Muhammad Fariz Al Ghufroni • Jun 14 2026 • 20 Dilihat

Mahasiswa sejak lama dikenal sebagai agent of change atau agen perubahan yang memiliki tanggung jawab moral untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat. Sebagai kelompok intelektual, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk pelestarian budaya, adat istiadat, dan pariwisata Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa menjadi kekuatan penting dalam mengawal perubahan sosial, politik, maupun kebudayaan di Indonesia.
Namun, di era digital saat ini, peran tersebut mulai dipertanyakan. Kemudahan akses media sosial membuat sebagian mahasiswa lebih fokus membangun popularitas dan citra diri dibandingkan terlibat dalam upaya nyata menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Fenomena ini terlihat dari rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam pelestarian budaya lokal, pengembangan desa wisata, maupun edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Banyak mahasiswa yang bangga mengunggah foto di tempat wisata atau mengenakan pakaian adat untuk kebutuhan konten, tetapi minim kontribusi dalam menjaga keberlanjutan budaya dan pariwisata tersebut.
Padahal, Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat istiadat, kesenian, bahasa daerah, dan destinasi wisata yang menjadi identitas bangsa. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat mengancam keberlangsungan budaya lokal apabila tidak ada generasi muda yang peduli untuk melestarikannya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis: ketika mahasiswa lebih sibuk mengejar popularitas daripada memperjuangkan pelestarian budaya dan kemajuan masyarakat, masih pantaskah mereka disebut sebagai agent of change?
Fenomena meningkatnya budaya pencitraan di media sosial menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa mulai kehilangan orientasi perjuangannya. Aktivisme yang dahulu identik dengan keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat kini sering kali berubah menjadi sarana membangun citra diri dan mengejar popularitas. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih aktif mengejar jumlah pengikut, tanda suka, dan viralitas dibandingkan terlibat dalam penyelesaian persoalan nyata di masyarakat. Akibatnya, banyak isu sosial, budaya, maupun lingkungan hanya dijadikan komoditas konten yang ramai diperbincangkan sesaat, tetapi minim tindak lanjut yang memberikan dampak nyata. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka predikat agent of change yang selama ini melekat pada mahasiswa berpotensi menjadi sekadar romantisme sejarah yang tidak lagi mencerminkan realitas generasi mahasiswa saat ini
Pada masa lalu, aktivisme mahasiswa identik dengan keberanian menyuarakan kepentingan rakyat dan mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Saat ini, sebagian aktivitas tersebut mengalami pergeseran. Tidak sedikit mahasiswa yang lebih tertarik menunjukkan keterlibatan mereka dalam suatu isu melalui unggahan media sosial daripada terlibat secara langsung dalam penyelesaian masalah.
Akibatnya, aktivitas sosial terkadang hanya berlangsung selama isu tersebut masih populer. Ketika perhatian publik beralih ke isu lain, kepedulian yang ditunjukkan juga ikut menghilang. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa lebih mengejar visibilitas daripada perubahan yang berkelanjutan.
Berdasarkan penelitian Salman Shiddiq dkk. (2024), media sosial menjadi ruang utama aktivisme mahasiswa. Namun, kualitas advokasi sangat dipengaruhi oleh literasi media dan keterlibatan nyata, sehingga aktivisme digital berisiko hanya menjadi bentuk partisipasi simbolik apabila tidak disertai aksi langsung di masyarakat.
“Jika perjuangan hanya dilakukan ketika kamera menyala dan berhenti ketika perhatian publik menghilang, maka aktivisme mahasiswa tidak lebih dari sekadar pertunjukan yang dikemas untuk konsumsi digital.”
Media sosial memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk memperoleh perhatian dalam waktu singkat. Fenomena ini mendorong munculnya budaya mencari pengakuan melalui jumlah pengikut, tanda suka (likes), dan jumlah tayangan (views). Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya lebih fokus membangun personal branding dibandingkan meningkatkan kualitas intelektual dan kontribusi sosialnya.
Padahal, esensi seorang agent of change bukanlah menjadi terkenal, melainkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ketika popularitas dijadikan tujuan utama, idealisme yang seharusnya menjadi landasan perjuangan mahasiswa berisiko tergeser oleh kepentingan pribadi.
Tingginya intensitas penggunaan media sosial turut memengaruhi pola perilaku mahasiswa. Survei di Kota Padang menunjukkan 97% mahasiswa merupakan pengguna aktif media sosial, sedangkan penelitian pada mahasiswa Gen Z menemukan rata-rata penggunaan media sosial mencapai 3–5 jam per hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian dominan dalam kehidupan mahasiswa dan berpotensi mendorong budaya pencarian eksistensi serta popularitas digital.
Salah satu indikator menurunnya idealisme mahasiswa dapat dilihat dari rendahnya keterlibatan mereka dalam pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata lokal. Banyak tradisi daerah yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda, sementara berbagai situs budaya dan destinasi wisata menghadapi ancaman kerusakan akibat kurangnya perhatian dan edukasi masyarakat.
Ironisnya, sebagian mahasiswa lebih tertarik mengunjungi tempat wisata yang sedang viral untuk kebutuhan media sosial daripada mempelajari nilai sejarah, budaya, dan potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya. Tidak sedikit pula yang mengenal tren budaya luar negeri lebih baik daripada budaya daerahnya sendiri. Jika kondisi ini terus berlangsung, mahasiswa tidak lagi menjadi pelopor pelestarian identitas bangsa, melainkan hanya menjadi konsumen budaya global.
