Auril Meihoya • May 27 2026 • 47 Dilihat

Dunia perkuliahan saat ini sedang menghadapi tantangan besar akibat perubahan digital. Teknologi memang membuat segalanya lebih mudah, kita bisa mencari informasi dalam hitungan detik, berdiskusi jarak jauh, dan menyelesaikan tugas dengan cepat. Namun di sisi lain, kemudahan ini justru menguji karakter mahasiswa. Banyak yang terlena dengan hasil yang instan dan melupakan proses belajar serta nilai-nilai kejujuran yang sebenarnya paling penting dalam dunia pendidikan.
Salah satu contoh nyatanya adalah maraknya fenomena free rider alias “kaum numpang nama” dalam tugas kelompok. Padahal, tugas kelompok sengaja dirancang agar mahasiswa belajar bekerja sama. Sayangnya, ruang diskusi digital sering kali disalahgunakan oleh segelintir mahasiswa untuk sekadar menitip nama tanpa ikut berpikir atau bekerja sedikit pun. Masalah ini terlihat sepele padahal sangat penting untuk dibahas, sebab pembentukan karakter di kampus tidak boleh kalah cepat dari perkembangan teknologi. Jika perilaku “parasit” ini dibiarkan, kampus gagal mencetak calon pemimpin yang bertanggung jawab.
Fenomena free rider di kalangan mahasiswa bukan sekadar masalah kemalasan biasa, melainkan tanda bahaya bahwa nilai akhlak, etika, dan moral sudah mulai luntur di generasi muda. Mengikuti aturan kampus yang tertulis saja tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu menanamkan nilai-nilai tersebut jauh di dalam hati mereka agar bisa menjadi kompas alami dalam bersikap. Jika nilai-nilai ini diabaikan, kampus hanya akan melahirkan sarjana yang pintar secara otak, tetapi cacat secara hukum moral. Akibatnya, mereka akan menganggap biasa tindakan memanfaatkan orang lain dan korupsi saat nanti bekerja di masyarakat.
Dari sudut pandang etika, prinsip dasar dalam kerja kelompok adalah siapa yang bekerja, dia yang berhak mendapat nilai. Artinya, nilai yang didapat harus sebanding dengan usaha nyata yang diberikan dalam pengerjaan tugas. Ketika seorang mahasiswa menikmati nilai bagus dari hasil kerja keras teman-temannya yang memeras otak, di situlah letak ketidakadilan yang merusak sportivitas.
Jika merujuk pada teori perkembangan moral, orang yang pemikiran moralnya sudah matang akan selalu bertindak berdasarkan prinsip keadilan, bukan mencari keuntungan pribadi dengan cara merugikan orang lain. Ketidakmampuan kaum “numpang nama” untuk berkontribusi menunjukkan bahwa mereka egois dan tega mengorbankan hak teman-temannya demi kenyamanan diri sendiri.
Jika dilihat dari hubungan sesama manusia, fenomena ini menunjukkan hilangnya rasa tanggung jawab dan matinya rasa kepedulian di era digital yang serba menyendiri. Dalam ilmu psikologi, tindakan “numpang nama” ini dikenal dengan istilah social loafing atau kemalasan berkelompok. Sederhananya, ini adalah kondisi di mana semangat dan usaha seseorang langsung merosot drastis ketika mereka bekerja dalam tim, karena mereka merasa tugasnya bisa diandalkan kepada orang lain.
Kebiasaan serba instan di dunia digital membuat penyakit malas ini makin parah. Mengawasi tanggung jawab teman lewat grup WhatsApp atau Zoom tentu jauh lebih sulit dibandingkan saat bertemu dan bekerja tatap muka secara langsung. Mahasiswa yang dengan sengaja menjadi free rider ini pada akhirnya tega memanfaatkan waktu, tenaga, dan pikiran teman kelompoknya demi keuntungan sendiri. Hal ini sangat berbahaya karena bisa membuat hati nurani mereka tumpul; mereka tidak lagi merasa bersalah meski sudah merugikan dan menyusahkan orang lain.
Dari sudut pandang yang paling dalam, yaitu akhlak, menjadi free rider adalah bukti nyata bahwa kejujuran di dalam hati sudah mulai menipis. Jika etika dan moral lebih banyak mengatur hubungan kita dengan sesama manusia, maka akhlak berjalan lebih jauh karena melibatkan hubungan langsung antara kita dengan Tuhan. Mengaku-ngaku ikut mengerjakan tugas padahal tidak berbuat apapun demi mendapatkan nilai gratis sama saja dengan melakukan kebohongan besar yang nyata.
Jika seorang mahasiswa tidak memiliki akhlak yang baik, mereka akan menganggap remeh kecurangan-kecurangan kecil seperti ini. Padahal, cara kita bersikap di kampus adalah cerminan dari kejujuran batin kita yang sesungguhnya. Jika di lingkungan kuliah saja sudah terbiasa memalsukan usaha, maka benteng kejujuran dalam dirinya telah runtuh. Akibatnya, mereka akan sangat mudah tergiur untuk melakukan korupsi atau manipulasi yang jauh lebih besar saat nanti sudah bekerja di masyarakat.
Jika kita sepakat bahwa kebiasaan “numpang nama” adalah tanda dari rusaknya karakter, maka ada beberapa dampak buruk yang akan terjadi di masa depan jika masalah ini terus dibiarkan:
Agama, etika, dan moral tidak pernah mengajarkan manusia untuk menjadi parasit atau beban bagi orang lain. Sepintar apa pun kita di era digital ini, ilmu yang kita miliki tidak akan ada harganya jika tidak dibarengi dengan akhlak yang kokoh. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai di atas kertas, tetapi harus menjadi garda terdepan dalam mengajarkan rasa tanggung jawab dan kejujuran.
Oleh karena itu, ada beberapa solusi nyata yang bisa dilakukan:
Melalui langkah-langkah nyata ini, kita bisa memastikan bahwa lulusan perguruan tinggi di era digital bukan sekadar generasi pemburu gelar dan ijazah semata, melainkan generasi pemimpin yang tangguh, cerdas, dan memiliki hati nurani yang bersih.
Kontributor: Auril Meihoya
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...
Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

ABSTRAK Ibadah kurban hanya sah jika memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat, salah satunya adalah syarat terkait hewan yang dikurb...

1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan untu...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

PENDAHULUAN Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman yang luar biasa. Kemajemukan suku, budaya, bahasa, dan agama bukanlah sebuah kebetulan...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan utama dalam tata kelola pemerintahan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. P...

No comments yet.