Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Naluri Bertuhan dalam Diri Manusia: Bukti Bahwa Manusia Terlahir dengan Fitrah Bertuhan

    Jun 01 202629 Dilihat

    1. PENDAHULUAN

    Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada masyarakat yang ditemukan hidup sepenuhnya tanpa dimensi religius. Sejak penemuan seni lukis gua di Lascaux, Prancis, yang diperkirakan berusia lebih dari 17.000 tahun hingga ritual pemakaman Homo neanderthalensis yang menyertakan bekal berupa bunga dan perhiasan, manusia secara konsisten menunjukkan kecenderungan untuk melampaui batas material menuju dimensi transendental. Fenomena universal ini mendorong para ilmuwan, filsuf, dan teolog untuk mempertanyakan pertanyaan yang sangat mendasar, apakah religiusitas merupakan produk budaya semata, ataukah ia merupakan bagian inheren dari arsitektur kognitif dan spiritual manusia itu sendiri?

    Pertanyaan ini bukan sekadar wacana filosofis abstrak. Dengan berkembangnya ilmu kognitif agama (Cognitive Science of Religion/CSR) sejak akhir abad ke-20, pertanyaan tersebut kini dapat dijawab secara empiris. Berbagai penelitian lintas budaya, eksperimen psikologi perkembangan, studi neuroimaging otak, serta kajian antropologi komparatif memberikan gambaran yang semakin jelas dan meyakinkan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami, bukan sekadar hasil sosialisasi untuk memercayai keberadaan agen supranatural atau Tuhan. Kecenderungan ini, dalam tradisi Islam, dikenal dengan konsep fitrah, yaitu disposisi bawaan yang melekat pada setiap manusia untuk mengenal dan bertauhid kepada Allah SWT, sebagaimana dinyatakan secara eksplisit dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 30.

    Topik ini memiliki relevansi yang sangat signifikan di era kontemporer. Gelombang sekularisme global seolah memprediksikan bahwa modernisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan akan mengikis religiusitas manusia secara bertahap. Namun, data dari berbagai penelitian terkini justru menunjukkan tren yang berlawanan yakni kepercayaan terhadap dimensi supranatural tetap kuat bahkan di kalangan masyarakat yang paling terpelajar sekalipun. Opini ilmiah ini berargumen bahwa fenomena tersebut bukan sekadar inersia budaya atau warisan historis, melainkan merupakan ekspresi dari fitrah manusia yang bersifat universal dan tertanam secara kognitif, neurologis, serta spiritual pada setiap individu tanpa terkecuali.

    2. PERNYATAAN OPINI / TESIS

    Manusia tidak sekadar menjadi religius karena faktor lingkungan, sosialisasi, atau tekanan budaya melainkan karena sejak lahir, kognisi dan arsitektur neural manusia telah terkonfigurasi dengan kecenderungan mendasar untuk mengenali agen ilahi, mencari makna transendental, dan memercayai eksistensi kekuatan yang melampaui dunia fisik. Konsep homo religiosus yang dicetuskan oleh Mircea Eliade bahwa manusia secara esensial adalah makhluk religius, bila dibaca bersama data sains kognitif mutakhir, mengonfirmasi apa yang telah lama dinyatakan dalam tradisi Islam sebagai fitrah yang merupakan sebuah disposisi bawaan yang menjadikan manusia makhluk yang secara inheren bertuhan. Opini ini menegaskan bahwa kepercayaan kepada Tuhan bukan semata-mata produk indoktrinasi, melainkan merupakan ekspresi paling alami dari kemanusiaan itu sendiri yang merupakan sebuah tesis yang kini semakin mendapat dukungan empiris dari berbagai disiplin ilmu secara konvergen.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1. Intuisi Teisme: Kecenderungan Kognitif Bawaan Manusia

