Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Internalisasi Nilai Akhlak, Etika, dan Moral Sebagai Fondasi Perilaku Mahasiswa di Era Disrupsi: Sorotan terhadap Fenomena Free Rider dalam Tugas Kelompok

    May 27 202697 Dilihat

    1. PENDAHULUAN

    Dunia perkuliahan saat ini sedang menghadapi tantangan besar akibat perubahan digital. Teknologi memang membuat segalanya lebih mudah, kita bisa mencari informasi dalam hitungan detik, berdiskusi jarak jauh, dan menyelesaikan tugas dengan cepat. Namun di sisi lain, kemudahan ini justru menguji karakter mahasiswa. Banyak yang terlena dengan hasil yang instan dan melupakan proses belajar serta nilai-nilai kejujuran yang sebenarnya paling penting dalam dunia pendidikan.

    Salah satu contoh nyatanya adalah maraknya fenomena free rider alias “kaum numpang nama” dalam tugas kelompok. Padahal, tugas kelompok sengaja dirancang agar mahasiswa belajar bekerja sama. Sayangnya, ruang diskusi digital sering kali disalahgunakan oleh segelintir mahasiswa untuk sekadar menitip nama tanpa ikut berpikir atau bekerja sedikit pun. Masalah ini terlihat sepele padahal sangat penting untuk dibahas, sebab pembentukan karakter di kampus tidak boleh kalah cepat dari perkembangan teknologi. Jika perilaku “parasit” ini dibiarkan, kampus gagal mencetak calon pemimpin yang bertanggung jawab.

    2. PERNYATAAN OPINI / TESIS

    Fenomena free rider di kalangan mahasiswa bukan sekadar masalah kemalasan biasa, melainkan tanda bahaya bahwa nilai akhlak, etika, dan moral sudah mulai luntur di generasi muda. Mengikuti aturan kampus yang tertulis saja tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu menanamkan nilai-nilai tersebut jauh di dalam hati mereka agar bisa menjadi kompas alami dalam bersikap. Jika nilai-nilai ini diabaikan, kampus hanya akan melahirkan sarjana yang pintar secara otak, tetapi cacat secara hukum moral. Akibatnya, mereka akan menganggap biasa tindakan memanfaatkan orang lain dan korupsi saat nanti bekerja di masyarakat.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1. Pelanggaran Etika Akademik dan Hilangnya Rasa Keadilan

    Dari sudut pandang etika, prinsip dasar dalam kerja kelompok adalah siapa yang bekerja, dia yang berhak mendapat nilai. Artinya, nilai yang didapat harus sebanding dengan usaha nyata yang diberikan dalam pengerjaan tugas. Ketika seorang mahasiswa menikmati nilai bagus dari hasil kerja keras teman-temannya yang memeras otak, di situlah letak ketidakadilan yang merusak sportivitas.

    Jika merujuk pada teori perkembangan moral, orang yang pemikiran moralnya sudah matang akan selalu bertindak berdasarkan prinsip keadilan, bukan mencari keuntungan pribadi dengan cara merugikan orang lain. Ketidakmampuan kaum “numpang nama” untuk berkontribusi menunjukkan bahwa mereka egois dan tega mengorbankan hak teman-temannya demi kenyamanan diri sendiri.

    3.2. Penurunan Moralitas Sosial dan Penyakit Kemalasan Kelompok

    Jika dilihat dari hubungan sesama manusia, fenomena ini menunjukkan hilangnya rasa tanggung jawab dan matinya rasa kepedulian di era digital yang serba menyendiri. Dalam ilmu psikologi, tindakan “numpang nama” ini dikenal dengan istilah social loafing atau kemalasan berkelompok. Sederhananya, ini adalah kondisi di mana semangat dan usaha seseorang langsung merosot drastis ketika mereka bekerja dalam tim, karena mereka merasa tugasnya bisa diandalkan kepada orang lain.

    Kebiasaan serba instan di dunia digital membuat penyakit malas ini makin parah. Mengawasi tanggung jawab teman lewat grup WhatsApp atau Zoom tentu jauh lebih sulit dibandingkan saat bertemu dan bekerja tatap muka secara langsung. Mahasiswa yang dengan sengaja menjadi free rider ini pada akhirnya tega memanfaatkan waktu, tenaga, dan pikiran teman kelompoknya demi keuntungan sendiri. Hal ini sangat berbahaya karena bisa membuat hati nurani mereka tumpul; mereka tidak lagi merasa bersalah meski sudah merugikan dan menyusahkan orang lain.

    3.3. Tinjauan Akhlak: Pudarnya Kejujuran dan Integritas Diri

    Dari sudut pandang yang paling dalam, yaitu akhlak, menjadi free rider adalah bukti nyata bahwa kejujuran di dalam hati sudah mulai menipis. Jika etika dan moral lebih banyak mengatur hubungan kita dengan sesama manusia, maka akhlak berjalan lebih jauh karena melibatkan hubungan langsung antara kita dengan Tuhan. Mengaku-ngaku ikut mengerjakan tugas padahal tidak berbuat apapun demi mendapatkan nilai gratis sama saja dengan melakukan kebohongan besar yang nyata.

