Rahmad Al Chaesar • Jun 02 2026 • 16 Dilihat

Coba jujur sebentar. Berapa kali dalam sehari kamu membuka Instagram atau TikTok dibanding membuka buku kuliah? Berapa lama kamu rebahan sambil scroll konten hiburan dibanding duduk sungguh-sungguh mengerjakan tugas? Kalau jawabannya membuat kamu sedikit tidak nyaman, kamu tidak sendirian.
Kita hidup di zaman yang luar biasa. Smartphone di saku kita menyimpan lebih banyak informasi dari perpustakaan mana pun yang pernah ada di dunia. Dengan satu ketukan jari, kita bisa belajar coding, menonton kuliah dari universitas terbaik dunia, atau mengakses jurnal ilmiah internasional secara gratis. Secara teknis, tidak ada generasi yang punya akses ke ilmu sebanyak generasi kita sekarang.
Tapi anehnya, justru di zaman yang serba mudah ini, banyak mahasiswa yang semakin malas berpikir mendalam. Tugas dikerjakan dengan salin-tempel. Pertanyaan dosen dijawab dengan hafalan dari hasil browsing cepat. Diskusi kelas sepi, tapi komentar di media sosial ramai. Teknologi yang seharusnya membuat kita lebih pintar, justru seringkali membuat kita lebih malas.
Islam sejak awal sudah menempatkan ilmu di posisi yang sangat tinggi. Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukan perintah shalat, bukan perintah puasa, melainkan perintah untuk membaca. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)
Tapi perhatikan: perintahnya bukan sekadar “bacalah”, melainkan “bacalah dengan nama Tuhanmu.” Artinya, semua aktivitas belajar dan penggunaan teknologi seharusnya punya arah dan nilai. Bukan asal pakai, bukan asal pintar, tapi pintar yang bermakna dan bertanggung jawab. Artikel ini mengajak kita membahas hal itu secara lebih jujur dan nyata.
Teknologi bukan musuh iman, dan iman bukan penghalang kemajuan. Masalahnya hanya satu: banyak mahasiswa yang menggunakan teknologi tanpa arah yang jelas, dan menjalankan agama tanpa keterkaitannya dengan kehidupan nyata. Padahal Islam justru mendorong kita untuk menguasai keduanya sekaligus. Yang dibutuhkan bukan memilih antara Google dan iman, melainkan belajar menggunakan Google dengan iman.
Bayangkan kamu punya pisau dapur yang sangat tajam dan berkualitas tinggi. Di tangan seorang koki, pisau itu menghasilkan masakan lezat. Di tangan orang yang tidak tahu cara memakainya, pisau itu bisa melukai. Teknologi persis seperti itu.
Ambil contoh yang paling dekat: ChatGPT. Dalam satu semester terakhir, banyak mahasiswa menggunakannya untuk mengerjakan tugas kuliah, bukan sebagai alat bantu berpikir, tapi sebagai pengganti berpikir. Hasilnya? Tugas selesai dalam lima menit, nilai mungkin bagus, tapi tidak ada ilmu yang benar-benar masuk. Ketika dosen bertanya lebih dalam di ujian lisan, mereka tidak bisa menjawab karena materi itu tidak pernah sungguh-sungguh dipelajari.
Contoh lain: media sosial. Platform seperti YouTube sebenarnya bisa menjadi universitas gratis terbaik di dunia. Ada ribuan konten berkualitas tentang fisika, pemrograman, bahasa, hingga filsafat. Tapi kebanyakan orang justru menggunakannya untuk konten hiburan yang selesai ditonton dan langsung dilupakan. Bukan karena YouTube-nya yang salah, tapi karena pilihan penggunanya.
Islam mengajarkan bahwa setiap tindakan dinilai dari niat dan caranya. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini berlaku juga dalam konteks teknologi. Membuka laptop dengan niat sungguh-sungguh belajar adalah ibadah. Membuka laptop hanya untuk buang waktu adalah kerugian. Teknologi yang sama, tapi nilainya berbeda tergantung bagaimana dan untuk apa kita menggunakannya.
Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa rata-rata orang mengecek ponselnya lebih dari 100 kali sehari. Kalau setiap kali mengecek rata-rata tiga menit, itu berarti lebih dari lima jam sehari hanya untuk mengecek ponsel. Dalam satu semester perkuliahan yang kira-kira enam bulan, jumlah itu setara dengan hampir 900 jam waktu yang bisa digunakan untuk hal lain yang jauh lebih bermakna.
Ini bukan tentang melarang penggunaan ponsel. Ini tentang kesadaran bahwa waktu adalah sumber daya yang paling tidak bisa diperbarui. Tidak ada cara untuk mendapatkan kembali waktu yang sudah terbuang, dan setiap detiknya akan dipertanggungjawabkan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-‘Asr ayat 1–3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3)
Surat Al-‘Asr hanya tiga ayat, tapi isinya sangat dalam. Allah bersumpah demi waktu, lalu langsung menyatakan bahwa manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, berbuat baik, dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Perhatikan urutan itu: iman, amal nyata, dan tanggung jawab sosial. Tiga hal ini seharusnya menjadi cara kita mengisi waktu, termasuk waktu digital kita.
Coba terapkan secara konkret: alih-alih scroll TikTok selama satu jam sebelum tidur, gunakan 30 menit pertama untuk membaca materi kuliah atau artikel ilmiah, dan 30 menit sisanya untuk istirahat yang benar-benar istirahat. Perubahan kecil ini, jika dilakukan konsisten selama satu semester, akan menghasilkan perbedaan yang sangat signifikan dalam kualitas pemahaman akademikmu.
Ini mungkin pelajaran paling penting yang jarang diajarkan secara serius di kelas: tidak semua informasi di internet itu benar. Dan masalahnya, otak kita cenderung percaya pada informasi yang kita temukan lebih dulu, apalagi kalau dikemas dengan tampilan yang menarik dan sudah dibagikan ribuan kali.
Contoh nyata yang mudah dijumpai: informasi kesehatan di media sosial. Berapa banyak konten viral yang mengklaim bahwa minuman atau ramuan tertentu bisa menyembuhkan penyakit serius? Atau berita politik yang dibuat seolah-olah resmi padahal sumbernya tidak jelas? Bahkan dalam konteks akademik pun, banyak mahasiswa yang mengutip sumber dari blog atau Wikipedia tanpa mengecek apakah informasi itu benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Islam sudah mengajarkan prinsip verifikasi informasi ini sejak lebih dari 1.400 tahun lalu. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, sehingga kamu menyesali perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Kata fatabayyanu dalam ayat ini berarti teliti dulu, verifikasi dulu. Dalam konteks kehidupan digital sehari-hari, ini artinya: sebelum membagikan berita atau informasi apa pun di WhatsApp atau Instagram, tanyakan dulu pada diri sendiri, dari mana sumber informasi ini? Apakah sudah dikonfirmasi oleh pihak yang kompeten? Apakah ada kemungkinan informasi ini menyesatkan? Kebiasaan sederhana ini bisa menyelamatkan kita dan orang lain dari bahaya hoaks yang dampaknya bisa sangat serius.
Ukuran terbaik untuk menilai apakah penggunaan teknologi kita sudah benar adalah dengan satu pertanyaan sederhana: apakah teknologi ini membuat saya lebih bermanfaat bagi orang lain? Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad & Thabrani)
Hadis ini adalah panduan yang sangat praktis untuk era digital. Seorang mahasiswa teknik yang menggunakan keahlian pemrogramannya untuk membuat aplikasi yang membantu petani lokal memonitor kondisi tanaman mereka sedang menggunakan teknologi dengan cara terbaik. Seorang mahasiswa yang membuat konten edukatif di media sosial untuk menjelaskan konsep-konsep sains yang sulit dengan cara yang mudah dipahami sedang memberikan manfaat nyata lewat platform digital.
Contoh-contoh ini bukan hal yang mustahil. Di berbagai kampus di Indonesia, sudah banyak mahasiswa yang melakukan ini. Mereka menggunakan teknologi bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Dan di sinilah agama dan teknologi bertemu pada titik yang paling indah: ilmu yang bermanfaat, yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah pelakunya tiada.