    Salah satu temuan paling revolusioner dari ilmu kognitif agama adalah konsep Hypersensitive Agency Detection Device (HADD), sebuah mekanisme kognitif yang secara otomatis mendorong otak manusia untuk mendeteksi keberadaan agen berkehendak di balik peristiwa-peristiwa di alam semesta. Barrett (2022) menjelaskan bahwa HADD merupakan hasil adaptasi evolusioner yang menyebabkan otak manusia lebih cenderung mengasumsikan adanya agen yang memiliki niat seperti predator atau makhluk lain daripada mengabaikannya. Dalam konteks survival, kecenderungan ini sangat adaptif; lebih baik salah mendeteksi bayangan sebagai ancaman nyata daripada gagal mendeteksi ancaman yang sesungguhnya. Namun, sebagai efek samping kognitif yang signifikan, mekanisme ini juga mendorong manusia untuk melihat “kehendak” dan “tujuan” di balik fenomena alam yang kompleks yang secara tidak langsung menjadi fondasi kognitif bagi kepercayaan kepada agen supranatural.

    Selain HADD, penelitian Kelemen, Rottman, dan Seston (2022) menemukan bahwa manusia, bahkan ilmuwan profesional sekalipun memiliki kecenderungan yang disebut teleological reasoning (penalaran teleologis): kecenderungan kognitif untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa alam sebagai memiliki tujuan atau fungsi yang disengaja. Seorang anak akan cenderung berkata bahwa awan ada “agar hujan dapat turun” atau bahwa bebatuan runcing ada “agar hewan tidak duduk di situ”, sebuah pola pikir yang secara struktural analog dengan keyakinan bahwa alam semesta ini ada karena diciptakan untuk suatu tujuan tertentu. Kelemen menyebut fenomena ini sebagai intuitive theism karena secara implisit mencerminkan logika penciptaan yang menjadi inti dari hampir semua tradisi agama besar di dunia.

    Yang paling penting dan signifikan, penelitian-penelitian ini secara konsisten menunjukkan bahwa kecenderungan teleologis dan teistik ini muncul sebelum anak mendapatkan pendidikan agama formal, bahkan pada anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga ateistik. Hal ini mengindikasikan secara kuat bahwa intuisi ketuhanan bukanlah hasil indoktrinasi eksternal, melainkan merupakan kecenderungan kognitif yang bersifat default pada arsitektur mental manusia merupakan sesuatu yang, dalam terminologi Islam, disebut sebagai fitrah yang melekat sejak kelahiran.

    3.2. Universalitas Religiusitas: Bukti Antropologi Lintas Budaya

    Jika religiusitas semata-mata merupakan produk budaya yang bersifat arbitrer, maka seharusnya terdapat masyarakat yang ditemukan benar-benar tanpa dimensi religius sama sekali. Namun, hingga saat ini, tidak ada masyarakat manusia, baik yang modern maupun yang terisolasi dari peradaban global yang ditemukan hidup tanpa bentuk kepercayaan supernatural apapun. Purzycki, Pisor, dan Sosis (2022) dalam kajian antropologi agama komparatif yang mencakup lebih dari 15 komunitas berbeda di seluruh penjuru dunia menemukan bahwa kepercayaan kepada agen supranatural yang mengawasi dan menghukum perilaku sosial merupakan fitur universal yang hadir di seluruh kebudayaan manusia, mulai dari komunitas pemburu-pengumpul di Amazon hingga masyarakat urban di Asia Timur.

    Universalitas ini sangat sulit dijelaskan hanya dengan teori sosialisasi atau transmisi budaya. Apabila agama hanyalah konstruksi sosial yang arbitrer, maka ia seharusnya menunjukkan variasi yang jauh lebih besar dan tidak beraturan serta serupa dengan variasi pada sistem hukum adat, tata cara berpakaian, atau sistem ekonomi yang sangat beragam di seluruh dunia. Faktanya, meskipun ekspresi ritual dan doktrin agama memang sangat bervariasi antarbudaya, elemen-elemen inti seperti keyakinan kepada kekuatan supranatural, praktik ritual sakral, dan moralitas berbasis agen ilahi bersifat hampir universal. Universalitas yang konsisten ini hanya dapat dijelaskan secara memuaskan apabila kita mengakui bahwa religiusitas memiliki fondasi kognitif yang bersifat bawaan pada spesies manusia.

