Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • BERILMU TAPI KEHILANGAN ARAH

    Jun 03 202611 Dilihat

    Ketika Generasi Muda Melepas Nilai Agama dan Pancasila dari Kehidupannya

    1. PENDAHULUAN

    Di sebuah kampus di kota besar, seorang mahasiswa tingkat akhir dengan bangga memperlihatkan transkrip nilai yang nyaris sempurna. IPK-nya memukau, kemampuan teknisnya tidak diragukan, dan ia fasih berbicara dalam bahasa akademik. Namun ketika ditanya tentang kejujuran dalam mengerjakan tugas, ia hanya tersenyum sambil berkata, “Semua orang melakukan itu, Kak.” Di tempat lain, seorang remaja SMA yang aktif di media sosial dengan percaya diri menyebarkan informasi yang belum terverifikasi hanya karena kontennya terasa menarik. Di sudut kota yang lain lagi, seorang pemuda yang pintar berargumen tentang keadilan justru bersikap diskriminatif terhadap teman yang berbeda latar belakang.

    Wajah-wajah berbeda, konteks berbeda, namun semuanya bermuara pada satu persoalan yang sama: ilmu yang tidak disertai nurani. Indonesia sedang menghadapi paradoks yang menggelisahkan. Di satu sisi, angka partisipasi pendidikan tinggi terus meningkat. Di sisi lain, laporan demi laporan menunjukkan melemahnya integritas akademik, meningkatnya perilaku intoleran di kalangan remaja, dan tergerusnya rasa tanggung jawab sosial pada generasi muda. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah anak-anak muda kita cerdas, melainkan: cerdas untuk apa, dan berilmu untuk siapa?

    Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan adalah amanah yang harus dijaga dan disampaikan dengan kejujuran. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 36:

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚإِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

    (QS. Al-Isra: 36)

    Ayat ini bukan sekadar perintah epistemologis, melainkan juga peringatan moral bahwa setiap klaim keilmuan harus berdiri di atas kebenaran, bukan kepalsuan. Oleh karena itu, artikel ini hadir untuk menyuarakan sebuah keprihatinan yang mendesak: bahwa krisis karakter yang melanda generasi muda bukan hanya masalah pelanggaran aturan, melainkan krisis nurani yang harus ditangani dari akar moralnya.

    2. PERNYATAAN OPINI / TESIS

    Melemahnya internalisasi nilai-nilai agama dan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari generasi muda menjadi akar dari krisis karakter yang kini tampak dalam berbagai perilaku: ketidakjujuran akademik, intoleransi di ruang digital, hingga hilangnya rasa tanggung jawab sosial. Sudah saatnya lembaga pendidikan, keluarga, dan generasi muda sendiri tidak hanya memastikan bahwa ilmu itu diperoleh, tetapi juga menjamin bahwa ilmu tersebut lahir dan berdiri di atas fondasi nurani sebuah fondasi yang hanya bisa dibangun melalui penghayatan nilai agama dan Pancasila secara sungguh-sungguh, bukan sekadar hafalan.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1. Ilmu Tanpa Iman Melahirkan Generasi yang Tersesat

    Kemajuan teknologi digital membawa akses pengetahuan yang luar biasa bagi generasi muda. Namun akses terhadap informasi tidak secara otomatis membentuk karakter. Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai perilaku yang kini dianggap lumrah: menyontek dengan cara yang lebih canggih menggunakan teknologi, menyebarkan konten tanpa verifikasi demi eksistensi di media sosial, hingga mengabaikan nilai sopan santun dalam interaksi daring. Banyak dari mereka tahu bahwa hal itu salah, namun pengetahuan tanpa nilai moral yang tertanam kuat tidak akan cukup untuk mendorong pilihan yang benar.

    Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang fondasi dari setiap tindakan:

    إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

    Sesungguhnya setiap amal (perbuatan) tergantung pada niatnya.

    (HR. Bukhari & Muslim)

    Mahasiswa yang mengaku memahami materi padahal ia hanya mengandalkan contekan atau salinan karya orang lain sedang menjalankan aktivitas akademik tanpa niat yang benar. Ia tidak sedang menuntut ilmu; ia sedang mengejar nilai. Dan keduanya adalah hal yang sangat berbeda.

    3.2. Plagiarisme dan Kecurangan adalah Pelanggaran Moral, Bukan Sekadar Pelanggaran Aturan

    Salah satu bentuk pelanggaran integritas akademik yang paling umum adalah plagiarisme mengambil karya atau pemikiran orang lain tanpa memberikan pengakuan yang semestinya. Menurut Park (2003), plagiarisme tidak semata-mata disebabkan oleh ketidaktahuan prosedur sitasi, tetapi lebih kepada lemahnya kesadaran moral. Allah SWT secara tegas melarang tindakan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan:

    وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.