Padahal, sebagai agent of change, mahasiswa seharusnya mampu menjadi penggerak promosi pariwisata berkelanjutan, pelestarian adat istiadat, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Melalui penelitian, pengabdian masyarakat, dan pemanfaatan teknologi digital, mahasiswa dapat berperan aktif dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap lestari dan dikenal dunia.
Mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual yang memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai kebijakan dan persoalan sosial. Namun, di era digital saat ini, keberanian tersebut mulai mengalami penurunan. Banyak mahasiswa yang lebih memilih bersikap netral atau diam terhadap isu-isu penting karena khawatir kehilangan citra positif, pengikut media sosial, atau peluang karier di masa depan. Akibatnya, kritik yang seharusnya menjadi fungsi kontrol sosial sering kali tergantikan oleh sikap pasif dan mengikuti arus mayoritas.
Padahal, perubahan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa selalu diawali oleh keberanian individu maupun kelompok yang berani menyuarakan kebenaran meskipun menghadapi berbagai risiko. Ketika mahasiswa lebih memilih menjaga popularitas daripada mempertahankan prinsip dan idealisme, maka peran mereka sebagai agen perubahan menjadi semakin dipertanyakan.
“Mahasiswa yang takut bersuara demi menjaga citra bukan sedang menjaga masa depan bangsa, melainkan sedang menjaga kenyamanan dirinya sendiri.”
Fenomena mahasiswa yang lebih mengutamakan popularitas daripada idealisme membawa dampak yang serius terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan. Mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan perlahan kehilangan perannya sebagai pengontrol sosial dan penyambung aspirasi masyarakat. Akibatnya, berbagai persoalan bangsa, seperti ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga pelestarian budaya, tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari generasi terdidik. Dalam bidang pariwisata, rendahnya kepedulian mahasiswa terhadap budaya dan adat istiadat dapat mempercepat hilangnya identitas lokal yang menjadi daya tarik utama pariwisata Indonesia. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka budaya hanya akan menjadi objek tontonan, bukan warisan yang dijaga dan dikembangkan.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengembalikan idealisme sebagai landasan utama dalam menjalankan perannya di masyarakat. Perguruan tinggi juga harus mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial, pelestarian budaya, dan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan promosi budaya, bukan sekadar alat untuk mencari popularitas. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi generasi yang dikenal karena eksistensinya di dunia digital, tetapi juga karena kontribusinya dalam menjaga budaya, memperkuat nasionalisme, dan menciptakan perubahan nyata bagi bangsa. Jika mahasiswa gagal menjaga idealisme dan identitas bangsanya sendiri, maka yang hilang bukan hanya gelar agent of change, tetapi juga masa depan Indonesia yang berakar pada budaya dan nilai-nilai kebangsaan.
Predikat agent of change bukanlah gelar yang melekat secara otomatis pada setiap mahasiswa, melainkan identitas yang harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Di tengah perkembangan media sosial yang semakin pesat, mahasiswa menghadapi tantangan besar untuk tetap mempertahankan idealisme dan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan bangsa. Ketika popularitas lebih diutamakan daripada kontribusi sosial, maka peran mahasiswa sebagai agen perubahan akan kehilangan makna dan relevansinya.
Oleh karena itu, mahasiswa harus kembali menempatkan kepentingan masyarakat, pelestarian budaya, serta pengembangan pariwisata nasional sebagai bagian dari tanggung jawab moralnya. Dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan media digital secara bijak, mahasiswa dapat menjadi pelopor perubahan yang tidak hanya aktif di ruang virtual, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pada akhirnya,mahasiswa yang mampu menjaga idealisme, melestarikan budaya, dan memperjuangkan kepentingan bangsa akan tetap layak menyandang predikat sebagai agent of change.
“Karena pada akhirnya, mahasiswa bukan sekadar status yang disandang selama masa perkuliahan, melainkan kekuatan intelektual yang diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan, penjaga nilai-nilai bangsa, serta pelopor kemajuan Indonesia.”
Khaerunnisa, F. (2023). Peran Mahasiswa sebagai Agent of Change dalam Kehidupan Masyarakat. Proceedings Series of Educational Studies. Universitas Negeri Malang. Dapat diakses pada 14 Juni 2026 melalui: https://conference.um.ac.id/index.php/pses/article/view/8122/0.
Nurhayati, W., Magu, S. M., & Zhang, J. (2024). Pelestarian Budaya Lokal di Tengah Arus Globalisasi. PERSEPTIF: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2), 82–88. https://doi.org/10.70716/perseptif.v2i2.396. Dapat diakses pada 14 Juni 2026 melalui: https://journal.kalibra.or.id/index.php/perseptif/article/view/396.
Sitorus, C., Amanda, Y., Alim, J. A., & Anggriani, M. D. (2025). Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Mahasiswa PGSD. Jurnal Ilmiah Nusantara, 2(6). https://doi.org/10.61722/jinu.v2i6.6595. Dapat diakses pada 14 Juni 2026 melalui: https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jinu/article/view/6595.
Kontributor: Muhammad Fariz Al Ghufroni
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...
1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...
1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...
1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga persoalan pokok: pertama, bagaimana para ul...

1. PENDAHULUAN Selama bertahun-tahun, korupsi telah menjadi hambatan utama bagi pembangunan nasional Indonesia. (Suyatmiko, 2021) menyatakan bah...

1. PENDAHULUAN Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang tetangga non-Muslim duduk menunggu di depan rumahnya setiap Idul Adha tiba. Bukan ka...

ABSTRAK Persoalan boleh tidaknya menggabungkan niat kurban dan aqiqah dalam satu hewan merupakan salah satu pertanyaan fikih yang paling sering ...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan. Se...

No comments yet.