    Temuan ini selaras secara mendalam dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Hadis ini secara eksplisit mengakui bahwa kondisi default kelahiran manusia adalah keadaan yang mengenal Tuhan (fitrah), dan bahwa penyimpangan dari fitrah tersebut baru terjadi melalui pengaruh lingkungan eksternal yakni sebuah pernyataan teologis yang kini mendapatkan konfirmasi empiris dari data antropologi komparatif modern.

    3.3. Basis Neurologis Pengalaman Religius: Temuan Neurosains

    Kemajuan teknologi neuroimaging khususnya functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) dan Positron Emission Tomography (PET scan) telah membuka jendela baru untuk memahami dimensi biologis dari pengalaman religius manusia. Van Elk dan Aleman (2022) dalam meta-analisis komprehensif terhadap 41 studi neuroimaging terkait pengalaman dan praktik keagamaan menemukan bahwa aktivitas religius secara konsisten mengaktivasi jaringan neural spesifik, terutama default mode network (DMN) yang berkaitan dengan pemrosesan diri, refleksi moral, dan persepsi agen sosial; serta prefrontal cortex yang berperan dalam pemrosesan kognitif tingkat tinggi dan pengambilan keputusan moral.

    Temuan yang lebih signifikan adalah bahwa struktur otak yang digunakan untuk merasakan dan memproses pengalaman religius termasuk lobus temporal medial, anterior cingulate cortex, dan area parietal adalah area yang sama yang digunakan untuk fungsi-fungsi fundamental manusia seperti kesadaran diri, empati, dan Theory of Mind. Ini menunjukkan bahwa kapasitas untuk merasakan Tuhan bukanlah modul otak yang terisolasi dan artifisial, melainkan merupakan ekstensi alami dari kapasitas kognitif-sosial yang fundamental bagi seluruh spesies manusia. Dengan kata lain, otak manusia secara struktural memang terkonstitusi untuk mampu merasakan dimensi spiritual yang merupakan sebuah fakta neurologis yang sangat sulit dijelaskan apabila kita menganggap religiusitas semata-mata sebagai produk budaya yang arbitrer dan tidak berakar pada hakikat manusia.

    Lebih jauh lagi, studi klinis tentang pasien dengan kondisi tertentu yang memengaruhi aktivitas lobus temporalis seperti epilepsi temporal yang mengungkap bahwa perubahan aktivitas neural di wilayah ini dapat memengaruhi intensitas pengalaman religius seseorang secara dramatis. Hal ini mengindikasikan hubungan kausal yang nyata antara struktur otak dan kapasitas religiusitas, sekaligus menjadi bukti neurologis kuat bahwa religiusitas memiliki basis biologis yang tertanam dalam sistem saraf manusia, bukan sekadar konstruksi sosial yang melayang di atas substrat biologis yang netral.

    3.4. Psikologi Perkembangan dan Kecenderungan Alami Anak terhadap Kepercayaan kepada Tuhan

    Psikologi perkembangan anak memberikan salah satu bukti paling langsung dan meyakinkan tentang sifat bawaan religiusitas manusia. Willard, Henrich, dan Norenzayan (2023) dalam penelitian lintas budaya yang mencakup berbagai kelompok etnis dan latar belakang agama menunjukkan bahwa anak-anak secara alami mengembangkan konsep tentang Tuhan atau agen supranatural bahkan sebelum mereka mendapatkan instruksi agama formal yang substansial. Yang lebih signifikan, kecenderungan ini tidak hanya ditemukan pada anak-anak dari keluarga religius, tetapi juga dalam derajat yang lebih rendah kepada anak-anak dari keluarga yang secara eksplisit sekuler atau ateistik, mengindikasikan bahwa kecenderungan ini bersifat endogen dan bukan sekadar hasil transmisi budaya.

