Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Iman, Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Kamil Perspektif Ibn ‘Arabi

    Jun 14 202634 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Al-Qur’an merupakan kitab umat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. secara   mutawatir.   Umat Islam haruslah   mengacu   pada Al-Qur’an dalam   menjalani kehidupannya karena di dalam Al-Qur’anter dapat banyak sumber yang menjadi acuan untuk kehidupan. Al-Qur’andi  dalamnya  membahas  berbagai  macam  hukum  pengetahuan moralitas  atau  etika  begitu  pula  dengan  tata  cara  beribadah  dirangkum  dengan apik dan sistematis di dalam Al-Qur’anguna menjadikannya pedoman kehidupan bagi seluruh umat muslim di dunia. Namun daripada itu kadangkala Al-Qur’an memiliki pembahasan yang sangat  luas meski hanya dari satu kata atau satu  ayat saja. Untuk  mengetahui  makna  atau tujuan daripada suatu ayat tertentu perlu adanya suatu kajian mendalam untuk mengetahuinya salah   satunya   ialah   kajian   tafsir   tematik (Khilmi   Hidayatulloh,   2019).   Metode   ini memungkinkan untuk memudahkan dalam memahami dan menganalisis tema-tema tertentu di dalam ayat-ayat yang terhimpun dalam Al-Qur’anyang dari kata tersebut terjadi beberapa pengulangan.  Kajian  tafsir  tematik  tidak  hanya  membantu  kita  dalam  memahami  ajaran agama  saja  tapi  juga  mengetahui  konsep  seperti  iman, Islam,  dan  ihsan  yang  dijelaskan  di dalam Al-Qur’an.

    Kajian tafsir tematik tentang “iman,” “Islam,” dan “ihsan” merupakan upaya untuk mengungkapkan  nilai-nilai,  ajaran,  dan  pesan  yang  terkandung  dalam  konsep-konsep  ini, serta  kemungkinan  ketiganya  memiliki  hubunganantar  satu  sama  lain  dalam Al-Qur’an. Dalam  tulisan  ini,  penulis  akan  menjelajahi  konsep-konsep  tersebut  dari  perspektif  tafsir tematik,  mencakup  aspek-aspek  leksikal,  semantik,  dan  kontekstual,  untuk  mendapatkan pemahaman  yang  lebih  dalam  tentang  ajaran  agama Islamsehingga  dapat  mengetahui beberapa hal yang dapat membuat seseorang bahkan sampai pada derajat insan kamil dengan menerapkan iman,Islam,dan ihsan dalam kehidupannya.

    Manusia dianggap sempurna apabila ia telah memiliki keimanan, dilanjutkan dengan keIslaman,  kemudian  ia  juga  harus  memiliki  ihsan,  untu  dapat  meraih  hal  tersebut,  perlu adanya pemahaman mendalam mengenai apa itu iman, Islamdan ihsan. Dilanjutkan dengan kiat-kiat untuk menjadi sosok sempurna (insan kamil) di mata Allah. Salah satu pandangan diberikan  oleh  ibnu ‘Arabimengenai  sosok  insan  kamil.  Menurutnya,  manusia  sempurna adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan seluruh potensinya sesuai dengan sempurna(Susanto, 2014).

    Kajianini  dilakukan  dengan  menggunakan  metode kajiankepustakaan(Fatha Pringgar  & Sujatmiko,2020) dengan pendekatan historis, kajianini bertujuan untuk mengeksplorasi  Iman, Islamdan  ihsan  dalam Al-Qur’andan  hubungannya  dengan  sosok insan  kamil  menurut  pandangan  Ibnu ‘Arabi. 

    Esai ini bertujuan untuk : (1) Menjelaskan konsep Insan Kamil melalui integrasi iman, Islam, dan ihsan. (2) Memahami hubungan iman, Islam, dan ihsan dalam membentuk manusia yang sempurna. (3) Menjelaskan pentingnya penerapan nilai iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari.

    II. Penjelasan Al-Qur’an tentang Iman, Islam, dan Ihsan

    2.1. Al-Qur’an dan Penjelasan tentang Iman

    Dalam Al-Qur’ankita terapkan menemukan kata iman ataupun ayat-ayat yang membahas tentang keimanan.Kata Iman sendiri merupakan bahasa Arab dalam bentuk masdar dari kata kerja “ امن-يؤمن-ايمانا” yang memiliki beberapa arti yaitu percaya, tentram, tunduk,  dan tenang. Al-Ghazali   memaknainya   dengan   kata   tashdiq  )التصديق) yang memiliki arti “pembenaran”.Pengertian Iman adalah membenarkan oleh hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakandengan perbuatan. Hal ini selaras dengan apa yang terdapat di surat Yunus ayat 90,

    ۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًاۗ حَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝٩٠

    kata آمنتpada ayat di atas memiliki arti صدقت .

