Khoirunnisyah • Jun 14 2026 • 34 Dilihat

Al-Qur’an merupakan kitab umat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. secara mutawatir. Umat Islam haruslah mengacu pada Al-Qur’an dalam menjalani kehidupannya karena di dalam Al-Qur’anter dapat banyak sumber yang menjadi acuan untuk kehidupan. Al-Qur’andi dalamnya membahas berbagai macam hukum pengetahuan moralitas atau etika begitu pula dengan tata cara beribadah dirangkum dengan apik dan sistematis di dalam Al-Qur’anguna menjadikannya pedoman kehidupan bagi seluruh umat muslim di dunia. Namun daripada itu kadangkala Al-Qur’an memiliki pembahasan yang sangat luas meski hanya dari satu kata atau satu ayat saja. Untuk mengetahui makna atau tujuan daripada suatu ayat tertentu perlu adanya suatu kajian mendalam untuk mengetahuinya salah satunya ialah kajian tafsir tematik (Khilmi Hidayatulloh, 2019). Metode ini memungkinkan untuk memudahkan dalam memahami dan menganalisis tema-tema tertentu di dalam ayat-ayat yang terhimpun dalam Al-Qur’anyang dari kata tersebut terjadi beberapa pengulangan. Kajian tafsir tematik tidak hanya membantu kita dalam memahami ajaran agama saja tapi juga mengetahui konsep seperti iman, Islam, dan ihsan yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an.
Kajian tafsir tematik tentang “iman,” “Islam,” dan “ihsan” merupakan upaya untuk mengungkapkan nilai-nilai, ajaran, dan pesan yang terkandung dalam konsep-konsep ini, serta kemungkinan ketiganya memiliki hubunganantar satu sama lain dalam Al-Qur’an. Dalam tulisan ini, penulis akan menjelajahi konsep-konsep tersebut dari perspektif tafsir tematik, mencakup aspek-aspek leksikal, semantik, dan kontekstual, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran agama Islamsehingga dapat mengetahui beberapa hal yang dapat membuat seseorang bahkan sampai pada derajat insan kamil dengan menerapkan iman,Islam,dan ihsan dalam kehidupannya.
Manusia dianggap sempurna apabila ia telah memiliki keimanan, dilanjutkan dengan keIslaman, kemudian ia juga harus memiliki ihsan, untu dapat meraih hal tersebut, perlu adanya pemahaman mendalam mengenai apa itu iman, Islamdan ihsan. Dilanjutkan dengan kiat-kiat untuk menjadi sosok sempurna (insan kamil) di mata Allah. Salah satu pandangan diberikan oleh ibnu ‘Arabimengenai sosok insan kamil. Menurutnya, manusia sempurna adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan seluruh potensinya sesuai dengan sempurna(Susanto, 2014).
Kajianini dilakukan dengan menggunakan metode kajiankepustakaan(Fatha Pringgar & Sujatmiko,2020) dengan pendekatan historis, kajianini bertujuan untuk mengeksplorasi Iman, Islamdan ihsan dalam Al-Qur’andan hubungannya dengan sosok insan kamil menurut pandangan Ibnu ‘Arabi.
Esai ini bertujuan untuk : (1) Menjelaskan konsep Insan Kamil melalui integrasi iman, Islam, dan ihsan. (2) Memahami hubungan iman, Islam, dan ihsan dalam membentuk manusia yang sempurna. (3) Menjelaskan pentingnya penerapan nilai iman, Islam, dan ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Al-Qur’ankita terapkan menemukan kata iman ataupun ayat-ayat yang membahas tentang keimanan.Kata Iman sendiri merupakan bahasa Arab dalam bentuk masdar dari kata kerja “ امن-يؤمن-ايمانا” yang memiliki beberapa arti yaitu percaya, tentram, tunduk, dan tenang. Al-Ghazali memaknainya dengan kata tashdiq )التصديق) yang memiliki arti “pembenaran”.Pengertian Iman adalah membenarkan oleh hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakandengan perbuatan. Hal ini selaras dengan apa yang terdapat di surat Yunus ayat 90,
۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًاۗ حَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٩٠
kata آمنتpada ayat di atas memiliki arti صدقت .
Kemudian dalam Surat Yusuf ayat 17 terdapat kata بمؤمنyang bermakna بمصدق
Dari ayat-ayat di atas dapat kita dipahami maksudnya bahwa makna asal dari kata Iman di dalam Al-Qur’anialah tasdiq atau membenarkan. Sedangkan secara terminologi, Al-Qur’an menyebutkan Iman berarti menunjukkan ketundukkan dan penerimaan pada syariat yang disertai dengan keyakinan dan pembenaran dalam hati. Selaras dengan apa yang ada di dalam surat al-Hujurat ayat 14, tentang keIslaman dan keimanan seseorang. Jan Ahmad Wasil mengemukakan bahwa turunan dari kata kerja Amanna terdapat 814 kata dalam 662 ayat(Wassil, 2009).
