Muhammad Wisnu • May 25 2026 • 98 Dilihat

Di zaman perkembangan teknologi yang semakin canggih sekarang,semua orang bisa berbagi cerita ataupun mendokumentasikan kegiatan dan hobinya di media sosial, banyak orang yang menjadi terkenal karena mendapatkan like dan folowers yang banyak, dan tak jarang seseorang terkenal bukan karena kepintaran ataupun sesuatu yang bisa dibilang positif, melainkan karena sesuatu yang absurd dan terkadang aneh, hal ini dipicu oleh seseorang yang ingin terkenal dan populer secara instan dengan menghalalkan segar acara agar sebuah konten yang dibuat akan ramai ditonton.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ruang sakral kini telah bergeser menjadi ruang digital yang artifisial. Ketika kamera mulai menyala, batas antara ketulusan dan kepalsuan menjadi semakin kabur; sebuah gerakan ibadah tidak lagi dinilai dari kekhusyukannya, melainkan dari seberapa estetis transisi visual yang dihasilkan ke layar ponsel penonton. Sungguh ironis melihat bagaimana nilai-nilai spiritual yang luhur kini harus tunduk pada standar algoritma media sosial. Iman dan taqwa tidak lagi diukur dari kedalaman spiritual di dalam hati, melainkan dihitung secara kuantitatif melalui jumlah like, komen, dan share. Pada akhirnya, tren ini melahirkan generasi yang lebih sibuk mempercantik citra kesalehan di dunia maya demi mengejar status For Your Page (FYP), daripada menjaga kemurnian niat ibadah itu sendiri.
Kini sangat amat banyak konten tentang berbagi uang,barang mahal,atau barang kebutuhan yang akan dijadikan sebuah konten di sismed, hal ini mungkin terdengar seperti kegiatan yang baik dan tulus, tetapi pertanyaannya adalah “apakah di balik layar ketulusan dan niat baik itu ada?” banyak berita beredar tentang konten berbagi yang menjelaskan bahwa dibalik layar perekaman, saat seseorang yang telah diberikan suatu barang secara gratis saat kamera menyala, barangnya akan diminta Kembali saat rekaman selesai.
Realitas di balik layar ini menjadi tamparan keras yang membongkar bahwa “kegiatan berbagi” tidak lebih dari sekadar urusan bisnis dan transaksi visual. Kamera tidak lagi berfungsi sebagai alat dokumentasi, melainkan sebagai alat hipnotis yang memaksa penonton percaya pada kemurahan hati yang semu. Mengambil kembali barang yang telah diberikan kepada mereka yang membutuhkan setelah air mata dan ekspresi haru mereka berhasil direkam bukan hanya sebuah kebohongan publik, melainkan bentuk eksploitasi martabat manusia yang sangat kejam. Orang-orang kecil yang kekurangan dijadikan properti syuting gratisan, sementara si pembuat konten meraup keuntungan besar dari monetisasi dan reputasi sebagai “orang baik”. Pada akhirnya, fenomena ini mengubah ketulusan menjadi komoditas murah, di mana empati tidak lagi lahir dari hati, melainkan disetir oleh arahan sutradara demi keuntungan algoritma semata.
Sebuah Pondasi Analisis Teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman dalam karyanya yang monumental, The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menyajikan sebuah metafora yang kuat dan intuitif untuk memahami sifat interaksi sosial. Goffman menganalogikan kehidupan sehari-hari sebagai sebuah panggung teater, di mana setiap individu adalah “aktor” yang secara sadar atau tidak sadar menampilkan “pertunjukan” di hadapan “audiens” mereka. Tujuan utama dari “pertunjukan” ini adalah untuk mengelola dan memanipulasi persepsi audiens terhadap diri aktor, sehingga menghasilkan kesan yang diinginkan. Pemahaman mendalam tentang konsep-konsep kunci dalam teori ini sangat penting untuk menganalisis presentasi diri di media sosial
Media sosial mengubah segala hal menjadi barang dagangan yang bisa dipamerkan, termasuk moralitas dan penderitaan orang lain. Ketika rasa iba dan kemiskinan dieksploitasi demi views, hal itu berubah menjadi “Pornografi Digital” bukan dalam arti seksual, melainkan hilangnya rasa hormat dan privasi terhadap penderitaan manusia demi kepuasan visual penonton.
Di era digital, batasan antara kepalsuan dan kenyataan sudah runtuh. Konten berbagi yang disetting (palsu) dianggap sebagai “kebaikan nyata” oleh netizen hanya karena videonya estetik dan viral. Hasilnya, masyarakat mengalami Hiperrealitas di mana pencitraan menjadi lebih penting daripada kebenaran itu sendiri.
Teori pada argument pertama mengibaratkan sebuah panggung dengan dua sudut pandang,sudut pandang pertama adalah saat perekaman yang dimana actor akan brsikap baik dan terkesan tulus kepada orang lain di depan kamera. Lalu sudut pandang kedua yaitu pada selepas perekaman yang dimana actor menunjukan sifat aslinya yang tidak ditampilkan/didokumentasian pada layar video.
Pada argument kedua kita dijelaskan kalau kita bisa menjadikan media sosial menjadi perdagangan yang bisa dipamerkan,dan kita tau kalau rasa empati dan peduli itu bisa dijual dengan berakting seakan sedang berbagi, lalu keuntungan akan masuk dengan sendirinya dari hasil sandiwara yang dibuat.
Dikatakan di argument ketiga kalau sekarang Sebagian orang tidak peduli bahkan tidak menghiraukan tentang ketulusan seorang actor itu asli atau cuma peran semata, beberapa orang juga percaya secara langsung hanya karena videonya bagus ataupun yang berbagi itu orang yang terkenal.
