Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Bahaya Riya dalam Pelayanan Kesehatan: Refleksi Kesehatan Seorang Bidan Muslimah

    • Oct 30 2026 • 10 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Salah satu pilar utama sistem kesehatan adalah profesi kebidanan, terutama dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain memberikan perawatan teknis bagi ibu dan anak, bidan juga berperan sebagai agen perubahan sosial dan spiritual di masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Sesuai dengan hukum syariah, seorang bidan Muslim diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan medis, pelayanan sosial, dan prinsip-prinsip Islam ke dalam setiap tindakan dan keputusan profesionalnya. Namun, godaan duniawi yang dapat mengikis makna pelayanan kerap muncul dalam profesi yang menuntut ini, salah satunya adalah penyakit hati yang disebut riya.

    Riya adalah keinginan agar setiap perbuatan baik diakui atau dipuji oleh orang lain. Dalam konteks pelayanan kesehatan, riya bukan sekadar persoalan individual, melainkan juga berdampak kolektif terhadap tim pelayanan dan kualitas relasi dengan pasien (Susanto et al., 2021). Bidan kerap terdorong terlibat dalam kegiatan profesional bukan karena ketulusan, melainkan demi pujian dari atasan, rekan kerja, dan masyarakat. Agar bidan Muslimah berhasil baik secara teknis maupun spiritual, penting untuk mengkaji risiko riya dan pengaruhnya terhadap profesi kebidanan. Esai ini menyajikan pandangan ulama Islam, menganalisis risiko riya dalam praktik kebidanan Muslim berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, serta merumuskan penerapannya dalam praktik profesional masa kini.

    II. Pembahasan

    a. Hakikat dan Konsep Riya dalam Islam

    Riya berasal dari kata Arab โ€œraโ€™aโ€ yang berarti memperlihatkan atau memamerkan sesuatu kepada orang lain. Dalam istilah syariat, riya adalah beramal bukan semata-mata karena Allah, melainkan untuk memperoleh pujian atau penilaian baik dari manusia (Al-Ghazali, 2004). Riya termasuk penyakit hati yang sangat halus dan dapat menyelinap ke dalam berbagai amal, termasuk profesi pelayanan kesehatan yang sejatinya mulia di sisi Allah.

    Islam memberi peringatan keras terhadap bahaya riya karena dapat menghapus pahala amal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264:

    ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูุจู’ุทูู„ููˆุง ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุงุชููƒูู… ุจูุงู„ู’ู…ูŽู†ูู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ูฐ ูƒูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูู†ููู‚ู ู…ูŽุงู„ูŽู‡ู ุฑูุฆูŽุงุกูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ุขุฎูุฑู

    โ€œWahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.โ€ (QS. Al-Baqarah: 264)

    Riya juga disebut syirik kecil sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW:

    ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽุฎู’ูˆูŽููŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุงูู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุดูู‘ุฑู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ุบูŽุฑู. ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ุดูู‘ุฑู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ุบูŽุฑู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ุฑูู‘ูŠูŽุงุกู

    โ€œSesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.โ€ Para sahabat bertanya: โ€œApa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?โ€ Beliau bersabda: โ€œYaitu riya.โ€ (HR. Ahmad, No. 23630)

    Imam Al-Ghazali dalam Ihyaโ€™ Ulumuddin menegaskan bahwa niat adalah ruh dari setiap amal; jika ruhnya sakit karena riya, amal tersebut tidak bernilai di sisi Allah meski telah mengorbankan banyak tenaga, waktu, dan ilmu (Al-Ghazali, 2004).

    b. Bahaya Riya dalam Dunia Pelayanan Kesehatan

    Bahaya riya sangat mungkin terjadi di lingkungan pelayanan kesehatan, termasuk di kalangan bidan. Bentuk riya yang sering muncul antara lain pamer keberhasilan menolong persalinan, memperlihatkan kepedulian berlebihan agar dilihat atasan atau pasien, hingga menonjolkan amal kebaikan di media sosial demi pencitraan personal, bukan demi pahala di sisi Allah (Ar-Rafani, 2020). Fenomena ini kian nyata karena profesi bidan kerap mendapat sorotan publik, baik melalui media daring, penghargaan profesi, maupun penilaian kinerja.

