komentar di TikTok atau Instagram akan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur dan mengikuti jalan hati nuraninya.

          3.2. Kemanusiaan dan Kasus Cancel Culture

          Sila kedua mengamanatkan tentang kemanusiaan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup secara mandiri, sehingga rasa kemanusiaan harus selalu ada dan muncul dalam setiap masyarakat. Sayangnya, fenomena cancel culture (budaya boikot) yang penuh ujaran kebencian di media sosial sangat bertolak belakang dengan nilai ini. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap adil dan menjunjung rasa hormat. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa 4:135 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadi penegak keadilan dan melarang mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Menerapkan kemanusiaan yang beradab di dunia maya berarti membudayakan sikap 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun) serta saling menghormati.

          3.3. Menjaga Persatuan di Tengah Polarisasi Algoritma

          Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mendorong persatuan bangsa untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka. Sayangnya, algoritma media sosial sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mempertegas perbedaan dan memicu perpecahan. Dalam konsep Islam, terdapat Ukhuwah Insaniyah yang berarti persatuan sesama manusia agar masyarakat hidup harmonis dan terhindar dari perpecahan karena perbedaan agama, suku, ras, dan budaya.

          Hal ini ditegaskan oleh firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat 49:13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Perbedaan di kolom komentar seharusnya menjadi sarana untuk memperluas wawasan, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.

          DISKUSI / IMPLIKASI

            Krisis etika dan karakter di ruang digital bukanlah masalah sepele. Jika dibiarkan, kebebasan berekspresi tanpa batas akan terus menggerus identitas bangsa. Oleh karena itu, perlu ada implikasi nyata dalam keseharian:

            Pertama, generasi muda harus membiasakan budaya tabayyun (klarifikasi) dan musyawarah di dunia maya. Sila keempat mengajarkan penyelesaian masalah melalui permusyawaratan untuk mencapai mufakat. Di media sosial, kita tidak boleh mudah terpancing emosi atau ikut-ikutan menghujat.

            Hal ini sejalan dengan prinsip Syura (musyawarah) dalam Islam yang menghargai perbedaan pendapat. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Syura ayat 38:

            ูˆูŽุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุดููˆุฑูŽู‰ูฐ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’

            yang artinya: “…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…”.

            Ayat ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan harus diselesaikan dengan diskusi yang sehat, bukan cacian tak berdasar.

            Kedua, mewujudkan keadilan sosial tanpa memandang “kasta” digital. Sila kelima bertujuan mewujudkan keadilan tanpa membedakan derajat dan golongan. Sering kali di media sosial, kita melihat perlakuan yang berbeda hanya berdasarkan jumlah followers. Padahal, Islam menjadikan penerapan keadilan di setiap aspek kehidupan sebagai tujuan utama.

            Hal ini ditegaskan dalam potongan QS. An-Nahl ayat 90:

            ุฅูู†ูŽู‘ ูฑู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจููฑู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ูˆูŽูฑู„ู’ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู

            yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”.

            Keadilan digital berarti bersikap adil dalam menyaring informasi, peduli terhadap sesama, dan berteman tanpa pilih-pilih status.

            Ketiga, peran institusi pendidikan dan keluarga sebagai tameng moral utama. Integrasi Pancasila dan pendidikan agama Islam dapat diterapkan melalui pembiasaan 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), serta mengajarkan toleransi sejak dini. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada tingginya pencapaian akademik. Jika fondasi 5S dan nilai agama sudah kokoh di dunia nyata, anak muda akan memiliki benteng nurani yang kuat untuk mengontrol jari jemari mereka saat berselancar di ruang digital.

