Mutiara Sagita Maharani • Jun 01 2026 • 22 Dilihat

Coba ingat-ingat sebentar, dalam satu minggu terakhir, pernahkah kamu melihat postingan di media sosial yang menjelek-jelekkan agama atau kelompok tertentu? Kalau jawabannya pernah, pertanyaan berikutnya lebih penting: apa yang kamu lakukan setelahnya? Apakah kamu berhenti dan berpikir, ataukah jari kamu langsung bergerak ke tombol bagikan?
Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Tapi jawabannya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu seberapa serius kita menempatkan nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia digital.
Indonesia adalah negara yang luar biasa beragam. Lebih dari 300 suku, 6 agama yang diakui negara, dan ribuan budaya lokal hidup berdampingan dalam satu bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Sukandarman (2024) menegaskan bahwa keberagaman ini adalah kekuatan terbesar bangsa, asalkan dijaga dengan semangat toleransi yang tulus dan aktif. Sayangnya, di era media sosial yang serba cepat ini, semangat itu tidak selalu tercermin dalam perilaku kita di ruang digital.
Yang lebih mengejutkan, kelompok yang paling sering menjadi bagian dari rantai penyebaran konten intoleran bukan masyarakat umum yang tidak berpendidikan, melainkan anak-anak muda terpelajar, termasuk mahasiswa. Bukhori (2022) menjelaskan bahwa perilaku intoleran di media sosial sering kali bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari kebiasaan membagikan konten tanpa berpikir panjang tentang dampaknya. Dan itulah justru yang paling berbahaya: kerusakan yang terjadi tanpa ada yang merasa bersalah.
Padahal, ajaran Islam sendiri sudah sangat jelas tentang bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap perbedaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Kafirun ayat 6:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Enam kata dalam bahasa Arab. Tidak ada yang ambigu, tidak ada yang perlu ditafsirkan ulang. Setiap manusia berhak atas keyakinannya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang berhak merendahkannya. Kalau kita benar-benar menghayati ayat ini, seharusnya tidak ada konten intoleran yang kita bagikan, karena kita tahu betul bahwa itu bertentangan dengan nilai yang kita yakini.
Artikel ini mengajak kita untuk jujur dan melihat persoalan ini lebih dekat: mengapa toleransi yang diajarkan di kelas seringkali tidak muncul dalam perilaku kita di dunia maya, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah itu.
Mahasiswa Indonesia memiliki pengetahuan tentang toleransi, tetapi belum tentu mempraktikkannya, terutama di ruang digital. Kebiasaan scroll dan share tanpa berpikir panjang telah menjadikan mahasiswa, yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru ikut memperkeruh kerukunan yang sudah susah payah dibangun bangsa ini. Sudah saatnya mahasiswa mengambil peran aktif sebagai penjaga toleransi digital, bukan sekadar penonton, apalagi pelaku intoleransi yang tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya.
Bayangkan kamu punya teman satu kos yang berbeda agama. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk beribadah sesuai keyakinannya. Kamu tidak melakukan hal yang sama karena agamamu berbeda. Tapi kamu menghormati rutinitasnya, tidak mengganggunya, dan bahkan sesekali mengingatkannya kalau ia kelihatan lupa. Itulah toleransi. Sederhana, nyata, dan tidak membutuhkan kamu untuk mengubah keyakinanmu sedikit pun.
Artis (2011) menjelaskan bahwa toleransi antarumat beragama bukan tentang menyamakan semua agama atau berpura-pura semua keyakinan adalah benar. Toleransi adalah pengakuan bahwa setiap manusia berhak atas keyakinannya, dan perbedaan itu tidak harus menjadi alasan untuk bermusuhan. Kamu bisa teguh pada imanmu sekaligus bersikap baik kepada orang yang berbeda keyakinan. Keduanya bukan kontradiksi.