    Salah satu eksperimen paling mengungkapkan dalam bidang ini adalah penelitian tentang natural creationism, kecenderungan anak untuk percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan oleh seseorang atau sesuatu yang memiliki kehendak. Ketika ditanya tentang asal-usul gunung, sungai, atau binatang, anak-anak secara natural cenderung memberikan jawaban yang bersifat teleologis (“ada yang membuatnya untuk tujuan tertentu”) jauh lebih sering daripada jawaban yang bersifat mekanistik (“terbentuk sendiri melalui proses alam”), bahkan ketika mereka belum pernah mendapatkan pelajaran agama formal. Kecenderungan ini tidak ditemukan pada primata non-manusia yang memiliki kecerdasan tinggi sekalipun, menunjukkan bahwa ia merupakan kekhasan kognitif yang bersifat spesifik pada spesies Homo sapiens.

    Penelitian-penelitian ini juga secara konsisten menemukan bahwa anak-anak lebih mudah memahami, menerima, dan mengingat konsep tentang Tuhan yang bersifat mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir dibandingkan konsep-konsep abstrak lainnya yang secara logika seharusnya lebih sederhana. Fenomena ini menunjukkan bahwa otak anak memiliki semacam kesiapan kognitif (cognitive preparedness) yang secara khusus terkonfigurasi untuk konsep-konsep ketuhanan, sebuah realitas yang jauh lebih mudah dijelaskan melalui asumsi adanya fitrah bawaan daripada melalui asumsi pembelajaran murni dari lingkungan.

    3.5. Konsep Fitrah dalam Islam: Konvergensi dengan Temuan Saintifik

    Jauh sebelum ilmu kognitif agama modern berkembang, Islam telah menyatakan secara tegas bahwa manusia dilahirkan dengan fitrah, sebuah disposisi bawaan untuk mengenal dan menerima kebenaran tauhid. Al-Qur’an dalam surah Ar-Rum ayat 30 menyatakan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum [30]: 30). Konsep fitrah ini bukan sekadar doktrin teologis abstrak yang harus diterima secara dogmatis, melainkan merupakan pernyataan tentang hakikat ontologis manusia yang mendahului segala pengaruh lingkungan dan budaya.

    Norenzayan dan Willard (2022) dalam kajian komprehensif mereka tentang asal-usul kepercayaan agama menegaskan bahwa data dari berbagai penelitian lintas budaya secara konsisten menunjukkan bahwa manusia memiliki apa yang mereka sebut sebagai natural religion, sebuah kecenderungan kognitif bawaan menuju kepercayaan supranatural yang muncul secara spontan di hampir semua konteks budaya yang pernah diteliti. Yang sangat menarik, deskripsi ilmiah tentang natural religion ini secara konseptual bersesuaian dengan konsep fitrah dalam Islam: suatu keadaan alami yang mendorong manusia menuju pengakuan akan realitas ilahi tanpa memerlukan instruksi eksplisit dari luar.

    Konvergensi antara konsep teologis Islam tentang fitrah dengan temuan-temuan sains kognitif modern ini adalah fenomena yang sangat bermakna secara epistemologis. Ia bukan sekadar kesamaan yang menarik secara intelektual, ia merupakan konfirmasi lintas-disiplin bahwa pengakuan manusia terhadap Tuhan bukan merupakan superstisi primitif atau produk indoktrinasi budaya, melainkan ekspresi dari kebenaran fundamental tentang hakikat manusia. Kebenaran ini, sebagaimana dinyatakan dalam Islam, telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak penciptaan manusia pertama, dan kini secara bertahap diverifikasi oleh ilmu pengetahuan modern melalui berbagai metodologi ilmiah yang ketat dan terstandarisasi.