Al-Islâm secara etimologi berarti merupakan dari lafaz الانقياد(tunduk) (Faris, 2002).Kata “Islam” sendiri berasal dari: salimayang memiliki maknaselamat. Dari kata itu terbentuk aslamayang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh dan merupakan bentuk penyerahan diri kepada Allah dengan ditandai oleh ketundukan dan keilkhalasan dalam (Az-Zuhaili, 2013). Sebagaimana yang difirmankanAllah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 112:
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَࣖ ١١٢
Bahkan, barang siapa aslama(menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati”
Dari kata aslamatersebut terbentuk kata Islam. Pemeluk agamanya disebut Muslim. Orang yang memeluk agama Islamberartiia telahmenyerahkan diri kepada Allah dan siap serta patuh padaajaran-Nya .
Kata Ihsan berasal dari bahasa Arab dari kata أحسن يُسن احسانَ yang berentuk kerja atau fi’ilyang berarti juga فعل الحسن artinya perbuatan baik(Nurhadi, 2019). Ihsan berasal dari bahasa Arab yakni terdiri dari huruf أح س نdi dalam Al-Qur’an. Kata Ihsan disebutkan secara berulang-ulang dalam Al-Qur’an dengan berbagai derivasi penyebutan, kemudian diketahui “ihsan” tersebut penyebutannya dalam Al-Qur’an sebanyak 108 kali dalam 101 ayat Al-Qur’an. Kata Ihsan dalam Al-Qur’antersebar berupa fi’il madli,masdar,fi’il Amar,fi’il mudhoriataupun juga fa’il, mabni majhul dan lain sebagainya. Ihsan secara makna memiliki arti yaitu melakukan sesuatu pekerjaan dengan sebaik mungkin seindah mungkin dan sesempurna mungkin mengarah pada ihsan Allah yang dilakukan terhadap makhluk-Nya. Ihsan juga dapat diartikan sebagai perbuatan baik atau melakukan kebaikan terhadap siapapun dengan tujuan untuk memberi manfaat atau nikmat yang kita lakukan untuk pihak lain. Hal ini sejalan dengan penafsiran para ulama seperti Thanthâwi Jauhariy yang memaknai Ihsan sebagai bentuk perbuatan baik kepada orang lain yang berbuat jahat atau negatif(At-Thabari, 1393).
Antara iman Islamdan ihsan dalam agama Islammemiliki hubungan yang saling bertalian satu sama lain, antara ketiganya tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut mengenai ketiganya Iman sendiri merupakan dasar keyakinan muslim dalam ajaran agama Islam. Hal ini juga mencakup terhadap enam rukun iman yaitu mengimani Allah sebagai satu-satunya tuhan, mengimani malaikat Allah, mengimani kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada utusan-Nya, setelah itu mengimani Nabidan Rasul-Nya, mengimani bahwa hari kiamat benar adanya juga mengimani takdir.
Kemudian apabila merujuk pada hadis Nabi tentang, apa itu iman?, dapat diartikan menjadi diucapkan dengan lisan sebagai contoh, ialan dua kalimat syahadat, setelahnya membenarkan dengan hati. Tidak hanya diucapkan, namun lafaz syahadat itu harus benar-benar dirasakan kebenarannya dalam hati, dengan meresapi maknanya dan meyakini kebenarannya. Setelahnya, tidak cukup dengan apa yang diucap dan diresapi, manusia harus senantiasa mengaktualisasikan hal tersebut dalam bentuk perbuatan. Mengimani Allah berarti juga bersedia melakukan apapun yang telah Allah tetapkan sesuai dengan syariat agama. Secara bahasa Islammemiliki arti yang beragam, seperti tunduk dan menyerahkan diri, ia juga memiliki arti selamat, yang bisa diartikan apabila seseorang itu telah tunduk kepada Allah dan ajaran agama yang telah dibawa oleh Rasul-Nya, maka tentu orang muslim ini akan selamat.
Islam sendiri dibangun atas 5 rukun, yaitu membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan salat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji apabila memungkinkan. Maka ketika seseorang mengaku ia adalah seorang muslim, maka wajib baginya melaksanakan apa yang ada dalam rukun Islam.