Islam bahkan secara eksplisit memerintahkan hal ini. Dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8, Allah SWT berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Perhatikan kata-katanya: “berbuat baik dan berlaku adil.” Bukan sekadar diam dan tidak mengganggu, tapi aktif berbuat baik. Artinya, ketika seorang teman berbeda agama membutuhkan bantuan, membantunya adalah bagian dari ketaatan beragama kita. Toleransi sejati itu bukan bersikap dingin dan berjarak, melainkan bersikap hangat dan menghargai.
Untuk memahami betapa seriusnya dampak intoleransi, kita tidak perlu melihat jauh. Kota Ambon di Maluku pernah mengalami konflik berlatar agama yang sangat memilukan pada akhir tahun 1990-an. Ribuan orang kehilangan nyawa, puluhan ribu mengungsi, dan kota yang dulunya dikenal rukun berubah menjadi zona penuh ketakutan. Patty (2025) menggambarkan betapa dalamnya luka yang ditinggalkan, dan betapa panjang jalan yang harus ditempuh masyarakat Ambon untuk membangun kembali kepercayaan satu sama lain.
Proses rekonsiliasi itu tidak mudah. Butuh dialog bertahun-tahun, kegiatan sosial bersama, dan kesediaan yang tulus untuk saling memaafkan. Kerukunan Ambon hari ini adalah hasil dari kerja keras yang luar biasa.
Sekarang bayangkan: semua kerja keras itu bisa diguncang hanya oleh satu video provokatif yang viral di media sosial. Di era digital, provokasi bisa menyebar jauh lebih cepat dan lebih luas dibandingkan zaman konflik Ambon dulu. Dan siapa yang paling sering menekan tombol bagikan pada konten semacam itu? Data menunjukkan bahwa pengguna usia muda, usia mahasiswa, adalah yang paling aktif. Artinya, tanpa disadari, kita bisa menjadi bagian dari masalah yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.
Ada sebuah prinsip dalam Islam yang usianya lebih dari 14 abad, namun relevansinya justru semakin terasa di era WhatsApp dan Instagram: tabayyun. Artinya, memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum kamu bertindak atasnya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Perhatikan kalimat terakhirnya: “yang menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu.” Allah tidak hanya melarang menyebarkan berita tanpa verifikasi, tapi juga mengingatkan bahwa ada penyesalan yang menanti di ujungnya.
Contoh paling nyata yang sering terjadi di lingkungan kampus adalah beredarnya pesan berantai di grup WhatsApp yang mengklaim bahwa “acara keagamaan X sebenarnya adalah kegiatan sesat” atau “tokoh agama Y berpaham menyimpang”, padahal setelah dicek kebenarannya, informasi itu sama sekali tidak berdasar. Tapi kerusakannya sudah terjadi: nama baik seseorang tercoreng, komunitas terpecah, dan orang yang menyebarkannya tidak merasa bersalah karena merasa hanya meneruskan informasi.
Jadi sebelum kamu membagikan konten apa pun yang berkaitan dengan agama atau kelompok tertentu, tanyakan tiga hal sederhana: Dari mana sumber informasi ini? Apakah sudah terbukti kebenarannya? Apakah membagikannya akan mempererat atau memperkeruh hubungan antarmanusia? Tiga pertanyaan ini, jika dijadikan kebiasaan, bisa mencegah dampak yang jauh lebih panjang dari sekadar satu postingan.
Di kampus, dalam satu kelas yang sama, bisa duduk bersama seorang mahasiswa Muslim dari Aceh, mahasiswa Kristen dari Flores, mahasiswa Hindu dari Bali, dan mahasiswa Buddha dari komunitas Tionghoa. Mereka mengerjakan tugas kelompok yang sama, menghadapi dosen yang sama, dan berjuang meraih nilai yang sama. Tidak ada ruang lain dalam kehidupan seorang anak muda yang menawarkan pengalaman belajar tentang keberagaman seintensif kampus.
Sukandarman (2024) menegaskan bahwa interaksi langsung dengan orang-orang yang berbeda latar belakang adalah cara paling efektif untuk membangun toleransi yang tulus dan berkelanjutan. Toleransi yang lahir dari pertemanan nyata jauh lebih kuat dibandingkan toleransi yang hanya dihafal dari buku teks. Ketika kamu benar-benar mengenal teman yang berbeda agamanya, bukan sekadar tahu namanya, kamu akan jauh lebih berpikir panjang sebelum membagikan konten yang berpotensi menyakiti mereka.
Pertanyaannya sekarang: sudahkah kamu memanfaatkan kesempatan itu? Atau selama ini kamu hanya bergaul dalam lingkaran yang isinya sama semua, sama agamanya, sama sukunya, sama daerah asalnya? Kalau iya, kamu sedang melewatkan salah satu pelajaran paling berharga yang kampus bisa berikan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan secara nyata mulai sekarang? Tidak perlu menunggu kebijakan kampus berubah atau program nasional diluncurkan. Ada langkah-langkah konkret yang bisa dimulai dari diri sendiri hari ini.
