Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Cerdas Sendiri, Acuh Bersama

    Jun 03 202625 Dilihat

    Hilangnya Kepedulian Sosial di Tengah Mahasiswa Berprestasi

    1. PENDAHULUAN

    Bayangkan seorang mahasiswa dengan IPK 3,9, aktif di berbagai lomba nasional, dan selalu hadir di deretan penerima beasiswa bergengsi. Ia adalah kebanggaan orang tua, pujaan dosen, dan inspirasi adik-adik kelasnya. Namun di balik semua pencapaian itu, ada satu hal yang perlahan menghilang dari dalam dirinya: kepedulian terhadap orang lain.

    Fenomena ini bukan sekadar cerita fiksi. Banyak kampus di Indonesia, baik negeri maupun swasta, menyimpan realita serupa mahasiswa yang unggul secara intelektual namun miskin dalam dimensi sosial. Mereka bisa menyelesaikan soal kalkulus tingkat lanjut, tetapi tidak peka terhadap teman yang sedang kesulitan. Mereka hafal teori pembangunan berkelanjutan, tetapi enggan membantu lingkungan sekitar kampus. Mereka fasih berbicara tentang keadilan sosial dalam presentasi, namun diam ketika melihat ketidakadilan nyata di depan mata.

    Pertanyaannya: mengapa bisa begini? Apakah sistem pendidikan kita secara tidak sadar telah mencetak manusia-manusia yang cerdas namun dingin secara sosial? Artikel opini ilmiah ini hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut secara jujur dan mendalam, dengan menghubungkannya pada nilai akhlak, moral, dan etika Islam, serta menawarkan refleksi nyata bagi generasi muda khususnya di lingkungan kampus.

    2. PERNYATAAN OPINI / TESIS

    Sistem pendidikan tinggi Indonesia yang terlalu berorientasi pada capaian akademik, ditambah dengan meluasnya budaya individualisme di era digital, telah secara sistemis mengikis kepedulian sosial mahasiswa. Kondisi ini bertentangan langsung dengan nilai akhlak, moral, dan etika Islam yang mewajibkan setiap Muslim untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Sudah saatnya kampus tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga lulusan yang berjiwa sosial, berempati, dan siap menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1. Sistem Pendidikan Berorientasi Hasil Membunuh Kepedulian

    Salah satu akar terdalam dari persoalan ini adalah sistem pendidikan yang terlalu menekankan capaian kuantitatif. Nilai ujian, IPK, sertifikat, dan penghargaan menjadi tolok ukur utama keberhasilan seorang mahasiswa. Sementara itu, dimensi karakter seperti empati, tanggung jawab sosial, dan kepedulian nyaris tidak mendapatkan ruang yang setara dalam penilaian akademik.

    Lickona (1991) dalam kajian pendidikan karakternya menyatakan bahwa institusi pendidikan yang hanya menghargai hasil akhir tanpa memperhatikan proses akan secara sistemis mendorong peserta didik untuk menghalalkan berbagai cara demi mencapai angka yang diinginkan, termasuk menutup mata terhadap kondisi sesama. Mahasiswa tumbuh dalam ekosistem yang secara tidak langsung mengajarkan: yang penting nilaimu bagus, sisanya bukan urusanmu.

    Dalam perspektif etika Islam, kondisi ini merupakan bentuk ketidakseimbangan yang berbahaya. Islam tidak pernah memisahkan ilmu dari adab. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menegaskan bahwa ilmu yang tidak disertai dengan amal dan kepedulian ibarat pohon tanpa buah terlihat besar, tetapi tidak memberikan manfaat nyata bagi sekitarnya.

    3.2. Budaya Individualisme Digital Memperparah Kesenjangan Sosial

    Arus globalisasi dan digitalisasi membawa masuk nilai-nilai individualisme yang menempatkan pencapaian pribadi di atas segalanya. Narasi sukses yang beredar di media sosial hampir selalu tentang individu: aku yang berhasil, aku yang kaya, aku yang berprestasi. Hampir tidak pernah tentang: aku yang membantu orang lain.

    Mahasiswa yang terpapar konten semacam ini setiap hari secara perlahan membentuk orientasi hidup yang berpusat pada diri sendiri. Kepedulian sosial dianggap menghalangi produktivitas pribadi. Waktu yang digunakan untuk membantu orang lain dianggap waktu yang “terbuang” dari mengejar target pribadi.