    4. DISKUSI / IMPLIKASI

    Temuan-temuan dari berbagai disiplin ilmu yang telah dipaparkan di atas memiliki implikasi yang sangat luas, baik bagi dunia akademik maupun bagi kebijakan publik dan kehidupan sosial. Pertama, dalam konteks pendidikan, pemahaman bahwa religiusitas adalah bawaan manusia seharusnya mendorong para pendidik dan perancang kurikulum untuk tidak sekadar “mengajarkan” agama sebagai seperangkat aturan eksternal yang harus dihafalkan, tetapi untuk “membangunkan” dan “memelihara” fitrah yang telah ada dalam diri setiap anak secara inheren. Pendekatan pedagogis yang berfokus pada pengembangan fitrah ini lebih sesuai dengan temuan psikologi perkembangan dan cenderung menghasilkan religiusitas yang lebih autentik, lebih mendalam, dan lebih tahan terhadap berbagai tekanan sekularisasi yang semakin intensif.

    Kedua, dalam konteks kebijakan publik dan dialog antarperadaban, pemahaman bahwa religiusitas adalah fitrah manusia seharusnya mendorong penghormatan yang lebih besar terhadap kebebasan beragama sebagai hak yang bersifat fundamental dan inheren. Memaksakan sekularisme absolut atas nama kemajuan atau modernisasi sama artinya dengan mengabaikan, bahkan melawan kecenderungan alami yang telah tertanam dalam arsitektur kognitif dan spiritual manusia. Kebijakan demikian tidak hanya berpotensi tidak efektif dalam jangka panjang, tetapi juga dapat menimbulkan alienasi psikologis dan krisis makna yang mendalam, baik di level individual maupun di level sosial yang lebih luas.

    Ketiga, dari perspektif psikologi klinis dan kesehatan mental, pengakuan terhadap dimensi spiritual sebagai bagian inheren dari psikologi manusia seharusnya mendorong integrasi yang lebih serius antara pendekatan klinis konvensional dengan dimensi religiusitas dan spiritualitas. Penelitian-penelitian terkini secara konsisten menunjukkan korelasi positif antara religiusitas yang sehat dengan kesehatan mental, termasuk ketahanan terhadap depresi, gangguan kecemasan, dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Jika religiusitas memang merupakan bagian dari fitrah manusia, maka mengabaikannya dalam konteks terapi psikologis sama artinya dengan mengabaikan dimensi esensial dari kemanusiaan klien yang justru dapat menjadi sumber kekuatan dan resiliensi terbesar.

    Keempat, dari perspektif neurosains dan filsafat pikiran, bukti bahwa otak manusia memiliki kapasitas struktural yang terspesialisasi untuk pengalaman religius membuka pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hubungan antara materi, kesadaran, dan realitas. Apakah kapasitas transendental otak manusia sekadar merupakan produk sampingan evolusi yang kebetulan tanpa signifikansi ontologis, ataukah ia merupakan indikasi adanya dimensi realitas yang melampaui dunia material? Pertanyaan ini, yang selama berabad-abad hanya menjadi ranah teologi dan filsafat, kini mulai dapat didekati secara ilmiah dan temuan-temuannya, sejauh ini, justru lebih mendukung posisi bahwa dimensi spiritual memiliki keberadaan yang nyata dan signifikan dalam keseluruhan pengalaman manusia.

    5. PENUTUP

    Bukti-bukti dari berbagai disiplin ilmu-ilmu kognitif agama, antropologi lintas budaya, neurologi, psikologi perkembangan, dan filsafat agama secara konvergen menunjukkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang kebetulan menjadi religius karena tekanan sosial atau indoktrinasi budaya semata. Sebaliknya, manusia adalah homo religiosus dalam arti yang paling fundamental dan empiris yang diantaranya merupakan makhluk yang secara kognitif, neurologis, dan spiritual dikonfigurasi untuk mengenali dan merespons realitas ilahi. Konsep fitrah dalam Islam, yang selama berabad-abad dipahami sebagai klaim teologis yang diterima melalui iman, kini semakin mendapatkan konfirmasi ilmiah dari berbagai penelitian yang dilakukan dengan metodologi yang ketat, terstandarisasi, dan lintas disiplin.