Allah SWT juga menggambarkan sosok ulul albab dalam QS. Ali Imran ayat 190–191, yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya untuk merenungkan ciptaan Allah sekaligus senantiasa mengingat-Nya dalam setiap kondisi. Bagi mahasiswa, menjadi ulul albab di era digital berarti menggunakan teknologi untuk semakin mengenal kebesaran Allah melalui ilmu, bukan untuk melupakan-Nya dalam kesibukan duniawi.
Lalu apa yang bisa kita lakukan secara nyata mulai sekarang? Berikut beberapa langkah konkret yang bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Pertama, atur hubunganmu dengan ponsel. Coba terapkan digital fasting sederhana: tidak membuka media sosial selama dua jam pertama setelah bangun pagi, dan tidak membuka ponsel satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu itu untuk belajar, membaca, atau beribadah. Kamu akan terkejut betapa banyak waktu yang selama ini terbuang tanpa kamu sadari.
Kedua, ubah cara kamu menggunakan alat bantu teknologi seperti AI. Daripada meminta ChatGPT untuk mengerjakan tugasmu, gunakan ia untuk berdiskusi: tanyakan penjelasan konsep yang belum kamu pahami, minta ia memberikan contoh kasus nyata, atau gunakan ia sebagai sparring partner untuk menguji pemahaman. Cara ini jauh lebih efektif dan jujur secara akademik.
Ketiga, jadikan media sosial sebagai ruang yang produktif. Ikuti akun-akun yang benar-benar memberikan ilmu dan inspirasi. Kurangi akun yang hanya memberikan hiburan kosong atau bahkan konten negatif. Kamu yang menentukan informasi apa yang masuk ke kepalamu setiap hari, dan itu adalah tanggung jawab yang serius.
Keempat, gunakan keahlian teknologimu untuk hal yang bermanfaat. Kamu mahasiswa teknik yang sedang belajar pemrograman, elektronika, atau sistem tenaga. Kemampuan itu bisa digunakan untuk sesuatu yang jauh lebih bermakna dari sekadar tugas kuliah. Mulailah berpikir: masalah apa di sekitarku yang bisa diselesaikan dengan ilmu yang sedang kupelajari?
Kita tidak perlu memilih antara menjadi mahasiswa yang melek teknologi atau menjadi mahasiswa yang taat beragama. Keduanya bisa dan seharusnya berjalan beriringan. Islam tidak pernah memusuhi kemajuan. Yang Islam peringatkan adalah kemajuan tanpa arah, ilmu tanpa nilai, dan kebebasan tanpa tanggung jawab.
Google memang bisa menjawab hampir semua pertanyaan faktual. Tapi Google tidak bisa menjawab pertanyaan untuk apa ilmu ini digunakan dan apakah cara kita menggunakannya sudah benar. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang beriman.
Jadilah generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tapi juga bijak mengendalikannya. Generasi yang bukan hanya tahu cara memakai Google, tapi juga tahu mengapa, untuk siapa, dan bagaimana ilmu yang ditemukan lewat Google itu seharusnya digunakan. Itulah mahasiswa yang sesungguhnya.
Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Ali, D. (2002). Pendidikan agama Islam. Jakarta, Indonesia: Raja Grafindo Persada.
Daya, B., & Beck, H. L. (1992). Ilmu perbandingan agama di Indonesia dan Belanda. Jakarta, Indonesia: INIS.
Gazalba, S. (1978). Ilmu, filsafat, dan Islam tentang manusia dan agama. Jakarta, Indonesia: Bulan Bintang.
Nata, A. (2010). Akhlak tasawuf. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada.
Shihab, M. Q. (2007). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir maudhu’i atas pelbagai persoalan umat. Bandung, Indonesia: Mizan.
Sudrajat, A., dkk. (2008). Din Al-Islam. Yogyakarta, Indonesia: UNY Press.
Kitab Hadis: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad.
Kontributor: Rahmad Al Chaesar
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda ...
Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu persoalan mendasar yang masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan nasional Indonesia. P...

1. PENDAHULUAN Lingkungan kampus dapat dianggap sebagai cerminan masyarakat yang mengumpulkan individu dari beragam&nbs...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan serius yang masih menjadi tantangan besar dalam tata kelola pemerintahan di berbagai negara, terma...

PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

No comments yet.