Mochamad Jam Junior • Jun 07 2026 • 14 Dilihat

Pernahkah kamu merasa sudah melakukan banyak hal kuliah, organisasi, part-time, olahraga, scrolling media sosial berjam-jam tapi di akhir hari tetap merasa ada yang kurang? Badan lelah, daftar to-do list tercentang semua, tapi hati terasa kosong. Kalau pernah, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini punya nama: existential emptiness kekosongan eksistensial. Dan ia sedang menjangkit generasi Z lebih luas dari yang kita sadari. Sebuah survei global dari Gallup (2023) menemukan bahwa generasi Z adalah generasi paling stres dan paling kehilangan makna hidup dibandingkan generasi mana pun sebelumnya, meskipun secara akses informasi dan teknologi mereka adalah yang paling beruntung.
Paradoks ini bukan kebetulan. Ketika kita terlalu sibuk menjadi produktif mengejar target, membangun personal branding, berlomba jadi yang terbaik kita lupa menanyakan satu pertanyaan paling mendasar: sebenarnya, semua ini untuk apa? Di sinilah agama hadir bukan sebagai penghalang ambisi, melainkan sebagai cermin yang mengingatkan kita pada tujuan hidup yang sesungguhnya.
Penulis berpendapat bahwa krisis makna yang dialami generasi Z bukan semata-mata soal tekanan akademis atau pengaruh media sosial, melainkan akibat terputusnya hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Produktivitas tanpa arah hanyalah kesibukan yang melelahkan. Sebaliknya, ketika seorang mahasiswa benar-benar memahami hakikat dirinya sebagai manusia, menjalani tanggung jawabnya secara utuh, dan memaknai setiap aktivitas sebagai ibadah maka hidup bukan hanya menjadi produktif, tetapi juga bermakna, tenang, dan terarah.
Pertanyaan “siapa saya dan untuk apa saya ada” adalah pertanyaan tertua yang pernah dilontarkan manusia. Dan Islam menjawabnya bukan dengan spekulasi filosofis, melainkan dengan wahyu yang jelas dan meyakinkan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Muโminun: 12โ14:
ููููููุฏู ุฎูููููููุง ุงููุฅููุณูุงูู ู ููู ุณูููุงููุฉู ู ูููู ุทููููู ุซูู ูู ุฌูุนูููููุงูู ููุทูููุฉู ูููู ููุฑูุงุฑู ู ูููููููู ุซูู ูู ุฎูููููููุง ุงููููุทูููุฉู ุนูููููุฉู ููุชูุจูุงุฑููู ุงูููููู ุฃูุญูุณููู ุงููุฎูุงููููููู
โDan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah… Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.โ (QS. Al-Muโminun: 12โ14)
Ayat ini menggambarkan proses penciptaan manusia yang luar biasa dari tanah, menjadi nutfah, kemudian berkembang hingga menjadi sosok manusia yang sempurna. Pesan terdalamnya adalah: kamu bukan hasil kebetulan evolusi semata. Kamu adalah karya terbaik dari Pencipta terbaik. Dan karya terbaik selalu punya tujuan.
Manusia dalam Islam dibekali tiga hal yang tidak dimiliki makhluk lain: akal untuk berpikir dan menganalisis, hati untuk merasakan dan berempati, serta ruh yang memberi dimensi spiritual dalam setiap langkah hidupnya. Ketiga elemen ini bukan aksesori tambahan ia adalah inti dari siapa kita. Mahasiswa yang hanya melatih akal tapi mengabaikan hati dan ruh ibarat komputer canggih tanpa listrik: potensinya ada, tapi tidak pernah menyala sepenuhnya.
Lebih jauh, Islam menyebut manusia sebagai khalifah wakil Allah di muka bumi. Ini bukan sekadar gelar keagamaan. Ini adalah jabatan dengan tanggung jawab nyata: menjaga, membangun, dan memberikan kemanfaatan di mana pun kita berada. Mahasiswa adalah khalifah di kampusnya. Anak adalah khalifah di keluarganya. Warga adalah khalifah di lingkungannya.
Salah satu hal yang membuat manusia unik adalah bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar berdiri sendiri. Sekuat apapun seseorang, ia tetap lahir dari orang lain, besar dengan bantuan orang lain, dan bermakna karena hubungannya dengan orang lain. Islam memahami ini jauh sebelum ilmu sosiologi modern ada.
Sebagai individu, ada tiga tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Pertama, tanggung jawab atas ilmu menuntut ilmu bukan hanya soal nilai, tapi soal kewajiban. Kedua, tanggung jawab atas akhlak prestasi tanpa karakter hanya menghasilkan manusia berbahaya yang cerdas. Ketiga, tanggung jawab atas kesehatan tubuh adalah amanah yang harus dijaga, bukan sekadar alat untuk produktivitas.