    Kemudian dalam Surat Yusuf ayat 17 terdapat kata بمؤمنyang bermakna بمصدق

    Dari ayat-ayat di atas dapat kita dipahami maksudnya bahwa makna asal dari kata Iman di dalam Al-Qur’anialah tasdiq atau  membenarkan.  Sedangkan  secara  terminologi, Al-Qur’an menyebutkan  Iman  berarti  menunjukkan  ketundukkan  dan  penerimaan  pada  syariat  yang disertai dengan keyakinan dan pembenaran dalam hati. Selaras dengan apa yang ada di dalam surat al-Hujurat ayat 14, tentang keIslaman dan keimanan seseorang. Jan  Ahmad  Wasil  mengemukakan  bahwa  turunan  dari  kata  kerja Amanna terdapat 814 kata dalam 662 ayat(Wassil, 2009).

    2.2. Al-Qur’an dan Islam

    Al-Islâm secara etimologi berarti merupakan dari lafaz الانقياد(tunduk) (Faris,  2002).Kata “Islam” sendiri berasal dari: salimayang memiliki maknaselamat. Dari kata itu terbentuk aslamayang  artinya  menyerahkan  diri  atau  tunduk  dan  patuh  dan  merupakan  bentuk penyerahan  diri  kepada  Allah  dengan  ditandai  oleh  ketundukan  dan keilkhalasan dalam (Az-Zuhaili,  2013). Sebagaimana yang difirmankanAllah  SWT  dalam  surat  Al-Baqarah ayat 112:

    بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ ۝١١٢

    Bahkan, barang siapa aslama(menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati”

    Dari kata aslamatersebut terbentuk kata Islam. Pemeluk agamanya disebut Muslim. Orang yang memeluk agama Islamberartiia telahmenyerahkan diri kepada Allah dan siap serta patuh padaajaran-Nya .

    2.3. Al-Qur’an dan Pemahaman tentang Ihsan

    Kata Ihsan berasal dari bahasa Arab dari kata أحسن يُسن احسانَ yang berentuk kerja atau fi’ilyang berarti juga فعل الحسن artinya perbuatan baik(Nurhadi, 2019). Ihsan berasal dari bahasa Arab yakni terdiri dari huruf أح س نdi dalam Al-Qur’an. Kata  Ihsan  disebutkan  secara  berulang-ulang  dalam Al-Qur’an dengan  berbagai  derivasi penyebutan, kemudian diketahui “ihsan” tersebut penyebutannya dalam Al-Qur’an sebanyak 108 kali dalam 101 ayat Al-Qur’an. Kata Ihsan dalam Al-Qur’antersebar berupa fi’il madli,masdar,fi’il Amar,fi’il mudhoriataupun juga fa’il, mabni majhul dan lain sebagainya. Ihsan  secara  makna  memiliki  arti  yaitu  melakukan  sesuatu  pekerjaan  dengan  sebaik mungkin  seindah  mungkin  dan  sesempurna  mungkin  mengarah  pada  ihsan  Allah  yang dilakukan  terhadap  makhluk-Nya.  Ihsan  juga  dapat  diartikan  sebagai  perbuatan  baik  atau melakukan kebaikan terhadap siapapun dengan tujuan untuk memberi manfaat atau nikmat yang  kita  lakukan  untuk  pihak  lain.  Hal  ini  sejalan  dengan  penafsiran  para  ulama  seperti Thanthâwi Jauhariy yang memaknai Ihsan sebagai bentuk perbuatan baik kepada orang lain yang berbuat jahat atau negatif(At-Thabari, 1393).

    III. Integrasi Iman, Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Kamil

    3.1. Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan

    Antara  iman Islamdan  ihsan  dalam  agama Islammemiliki  hubungan  yang  saling bertalian  satu  sama  lain,  antara  ketiganya  tidak  dapat  dipisahkan.  Lebih  lanjut  mengenai ketiganya Iman sendiri merupakan dasar keyakinan muslim dalam ajaran agama Islam. Hal ini juga mencakup terhadap enam rukun iman yaitu mengimani Allah sebagai satu-satunya tuhan,  mengimani  malaikat  Allah,  mengimani  kitab-kitab  Allah  yang  diturunkan  kepada utusan-Nya, setelah itu mengimani Nabidan Rasul-Nya, mengimani bahwa hari kiamat benar adanya juga mengimani takdir.