Sedangkan ihsan dalam bahasa Arab berasal dari kata أحسن يحسن احسانا yang berarti berbuat baik Menurut istilah, ada beberapa pendapat menurut para ulama mengenai ihsan. Pertama, Ihsanialah perasaan selalu dalam keadaan diawasi oleh Allah dalam segala ibadah yang terkandung di dalam iman dan Islam sehingga seluruh ibadah seorang hamba ikhlas hanya karena Allah. Kedua, Menurut Imam Nawawi Ihsan adalah perasaan ikhlas dalam beribadah kemudian seorang hamba merasa selalu diawasi oleh Allah dengan penuh khusuk, khuduk dan lainnya.Iman,Islam,dan ihsan digambarkan sebagai segitiga sama sisi yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya merupakan kerangka dasar ajaran agama Islam. Sehingga untuk mendapatkan derajat insan kamil maka, seseorang harus memiliki ketiga aspek ini.
Hubungan antara iman Islam dan ihsan yaitu iman lebih umum dari pada ihsan sedangkan Islam lebih umum dari pada iman. Dalam artian seorang muslim itu belum tentu Ia memiliki iman, dan seorang yang beriman juga belum tentu dia memiliki ihsan, karena ihsan merupakan tingkatan tertinggi dari pada ketiga hal ini. Seorang yang muhsin tentu Ia adalah mukmin juga muslim. Tidak semua yang mukmin itu muhsin, karena pada tingkatan ihsan seseorang akan merasa selalu diawasi oleh Allah dalam segala perbuatannya. Mungkin saja seseorang itu mumin tapi dikatakan belum muhsin, karena di dalam hatinya ada tasdiq namun ia belum sampai merasa diawasi oleh Allah. Berkaitan dengan hal ini, terdapat orang yang Islam tapi dia belum beriman. Seperti yang tertera dalam firman Allah surat al-Hujurat ayat 14, yang mengisahkan tentang orang badui yang baru saja masuk Islam, kemudian mengklaim bahwa mereka telah masuk pada tingkatan iman sembari berkata “Kami memercayai Allah SWT dan Rasul-Nya, serta keimanan telah tertanam dalam hati kami.” KemudianAllah menyangkal pernyataan mereka tersebut, bahwa sesungguhnya mereka itu belum beriman secara sempurna. Belum adanya pembenaran terkait keyakinan hati, ketulusan niat, serta keimanan yang sempurna terhadap Allah SWT.Allah juga memberi tahu bahwa keimanan mereka belumlah sampai dan tertanam dengan kuat di dalam hati, tapi hanya sebatas ucapan di bibir tanpa adanya keyakinan yang benar serta niat yang tulus(Mumtazah Al ’Ilmah et al., 2023).
Setelah kita membahas tentang apa iman Islam dan ihsan, maka setelahnya kita bisa melihat bagaimana cara membentuk sosok insan kamil melalui iman,Islam,dan ihsan. Seseorang dapat disebut beriman apabila ia percaya adanya Allah, adanya malaikat Allah, adanya kitab-kitab Allah, adanya RasulAllah, hari kiamat dan takdir baik ataupun buruk. Namun, setiap muslim belum tentu beriman, boleh jadi Ia memiliki Iman namun masih dalam derajat yang sangat lemahatau rendahimannya, sehingga hatinya tidak meyakini dengan sempurna meski Ia melakukan segala bentuk amalan dengan anggota tubuhnya.
Ihsan didefinisikan sebagai keadaan menyembah Allah seolah-olah mata kepala hamba itu melihat Allah apabila tidak memungkinkan atau tidak bisa melihat Allah, tetapi sesungguhnya Allah itu melihat seorang hamba tersebut. Agar ibadah kita dapat mencapai derajat Ihsan, maka seolah-olah mata hati kita itu selalu melihat Allah dalam melakukan peribadahan, mata hati kita harus senantiasa dapat menghadirkan Allah sehingga kita dapat menyembah Allah secara benar-benar. Seperti yang tertera dalam surah al-hijr ayat 99 yang artinya “Sembahlah Tuhanmu sampai kamu yakin (Tuhan yang kamu sembah itu hadir di mata hatimu)”
Insan kamil bukanlah manusia pada umumnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Arabi(Takeshita, 2005)ada dua jenis manusia, yaitu insan kamil dan seorang monster yang bertubuh manusia. Apabila ia tidak menjadi Insan kamil, tentu ia akan menjadi monster yang bertubuh manusia, sesuai dengan adanya term manusia dalam Al-Qur’an, untuk dapat selamat kembali kepada Allah dan mendapatkan surganya kita harus mencapai derajat Insan Kamil.
