Shofwatun Nisa • Sep 17 2026 • 14 Dilihat

Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yang tinggi. Bidan berhadapan langsung dengan situasi kegawatdaruratan maternal dan neonatal yang menuntut ketepatan pengambilan keputusan klinis dalam waktu singkat, sementara di sisi lain mereka juga menanggung beban emosional yang besar ketika berhadapan dengan penderitaan, kecemasan, bahkan kematian ibu dan bayi. Angka kematian ibu di Indonesia yang masih tergolong tinggi menempatkan bidan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer, khususnya di Praktik Mandiri Bidan (PMB) yang sering kali memiliki keterbatasan sumber daya (Battya et al., 2026). Kondisi ini menuntut bidan untuk tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki daya tahan psikologis yang kokoh agar mampu bertahan, beradaptasi, dan pulih dari tekanan kerja tanpa mengorbankan mutu asuhan yang diberikan.
Isu resiliensi menjadi penting untuk dikaji karena resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan dari tekanan, melainkan juga kapasitas untuk terus tumbuh dan memberikan pelayanan bermutu di tengah situasi yang menekan. Selama ini, pembahasan mengenai resiliensi bidan cenderung berfokus pada satu sisi saja, baik itu penguatan kompetensi teknis maupun dukungan psikologis semata, tanpa melihat keduanya sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Padahal, kompetensi klinis yang mumpuni tanpa kedalaman spiritual berisiko membawa bidan pada kelelahan emosional dan kejenuhan kerja (burnout), sementara kedalaman spiritual tanpa kompetensi klinis yang memadai berpotensi mengancam keselamatan pasien.
Oleh karena itu, esai ini disusun dengan tujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana kompetensi klinis dan kedalaman spiritual berfungsi sebagai dua pilar yang saling melengkapi dalam membentuk resiliensi bidan, dengan merujuk pada landasan Al-Qur’an, hadis, pendapat ulama, serta hasil kajian ilmiah, sekaligus mengaitkannya dengan praktik pelayanan kebidanan.
Secara konseptual, resiliensi didefinisikan sebagai kapasitas individu untuk menghadapi, beradaptasi, dan bangkit kembali dari kesulitan atau tekanan hidup, bukan sekadar kembali ke kondisi semula, melainkan tumbuh menjadi lebih kuat melalui proses tersebut. Dalam konteks profesi kesehatan, resiliensi menjadi faktor protektif yang melindungi tenaga kesehatan dari dampak negatif tekanan kerja yang berkepanjangan. Kompetensi klinis, di sisi lain, merujuk pada seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional minimum yang wajib dikuasai bidan agar mampu memberikan asuhan kebidanan yang aman dan berbasis bukti ilmiah, mencakup aspek legal, komunikasi, landasan ilmiah praktik, keterampilan klinis, promosi kesehatan, manajemen kepemimpinan, hingga pengembangan profesional berkelanjutan. Adapun kedalaman spiritual dipahami sebagai kualitas hubungan batin seseorang dengan Sang Pencipta yang termanifestasi dalam keyakinan, perbuatan, ketenangan hati, dan makna hidup yang menjadi sumber daya psikologis dalam menghadapi tekanan.
Landasan spiritual mengenai pilar resiliensi ini dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surah Al-Insyirah ayat 5-6 sebagai berikut.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah/94: 5-6).
Pengulangan janji kemudahan pada dua ayat berurutan ini mengandung penegasan bahwa kesulitan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berdampingan dengan jalan keluar yang menyertainya. Bagi seorang bidan, keyakinan ini menjadi sandaran batin yang menenangkan ketika menghadapi kasus kegawatdaruratan yang menegangkan, keterbatasan fasilitas, maupun beban kerja yang berat. Ayat ini tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha, tetapi justru menumbuhkan optimisme yang mendorong bidan untuk terus berikhtiar secara maksimal karena meyakini bahwa setiap kesulitan pasti disertai jalan keluar.
Pilar kedalaman spiritual ini juga diperkuat dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 153 berikut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah/2: 153).