    Masykur & Wijaya (2023) dalam penelitiannya tentang etika komunikasi digital dalam perspektif Islam menyimpulkan bahwa meluasnya media sosial tanpa disertai literasi moral yang memadai berkontribusi signifikan terhadap melemahnya ikatan sosial dan empati di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Ini adalah ancaman serius yang tidak bisa diabaikan.

    3.3. Kesenjangan antara Pendidikan Agama dan Perilaku Nyata

    Ironi terbesar terjadi ketika seorang mahasiswa mendapatkan nilai A di mata kuliah Pendidikan Agama, tetapi dalam kehidupan nyatanya justru menunjukkan perilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang ia pelajari. Ini menunjukkan bahwa selama ini, pendidikan agama lebih banyak berjalan sebagai transfer pengetahuan semata, bukan internalisasi nilai.

    Sari (2020) mencatat bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan antara pengetahuan akhlak yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah dengan perilaku nyata mereka di lingkungan kampus. Mahasiswa tahu bahwa Islam mewajibkan tolong-menolong, tetapi tidak merasakan kewajiban itu dalam hati. Mereka hafal ayat tentang kepedulian sosial, tetapi belum menjadikannya sebagai bagian dari identitas dirinya.

    Islam memiliki konsep hablum minan-naas, hubungan baik sesama manusia yang merupakan salah satu dari dua pilar utama keislaman, bersanding dengan hablum minallah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’idah ayat 2 bahwa manusia diperintahkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Ini bukan anjuran opsional, melainkan kewajiban moral setiap Muslim.

    3.4. Hilangnya Kepedulian adalah Krisis Akhlak, Bukan Sekadar Masalah Sosial

    Lebih dari sekadar masalah sosial, hilangnya kepedulian di kalangan mahasiswa adalah krisis akhlak yang berdimensi spiritual. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Standar ini menempatkan kepedulian sosial bukan sebagai nilai tambahan, melainkan sebagai inti dari kualitas seorang Muslim.

    Nata (2010) dalam Ilmu Pendidikan Islam menekankan bahwa pendidikan Islam yang sejati harus mampu menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan aktif secara sosial. Ketiga dimensi ini tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa yang cerdas tetapi tidak peduli adalah produk pendidikan yang gagal memenuhi misinya yang sesungguhnya.

    4. DISKUSI / IMPLIKASI

    Krisis kepedulian sosial di kalangan mahasiswa berprestasi bukan masalah individual semata melainkan masalah ekosistem yang melibatkan mahasiswa, dosen, institusi, dan budaya akademik secara keseluruhan. Apabila dibiarkan, dampaknya akan terasa jauh melampaui ruang kelas.

    Dalam konteks profesional, dokter yang tidak peduli terhadap pasiennya adalah ancaman kesehatan. Insinyur yang tidak peduli terhadap dampak proyek terhadap masyarakat adalah bencana pembangunan. Pemimpin yang tidak peduli terhadap rakyatnya adalah tragedi kepemimpinan. Semua bermula dari mahasiswa yang tidak peduli terhadap teman sebangkunya.

    Pertama, dari sisi institusi pendidikan: perguruan tinggi perlu mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai-nilai sosial ke dalam setiap mata kuliah, bukan hanya di mata kuliah agama. Seorang dosen teknik bisa mengajarkan tanggung jawab sosial dalam perancangan teknologi. Seorang dosen ekonomi bisa memperkenalkan konsep ekonomi yang berpihak pada masyarakat.

    Kedua, dari sisi program kemahasiswaan: kegiatan KKN dan pengabdian masyarakat perlu dirancang ulang agar tidak sekadar menjadi formalitas akademik. Mahasiswa harus benar-benar terlibat dalam masalah nyata di komunitas dan mencari solusi yang dapat mereka kontribusikan dengan ilmu yang dimiliki.

    Ketiga, dari sisi nilai keislaman: konsep muraqabah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan adalah motivasi internal paling kuat yang dapat mendorong kepedulian sosial dari dalam diri seorang Muslim. Ketika mahasiswa sadar bahwa setiap tindakannya, termasuk tindakan mengabaikan orang yang membutuhkan, akan dimintai pertanggungjawaban, maka kesadaran itu mendorong perubahan perilaku yang jauh lebih tahan lama dibandingkan aturan kampus mana pun.