Untuk mencapai derajat insan kamil ini, kita hendaknya terlebih dahulu mengalahkan nafsu dan syahwat, selaras dengan firman Allah yang tertuang dalam surat al-Fajr ayat 27-30,kita harus mencapai tangga nafsul mutmainnah, ia merupakan titik awal untuk kembali kepada Allah, dan di samping itu masih ada tangga nafsu di atasnya. Kemudian Allah sendiri yang akan menariknya dalam membentuk insan kamil. Syarat pertama untuk mencapai Insan kamil adalah dengan beriman secara benar dan mempersiapkan diri menuju insan kamil. Umpamanya dalam ibadah salat, kita harus melakukan salat sebagaimana mestinya dengan melakukan takbiratul Ihram, sujud, rukuk, salam dan lain sebagainya, dibarengi dengan keadaan hati yang mengingat Allah. Ibadah yang ia lakukan haruslah ikhlas karena Allah, insan kamil merupakan sosok manusia ideal yang dikehendaki Allah, dengan akal dan hati yang dimiliki seoranginsan kamil ia harus bisa menundukkan nafsu dan syahwat dengan cara memperkuat keimanan yang mana keimanan ini harus mencapai tingkatan yakin, bukan hanya hanya percaya semata. Bersungguh-sungguh dalam ibadah memperbaiki akhlak dan perilaku dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, term iman Islamdan ihsan terdapat banyak penyebutannya dalam Al-Qur’an. Lafaz Iman beserta derivasinya disebutkan sebanyak 814 kali. Islamdalam Al-Qur’anterjadi sebanyak 73 pengulangan, dan Ihsan disebutkan sebanyak 108 kali.Iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga serangkaian pokok ajaran agama Islam, yang dimana ihsan menjadi ujung tombaknya. Islammemiliki beberapa makna salah satunya yaitu memasrahkan diri, dalam artian kita haruslah pasrah dengan apa yang ada dalam ajaran Islam. Sedang Iman berarti tashdiq, percaya atau yakin, memeluknya seorang muslim kepada agama Islamharus juga membuatnya yakin pada apa yang ada dalam agama tersebut. Setelahnya diharapkan muncul ihsan dalam diri manusia yang mana berarti berbuat baik, ikhlas karena Allah SWT.Manusia yang sempurna ialah manusia yang dapat mencapai iman, Islam dan ihsan secara sempurna. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu ‘Arabimengenai siapakah sosok insan kamil, bahwa manusia itu ialah sosok khalifah di muka bumi dan sosok yang sempurna. Ia dapat mencapai kebenaran ajaran agama serta dapat memberikan kelestarian dalam masyarakat yang rukun tenteramdan terpelihara.
At-Thabari. (1393). Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an. Dar al-Fikr.
Az-Zuhaili, W. (2013). Tafsir Al-Munir. Gema Insani.
Faris, I. (2002). Maqayis Al-Lughah(Juz 3). Dar Al Fikr.
Mumtazah Al ’Ilmah, Salamah Noorhidayati, Ahmad Saddad, Siti Marpuah, & Husnul Amira. (2023). Pendidikan Karakter dalam Surah al-Hujurat: Telah Penafsiran Mahmud Yunus dalam Tafsir al-Karim.
Nurhadi. (2019). Islam, Iman dan Ihsan dalam Kitab Matan Arba‘in An-Nawawi. Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi KeIslaman, 9(01),1–18. https://doi.org/10.33367/ji.v9i01.811
Takeshita, M. (2005). Insan Kamil Pandangan Ibnu ‘Arabi, Sebuah Disertasi. Risalah Gusti.
Wassil, J. A. (2009). Tafsir Quran Ulul Albab: Sebuah Penafsiran Al-Qur’andengan Metode Tematis. Madani Prima.
Kontributor: Khoirunnisyah
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
Dasar Al-Qur’an dan Hadis Tentang Kejujuran dan Integritas 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I...
Kajian Tafsir atas Doktrin Pemadatan Makna dalam Tradisi Keilmuan Islam ABSTRAK Kajian ini membahas ...
1. PENDAHULUAN Dunia terus berubah dengan akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi ...
1. Pendahuluan Masjid telah lama berdiri sebagai institusi sentral dalam sejarah dan peradaban Islam...
Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga...
1. PENDAHULUAN Era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komuni...

1. PENDAHULUAN “Pak, kambing ini umurnya baru setahun kurang sebulan, boleh buat kurban tidak?” Pertanyaan seperti ini kerap muncul ...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

1. PENDAHULUAN Kehidupan modern di era globalisasi saat ini ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan arus kemajuan yang sangat pesat. Peru...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu masalah serius yang masih menjadi tantangan besar dalam sistem pemerintahan dan pelayanan publik di ...

Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

No comments yet.