Furqon Siddiq Firmansyah • Sep 06 2026 • 32 Dilihat

Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan penguasaan keterampilan klinis, tetapi juga mencakup kemampuan membangun hubungan terapeutik, memberikan dukungan emosional, serta menjaga keselamatan dan martabat pasien. Dalam menjalankan tugasnya, perawat dituntut memiliki ketangguhan mental, kepekaan sosial, kematangan emosional, dan kekuatan spiritual. Keempat aspek tersebut diperlukan karena perawat berinteraksi secara langsung dan intensif dengan pasien dalam berbagai kondisi kesehatan.Dalam praktik sehari-hari, perawat menghadapi pasien yang mengalami nyeri, kecemasan, ketidakpastian terhadap kesembuhan, kecacatan, bahkan kematian. Pengalaman tersebut dapat menimbulkan tekanan emosional dan beban psikologis yang tidak ringan. Tekanan tersebut dapat semakin besar apabila disertai dengan beban kerja yang tinggi, keterbatasan sarana dan prasarana, tuntutan ketepatan dalam tindakan keperawatan, serta tanggung jawab profesional yang harus dipenuhi. Apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan, stres, penurunan empati, dan kelelahan moral yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan kepada pasien.Dalam situasi tersebut, ketahanan spiritual menjadi salah satu aspek penting yang perlu dikembangkan oleh perawat. Ketahanan spiritual dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mempertahankan keyakinan, makna hidup, ketenangan batin, dan orientasi moral ketika menghadapi tekanan atau kesulitan.
Ketahanan spiritual tidak berarti bahwa seorang perawat terbebas dari rasa lelah, sedih, atau cemas. Sebaliknya, ketahanan spiritual membantu perawat menghadapi berbagai pengalaman tersebut secara lebih sehat dengan tetap berpegang pada nilai agama, tanggung jawab profesi, dan tujuan pelayanan. Spiritualitas juga dapat menjadi sumber makna bagi perawat sehingga pekerjaan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian dan amal.Ketahanan spiritual tidak hanya memberikan manfaat bagi perawat sebagai individu, tetapi juga berpengaruh terhadap mutu pelayanan kesehatan. Perawat yang memiliki ketahanan spiritual cenderung lebih mampu mengendalikan emosi, mengambil keputusan secara tenang, menunjukkan empati, serta mempertahankan perilaku etis dalam situasi yang sulit.
Selain itu, ketahanan spiritual dapat membantu perawat menghadapi konflik moral dan tekanan pekerjaan tanpa kehilangan kepedulian terhadap pasien. Dengan demikian, penguatan spiritual perlu dipandang sebagai bagian dari pengembangan profesionalisme perawat, bukan sebagai aspek tambahan yang terpisah dari kompetensi klinis.Dalam ajaran Islam, ketahanan spiritual dapat diperkuat melalui beberapa konsep pembinaan jiwa, yaitu muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah. Muhasabah merupakan proses introspeksi atau evaluasi diri terhadap niat, perkataan, dan perbuatan. Muqarabah dapat dipahami sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, doa, dan penguatan orientasi spiritual. Muraqabah merupakan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi seluruh perbuatan manusia. Sementara itu, mujahadah adalah kesungguhan dalam melawan hawa nafsu, kemalasan, keputusasaan, dan berbagai kelemahan diri. Keempat konsep tersebut memiliki hubungan yang erat dan dapat membentuk proses pembinaan spiritual yang menyeluruh.
Muhasabah membantu perawat menilai kembali kualitas pelayanan dan sikapnya terhadap pasien. Muqarabah memberikan makna spiritual terhadap pekerjaan sehingga perawat dapat memperbarui niat dalam menjalankan tugas. Muraqabah menumbuhkan kesadaran moral dan rasa tanggung jawab karena setiap perbuatan diyakini berada dalam pengetahuan Allah. Adapun mujahadah mendorong perawat untuk terus berusaha mempertahankan kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan meskipun menghadapi berbagai tekanan. Oleh karena itu, keempat konsep tersebut memiliki potensi untuk diterapkan sebagai strategi ketahanan spiritual dalam profesi keperawatan.Berdasarkan uraian tersebut, esai ini bertujuan untuk menjelaskan konsep muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah dalam perspektif Islam; menganalisis landasan Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan konsep-konsep tersebut; mengkaji pendapat ulama dan hasil penelitian ilmiah mengenai spiritualitas serta ketahanan tenaga kesehatan; dan menganalisis penerapannya dalam praktik profesi keperawatan. Pembahasan ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa penguatan spiritual merupakan bagian penting dalam membentuk perawat yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga tangguh secara mental, matang secara moral, dan humanis dalam memberikan pelayanan.
