Achmad Arzaqi • Jun 16 2026 • 16 Dilihat

Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membentuk identitas dan kehidupan sosial manusia. Agama memberikan pedoman moral dan spiritual, sedangkan kewarganegaraan berkaitan dengan status, hak, kewajiban, serta partisipasi seseorang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks Indonesia yang berdasarkan Pancasila, agama dan kewarganegaraan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling mendukung dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, adil, dan demokratis.
Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia mengajarkan pentingnya ketaatan kepada Allah Swt., sekaligus mendorong umatnya untuk menjadi warga negara yang baik. Kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang harus dijalankan demi terciptanya ketertiban, keamanan, dan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, nilai-nilai agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter warga negara yang bertanggung jawab, jujur, adil, dan memiliki kepedulian terhadap kepentingan umum.
Allah Swt. berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan pentingnya menaati aturan dan pemimpin yang menjalankan pemerintahan secara adil selama tidak bertentangan dengan syariat Allah. Dalam kehidupan bernegara, ketaatan terhadap hukum dan konstitusi merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kewarganegaraan.
Di era globalisasi, tantangan terhadap kehidupan berbangsa semakin kompleks. Munculnya konflik sosial, intoleransi, korupsi, serta rendahnya partisipasi warga negara menunjukkan pentingnya penguatan nilai-nilai agama dalam membangun kesadaran kewarganegaraan yang baik. Oleh karena itu, hubungan antara agama dan kewarganegaraan perlu dipahami secara komprehensif agar keduanya dapat berjalan selaras dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang damai dan sejahtera.
Agama dan kewarganegaraan memiliki hubungan yang saling mendukung dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Dalam perspektif Islam, warga negara yang baik adalah individu yang tidak hanya taat beribadah kepada Allah Swt., tetapi juga melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dan warga negara secara bertanggung jawab.
A. Konsep Agama
Agama merupakan sistem keyakinan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan serta menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Agama tidak hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga memberikan nilai-nilai moral dan etika yang membentuk perilaku individu dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Madjid (2019, hlm. 67), agama berfungsi sebagai sumber nilai yang membimbing manusia menuju kehidupan yang bermakna, bermoral, dan berkeadaban.
Dalam Islam, agama dipahami sebagai pedoman hidup yang menyeluruh (syumuliyah) yang mencakup hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (hablum minannas).
B. Konsep Kewarganegaraan
Kewarganegaraan adalah status keanggotaan seseorang dalam suatu negara yang disertai hak dan kewajiban yang harus dijalankan secara bertanggung jawab. Menurut Kaelan (2016, hlm. 125), kewarganegaraan tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menyangkut kesadaran, partisipasi, dan tanggung jawab warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam perspektif Islam, kewarganegaraan tercermin dalam konsep tanggung jawab sosial dan partisipasi aktif dalam menciptakan kemaslahatan umum. Hal ini terlihat dalam praktik kehidupan masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad saw. melalui Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan bersama yang adil dan harmonis.
C. Konsep Agama dan Kewarganegaraan
Agama dan kewarganegaraan memiliki hubungan yang saling melengkapi. Agama menjadi sumber nilai moral yang membimbing perilaku warga negara, sedangkan kewarganegaraan menjadi sarana untuk mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial dan kenegaraan. Oleh karena itu, seorang warga negara yang baik tidak hanya taat terhadap hukum negara, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil.
A. Teori Kewarganegaraan (Citizenship Theory)
Menurut Marshall (1950, hlm. 10), kewarganegaraan mencakup hak sipil, hak politik, dan hak sosial yang dimiliki oleh setiap warga negara. Selain memiliki hak, warga negara juga memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan mendukung terciptanya ketertiban sosial. Teori ini menegaskan bahwa warga negara yang baik adalah mereka yang mampu menjalankan hak dan kewajibannya secara seimbang.
B. Teori Hubungan Agama dan Negara
Al-Mawardi (2006, hlm. 15) menjelaskan bahwa agama dan negara memiliki hubungan yang erat karena keduanya bertujuan menciptakan kemaslahatan dan ketertiban masyarakat. Agama berfungsi sebagai landasan moral, sedangkan negara berfungsi sebagai institusi yang mengatur kehidupan masyarakat melalui hukum dan kebijakan publik.
C. Teori Masyarakat Madani (Civil Society)
Menurut Azra (2019, hlm. 95), masyarakat madani merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, keadilan, toleransi, dan partisipasi warga negara. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk berperan aktif dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan berkeadaban. Dalam konteks kewarganegaraan, masyarakat madani menjadi dasar bagi terciptanya warga negara yang bertanggung jawab dan peduli terhadap kepentingan bersama.
Azra (2019) menjelaskan bahwa agama memiliki kontribusi penting dalam membentuk budaya kewarganegaraan yang demokratis melalui penanaman nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan.
Mukarom (2020) menemukan bahwa pendidikan agama berpengaruh terhadap pembentukan karakter kewarganegaraan yang baik, terutama dalam meningkatkan kesadaran hukum dan tanggung jawab sosial masyarakat.
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kemaslahatan dan menjaga ketertiban sosial.Allah Swt. berfirman:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Konsep khalifah menunjukkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat dan negara. Seorang Muslim tidak hanya dituntut menjadi pribadi yang saleh secara spiritual, tetapi juga aktif dalam menciptakan kebaikan bagi lingkungan sosialnya.
