Azzahra Aqsha Mardhatillah • Jun 01 2026 • 31 Dilihat

Perkembangan teknologi di era modern, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi tingkat tinggi, telah membawa perubahan radikal dalam lanskap sosiologis dan kognitif manusia. Teknologi masa kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu mekanis statis, melainkan entitas cerdas yang mampu memprediksi, memecahkan masalah kompleks, hingga meniru kemampuan berpikir manusia. Fenomena ini menawarkan efisiensi tanpa batas, namun di sisi lain, menuntut ruang yang sangat besar dalam atensi dan ketergantungan harian masyarakat modern.
Di tengah derasnya arus digitalisasi ini, muncul sebuah tantangan spiritual yang signifikan. Kemudahan ekstrem yang ditawarkan teknologi cerdas perlahan-lahan menggeser kesadaran transendental manusia. Ketika semua persoalan hidup seolah-olah dapat diselesaikan dengan algoritma, asisten virtual, dan ketukan jari, ruang untuk berserah diri, bersabar, dan berefleksi secara spiritual kian menyempit. Akibatnya, masyarakat modern kerap terjebak dalam lingkaran materialisme akut dan mengalami penurunan kesadaran spiritual yang mengkhawatirkan.
Topik ini menjadi sangat krusial untuk dibahas karena menyentuh eksistensi paling mendasar dari seorang Muslim: menjaga kemurnian tauhid di tengah kepungan kecerdasan buatan. Mengkaji dinamika antara kecerdasan teknologi dan keteguhan iman bukan bertujuan untuk mempromosikan penolakan terhadap kemajuan zaman (technophobia), melainkan sebagai langkah mitigasi agar manusia tidak menuhankan teknologi dan melupakan hakikat dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Kecerdasan teknologi yang kian masif berpotensi menggerus kualitas keimanan jika manusia menjadikannya sebagai sandaran utama kehidupan, sehingga merusak esensi Tauhid Rububiyah (keyakinan terhadap Allah sebagai pengatur alam) dan Uluhiyah (penghambaan mutlak). Namun, teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Tuhan atau mengikis iman secara otomatis, asalkan keimanan tersebut tidak sekadar menjadi dogma lisan, melainkan diinternalisasikan sebagai kompas moral dan fondasi berpikir. Tantangan era modern ini harus dijawab dengan mereaktualisasikan konsep ketuhanan dan ketakwaan, sehingga teknologi cerdas justru diposisikan sebagai instrumen untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT, bukan sebagai substitusi eksistensial-Nya.
Ketika teknologi mampu memprediksi cuaca, mendiagnosis penyakit secara presisi, dan mengatur hajat hidup manusia secara otomatis, manusia modern mulai terjebak dalam ilusi bahwa teknologi adalah entitas yang “Maha Mengatur” segalanya. Secara tidak sadar, hal ini dapat mengaburkan keyakinan terhadap Tauhid Rububiyah bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, dan pengatur seluruh alam semesta.
Ketergantungan yang berlebihan pada sistem algoritma dapat memicu pergeseran psikologis di mana manusia merasa tidak lagi membutuhkan doa atau sandaran spiritual. Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an mengenai kecenderungan manusia yang melampaui batas ketika merasa serba cukup:
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ – ٦ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ – ٧
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7).
Dalam konteks ilmiah, sebuah studi sosiokultural mengungkapkan kekhawatiran mendasar di kalangan komunitas Muslim mengenai bagaimana AI mulai menggeser pemahaman tentang agensi manusia (human agency) dan tanggung jawab moral di hadapan Tuhan (Firdaus, 2026). Ketika kontrol kehidupan diserahkan sepenuhnya pada mesin, kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan ketetapan (qada dan qadar) Allah terancam menipis.
Keimanan dalam Islam dibangun di atas rukun yang kokoh, termasuk iman kepada Kitab-kitab Allah dan para Rasul sebagai pembawa kebenaran mutlak. Namun, di era digital saat ini, kecerdasan generatif diambil alih sebagai otoritas kebenaran baru. Generasi muda beralih mencari fatwa instan berbasis kecerdasan buatan yang sering kali mengabaikan sanad keilmuan, kedalaman spiritual, dan konteks humanis.
Jika proses memahami agama mengalami mekanisasi total tanpa melibatkan hati, keimanan akan kehilangan ruhnya. Iman bukan sekadar data statistik yang diolah oleh logika sintetis, melainkan keyakinan yang tertanam dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Fenomena ini diperkuat oleh riset di Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan yang mengidentifikasi adanya gejala “AI Worship” (pemujaan/ketergantungan mutlak pada AI) di lingkungan akademik, di mana proses intelektual dan spiritual manusia digantikan secara instan oleh teknologi, yang secara fundamental dapat mencederai kemurnian nilai tauhid (Pohan & Nasution, 2025).
Meskipun tantangan menganga lebar, teknologi cerdas di sisi lain dapat menjadi alat (wasilah) yang sangat kuat untuk meningkatkan keimanan jika dipandang melalui kacamata Tauhid Asma wa Sifat. Ketika manusia melihat betapa rumit dan cerdasnya jaringan saraf tiruan (neural networks) yang diciptakan manusia, hal tersebut seharusnya mengantarkan kesadaran pada sifat Allah Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alim) dan Maha Merancang (Al-Khaliq). Otak manusia yang merancang AI hanyalah sebagian kecil dari mahakarya ciptaan Allah.