innal-munâfiqîna yukhâdi‘ûnallâha wa huwa khâdi‘ûhum, wa idzâ qâmû ilash-shalâti qâmû kusâlâ yurâ’ûnan-nâsa wa lâ yadzkurûnallâha illâ qalîlâ
Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali.
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tubthilû shadaqâtikum bil-manni wal-adzâ kalladzî yunfiqu mâlahû ri’â’an-nâsi wa lâ yu’minu billâhi wal-yaumil-âkhir, fa matsaluhû kamatsali shafwânin ‘alaihi turâbun fa ashâbahû wâbilun fa tarakahû shaldâ, lâ yaqdirûna ‘alâ syai’im mimmâ kasabû, wallâhu lâ yahdil-qaumal-kâfirîn
Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.
Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya` kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.
Di era digital, batasan antara kepalsuan dan kenyataan sudah runtuh. Konten berbagi yang disetting (palsu) dianggap sebagai “kebaikan nyata” oleh netizen hanya karena videonya estetik dan viral. Hasilnya, masyarakat mengalami Hiperrealitas di mana pencitraan menjadi lebih penting daripada kebenaran itu sendiri.
Dalam hidup ini kita harus menerapkan hidup sifat Jujur dan Amanah,di zaman yang dimana seseorang menghalalkan segar acara agar dirinya terkenal dan dipandang, bahkan berakting seoalah mereka adalah pribadi yang baik didepan kamera namun kenyataannya berbeda dibalik layar. Kita harus melaksanakan ibadah tanpa ada rasa ingin dilihat atau rasa ingin dipuji(Riya) sehinga ibadah yang dilaksanakan itu benar-benar tulus dari hati seorang hamba, begitupun dengan bersedekah ataupun berbagi ysng lebih baik dilakukan tanpa diketahui orang-orang seperti pada Surah Al-Baqarah Ayat 271
Tetapi itu semua akan kembali lagi pada niat kita sebagai seorang hamba,niat dan sesuatu yang dilaksanakan harus seimbang,jikalau seorang hamba punya kegiatan yang biak tetapi punya niat yang buruk maka itu akan dinilai buruk untuknya,namu jika seorang hamba punya niat baik dan ,menjalankan suatu kegiatan yang baik maka baik maka akan dinilai baik untuknya.
Di zaman yang akan datang mungkin akan ada tren baru yang punya tujuan sama entah out positif ataupun negative,tetapi yang pasti kita harus melaksanakan suatu ibadah tanpa harus ada sebuah keinginan untuk dipuji ataupun dilihat orang lain,dan walaupun kita ingin membagikan kegiatan berbagi kita wajib meluruskan niat kita dengan niat membantu orang lain,bukan meluruskan niat agar dipandang sebagai orang baik ataupun ingin dipuja orang,
Oleh karena itu, di tengah gempuran tren masa depan yang tidak akan pernah berhenti berputar, benteng pertahanan terbaik kita adalah kemurnian hati. Harta yang kita genggam hari ini tidak lebih dari sekadar amanah titipan, di mana ada bagian milik orang lain yang sengaja Tuhan selipkan di dalamnya. Menjadi jembatan rezeki bagi mereka yang membutuhkan adalah sebuah kehormatan spiritual, bukan panggung pertunjukan untuk memamerkan ego dan keangkuhan. Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat, sedangkan niat di dalam dada adalah penentunya. Mari kita kembalikan landasan iman dan taqwa ke tempat yang semestinya: sebuah ruang sunyi yang jujur antara diri kita dengan ALLAH SWT, di mana kebaikan dilakukan bukan agar nama kita menggema di ruang FYP dunia maya, melainkan agar ketulusan kita dicatat oleh penduduk langit.
Baudrillard, J. (2024). Review on simulacra and hyperreality theory by Jean Baudrillard. Academia.edu. https://www.academia.edu/125190379/Review_on_Simulacra_and_Hyperreality_Theory_by_Jean_Baudrillard
Mahanani, P. A. S., & Christiawan, P. (2024). Konsep kekuasaan menurut Byung-Chul Han dan sumbangannya dalam meminimalisir anomali kekuasaan di Indonesia. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/385093008_Konsep_Kekuasaan_menurut_Byung-Chul_Han_dan_Sumbangannya_dalam_Meminimalisir_Anomali_Kekuasaan_di_Indonesia
Savitri, A. D., & Irwansyah. (2024). Komodifikasi penderitaan dalam konten “Charity Porn” di media sosial TikTok. Mukasi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(2), 145–158. https://journal.yp3a.org/index.php/mukasi/article/download/4690/1554/21746
Kontributor: Muhammad Wisnu
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
Kajian Tafsir atas Doktrin Pemadatan Makna dalam Tradisi Keilmuan Islam ABSTRAK Kajian ini membahas ...
1. PENDAHULUAN Dunia terus berubah dengan akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi ...
1. Pendahuluan Masjid telah lama berdiri sebagai institusi sentral dalam sejarah dan peradaban Islam...
Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga...
1. PENDAHULUAN Era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komuni...
Kajian Tafsir atas Doktrin Ijmal Al-Qur’an dalam Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan lap...

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah gizi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tah...

1. PENDAHULUAN Di zaman perkembangan teknologi yang semakin canggih sekarang,semua orang bisa berbagi cerita ataupun mendokumentasikan kegiatan ...

1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi tantangan sistemik yang menghambat kemajuan berbagai sektor di Indonesia, mulai dari ekonomi hingga keadila...

Jangan Tinggalkan Iman di Depan Pintu Kantor 1. PENDAHULUAN Euforia perayaan wisuda dan lemparan toga akhirnya usai. Masa-masa di mana jadwal ke...

No comments yet.