Selain itu, Islam mengajarkan pentingnya menegakkan keadilan sebagai fondasi kehidupan bernegara.”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Agama dan kewarganegaraan memiliki hubungan yang erat karena keduanya sama-sama mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat. Agama memberikan nilai-nilai moral yang menjadi pedoman dalam menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Nabi Muhammad saw. bersabda:”Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari No. 7138; Muslim No. 1829). Hadis tersebut menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Dalam konteks kewarganegaraan, tanggung jawab tersebut diwujudkan melalui kepatuhan terhadap hukum, partisipasi dalam pembangunan, serta menjaga persatuan bangsa.
Agama berperan penting dalam membentuk karakter warga negara yang bertanggung jawab. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, amanah, toleransi, dan kepedulian sosial merupakan ajaran agama yang sangat relevan dalam kehidupan berbangsa.
Rasulullah saw. bersabda: “Tidak beriman seseorang yang tidak dapat dipercaya (amanah).” (HR. Ahmad No. 12567). Hadis tersebut menunjukkan bahwa integritas dan tanggung jawab merupakan bagian dari keimanan. Dalam kehidupan bernegara, nilai amanah sangat penting untuk mencegah korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai bentuk pelanggaran hukum.
Implementasi nilai agama dalam kehidupan kewarganegaraan dapat dilakukan melalui:
Allah Swt. berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2). Ayat tersebut menegaskan pentingnya kerja sama dan partisipasi aktif dalam mewujudkan kesejahteraan bersama sebagai bagian dari tanggung jawab kewarganegaraan.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam perspektif Islam, kewarganegaraan dipahami sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang harus dijalankan oleh setiap individu sebagai khalifah di bumi. Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya berkewajiban untuk taat kepada Allah Swt., tetapi juga bertanggung jawab menjaga ketertiban, keadilan, dan kemaslahatan dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, konsep agama dan kewarganegaraan dalam Islam menempatkan nilai keimanan dan tanggung jawab sosial sebagai landasan utama dalam menjalankan kehidupan bernegara.
Hubungan antara agama dan kewarganegaraan terlihat dari peran agama sebagai sumber nilai moral yang membimbing perilaku warga negara dalam menjalankan hak dan kewajibannya. Nilai-nilai agama seperti kejujuran, amanah, keadilan, tanggung jawab, dan toleransi menjadi pedoman bagi warga negara dalam berinteraksi dengan sesama serta dalam mendukung terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Dengan demikian, agama memberikan arah dan etika dalam pelaksanaan kewarganegaraan sehingga kehidupan berbangsa dapat berlangsung secara tertib dan berkeadaban.
Agama juga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk warga negara yang baik. Melalui ajaran dan pendidikan agama, individu dibimbing untuk memiliki karakter yang berintegritas, menghormati hukum, peduli terhadap kepentingan umum, serta mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Nilai-nilai tersebut menjadi modal utama dalam menciptakan masyarakat yang demokratis, damai, dan berkeadilan. Dengan kata lain, agama berfungsi sebagai fondasi moral yang memperkuat kualitas kewarganegaraan seseorang.
Implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan kewarganegaraan dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, seperti menaati peraturan yang berlaku, menghormati hak dan kewajiban sesama warga negara, menjaga persatuan di tengah keberagaman, berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pembangunan, serta mengembangkan sikap toleransi dan gotong royong. Oleh karena itu, agama dan kewarganegaraan harus berjalan secara selaras agar tercipta masyarakat yang religius, bertanggung jawab, harmonis, dan mampu mewujudkan tujuan berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Al-Mawardi. (2006). Al-Ahkam As-Sulthaniyyah: Hukum-hukum penyelenggaraan negara dalam syariat Islam. Darul Falah.
Azra, A. (2019). Islam Indonesia dan demokrasi. Kencana.
Kaelan. (2016). Pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi. Paradigma.
Madjid, N. (2019). Islam, doktrin dan peradaban. Dian Rakyat.
Mukarom, Z. (2020). Pendidikan agama dan pembentukan karakter kewarganegaraan. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 10(2), 115–128.
Shihab, M. Q. (2017). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an (Vol. 1–15). Lentera Hati.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Kementerian Agama RI.
Al-Bukhari. (2002). Shahih Al-Bukhari. Dar Ibn Kathir.
Muslim. (2006). Shahih Muslim. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
Ahmad bin Hanbal. (2001). Musnad Ahmad. Mu’assasah Ar-Risalah.
Kontributor:Â Achmad Arzaqi
Editor:Â M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...
1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...
1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...
1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...
1. PENDAHULUAN Kehidupan modern di abad ke-21 menawarkan kemajuan teknologi dan materialisme yang lu...

1. PENDAHULUAN Pendidikan adalah hak mendasar setiap warga negara sekaligus investasi paling berharga yang dapat dilakukan oleh suatu bangsa. Na...

1. PENDAHULUAN Di era modern, mahasiswa mengalami perubahan dalam cara berinteraksi sosial yang semakin mengarah pada sikap individualistis. Kes...

1. PENDAHULUAN Latar belakang Korupsi merupakan salah satu persoalan tata kelola pemerintahan yang paling kronis dan merusak di berbagai negara ...

Dalam era modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat, globalisasi, dan dinamika sosial yang terus berubah, kita dihadapkan pa...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan serius yang berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selama ini, ko...

No comments yet.