            PENUTUP

              Pada akhirnya, gelar akademik yang mentereng, keahlian teknis yang memukau, dan validasi dari ribuan pengikut di media sosial tidak akan memiliki arti apa-apa jika jiwa kita kosong dari nilai integritas. Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pintar menghafal rumus atau mahir mengoperasikan teknologi. Islam mengajarkan bahwa kecerdasan tertinggi adalah kesadaran bahwa hidup ini hanyalah panggung amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

              Sebagai generasi penerus, kita harus berani memilih jalan yang benar meskipun sulit, daripada jalan yang mudah namun dipenuhi kepalsuan. Jadikan kejujuran bukan sekadar takut akan sanksi, melainkan kebutuhan spiritual.

              Karena pada akhirnya, dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi dunia ini sangat kekurangan orang-orang yang memiliki mentalitas Al-Amin: cerdas otaknya, jujur lisannya, dan bertanggung jawab perbuatannya.

              REFERENSI

              Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.

              Anzki, B., Rahmadani, C., Saputri, D., Qisthi, A.S., & Zakarya, A.A. (2024). Memahami Sila Sila dalam Pancasila Menurut Pandangan Pendidikan Agama Islam.

              Gesmi, I., & Hendri, Y. (2008). Buku Ajar Pendidikan Pancasila. Uwais Inspirasi Indonesia.

              Jamil, dkk. (2022). Korelasi Nilai-Nilai Pancasila dengan Ajaran Islam. Jurnal Pendidikan Indonesia.

              Khotimah. (2020). Pancasila dan Nilai-Nilai Keislaman: Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan. Jurnal Studi Keislaman.

              Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

              Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Kencana.

              Nurgiansah, T.H. (2021). Pendidikan Pancasila di Era Globalisasi. Jurnal Kewarganegaraan, 5(1).

              Syamsudin, M., dkk. (2009). Pendidikan Pancasila: Menempatkan Pancasila dalam Konteks Keislaman dan Keindonesiaan. Total Media.

              Tim Asosiasi Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan (APDK). (2020). Implementasi Nilai Nilai Pancasila Di Era 4.0. Gemala.

              Yanto, F. (2020). Nilai-Nilai Islam dalam Sila-Sila Pancasila. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.

              Kontributor:ย Abdurrahman Zaldi

              Editor:ย Dani Habibi, M.Ag.

              Share to

              Written by

              Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

              Related News

              BUKAN SOAL KELIHATAN SHOLEH

              Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...

              Sains Tanpa Arah, Teknologi Tanpa Nurani...

              by Muhammad Rafael Mubaroq Jun 05 2026

              1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...

              Amanah dan Tanggung Jawab Sebagai Pilar ...

              by Muhammad Fattah Jun 04 2026

              1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...

              AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

              by Gani Pranoto Pendowo Jun 04 2026

              Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...

              HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

              by Naurah Mazayya Aniswar Jun 04 2026

              Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...

              SCROLLING TANPA BATAS, EMPATI YANG TERHE...

              by Muhammad Aprizal Jun 04 2026

              Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

              No comments yet.

              Please write your comment.

              Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

              *

              *

              Jurnal Dedikasi

              Jurnal Madani

              Jurnal Cendekia

              Other News

              Fenomena Menormalisasi Kecurangan: Ketika Prest...

              PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari, kecurangan sering dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan tidak terlalu serius, terutama ketika tujuann...

              Hukum Memberikan Kulit Hewan Kurban Sebagai Upa...

              ABSTRAK Praktik memberikan kulit hewan kurban kepada jagal sebagai imbalan atas jasa penyembelihannya adalah kebiasaan yang sangat umum di masya...

              27 May 2026

              Etika Spiritual Berbasis Ihsan Sebagai Solusi K...

              1. PENDAHULUAN Dunia modern menyaksikan paradoks yang mencolok: kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat tidak diimbangi dengan perkem...

              01 Jun 2026

              Dampak Korupsi Terhadap Ketersediaan Layanan Gi...

              1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan paling mendasar dalam tata kelola pemerintahan yang baik di berbagai belahan dunia, termas...

              Penyuluhan Anti Korupsi Berbasis Komunitas

              PENDAHULUAN Korupsi bukan sekadar tindak pidana biasanya adalah persoalan yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa secara perlaha...

              back to top