    Kemudian  apabila  merujuk  pada  hadis Nabi tentang,  apa  itu  iman?,  dapat  diartikan menjadi  diucapkan  dengan  lisan  sebagai  contoh,  ialan  dua  kalimat  syahadat,  setelahnya membenarkan dengan hati. Tidak hanya diucapkan, namun lafaz syahadat itu harus benar-benar  dirasakan  kebenarannya  dalam  hati,  dengan  meresapi  maknanya  dan  meyakini kebenarannya. Setelahnya, tidak cukup dengan apa yang diucap dan diresapi, manusia harus senantiasa mengaktualisasikan hal tersebut dalam bentuk perbuatan. Mengimani Allah berarti juga bersedia melakukan apapun yang telah Allah tetapkan sesuai dengan syariat agama. Secara bahasa Islammemiliki arti yang beragam, seperti tunduk dan menyerahkan diri, ia juga memiliki arti selamat, yang bisa diartikan apabila seseorang itu telah tunduk kepada Allah dan ajaran agama yang telah dibawa oleh Rasul-Nya, maka tentu orang muslim ini akan selamat.

    Islam sendiri dibangun atas 5 rukun, yaitu membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan salat, menunaikan zakat,  berpuasa,  dan  berhaji  apabila  memungkinkan.  Maka ketika seseorang mengaku ia adalah seorang muslim, maka wajib baginya melaksanakan apa yang ada dalam rukun Islam.

    Sedangkan  ihsan  dalam  bahasa  Arab  berasal  dari  kata أحسن يحسن احسانا yang  berarti berbuat baik Menurut istilah, ada beberapa pendapat menurut para ulama mengenai ihsan. Pertama, Ihsanialah  perasaan  selalu  dalam  keadaan  diawasi  oleh  Allah  dalam  segala ibadah  yang  terkandung  di  dalam  iman  dan Islam sehingga seluruh  ibadah seorang hamba ikhlas hanya karena Allah. Kedua, Menurut Imam  Nawawi Ihsan  adalah  perasaan  ikhlas  dalam  beribadah kemudian seorang hamba merasa selalu diawasi oleh Allah dengan penuh khusuk, khuduk dan lainnya.Iman,Islam,dan  ihsan  digambarkan  sebagai  segitiga  sama  sisi  yang  tidak  dapat dipisahkan.  Ketiganya  merupakan  kerangka  dasar  ajaran  agama Islam.  Sehingga  untuk mendapatkan derajat insan kamil maka, seseorang harus memiliki ketiga aspek ini.

    Hubungan antara iman Islam dan ihsan yaitu iman lebih umum dari pada ihsan sedangkan Islam lebih umum dari pada iman. Dalam artian seorang muslim itu belum tentu Ia memiliki iman, dan seorang yang beriman juga belum tentu dia memiliki ihsan, karena ihsan merupakan tingkatan tertinggi dari pada ketiga hal ini. Seorang yang muhsin tentu Ia adalah mukmin juga muslim. Tidak semua yang mukmin itu muhsin, karena pada tingkatan ihsan seseorang akan merasa  selalu  diawasi  oleh  Allah  dalam  segala  perbuatannya.  Mungkin  saja  seseorang  itu mumin  tapi  dikatakan  belum  muhsin, karena  di  dalam  hatinya  ada  tasdiq namun  ia  belum sampai merasa diawasi oleh Allah. Berkaitan dengan hal ini, terdapat orang yang Islam tapi dia belum beriman. Seperti yang tertera dalam firman Allah surat al-Hujurat ayat 14, yang mengisahkan tentang orang badui  yang baru  saja  masuk Islam, kemudian  mengklaim  bahwa  mereka  telah  masuk pada tingkatan  iman  sembari  berkata  “Kami  memercayai  Allah  SWT  dan Rasul-Nya,  serta keimanan telah tertanam dalam hati kami.” KemudianAllah menyangkal pernyataan mereka tersebut, bahwa  sesungguhnya  mereka  itu  belum beriman secara  sempurna. Belum adanya pembenaran terkait keyakinan hati, ketulusan niat, serta keimanan yang sempurna terhadap Allah SWT.Allah juga memberi tahu bahwa keimanan mereka belumlah sampai dan tertanam dengan kuat di dalam hati, tapi hanya sebatas ucapan di bibir tanpa adanya keyakinan yang benar serta niat yang tulus(Mumtazah Al ’Ilmah et al., 2023).