Ayat ini menegaskan bahwa sabar dan salat menjadi sumber pertolongan spiritual dalam menghadapi kesulitan, sekaligus menjanjikan kebersamaan Allah bagi hamba-Nya yang bersabar. Bagi bidan, sabar berarti ketahanan batin untuk tetap tenang dan fokus saat menghadapi kegawatdaruratan, keterbatasan fasilitas di Praktik Mandiri Bidan, maupun beban kerja yang menumpuk, sementara salat menjadi sarana memulihkan kejernihan pikiran dan kestabilan emosi di sela rutinitas kerja yang padat. Temuan ini selaras dengan kajian bahwa koping religius, termasuk kesabaran dan ibadah, menyumbang besar terhadap resiliensi tenaga kesehatan dalam beradaptasi dan pulih dari tekanan kerja (Nopriyanto et al., 2026), sehingga keduanya menjadi mekanisme spiritual konkret yang memperkuat daya tahan psikologis bidan.
Sementara itu, landasan bagi pilar kompetensi klinis dapat ditemukan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani sebagai berikut.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمُ الْعَمَلَ أَنْ يُتْقِنَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan itqan (tekun dan profesional)” (HR. Ath-Thabrani).
Hadis ini menegaskan bahwa bekerja secara profesional, cermat, dan bersungguh-sungguh merupakan perbuatan yang dicintai Allah, sehingga penguasaan kompetensi klinis oleh bidan bukan semata tuntutan administratif atau profesional belaka, melainkan juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral-spiritual. Para ulama menjelaskan bahwa nilai itqan dalam hadis ini menuntut seorang muslim untuk mengerjakan setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah atas amanah yang diembannya, sehingga kelalaian atau kecerobohan dalam bekerja termasuk perbuatan yang tidak dicintai-Nya. Nilai itqan inilah yang menjadi jembatan yang menyatukan kedua pilar dalam esai ini, karena kesungguhan dalam bekerja secara teknis merupakan wujud konkret dari kedalaman spiritual seorang bidan, sebagaimana ditegaskan pula dalam kajian mengenai peran religiusitas terhadap kesejahteraan psikologis individu, yang menunjukkan bahwa penghayatan nilai keagamaan mendorong individu untuk bekerja lebih bertanggung jawab dan bermakna (Fitriani, 2016).
Berbagai hasil kajian ilmiah memperkuat keterkaitan kedua pilar tersebut. Penelitian terhadap bidan di Praktik Mandiri Bidan wilayah Cirebon menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kompetensi bidan dengan kemampuan deteksi dini kehamilan risiko tinggi, di mana bidan dengan kompetensi baik dan beban kerja yang terkelola dengan wajar cenderung memiliki kemampuan deteksi yang lebih optimal (Battya et al., 2026). Temuan ini menegaskan bahwa kompetensi klinis berkontribusi langsung terhadap keselamatan pasien sekaligus terhadap rasa percaya diri profesional bidan dalam menjalankan tugasnya. Di sisi lain, penelitian terhadap tenaga kesehatan di rumah sakit swasta menemukan bahwa koping religius memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap resiliensi, yang menunjukkan bahwa tenaga kesehatan yang menggunakan strategi koping religius lebih mampu beradaptasi dan pulih dari tekanan kerja (Nopriyanto et al., 2026). Kajian lain juga menunjukkan bahwa religiusitas dan spiritualitas berperan sebagai faktor pendukung peningkatan resiliensi yang melindungi kesehatan mental individu di tengah situasi penuh tekanan (Tanamal, 2021; Khoiri Oktavia & Muhopilah, 2021).
Berdasarkan uraian tersebut, penulis memandang bahwa kompetensi klinis dan kedalaman spiritual tidak dapat dipandang sebagai dua hal yang berdiri sendiri, melainkan sebagai dua pilar yang saling menopang dalam membangun resiliensi bidan secara utuh. Kompetensi klinis memberikan bidan rasa mampu dan siap secara teknis untuk menghadapi situasi klinis yang kompleks, sehingga mengurangi kecemasan yang timbul akibat ketidakpastian atau ketidakmampuan bertindak. Namun demikian, kompetensi teknis semata tidak cukup untuk menahan tekanan emosional yang terus-menerus dihadapi bidan, seperti kelelahan empati (compassion fatigue) yang dapat muncul akibat paparan penderitaan pasien secara berulang. Di titik inilah kedalaman spiritual berperan sebagai sumber daya batin yang memberi makna pada setiap tindakan pelayanan, menumbuhkan ketenangan hati, serta menjadi tempat kembali ketika ikhtiar manusiawi telah dilakukan secara maksimal namun hasil berada di luar kendali bidan. Sinergi keduanya menghasilkan resiliensi yang bersifat menyeluruh, yakni resiliensi yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan teknis, tetapi juga pada kekuatan batin yang berkelanjutan.