    Konvergensi antara wahyu ilahi dan sains empiris ini bukan sekadar sebuah korespondensi yang menarik secara intelektual, ia adalah bukti bahwa kebenaran yang dinyatakan dalam Al-Qur’an tentang hakikat manusia memiliki kesesuaian mendalam dengan realitas yang dapat diverifikasi secara ilmiah. Alih-alih menjadi ancaman bagi kepercayaan beragama, perkembangan ilmu pengetahuan modern justru semakin memperkuat dan mengkonfirmasi apa yang telah dinyatakan oleh Islam selama lebih dari empat belas abad: bahwa setiap manusia terlahir dengan fitrah yang mengenal Tuhannya. Ilmu pengetahuan dan iman bukan dua jalan yang saling bertentangan dalam konteks ini, keduanya justru menunjuk pada kebenaran yang sama.

    REFERENSI

    Barrett, J. L. (2022). Cognitive science of religion: Looking back, looking forward. Journal for the Scientific Study of Religion, 61(1), 4–19. https://doi.org/10.1111/jssr.12755

    Kelemen, D., Rottman, J., & Seston, R. (2022). Professional physical scientists display tenacious teleological tendencies: Purpose-based reasoning as a cognitive default. Journal of Experimental Psychology: General, 151(2), 462–480. https://doi.org/10.1037/xge0001069

    Norenzayan, A., & Willard, A. K. (2022). Natural origins of religion: Cross-cultural evidence for universal cognitive biases. Psychological Review, 129(4), 778–799. https://doi.org/10.1037/rev0000357

    Purzycki, B. G., Pisor, A. C., & Sosis, R. (2022). The cognitive science of religion: Cross-cultural perspectives on moralistic supernatural punishment. Religion, Brain & Behavior, 12(3), 215–233. https://doi.org/10.1080/2153599X.2022.2052561

    Van Elk, M., & Aleman, A. (2022). Neuroimaging of religious experience: A meta-analytic review of 41 studies. Social Cognitive and Affective Neuroscience, 17(3), 245–258. https://doi.org/10.1093/scan/nsac006

    Willard, A. K., Henrich, J., & Norenzayan, A. (2023). Memory and belief in the transmission of counterintuitive content. Human Nature, 34(1), 65–89. https://doi.org/10.1007/s12110-023-09444-0

    Kontributor: Iqbal Irvan Sanusi

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    BUKAN SOAL KELIHATAN SHOLEH

    Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...

    Sains Tanpa Arah, Teknologi Tanpa Nurani...

    by Muhammad Rafael Mubaroq Jun 05 2026

    1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...

    Amanah dan Tanggung Jawab Sebagai Pilar ...

    by Muhammad Fattah Jun 04 2026

    1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...

    AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

    by Gani Pranoto Pendowo Jun 04 2026

    Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...

    HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

    by Naurah Mazayya Aniswar Jun 04 2026

    Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...

    SCROLLING TANPA BATAS, EMPATI YANG TERHE...

    by Muhammad Aprizal Jun 04 2026

    Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Bukan Sekadar Bertahan: Bagaimana Islam Menjawa...

    1. PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang dipeluk oleh lebih dari 1,9 miliar umat manusia di seluruh dunia tidak dapat dilepaskan dari konteks zam...

    03 Jun 2026

    Integritas Dimulai Dari Bangku Kuliah: Membangu...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi sering disebut sebagai “menara gading” peradaban tempat di mana akal budi diasah, nilai-nilai kebena...

    Penyuluhan Anti Korupsi Berbasis Keberagaman Bu...

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa, terdiri dari lebih dari 1.300 suku bangsa, 700 bahasa da...

    13 Apr 2026

    HABIS WISUDA TERBITLAH REALITA

    Jangan Tinggalkan Iman di Depan Pintu Kantor 1. PENDAHULUAN Euforia perayaan wisuda dan lemparan toga akhirnya usai. Masa-masa di mana jadwal ke...

    Quarter-Life Crisis dan Konsep Tawakal: Menguba...

    PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usia 20-an merupakan fase perkembangan yang berkaitan dengan pencarian jati diri, pembentukan kemandirian, dan pe...

    28 May 2026
    back to top