    3.2. Iman, Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Kamil

    Setelah kita membahas tentang apa iman Islam dan ihsan, maka setelahnya kita bisa melihat  bagaimana  cara  membentuk  sosok  insan  kamil  melalui  iman,Islam,dan  ihsan. Seseorang  dapat  disebut  beriman  apabila  ia  percaya  adanya  Allah,  adanya  malaikat  Allah, adanya  kitab-kitab  Allah,  adanya RasulAllah,  hari  kiamat  dan  takdir  baik  ataupun  buruk. Namun, setiap  muslim  belum  tentu  beriman,  boleh  jadi  Ia  memiliki  Iman  namun masih dalam  derajat    yang sangat  lemahatau  rendahimannya,  sehingga  hatinya  tidak  meyakini dengan sempurna meski Ia melakukan segala bentuk amalan dengan anggota tubuhnya.

    Ihsan  didefinisikan  sebagai  keadaan  menyembah  Allah  seolah-olah  mata  kepala hamba  itu  melihat  Allah apabila  tidak  memungkinkan  atau  tidak  bisa  melihat  Allah,  tetapi sesungguhnya Allah  itu  melihat  seorang  hamba  tersebut. Agar  ibadah kita  dapat  mencapai derajat  Ihsan,  maka  seolah-olah  mata  hati  kita  itu  selalu  melihat  Allah  dalam  melakukan peribadahan, mata hati kita harus senantiasa dapat menghadirkan Allah sehingga kita dapat menyembah Allah secara benar-benar. Seperti yang tertera dalam surah al-hijr ayat 99 yang artinya  “Sembahlah  Tuhanmu  sampai  kamu  yakin  (Tuhan  yang  kamu  sembah  itu  hadir  di mata hatimu)”

    Insan kamil  bukanlah  manusia pada  umumnya,  sebagaimana  yang  diungkapkan  oleh Ibnu ‘Arabi(Takeshita, 2005)ada dua jenis manusia, yaitu insan kamil dan seorang monster yang bertubuh manusia. Apabila ia tidak menjadi Insan kamil, tentu ia akan menjadi monster yang bertubuh manusia, sesuai dengan adanya term manusia dalam Al-Qur’an, untuk dapat selamat kembali kepada Allah dan mendapatkan surganya kita harus mencapai derajat Insan Kamil.

    Untuk mencapai derajat insan kamil ini, kita hendaknya terlebih dahulu mengalahkan nafsu dan syahwat, selaras dengan firman Allah yang tertuang dalam surat al-Fajr ayat 27-30,kita harus mencapai tangga nafsul mutmainnah, ia merupakan titik awal untuk kembali kepada Allah, dan di samping itu masih ada tangga nafsu di atasnya. Kemudian Allah sendiri yang akan menariknya dalam membentuk insan kamil. Syarat pertama untuk mencapai Insan kamil adalah   dengan  beriman  secara   benar   dan   mempersiapkan   diri   menuju   insan  kamil. Umpamanya  dalam  ibadah  salat, kita harus  melakukan  salat sebagaimana  mestinya  dengan melakukan takbiratul  Ihram,  sujud,  rukuk,  salam  dan  lain  sebagainya,  dibarengi  dengan keadaan  hati  yang  mengingat  Allah.  Ibadah  yang  ia  lakukan  haruslah  ikhlas  karena  Allah, insan kamil  merupakan sosok  manusia  ideal  yang  dikehendaki Allah,  dengan  akal  dan hati yang dimiliki seoranginsan kamil ia harus bisa menundukkan nafsu dan syahwat dengan cara memperkuat keimanan yang mana keimanan ini harus mencapai tingkatan yakin, bukan hanya hanya percaya semata. Bersungguh-sungguh dalam ibadah memperbaiki akhlak dan perilaku dan lain sebagainya.