    Keempat, dari sisi keteladanan: mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Dosen yang peduli terhadap kesulitan mahasiswanya, yang sabar membimbing tanpa memandang status, adalah guru terbaik untuk pelajaran kepedulian sosial.

    5. PENUTUP

    Kecerdasan intelektual tanpa kepedulian sosial adalah pisau tajam yang berbahaya. Ia bisa melukai orang lain tanpa disadari, karena penggunanya tidak cukup peka untuk melihat dampaknya terhadap sesama.

    Islam tidak pernah memisahkan ilmu dari adab, prestasi dari kepedulian, atau kejayaan pribadi dari kontribusi terhadap sesama. Seorang mahasiswa Muslim yang sesungguhnya adalah ia yang ketika bertambah ilmunya, bertambah pula kerendahan hatinya; ketika meningkat prestasinya, meningkat pula perhatiannya terhadap mereka yang di bawahnya; dan ketika semakin banyak yang bisa ia raih, semakin besar pula apa yang ia bagi kepada orang lain.

    Kepedulian sosial bukanlah kelemahan atau penghalang kesuksesan. Ia adalah tanda kematangan karakter dan kedalaman iman. Kampus yang ingin mencetak lulusan berkualitas harus berani melakukan reformasi: bukan hanya memperbarui kurikulum teknis, tetapi juga membangun ekosistem akademik yang menghargai empati, menghormati kepedulian, dan menjunjung tinggi tanggung jawab sosial sebagaimana diajarkan oleh agama dan dikehendaki oleh nurani.

    Karena pada akhirnya, seberapa tinggi pun ilmu yang kita raih, pertanyaan yang paling bermakna tetaplah: sudahkah ilmu itu membuat kita lebih berguna bagi orang lain?

    REFERENSI

    Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.

    Al-Ghazzali, A. (2004). Ihya Ulumiddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. Jakarta: Pustaka Al-Aqidah.

    Al-Muttaqien, S. (2015). Akhlak Islam: Teori dan Praktik. Bandung: Mizan.

    Kitab Hadis: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim.

    Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

    Masykur, R., & Wijaya, A. (2023). Etika komunikasi digital dalam perspektif Islam: Studi analisis nilai-nilai moderasi beragama. Jurnal Muttaqien, 4(1), 1–15.

    Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

    Quraish Shihab, M. (2019). Akhlak dalam Islam. Jakarta: Lentera Hati.

    Rasyid, KH. (2018). Pengantar Etika Islam. Surabaya: UNP Pers.

    Sari, D. (2020). Kesenjangan antara Pendidikan Moral dan Perilaku Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(2), 45–62.

    Tasmara, T. (2002). Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta: Gema Insani Press.

    Kontributor: Abdi Nugroho Praditya

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    BUKAN SOAL KELIHATAN SHOLEH

    Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...

    Sains Tanpa Arah, Teknologi Tanpa Nurani...

    by Muhammad Rafael Mubaroq Jun 05 2026

    1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...

    Amanah dan Tanggung Jawab Sebagai Pilar ...

    by Muhammad Fattah Jun 04 2026

    1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...

    AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

    by Gani Pranoto Pendowo Jun 04 2026

    Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...

    HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

    by Naurah Mazayya Aniswar Jun 04 2026

    Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...

    SCROLLING TANPA BATAS, EMPATI YANG TERHE...

    by Muhammad Aprizal Jun 04 2026

    Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Potensi Indonesia Menjadi Negara Bersih dari Ko...

    1. PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah berevolusi menjadi tantangan sistemik yang tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mendisto...

    Peran Kesadaran Etis dalam Pencegahan Plagiaris...

    1. PENDAHULUAN Pendidikan islam memiliki peran dalam membentuk karakter dan integritas seorang peserta didik yang terutama dibentuk dalam katego...

    Peran Generasi Muda dalam Menjaga Toleransi dan...

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat. Keberagaman tersebut menjadi...

    27 May 2026

    Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Kampus Berinte...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Integritas akademik merupakan salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan tinggi yang berkualitas. Nilai-nilai ...

    Hukum Kurban: Sunnah Muakkadah atau Wajib? Kaji...

    ABSTRAK Persoalan hukum kurban apakah sunnah muakkadah ataukah wajib merupakan salah satu khilafiyah klasik dalam fikih Islam yang hingga kini m...

    27 May 2026
    back to top