    Penelitian Wu et al. (2022) menunjukkan bahwa perilaku kerja yang didasari motivasi ekstrinsik, seperti hasrat memperoleh pujian, cenderung menghasilkan stres, kelelahan emosional, dan menurunkan empati terhadap pasien. Temuan ini sejalan dengan data nasional Lamuri et al. (2023) yang dipublikasikan di jurnal Heliyon, yang mencatat prevalensi burnout pada bidan Indonesia mencapai 36,2 persen; angka ini memperkuat dugaan bahwa pergeseran orientasi kerja dari keikhlasan menuju pencarian validasi eksternal turut menyumbang beban psikologis tenaga kesehatan. Hal ini sejalan dengan teori determinasi diri dari Deci dan Ryan (2000), yang membedakan motivasi intrinsik, sejalan dengan makna ikhlas dalam Islam, dan motivasi ekstrinsik, sejalan dengan mekanisme riya. Dengan demikian, riya dapat dipahami bukan hanya sebagai persoalan teologis, tetapi juga sebagai bentuk motivasi ekstrinsik yang secara empiris terbukti merusak kesejahteraan psikologis dan mutu pelayanan tenaga kesehatan. Ketika bidan Muslimah mengedepankan riya, relasi dengan pasien menjadi transaksional; pengabdian yang mestinya menjadi ladang amal justru berubah menjadi ajang menonjolkan diri (Susanto et al., 2021).

    Riya juga dapat memicu persaingan tidak sehat antarbidan demi pengakuan, yang berujung pada kecemburuan dan konflik tim, sehingga mengganggu sinergi kerja dan berdampak pada keselamatan pasien (Deci & Ryan, 2000). Secara spiritual, riya menghilangkan kenikmatan beribadah dalam bekerja; alih-alih merasakan ketenangan saat menolong sesama, seorang bidan yang terjangkit riya akan terus dibayangi keresahan karena sibuk mengejar validasi eksternal (Al-Qaradawi, 1999).

    c. Refleksi, Solusi, dan Implementasi dalam Profesi Kebidanan

    Setiap tindakan profesional bidan Muslimah idealnya disertai refleksi atas keikhlasan niat, sehingga solusi dan implementasinya benar-benar berpijak pada kesadaran spiritual, bukan sekadar rutinitas kerja. Muhasabah, atau introspeksi diri, dan tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa, yang ditekankan Al-Ghazali dan Al-Qaradawi perlu menjadi amalan rutin untuk mengidentifikasi motivasi di balik setiap tindakan, apakah semata karena Allah atau bercampur niat duniawi.

    Sebagai bentuk kebaruan penerapan, muhasabah ini dapat dikonkretkan melalui jurnal niat harian, yaitu pencatatan reflektif singkat sebelum dan sesudah dinas yang memadukan tradisi muhasabah dengan model reflective practice yang lazim digunakan dalam pendidikan profesi kesehatan modern (Gibbs, 1988). Melalui jurnal ini, bidan menuliskan niat di awal tugas serta mengevaluasi motivasi di baliknya pada akhir tugas, sehingga introspeksi tidak berhenti pada konsep tetapi menjadi kebiasaan terukur yang dapat didiskusikan bersama pembimbing klinik.

    Pendidikan kebidanan turut berperan melalui internalisasi nilai spiritual dalam kurikulum, agar mahasiswa memaknai profesi sebagai ladang ibadah sejak dini. Integrasi kajian keislaman, pembiasaan zikir, dan budaya saling mengingatkan terbukti meningkatkan motivasi intrinsik (Deci & Ryan, 2000; Susanto et al., 2021). Pada tingkat organisasi, sistem penilaian kinerja idealnya tidak hanya menonjolkan prestasi individual, tetapi juga kualitas kerja sama tim dan nilai etis-spiritual; reward berbasis tim dapat mengurangi godaan riya sekaligus memperkuat solidaritas profesi (Ar-Rafani, 2020).

    Media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi bidan Muslimah: di satu sisi dapat menjadi sarana edukasi kesehatan, namun di sisi lain dapat menjadi lahan subur riya jika niat tidak dijaga (Syafiโ€™i, 2023). Prinsipnya, berbagi informasi hendaknya diarahkan pada penyebaran manfaat, bukan pencitraan diri.