Allah SWT berfirman:
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗۗ… – ٥٣
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar…” (QS. Fussilat: 53).
Melalui kacamata objektif, teknologi justru dapat memfasilitasi kedekatan spiritual. Berdasarkan penelitian, integrasi nilai iman, Islam, dan ihsan di era digital dapat diakomodasi melalui pemanfaatan platform teknologi secara bijak untuk memperkuat koneksi spiritual dan membangun kepribadian Muslimah yang tangguh menghadapi tantangan zaman (Wardhani et al., 2025). Sinkronisasi ini juga didukung oleh kajian dalam Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya yang menegaskan bahwa Islam sangat mendukung pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan sejauh ia mendatangkan kemaslahatan umat (maqasid al-shariah) dan dikendalikan dengan prinsip tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi (Ananda et al., 2025).
Opini ini memberikan implikasi penting bahwa perang nyata di era modern bukanlah melawan perangkat keras atau perangkat lunak teknologi, melainkan melawan pengikisan kesadaran spiritual di dalam diri manusia sendiri. Bagi masyarakat luas, pandangan ini menggeser paradigma dari ketakutan distopia (takut iman hilang karena teknologi) menjadi optimisme regulatif (mengendalikan teknologi demi iman). Kecerdasan buatan tidak boleh mengurangi ruang interaksi sosial-keagamaan yang sarat dengan nilai humanis.
Bagi dunia pendidikan tinggi dan pengambil kebijakan, implikasinya adalah urgensi untuk tidak memisahkan kurikulum sains-teknologi dengan pendidikan moral-spiritual. Sebagaimana dikaji dalam Jurnal SMART, algoritma teknologi yang mempersonalisasi konsumsi digital dapat menciptakan isolasi informasi yang memengaruhi diversitas pemahaman keagamaan (Munibi, 2024). Oleh karena itu, pengembangan teknologi masa depan harus dilandasi oleh etika ketuhanan agar tidak melahirkan inovasi yang destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Iman harus dijadikan pedoman moral utama agar kemajuan teknologi cerdas tetap berjalan beriringan dengan keluhuran akhlak dan ketakwaan.
Kecerdasan teknologi tidak akan pernah bisa menggerus iman kita, kecuali jika kita sendiri yang mengizinkan teknologi tersebut mengambil alih ruang hati dan orientasi hidup kita. Ketika teknologi kian cerdas, hal tersebut harus menjadi alarm bagi manusia untuk memperkuat fondasi tauhid dan mereaktualisasikan rukun iman dalam tindakan nyata. Teknologi adalah pelayan (khadim), sedangkan Allah SWT adalah tujuan akhir (ghayah).
Sebagai rekomendasi, masyarakat modern khususnya generasi muda muslim harus membangun batasan yang sehat dalam berinteraksi dengan dunia digital melalui praktik digital detox berkala guna menjaga kekhusyukan ibadah dan melatih ketakwaan. Tutuplah layar gawai Anda sejenak ketika panggilan azan berkumandang, buktikan bahwa secerdas apapun teknologi yang Anda genggam, ia tetap bertekuk lutut di bawah kuasa Allah SWT, Sang Pemilik ilmu yang sesungguhnya.
Ananda, A. F., Nurhidayah, S., Zahirianata, M., & Sa’adah, N. (2025). Pandangan Islam terhadap Etika Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dalam kehidupan sehari-hari. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, 1(3), 397-409. https://doi.org/10.63822/yd7xwt39
Firdaus, M. A. (2026). Islam and Artificial Intelligence: Perspectives from Traditionalist and Modernist Muslim Communities in Indonesia. Jurnal Miqot UINSU, 50(1). https://jurnalmiqotojs.uinsu.ac.id/index.php/jurnalmiqot/article/view/1333
Munibi, A. Z. (2024). Faith in the Digital Era: How Language and Artificial Intelligence Technology Reshape Religious Practices. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 10(2). https://journal.blasemarang.id/index.php/smart/article/view/2906
Pohan, A. J., & Nasution, S. (2025). Artificial Intelligence is Not God: Between Academic Ethics and the Worship of AI in Academic Publications at Islamic Universities. Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan, 22(2). https://journal.uir.ac.id/index.php/alhikmah/article/view/21415
Wardhani, A. E., Istiqomah, N., & Luthfiah, N. (2025). Integrasi Nilai Iman, Islam, Dan Ihsan Dalam Membangun Kepribadian Muslimah Di Era Digital. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(2), 141-149. https://doi.org/10.61104/ihsan.v3i2.872
Kontributor: Azzahra Aqsha Mardhatillah
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...
Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan mendasar yang menghambat pembangunan bangsa, termasuk pembangunan di sektor kesehatan. ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia sejak lama dan hingga kini belum sepenuh...

ABSTRAK Ibadah kurban merupakan salah satu syiar Islam yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Setelah penyembelihan, pengelolaan hasi...

1. PENDAHULUAN Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu strategi penting dalam upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehata...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Korupsi merupakan fenomena patologi sosial yang menjadi hambatan sistemik utama bagi pertumbuhan ekonomi, stab...

No comments yet.