    (QS. Al-Baqarah: 42)

    Ketika seorang mahasiswa menyajikan karya orang lain seolah-olah miliknya, ia menyembunyikan sumber yang sebenarnya padahal ia mengetahuinya. Rasulullah SAW pun mempertegas dalam hadis riwayat Muslim:

    الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

    Orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya (mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang bukan miliknya), halnya seperti orang yang memakai dua pakaian kepalsuan.

    (HR. Muslim)

    Gelar akademik atau nilai tinggi yang diraih melalui kecurangan adalah pakaian kepalsuan: terlihat memukau dari luar, namun dibangun di atas kebohongan.

    3.3. Pancasila yang Dihapal, Bukan Dihayati

    Pancasila menyimpan kandungan nilai moral yang sangat kaya. Namun realitasnya, Pancasila lebih sering diposisikan sebagai hafalan ujian daripada pedoman hidup. Sila keempat yang mengajarkan musyawarah menjadi ironi ketika komentar di media sosial justru dipenuhi penghinaan dan polarisasi. Sila ketiga tentang persatuan menjadi kosong maknanya ketika perpecahan atas nama identitas suku, agama, golongan semakin mudah diprovokasi di kalangan anak muda. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

    Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

    (QS. Al-Hujurat: 13)

    Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan undangan untuk saling mengenal sebuah nilai yang sejalan sempurna dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi roh Pancasila.

    3.4. Ilmu sebagai Amanah: Perspektif Agama dan Pancasila

    Islam memandang ilmu bukan sekadar instrumen duniawi, melainkan cahaya yang harus dijaga kemurniannya. Allah SWT memerintahkan agar setiap amanah disampaikan kepada yang berhak:

    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

    (QS. An-Nisa: 58)

    Dalam konteks akademik, amanat ini berarti menyampaikan ilmu dan karya dengan jujur: dosen berhak mendapatkan hasil kerja nyata dari mahasiswanya, masyarakat berhak mendapatkan ilmu yang valid dari para ilmuwan, dan institusi berhak mendapatkan lulusan yang benar-benar kompeten. Nilai amanah ini sejalan sempurna dengan sila kelima Pancasila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang menuntut setiap warga negara memberikan yang terbaik dan paling jujur kepada sesama. Seorang mahasiswa yang mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, meski hasilnya tidak sempurna, sedang menjalankan amanah ilmiah yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

    4. DISKUSI / IMPLIKASI

    Krisis karakter yang melanda generasi muda bukan masalah individual semata. Ia adalah masalah ekosistem yang melibatkan mahasiswa, dosen, institusi, dan budaya akademik secara keseluruhan. Apabila dibiarkan, dampaknya akan terasa jauh melampaui ruang kelas.

    Pertama, dari sisi institusi pendidikan, sudah mendesak untuk mengintegrasikan nilai agama dan Pancasila bukan sebagai mata kuliah tersendiri yang mudah dilupakan, melainkan sebagai nilai yang meresap dalam setiap proses pembelajaran. Dosen yang menjadi teladan kejujuran, sistem penilaian yang menghargai proses bukan hanya hasil, dan konsistensi dalam memberikan sanksi terhadap kecurangan adalah bagian dari ekosistem pendidikan berkarakter yang harus dibangun secara serius.

    Kedua, dari sisi keluarga, nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak dini dalam suasana kehidupan keluarga yang hangat dan jujur akan jauh lebih membekas dibandingkan pelajaran formal mana pun. Orang tua yang menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan adalah guru karakter terbaik yang dimiliki anak-anak mereka.

    Ketiga, dari sisi nilai keislaman, konsep muraqabah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan adalah benteng moral paling kuat yang tidak bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan manusia. Allah SWT mengingatkan dalam QS. At-Taubah ayat 119:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

    Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.

    (QS. At-Taubah: 119)

    Ketika sistem pendeteksi plagiarisme bisa diakali dan teman-teman mendukung kecurangan, hanya kesadaran muraqabah inilah yang tersisa. Menanamkan kesadaran ini dalam konteks akademik adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih efektif daripada sistem pengawasan eksternal mana pun.

    5. PENUTUP

    Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pintar menghafal rumus atau mahir mengoperasikan teknologi. Indonesia membutuhkan generasi yang ilmunya bisa dipercaya, yang karakternya tidak bergantung pada ada atau tidaknya pengawas, dan yang setiap tindakannya mencerminkan nilai-nilai agama dan Pancasila yang ia akui sebagai bagian dari identitasnya.