    Jika seorang mahasiswa tidak memiliki akhlak yang baik, mereka akan menganggap remeh kecurangan-kecurangan kecil seperti ini. Padahal, cara kita bersikap di kampus adalah cerminan dari kejujuran batin kita yang sesungguhnya. Jika di lingkungan kuliah saja sudah terbiasa memalsukan usaha, maka benteng kejujuran dalam dirinya telah runtuh. Akibatnya, mereka akan sangat mudah tergiur untuk melakukan korupsi atau manipulasi yang jauh lebih besar saat nanti sudah bekerja di masyarakat.

    4. DISKUSI / IMPLIKASI

    Jika kita sepakat bahwa kebiasaan “numpang nama” adalah tanda dari rusaknya karakter, maka ada beberapa dampak buruk yang akan terjadi di masa depan jika masalah ini terus dibiarkan:

    • Kampus Menjadi Tempat Latihan Korupsi: Jika pihak kampus menutup mata, secara tidak langsung kampus sedang melatih mahasiswa untuk menjadi koruptor di masa depan. Mahasiswa yang terbiasa mendapatkan hasil tanpa usaha akan membawa mentalitas “jalan pintas” ini saat mereka masuk ke dunia kerja atau pemerintahan. Akibatnya, praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di negara kita tidak akan pernah bisa hilang.
    • Sistem Penilaian Menjadi Salah Sasaran: Dosen tidak bisa lagi memakai cara lama dalam menilai tugas kelompok. Dosen tidak boleh hanya melihat hasil akhir seperti makalah atau presentasi yang rapi saja, melainkan harus ikut memeriksa dan melacak siapa saja anggota kelompok yang benar-benar ikut bekerja secara jujur.
    • Merusak Mental Mahasiswa yang Rajin: Membiarkan kaum free rider bebas berkeliaran akan sangat menyakiti perasaan mahasiswa yang rajin dan bertanggung jawab. Rasa tidak adil yang dipendam terus-menerus bisa membuat mahasiswa jujur menjadi stres berat (burnout), kehilangan semangat belajar, dan akhirnya menciptakan suasana kuliah yang penuh kecurigaan serta tidak sehat.

    5. PENUTUP

    Agama, etika, dan moral tidak pernah mengajarkan manusia untuk menjadi parasit atau beban bagi orang lain. Sepintar apa pun kita di era digital ini, ilmu yang kita miliki tidak akan ada harganya jika tidak dibarengi dengan akhlak yang kokoh. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai di atas kertas, tetapi harus menjadi garda terdepan dalam mengajarkan rasa tanggung jawab dan kejujuran.

    Oleh karena itu, ada beberapa solusi nyata yang bisa dilakukan:

    1. Gunakan Nilai dari Teman Kelompok (Peer-Review): Buat sistem penilaian rahasia di mana sesama anggota kelompok bisa saling menilai kontribusi temannya secara jujur. Dengan begitu, dosen bisa tahu siapa yang benar-benar berkeringat dan siapa yang hanya menumpang nama.
    2. Hargai Proses Kerja, Bukan Cuma Hasil Akhir: Masukkan poin penilaian sikap dan karakter ke dalam tugas kelompok. Mahasiswa harus disadarkan bahwa proses belajar yang jujur jauh lebih mulia daripada sekadar angka IPK tinggi yang didapat dari hasil curang.
    3. Berani Menolak dan Melaporkan Kaum Parasit: Tumbuhkan keberanian di kalangan mahasiswa untuk menegur atau melaporkan teman yang malas dan tidak mau bekerja, demi menjaga keadilan bersama di dalam kelas.

    Melalui langkah-langkah nyata ini, kita bisa memastikan bahwa lulusan perguruan tinggi di era digital bukan sekadar generasi pemburu gelar dan ijazah semata, melainkan generasi pemimpin yang tangguh, cerdas, dan memiliki hati nurani yang bersih.

    Kontributor: Auril Meihoya

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan Sebagai...

    by M. Fariz Al Farezi Jun 17 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...

    AGAMA DAN KEWARGANEGARAAN

    by Achmad Arzaqi Jun 16 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...

    Toleransi Beragama dalam Masyarakat Mult...

    by M. Miftahul Huda Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....

    KONSEP KETUHANAN DAN KEIMANAN

    by M. Hafiidh Ghoniyy Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...

    Mengindonesiakan Islam: Menyelaraskan Ag...

    by Muhammad Davidio Hazel Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...

    Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificia...

    by Randy Tri Gustira Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Peran Tenaga Gizi dalam Penyuluhan Anti Korupsi

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan multidimensional yang berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk se...

    11 Apr 2026

    Potensi yang Dimiliki Indonesia untuk Mewujudka...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan utama yang menghambat pembangunan nasional di berbagai negara, terutama di negara berke...

    09 Apr 2026

    Etika Spiritual Berbasis Ihsan Sebagai Solusi K...

    1. PENDAHULUAN Dunia modern menyaksikan paradoks yang mencolok: kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang pesat tidak diimbangi dengan perkem...

    01 Jun 2026

    Strategi Komunikasi dalam Penyuluhan Anti Korup...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

    E-Government: Mengurangi Interaksi, Mengurangi ...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan utama dalam tata kelola pemerintahan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. P...

    back to top