Muhasabah secara etimologis berasal dari kata hasaba yang berarti menghitung. Secara terminologis, muhasabah adalah proses introspeksi atau evaluasi diri terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan, baik berupa kebaikan maupun kesalahan, untuk kemudian diperbaiki di masa mendatang. Imam Al-Ghazali menempatkan muhasabah sebagai salah satu tahapan penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim setelah musyarathah (berjanji pada diri sendiri) dan sebelum mu’aqabah (memberi sanksi pada diri). Muhasabah mengajarkan seseorang untuk selalu melihat ke belakang sebagai bahan pembelajaran untuk hari esok yang lebih baik.
Muqarabah berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah dan ketaatan. Konsep ini menekankan pentingnya seorang hamba senantiasa berusaha meningkatkan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta melalui shalat, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan amal shaleh lainnya. Muqarabah merupakan manifestasi dari cinta seorang hamba kepada Allah yang mendorongnya untuk selalu ingin berada dalam ridha-Nya.
Muraqabah berasal dari kata raqaba yang berarti mengawasi. Muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa setiap gerak-gerik, pikiran, dan perbuatannya selalu diawasi oleh Allah SWT. Konsep ini mengajarkan seseorang untuk selalu berhati-hati dalam bertindak karena keyakinan bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu. Muraqabah sering disebut sebagai “merasa diawasi Allah” yang menjadi landasan perilaku seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Mujahadah berarti bersungguh-sungguh atau berjuang keras. Dalam konteks spiritual, mujahadah adalah usaha keras seorang hamba untuk menundukkan hawa nafsu dan godaan syaitan, serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah dan amal shaleh. Mujahadah merupakan bentuk komitmen seorang muslim untuk terus memperbaiki diri meskipun menghadapi berbagai tantangan dan rintangan.
Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa melakukan muhasabah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hashr/59:18).
Ayat ini secara tegas memerintahkan setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri terhadap amal yang telah diperbuat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Dalam konteks keperawatan, ayat ini mengajarkan perawat untuk selalu mengevaluasi kualitas asuhan yang telah diberikan, apakah sudah sesuai dengan standar profesional dan nilai-nilai Islam, serta bagaimana dampaknya bagi pasien dan diri sendiri di hari kemudian.
Rasulullah SAW juga memberikan landasan kuat untuk konsep muraqabah melalui hadis tentang ihsan yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab RA:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْإِحْسَانِ فَقَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Dari Umar bin Khattab RA bahwa Nabi SAW pernah ditanya tentang ihsan, maka beliau berkata: ‘Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.'” (HR. Muslim).
Hadis ini menjadi fondasi konsep muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan hamba-Nya. Bagi perawat, hadis ini mengajarkan untuk selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas, seolah-olah Allah menyaksikan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan. Hal ini akan mendorong perawat untuk memberikan asuhan terbaik meskipun tidak ada atasan atau pengawas yang melihat.
Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa muhasabah merupakan salah satu dari enam tahapan penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim, yaitu musyarathah (berjanji), muraqabah (mengawasi), muhasabah (menghitung), mu’aqabah (menghukum diri), mujahadah (berjuang), dan mu’atabah (mencela diri). Menurut Al-Ghazali, muhasabah harus dilakukan secara rutin, baik harian maupun periodik, untuk memastikan amal perbuatan selalu dalam koridor ridha Allah.
Syeikh Abdullah Nasih Ulwan dalam kitab Ruhniyatut Da’iyah menekankan pentingnya lima “M” (Mu’ahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Mu’aqabah) sebagai strategi membangun hari esok yang lebih baik. Kelima konsep ini saling melengkapi dan membentuk siklus perbaikan diri yang berkelanjutan. Mu’ahadah adalah mengingat janji kepada Allah, mujahadah adalah berjuang melawan hawa nafsu, muraqabah adalah mengawasi diri, muhasabah adalah menilai diri, dan mu’aqabah adalah memberi sanksi pada diri atas kelalaian.