Pertama, terapkan prinsip tabayyun sebelum membagikan konten apa pun. Sebelum menekan tombol bagikan pada postingan yang berkaitan dengan agama atau kelompok tertentu, luangkan waktu satu menit untuk mengecek sumbernya. Apakah dari media yang terpercaya? Apakah informasinya sudah diverifikasi? Satu menit itu bisa mencegah dampak yang berlangsung jauh lebih lama.
Kedua, berani meluruskan ketika ada yang salah. Kalau kamu melihat teman membagikan konten intoleran di grup WhatsApp atau media sosial, jangan hanya diam. Kamu tidak harus langsung konfrontasi atau ceramahi mereka panjang lebar. Cukup kirim pesan singkat: “Eh, ini sumbernya valid nggak ya? Kayaknya perlu dicek dulu.” Satu kalimat itu bisa menghentikan rantai penyebaran yang panjang.
Ketiga, jadikan perbedaan di kampus sebagai pengalaman belajar yang nyata. Luangkan waktu untuk benar-benar mengenal teman yang berbeda latar belakang agama atau budayanya. Ajak makan siang bersama, tanyakan tentang tradisi keluarganya, atau sekadar duduk berdampingan saat mengerjakan tugas. Pemahaman yang lahir dari pertemanan nyata akan jauh mengubah cara kamu melihat perbedaan, dari sesuatu yang mengancam menjadi sesuatu yang memperkaya.
Kita tidak perlu memilih antara menjadi mahasiswa yang taat beragama atau menjadi mahasiswa yang toleran terhadap perbedaan. Keduanya bukan hal yang bertentangan. Justru sebaliknya: semakin dalam seseorang memahami ajaran agamanya, semakin besar pula rasa hormatnya terhadap hak orang lain untuk berbeda.
Masalahnya selama ini bukan pada nilai yang diajarkan, melainkan pada jarak antara nilai itu dengan perilaku nyata sehari-hari. Toleransi yang hanya ada di buku catatan atau hafalan ujian tidak akan mengubah apa pun. Toleransi yang mengubah sesuatu adalah toleransi yang muncul dalam pilihan-pilihan kecil: memilih untuk tidak membagikan konten yang menyakiti orang lain, memilih untuk mengenal sebelum menghakimi, dan memilih untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Karena pada akhirnya, toleransi yang sesungguhnya bukan soal seberapa banyak ceramah yang sudah kamu dengarkan tentangnya. Ia soal apa yang kamu pilih untuk dilakukan ketika perbedaan itu ada tepat di depanmu, termasuk di layar ponselmu.
Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Artis. (2011). Kerukunan dan toleransi antar umat beragama. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 86-97. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/toleransi/article/view/1070
Bukhori, B. (2022). Toleransi beragama: Peran fundamentalisme agama dan kontrol diri. CV. Pilar Nusantara.
Kitab Hadis: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim.
Patty, L. (2025). Analisis trauma sosial pascakonflik Ambon. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, 7-10.
Sukandarman, A. R. (2024). Harmoni dalam keberagaman: Toleransi dan kerukunan antar umat beragama berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Perspektif: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Bahasa, 128-144.
Kontributor: Mutiara Sagita Maharani
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...
Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

1. PENDAHULUAN Setiap kali bulan Dzulhijjah tiba, sebagian keluarga Muslim dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana namun cuku...

1. PENDAHULUAN Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perceptions Index (CPI) merupakan indikator global yang mengukur tingkat persepsi k...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan. Se...

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usia 20-an merupakan fase perkembangan yang berkaitan dengan pencarian jati diri, pembentukan kemandirian, dan pe...

1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan tertinggi di dunia, sebuah mozaik demografis yang menaungi ratus...

No comments yet.