Dalam praktik pelayanan kebidanan sehari-hari, sinergi kedua pilar ini dapat diwujudkan melalui beberapa langkah nyata. Institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu mengintegrasikan program pengembangan profesional berkelanjutan (continuing professional development) dengan pembinaan nilai-nilai spiritual, sehingga peningkatan kompetensi klinis senantiasa diiringi penguatan makna dan tujuan pelayanan. Bidan juga dapat membiasakan diri melakukan refleksi dan dzikir singkat sebelum maupun sesudah menangani kasus yang menegangkan sebagai sarana menjaga stabilitas emosi dan kejernihan berpikir dalam pengambilan keputusan klinis, di samping membangun budaya kerja yang suportif antar sejawat melalui forum berbagi pengalaman dan pendampingan (mentoring) agar beban psikologis tidak ditanggung sendirian. Yang tidak kalah penting, bidan perlu terus menjaga keseimbangan antara ikhtiar profesional yang maksimal dan sikap tawakal, sehingga tuntutan untuk selalu kompeten secara klinis tidak berubah menjadi tekanan yang justru menggerus kesehatan mentalnya sendiri.
Kompetensi klinis dan kedalaman spiritual merupakan dua pilar yang saling melengkapi dalam membentuk resiliensi bidan: kompetensi klinis memberikan kesiapan dan ketepatan bertindak dalam menghadapi kegawatdaruratan, sementara kedalaman spiritual memberikan ketenangan batin dan makna dalam menjalani tekanan pekerjaan, sebagaimana tercermin dalam keyakinan bahwa kemudahan selalu menyertai kesulitan (QS. Al-Insyirah: 5-6), anjuran memohon pertolongan dengan sabar dan sholat (QS. Al-Baqarah: 153), serta anjuran bekerja dengan itqan (HR. Ath-Thabrani). Oleh karena itu, institusi pendidikan kebidanan disarankan merancang kurikulum yang memadukan penguasaan keterampilan klinis dengan penguatan kecerdasan spiritual sejak dini, dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu menyediakan ruang dukungan psikologis-spiritual bagi bidan yang bertugas, agar keseimbangan antara profesionalisme dan kedalaman batin dapat terus terjaga demi mutu pelayanan dan keberlangsungan profesi bidan dalam jangka panjang.
Battya, A. A., Lestari, S. H., Nengsih, & Nurhaeni, A. (2026). Peran kompetensi dan beban kerja bidan dalam optimalisasi deteksi dini kehamilan risiko tinggi di Praktik Mandiri Bidan. Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia, 16(1), 29–34.
Fitriani, A. (2016). Peran religiusitas dalam meningkatkan psychological well-being. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 11(1), 1–14.
Khoiri Oktavia, W., & Muhopilah, P. (2021). Model konseptual resiliensi di masa pandemi Covid-19: Pengaruh religiusitas, dukungan sosial dan spiritualitas. Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 26(1), 13–30.
Nopriyanto, R., Wijaya, D. A. P., & Pamungkas, F. T. H. (2026). Pengaruh koping religius terhadap resiliensi pada tenaga kesehatan di RS Swasta X. Jurnal EMPATI, 15(2), 195–202.
Tanamal, N. A. (2021). Hubungan religiusitas dan resiliensi dalam mempengaruhi kesehatan mental masyarakat terhadap pandemic Covid-19. Jagaddhita: Jurnal Kebhinnekaan dan Wawasan Kebangsaan, 1(2), 1–10.
Kontributor: Shofwatun Nisa
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena berhubung...

PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keberagaman budaya tertinggi di dunia. Dengan lebih dari 1.300 suku bangsa, leb...

1. PENDAHULUAN Di zaman perkembangan teknologi yang semakin canggih sekarang,semua orang bisa berbagi cerita ataupun mendokumentasikan kegiatan ...

1. PENDAHULUAN Transparansi merupakan salah satu prinsip fundamental dalam penyelenggaraan layanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam m...

PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari, kecurangan sering dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan tidak terlalu serius, terutama ketika tujuann...

I. Pendahuluan Tubuh manusia merupakan anugerah Allah Swt. yang melekat pada kehidupan setiap manusia. Dalam perspektif Islam, tubuh tidak semat...

No comments yet.