Dalam konteks keperawatan modern, konsep spiritual resilience (ketahanan spiritual) semakin mendapat perhatian. Spiritual health dalam keperawatan dari perspektif Islam didefinisikan sebagai proses dinamis mendekati Allah, melalui mana seseorang memberikan makna pada penyakit dengan berkomunikasi secara ilmiah, bijak, dan penuh cinta kepada Pencipta, diri sendiri, dan orang lain. Ketahanan spiritual membantu perawat menjaga keseimbangan psikologis dan mengaktualisasikan atribut-atribut spiritual seperti cinta kepada Allah, kehidupan berbasis kewajiban, rasionalitas religius, dan perhatian pada kehidupan akhirat.
Penelitian tentang penerapan metode spiritual Islam dalam kurikulum keperawatan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa keperawatan (52,5%) telah menerapkan perawatan spiritual Islam dengan baik, dengan komponen paling baik diterapkan adalah menanamkan optimisme kesembuhan yang datang dari Allah (60%). Namun, masih terdapat kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan, sehingga diperlukan peningkatan kompetensi spiritual perawat melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
Studi tentang kesiapan spiritual care pada perawat Muslim baru lulus mengidentifikasi tujuh tema penting, termasuk persepsi tentang perawatan spiritual, kesiapan dan kemampuan (mental, fisik, psikologis, sosial, spiritual), pengalaman, manfaat perawatan spiritual, faktor pendukung dan penghambat, upaya peningkatan perawatan spiritual, dan peran pendidikan keperawatan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan spiritual perawat tidak hanya penting untuk diri sendiri, tetapi juga berdampak pada kualitas asuhan yang diberikan kepada pasien.
Penelitian lain menunjukkan adanya korelasi signifikan antara penerapan aspek spiritualitas perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien rawat inap (p=0,011). Sebanyak 64,3% pasien menilai penerapan aspek spiritualitas perawat masih belum baik, sehingga diperlukan intervensi terstruktur seperti pelatihan keterampilan spiritual, pengembangan kerangka kerja, sistem monitoring, dukungan kepemimpinan, dan pelatihan kolaboratif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dianalisis bahwa konsep muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah memiliki relevansi tinggi dengan ketahanan spiritual perawat. Keempat konsep ini membentuk siklus perbaikan diri yang berkelanjutan:
Pertama, muhasabah mengajarkan perawat untuk selalu mengevaluasi kualitas asuhan yang telah diberikan. Setiap akhir shift atau hari kerja, perawat dapat melakukan refleksi: Apakah saya sudah memberikan asuhan terbaik? Apakah ada kesalahan yang perlu diperbaiki? Bagaimana dampak tindakan saya terhadap pasien? Proses ini akan mendorong peningkatan kualitas pelayanan secara terus-menerus.
Kedua, muqarabah mendorong perawat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan ketaatan. Perawat yang dekat dengan Allah akan memiliki sumber kekuatan spiritual yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaan. Ibadah seperti shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur’an menjadi sarana recharge energi spiritual perawat.
Ketiga, muraqabah menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan keperawatan diawasi oleh Allah. Hal ini akan mendorong perawat untuk bekerja dengan integritas tinggi, memberikan asuhan terbaik meskipun tidak ada pengawas, dan menghindari praktik-praktik yang merugikan pasien. Muraqabah juga membantu perawat untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan klinis.
Keempat, mujahadah mengajarkan perawat untuk bersungguh-sungguh dalam menghadapi tantangan pekerjaan. Profesi perawat penuh dengan godaan seperti kelelahan, stres, burnout, hingga praktik-praktik yang tidak etis. Mujahadah menjadi kekuatan untuk melawan hawa nafsu dan tetap berkomitmen pada nilai-nilai profesional dan spiritual.
Implementasi konsep muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah dalam praktik keperawatan dapat dilakukan melalui beberapa strategi:
Pada tingkat individu, perawat dapat membiasakan muhasabah harian dengan mengevaluasi asuhan yang telah diberikan, melakukan muqarabah melalui ibadah rutin dan dzikir, menerapkan muraqabah dengan kesadaran bahwa Allah mengawasi setiap tindakan, dan mujahadah dengan berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi profesional.
Pada tingkat institusi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan dapat mengintegrasikan nilai-nilai spiritual Islam dalam budaya organisasi, menyediakan fasilitas ibadah yang memadai, mengadakan pelatihan spiritual care secara berkala, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan spiritual perawat.