    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

    ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุจูุงู„ู†ูู‘ูŠูŽู‘ุงุชู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู„ููƒูู„ูู‘ ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูŽุง ู†ูŽูˆูŽู‰

    โ€œSesungguhnya setiap amal tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadis ini menegaskan urgensi pembenahan niat dalam setiap amal, termasuk amal profesi kebidanan.

    III. Penutup

    Riya merupakan ancaman tersembunyi dalam pelayanan kesehatan yang dapat menghilangkan makna spiritual dari profesi mulia seorang bidan Muslimah. Data burnout nasional pada bidan turut menegaskan bahwa dampaknya bukan hanya bersifat teologis, tetapi juga nyata secara psikologis dan profesional. Introspeksi melalui muhasabah, penyucian jiwa melalui tazkiyatun nafs, serta instrumen reflektif seperti jurnal niat harian, yang didukung sistem pendidikan dan lingkungan kerja yang sehat, menjadi kunci menjaga keikhlasan. Dengan kesadaran spiritual dan niat yang murni, profesi kebidanan akan berkembang menjadi ladang amal saleh yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan keridhaan Allah SWT.

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Ghazali, A. H. (2004). Ihyaโ€™ Ulumuddin. Kairo: Dar Al-Minhaj.

    Al-Qaradawi, Y. (1999). Peran Nilai-Nilai Spiritual dalam Dunia Kerja Modern. Jakarta: Mizan.

    Ar-Rafani, S. (2020). Nilai Spiritual Profesi Kebidanan dalam Perspektif Islam. Jurnal Kebidanan Islam, 7(1), 45-52. https://doi.org/10.22219/jki.v7i1.2019

    Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The โ€œwhatโ€ and โ€œwhyโ€ of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227โ€“268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

    Gibbs, G. (1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods. Oxford: Further Education Unit, Oxford Polytechnic.

    Kementerian Kesehatan RI. (2022). Standar Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

    Lamuri, A., Shatri, H., Umar, J., Sudaryo, M. K., & Malik, K. (2023). Burnout dimension profiles among healthcare workers in Indonesia. Heliyon, 9(3), e14261. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e14261

    Susanto, T., Wuryaningsih, E. W., & Prabandari, Y. S. (2021). Pelayanan Peduli Empati Bidan dan Kebutuhan Spiritual pada Ibu Hamil. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 12(2), 123-134. https://doi.org/10.22146/jkr.34315

    Syafiโ€™i, M. (2023). Riya, Ikhlas, dan Tantangan Profesional Kesehatan Muslimah. Al-Qalam: Jurnal Ilmu Keislaman dan Kebidanan, 15(2), 123-139.

    Wu, S., Li, L., & Zhang, L. (2022). Relationship between Intrinsic Motivation, Empathy, and Job Satisfaction among Nurses. Journal of Nursing Management, 30(4), 755-763. https://doi.org/10.1111/jonm.13563

    Qurโ€™an, Surah Al-Baqarah: 264.

    Kontributor:ย Pratina Maya Sari

    Editor:ย Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks...

    PENDAHULUAN Transparency International dalam Corruption Perceptions Index (CPI) mencatat bahwa korupsi tidak hanya merugikan ekonomi nasional te...

    23 Apr 2026

    Dari Menunggu Menjadi Menjangkau: Inovasi Model...

    PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara dan menjadi salah satu unsur penting dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan sej...

    12 Sep 2026

    Konsep Abdun dalam Al-Qurโ€™an sebagai Landasan...

    I. Pendahuluan Profesi ahli gizi memiliki peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pemberian pelayanan serta in...

    Korupsi Sebagai Ancaman Sistemik yang Melampaui...

    1. PENDAHULUAN Dalam diskursus keamanan kontemporer, ancaman terhadap stabilitas negara sering kali dikategorikan ke dalam dua spektrum: ancaman...

    06 Apr 2026

    Displin Akademik Sebagai Ketaatan Kepada Allah ...

    I. Pendahuluan Kehidupan perguruan tinggi menempatkan kedisiplinan sebagai salah satu syarat utama keberhasilan belajar. Mahasiswa dituntut hadi...

    13 Sep 2026
    back to top