    Agama mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa pemiliknya semakin dekat kepada kebenaran dan kebaikan. Pancasila mengajarkan bahwa kemajuan seseorang harus dibarengi dengan tanggung jawab kepada sesama dan kepada bangsa. Keduanya bukan beban keduanya adalah sayap.

    Rekomendasi utama dari tulisan ini ada tiga: (1) lembaga pendidikan harus menjadikan nilai agama dan Pancasila sebagai ruh pembelajaran, bukan sekadar mata kuliah wajib; (2) orang tua perlu menjadi teladan integritas dalam kehidupan sehari-hari; dan (3) generasi muda harus menyadari bahwa ilmu yang diperoleh dengan cara yang jujur adalah satu-satunya ilmu yang benar-benar milik mereka.

    “Karena pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan seberapa tinggi IPK yang kamu raih, melainkan: apakah ilmu yang kamu miliki adalah milikmu yang sesungguhnya, dan apakah ia membawa manfaat nyata bagi orang-orang di sekitarmu?”

    REFERENSI

    Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.

    Anzki, B., Rahmadani, C., Saputri, D., Qisthi, A.S., & Zakarya, A.A. (2024). Memahami Sila-Sila dalam Pancasila Menurut Pandangan Pendidikan Agama Islam.

    Gesmi, I., & Hendri, Y. (2008). Buku Ajar Pendidikan Pancasila. Uwais Inspirasi Indonesia.

    Jamil, dkk. (2022). Korelasi Nilai-Nilai Pancasila dengan Ajaran Islam. Jurnal Pendidikan Indonesia.

    Khotimah. (2020). Pancasila dan Nilai-Nilai Keislaman: Satu Kesatuan yang Tidak Terpisahkan. Jurnal Studi Keislaman.

    Kitab Hadis: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim.

    Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

    Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Kencana.

    Nurgiansah, T.H. (2021). Pendidikan Pancasila di Era Globalisasi. Jurnal Kewarganegaraan, 5(1).

    Park, C. (2003). In other (people’s) words: Plagiarism by university students Literature and lessons. Assessment & Evaluation in Higher Education, 28(5), 471–488.

    Syamsudin, M., dkk. (2009). Pendidikan Pancasila: Menempatkan Pancasila dalam Konteks Keislaman dan Keindonesiaan. Total Media.

    Tim APDK. (2020). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Era 4.0. Gemala.

    Yanto, F. (2020). Nilai-Nilai Islam dalam Sila-Sila Pancasila. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.

    Kontributor: Aliyyah Badriyyah

    Editor: Dani Habibi, M.Ag.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    BUKAN SOAL KELIHATAN SHOLEH

    Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...

    Sains Tanpa Arah, Teknologi Tanpa Nurani...

    by Muhammad Rafael Mubaroq Jun 05 2026

    1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...

    Amanah dan Tanggung Jawab Sebagai Pilar ...

    by Muhammad Fattah Jun 04 2026

    1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...

    AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

    by Gani Pranoto Pendowo Jun 04 2026

    Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...

    HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

    by Naurah Mazayya Aniswar Jun 04 2026

    Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...

    SCROLLING TANPA BATAS, EMPATI YANG TERHE...

    by Muhammad Aprizal Jun 04 2026

    Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Urgensi Amanah dan Tanggung Jawab dalam Islam: ...

    1. PENDAHULUAN Melihat fenomena saat ini, krisis moral dan integritas ibarat error sistemik (kecurangan) yang dampaknya sangat merusak, baik di ...

    28 May 2026

    Tahapan Penyuluhan Anti Korupsi yang Sistematis

    1.  PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan serius yang berdampak luas terhadap pembangunan ekonomi, sosial, dan politik suat...

    09 Apr 2026

    Panitia Kurban Bukan Pemilik Hewan: Memahami Pe...

    1. PENDAHULUAN Setiap Idul Adha, masjid-masjid dan mushala di seluruh Indonesia ramai dengan kegiatan penyembelihan hewan kurban. Para panitia b...

    29 May 2026

    Menyembelih Sendiri atau Lewat Panitia, Mana ya...

    1. PENDAHULUAN Setiap tahun menjelang Idul Adha, pertanyaan ini berulang di tengah masyarakat: “Apakah saya harus hadir dan menyaksikan pe...

    28 May 2026

    Dampak Jangka Panjang Korupsi Bagi Generasi Men...

    1. PENDAHULUAN Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita pikirkan: siapa sesungguhnya yang paling menderita akibat korupsi? Bukan hanya masyarakat ...

    09 Apr 2026
    back to top