Pada tingkat pendidikan, institusi pendidikan keperawatan perlu memperkuat kurikulum spiritual care berbasis Islam, memberikan contoh praktik muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah dalam pembelajaran, dan membiasakan mahasiswa untuk melakukan refleksi spiritual setelah praktik klinis.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat dapat mengimplementasikan konsep-konsep ini dengan cara: (1) memberikan kesempatan kepada pasien untuk berdoa atau beribadah sesuai keyakinan masing-masing; (2) menanamkan optimisme kesembuhan yang datang dari Allah; (3) menghormati praktik-praktik keagamaan pasien; (4) menggunakan kalimat-kalimat thayyibah dalam interaksi dengan pasien; dan (5) memberikan spiritual counselling sesuai kebutuhan pasien.�
Konsep muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah merupakan strategi efektif untuk membangun ketahanan spiritual perawat. Muhasabah mengajarkan evaluasi diri terhadap amal perbuatan, muqarabah mendorong kedekatan dengan Allah, muraqabah menanamkan kesadaran akan pengawasan Allah, dan mujahadah menguatkan komitmen untuk berjuang melawan hawa nafsu. Keempat konsep ini saling melengkapi dan membentuk siklus perbaikan diri yang berkelanjutan.
Landasan Al-Qur’an (QS. Al-Hashr/59:18) dan hadis (HR. Muslim tentang ihsan) memberikan pijakan kuat bagi implementasi konsep-konsep ini dalam kehidupan perawat. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa ketahanan spiritual perawat tidak hanya penting untuk kesejahteraan diri sendiri, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
Pertama, perawat disarankan untuk membiasakan muhasabah harian sebagai bagian dari rutinitas profesional, misalnya dengan membuat jurnal refleksi setelah setiap shift kerja. Kedua, institusi pendidikan keperawatan perlu mengintegrasikan konsep muhasabah, muqarabah, muraqabah, dan mujahadah dalam kurikulum spiritual care. Ketiga, rumah sakit dan fasilitas kesehatan sebaiknya menyediakan program pengembangan spiritual berkelanjutan bagi perawat, termasuk pelatihan, mentoring, dan fasilitas ibadah yang memadai. Keempat, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur efektivitas intervensi berbasis konsep-konsep ini terhadap ketahanan spiritual dan kualitas asuhan keperawat.
Al-Ghazali, I. (2000). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah.
Evermos. (2024, November 19). Seri Hadis Perbaikan Diri 05: Muraqabatullah dan Efeknya dalam Kehidupan. https://evermos.id/syariah/kajian-evermos-seri-hadis-perbaikan-diri-05-muraqabatullah-dan-efeknya-dalam-kehidupan/
Hidayat, A., & Rahman, F. (2024). Spiritual care readiness among newly graduated Muslim nurses. Journal of Islamic Nursing and Health, 8(2), 145-162. https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/islamt/article/view/8422
Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Muslim, I. H. (2007). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi.
Nursalam, N., & Efendi, F. (2024). Enhancing spiritual care in nursing practice. Journal of Nursing and Spirituality Research, 5(1), 23-35. https://jurnalilmiah.ici.ac.id/index.php/jnsr/article/view/449
Pratiwi, D., & Sari, M. (2021). The application of Islamic spiritual methods in nursing program curriculum at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta and UIN Alauddin Makassar. Islamic Nursing and Health Journal, 3(2), 89-102. https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/islamt/article/view/4933/0
Qomari, M. (2023). Tafsir Surat al-Hasyr Ayat 18: Anjuran untuk Muhasabah Diri. NU Online. https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-hasyr-ayat-18-anjuran-untuk-muhasabah-diri-TYp1j
Rahman, A., & Fitri, L. (2026). A scoping review of Islamic-based spiritual nursing care in critical units. Nursing Journal of Komunitas, 12(1), 45-58. https://ners.fkep.unand.ac.id/index.php/NJK/article/view/436
Ulwan, A. N. (1992). Ruhniyatut Da’iyah. Kairo: Dar al-Salam.
Wahbah, Z. (2004). Tafsir Al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr.
Kontributor: Furqon Siddiq Firmansyah
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan sosial yang sangat serius dan hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam prose...

1. PENDAHULUAN Perkembangan industri dan teknologi pada era modern telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, khususnya ...

Pendahuluan Tenaga kesehatan memegang amanah besar nyawa manusia. Selain dituntut kompeten secara ilmu dan teknologi,mereka juga dituntut untuk ...

Tinjauan Tanggung Jawab Sosial dalam Perspektif Agama 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Kerusakan lingkungan hidup menjadi salah satu persoalan ...

I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan ke...

No comments yet.