    V. Kesimpulan

    Berdasarkan uraian di atas, term iman Islamdan ihsan terdapat banyak penyebutannya dalam Al-Qur’an. Lafaz Iman beserta derivasinya disebutkan sebanyak 814 kali. Islamdalam Al-Qur’anterjadi sebanyak 73 pengulangan, dan Ihsan disebutkan sebanyak 108 kali.Iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga serangkaian pokok ajaran agama Islam, yang dimana ihsan menjadi ujung tombaknya. Islammemiliki beberapa makna salah satunya yaitu memasrahkan diri, dalam artian kita haruslah pasrah dengan apa yang ada dalam ajaran Islam. Sedang Iman berarti tashdiq, percaya atau yakin, memeluknya seorang muslim kepada agama Islamharus juga  membuatnya  yakin  pada  apa  yang  ada  dalam  agama  tersebut.  Setelahnya  diharapkan muncul ihsan dalam diri manusia yang mana berarti berbuat baik, ikhlas karena Allah SWT.Manusia  yang  sempurna  ialah  manusia  yang  dapat  mencapai  iman, Islam dan  ihsan  secara sempurna. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu ‘Arabimengenai siapakah sosok insan kamil, bahwa manusia itu ialah sosok khalifah di muka bumi dan sosok yang sempurna. Ia dapat   mencapai   kebenaran   ajaran   agama   serta   dapat   memberikan  kelestarian   dalam masyarakat yang rukun tenteramdan terpelihara.

    Daftar Pustaka

    At-Thabari. (1393). Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an. Dar al-Fikr.

    Az-Zuhaili, W. (2013). Tafsir Al-Munir. Gema Insani.

    Faris, I. (2002). Maqayis Al-Lughah(Juz 3). Dar Al Fikr.

    Mumtazah Al ’Ilmah, Salamah Noorhidayati, Ahmad Saddad, Siti Marpuah, & Husnul Amira. (2023). Pendidikan Karakter dalam Surah al-Hujurat: Telah Penafsiran Mahmud Yunus dalam Tafsir al-Karim.

    Nurhadi. (2019). Islam, Iman dan Ihsan dalam Kitab Matan Arba‘in An-Nawawi. Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi KeIslaman, 9(01),1–18. https://doi.org/10.33367/ji.v9i01.811

    Takeshita, M. (2005). Insan Kamil Pandangan Ibnu ‘Arabi, Sebuah Disertasi. Risalah Gusti.

    Wassil, J. A. (2009). Tafsir Quran Ulul Albab: Sebuah Penafsiran Al-Qur’andengan Metode Tematis. Madani Prima.

    Kontributor: Khoirunnisyah

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    AMANAH DAN TANGGUNG JAWAB DALAM ISLAM

    by M. Sultan Kumala Jun 08 2026

    Dasar Al-Qur’an dan Hadis Tentang Kejujuran dan Integritas 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I...

    Benarkah Semua Isi Basmalah Terangkum da...

    by Nur Kholis Jun 02 2026

    Kajian Tafsir atas Doktrin Pemadatan Makna dalam Tradisi Keilmuan Islam ABSTRAK Kajian ini membahas ...

    Relevansi Nilai-Nilai Islam Sebagai Fond...

    by M. Ramaditiya Jun 02 2026

    1. PENDAHULUAN Dunia terus berubah dengan akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi ...

    Lebih dari Sekadar Tempat Sujud: Bagaima...

    by R. Achmad Riaz Raihan Jun 01 2026

    1. Pendahuluan Masjid telah lama berdiri sebagai institusi sentral dalam sejarah dan peradaban Islam...

    Benarkah Semua Isi Al-Fatihah Terangkum ...

    by Nur Kholis Jun 01 2026

    Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga...

    Paradigma Al-Qur’an dalam Membentu...

    by Abdi Muhamad May 31 2026

    1. PENDAHULUAN Era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komuni...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Usia Minimal Hewan Kurban: Domba, Kambing, Sapi...

    1. PENDAHULUAN “Pak, kambing ini umurnya baru setahun kurang sebulan, boleh buat kurban tidak?” Pertanyaan seperti ini kerap muncul ...

    28 May 2026

    Strategi Komunikasi dalam Penyuluhan Anti Korup...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

    Nilai Agama dalam Kehidupan Sehari-Hari

    1. PENDAHULUAN Kehidupan modern di era globalisasi saat ini ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan arus kemajuan yang sangat pesat. Peru...

    27 May 2026

    Dampak Korupsi Terhadap Kualitas Layanan Gizi M...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu masalah serius yang masih menjadi tantangan besar dalam sistem pemerintahan dan pelayanan publik di ...

    PANCASILA DI ERA FYP

    Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

    03 Jun 2026
    back to top