Sebagai makhluk sosial, tanggung jawab itu meluas. Rasulullah SAW mengingatkan dengan tegas:
โSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.โ
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan hanya berbicara tentang pemimpin negara atau organisasi besar. Ia berbicara tentang kamu yang memimpin dirimu sendiri setiap hari. Kamu bertanggung jawab atas pilihan yang kamu buat, kata-kata yang kamu ucapkan, dan dampak yang kamu tinggalkan pada orang-orang di sekitarmu. Tanggung jawab sosial bukan beban tambahan ia adalah bagian dari makna hidup itu sendiri.
Ini adalah konsep yang paling sering disalahpahami sekaligus paling revolusioner dalam ajaran Islam. Banyak orang berpikir ibadah hanya berlangsung di atas sajadah atau di dalam masjid. Padahal, Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anโam: 162:
ูููู ุฅูููู ุตูููุงุชููู ููููุณููููู ููู ูุญูููุงูู ููู ูู ูุงุชููู ูููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู ูููู
โKatakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.โ (QS. Al-Anโam: 162)
Perhatikan kata โhidupkuโ dalam ayat itu. Bukan hanya shalatku. Bukan hanya puasaku. Tapi seluruh hidupku. Ini berarti belajar untuk ujian bisa jadi ibadah. Menolong teman yang kebingungan bisa jadi ibadah. Menjaga ucapan di grup kelas bisa jadi ibadah. Bahkan tersenyum pun bernilai ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
โSenyummu kepada saudaramu adalah sedekah.โ
(HR. Tirmidzi)
Konsep ini adalah jawaban untuk kekosongan yang banyak anak muda rasakan. Ketika hidup hanya diisi dengan mengejar target tanpa makna, ia menjadi melelahkan. Tapi ketika setiap aktivitas diniatkan untuk Allah tiba-tiba semua terasa lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih bernilai. Niat adalah kuncinya. Dan niat tidak butuh waktu lama hanya satu detik kesadaran sebelum bertindak.
Memahami tujuan hidup menurut agama membawa perubahan nyata yang bisa langsung dirasakan dalam keseharian generasi Z.
Pertama, dari sisi ketahanan mental. Ketika kamu tahu bahwa kamu adalah makhluk yang diciptakan dengan tujuan mulia, sebuah kegagalan nilai jelek, ditolak organisasi, atau putus hubungan tidak lagi terasa seperti akhir dunia. Kamu punya fondasi identitas yang lebih dalam dari sekadar pencapaian. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya ini adalah jaminan ilahi bahwa kamu selalu cukup kuat untuk menghadapi tantanganmu.
Kedua, dari sisi kualitas hubungan sosial. Mahasiswa yang paham tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial tidak akan jadi penonton pasif ketika teman membutuhkan bantuan. Ia tidak akan ikut menyebarkan gosip yang merusak atau diam saat ada ketidakadilan. Pemahaman agama yang benar mendorongnya menjadi orang yang kehadirannya benar-benar memberi dampak positif di lingkungannya.
Ketiga, dari sisi motivasi yang tahan lama. Motivasi yang bersumber dari luar pujian, nilai, likes mudah habis. Tapi motivasi yang bersumber dari kesadaran bahwa setiap langkah adalah bagian dari ibadah dan pertanggungjawaban kepada Allah, jauh lebih stabil dan tahan banting. Inilah yang membedakan mahasiswa yang burnout di semester tiga dengan mereka yang tetap bersemangat hingga wisuda.
Agar pemahaman ini tidak berhenti di level teori, berikut langkah konkret yang bisa langsung diterapkan.
Sebelum memulai aktivitas apapun membuka laptop, masuk kelas, atau bahkan membuka media sosial biasakan berhenti satu detik dan tanyakan: โIni untuk apa?โ Kebiasaan kecil ini, jika dilakukan konsisten, akan mengubah cara kita memaknai setiap momen. Bukan karena satu pertanyaan itu ajaib, tapi karena ia melatih kita untuk hidup dengan intention dengan kesadaran penuh, bukan sekadar autopilot.
Shalat lima waktu bukan beban jadwal ia adalah reset button yang memutus kebisingan dunia dan mengembalikan kita pada tujuan. Penelitian Jalaluddin (2016) menunjukkan bahwa mahasiswa yang konsisten menjalankan ibadah formal memiliki tingkat stres akademis yang lebih rendah dan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Bukan kebetulan ibadah adalah sistem manajemen jiwa yang paling efisien yang pernah ada.
Tanggung jawab sosial tidak harus dimulai dari hal yang besar dan heroik. Cukup dari yang terdekat: dengarkan teman yang sedang kesulitan dengan sungguh-sungguh, jujur dalam kerja kelompok, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Setiap kontribusi kecil adalah latihan nyata menjadi khalifah yang sesungguhnya dan dampaknya lebih luas dari yang kita bayangkan
Produktif itu bagus. Aktif berorganisasi, punya IPK tinggi, dikenal banyak orang semua itu tidak salah. Tapi jika semua kesibukan itu tidak berakar pada pemahaman yang jelas tentang tujuan hidup, maka ia hanyalah pelari maraton yang tidak tahu di mana garis finishnya: cepat, tapi tidak tahu ke mana.
Agama tidak meminta kita untuk berhenti berprestasi. Ia justru mendorong kita berprestasi dengan cara yang lebih bermakna di mana setiap aktivitas akademis, setiap interaksi sosial, dan setiap keputusan moral adalah bagian dari perjalanan menjadi manusia yang utuh. Manusia yang tidak hanya sukses di dunia, tapi juga selamat di akhirat.
Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan โberapa banyak yang sudah kamu capai?โ tapi โberapa banyak yang sudah kamu maknai?โ Jika kamu sudah bisa menjawab itu dengan tenang dan yakin, maka kamu sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari nilai tertinggi di transkrip akademismu.
Al-Qurโan al-Karim. Terjemahan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Jakarta: Kementerian Agama RI.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2016). Ihya Ulumuddin: Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama. Terjemahan oleh Mochtar Zoerni & Joko Prayitno. Bandung: Mizan Pustaka.
Gallup. (2023). State of the Global Workplace 2023 Report. Washington: Gallup Press.
Hamka. (2017). Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Gema Insani.
Jalaluddin, H. (2016). Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mujib, A. & Mudzakir, J. (2019). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nata, Abudin. (2018). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Qardawi, Yusuf. (2017). Ibadah dalam Islam. Terjemahan oleh Umar Fanany. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
Shihab, M. Quraish. (2020). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qurโan. Jakarta: Lentera Hati.
Kontributor:ย Mochamad Jam Junior
Editor:ย Dani Habibi, M.Ag.
Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Arti...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubaha...
Saatnya Kita Ngomongin Soal Etika 1. PENDAHULUAN Pernah nggak sih kamu ngeliat seseorang yang skilln...
Ketika Nilai Agama Jadi Fondasi Karier 1. PENDAHULUAN Bayangkan kamu baru saja lulus, dapat kerja pe...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanyaan mengenai siapa manusia dan untuk apa manusia hidup meru...
Tinjauan Aksiolologis Hukum Islam/Kristen terhadap Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pengambi...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia sejak lama dan hingga kini belum sepenuh...

Dasar Al-Qur’an dan Hadis Tentang Kejujuran dan Integritas 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang tidak hanya mengat...

1. PENDAHULUAN Di sebuah laboratorium kampus, jam sudah menunjukkan pukul enam sore lewat. Seorang mahasiswa buru-buru merapikan rangkaian kompo...

1. PENDAHULUAN Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang tetangga non-Muslim duduk menunggu di depan rumahnya setiap Idul Adha tiba. Bukan ka...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan mendasar yang menghambat pembangunan bangsa, termasuk pembangunan di sektor kesehatan. ...

No comments yet.