Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landasan Apresiasi Estetika dalam Pelayanan Kesehatan

    Sep 16 20269 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, tetapi juga dengan pengalaman manusia ketika menerima perawatan. Pasien membutuhkan pelayanan yang aman, efektif, dan menghargai kebutuhan serta nilai pribadi mereka. World Health Organization (WHO, 2025) menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan bermutu harus efektif, aman, berpusat pada manusia, tepat waktu, adil, terintegrasi, dan efisien. Dalam kerangka tersebut, estetika dapat menjadi salah satu unsur pendukung karena suasana ruang, keteraturan lingkungan, penampilan profesional, dan cara tenaga kesehatan berinteraksi dapat memengaruhi kenyamanan pasien. Bagi keperawatan, perhatian terhadap aspek tersebut sejalan dengan karakter profesi yang memberikan asuhan secara holistik kepada manusia.

    Dalam perspektif Islam, keindahan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang terlihat secara fisik, tetapi juga berkaitan dengan keteraturan, kebaikan, akhlak, dan penghormatan terhadap manusia. Allah menyatakan bahwa Dia memperindah ciptaan-Nya, sedangkan Nabi Muhammad saw. menyampaikan bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan. Nilai tersebut dapat menjadi landasan bagi perawat untuk menghadirkan keindahan dalam pelayanan secara proporsional, tanpa menjadikan estetika sebagai kemewahan atau mengorbankan keselamatan pasien. Esai ini bertujuan menganalisis hubungan antara konsep keindahan dalam Islam dengan apresiasi estetika dalam pelayanan kesehatan serta penerapannya pada praktik keperawatan.

    II. Pembahasan

    Salah satu landasan Al-Qur’an yang relevan adalah QS. As-Sajdah ayat 7:

    «الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ»

    yang berarti, “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019). Ayat ini menunjukkan kesempurnaan dan keteraturan ciptaan Allah. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai Allah menyempurnakan dan mengatur ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, sedangkan Ibn Kathir menerangkan bahwa Allah menjadikan ciptaan-Nya dengan baik dan sempurna (Al-Qurthubi, n.d.; Ibn Kathir, n.d.). Dengan demikian, konsep keindahan dalam Islam tidak tepat jika dipersempit hanya menjadi hiasan atau penampilan, tetapi dapat dipahami sebagai keteraturan dan kesesuaian yang memiliki tujuan. Dalam pelayanan keperawatan, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui lingkungan yang tertata, bersih, aman, dan mendukung kebutuhan pasien.

    Landasan tersebut diperkuat oleh hadis riwayat Muslim. Nabi Muhammad saw. bersabda:

    «إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»

    yang berarti, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (Muslim, n.d., Hadis No. 91a). Hadis ini muncul ketika seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang menyukai pakaian dan alas kaki yang bagus. Artinya, menyukai sesuatu yang baik dan indah tidak dengan sendirinya merupakan kesombongan. Batasnya adalah sikap batin dan perilaku terhadap orang lain. Dalam keperawatan, hal tersebut berarti perawat boleh memperhatikan kerapian diri dan lingkungan, tetapi keindahan harus disertai kerendahan hati, kepedulian, dan penghormatan kepada pasien.

    Pandangan ulama terhadap QS. As-Sajdah ayat 7 juga membantu memperjelas makna estetika. Ibn Kathir menjelaskan ayat tersebut sebagai penegasan bahwa Allah menyempurnakan dan mengokohkan penciptaan segala sesuatu, sedangkan Al-Qurthubi menerangkan makna yang berkaitan dengan kesempurnaan dan keteraturan ciptaan (Ibn Kathir, n.d.; Al-Qurthubi, n.d.). Dari sudut pandang ini, apresiasi terhadap keindahan tidak cukup berhenti pada apa yang tampak oleh mata.

    Keindahan dapat hadir dalam keteraturan, fungsi, dan kesesuaian. Bagi perawat, tempat tidur yang tertata, alat yang diletakkan pada tempatnya, lingkungan yang bersih, dan prosedur yang dilakukan secara teratur merupakan bentuk keindahan yang sekaligus memiliki fungsi keselamatan. Estetika menjadi bermakna ketika keindahan dan manfaat berjalan bersama.

    Dalam ilmu keperawatan, lingkungan pelayanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman pasien. Dijkstra, Pieterse, dan Pruyn (2006) melalui systematic review menemukan bahwa sejumlah rangsangan fisik lingkungan fasilitas kesehatan dapat memengaruhi pasien melalui mekanisme psikologis dan berpotensi mendukung terbentuknya healing environment. Review lain mengenai desain lingkungan menunjukkan bahwa aspek audio dan visual tertentu berkaitan dengan penurunan kecemasan, nyeri, dan stres pasien (Ulrich et al., 2008). Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan bukan sekadar latar tempat tindakan keperawatan berlangsung. Kondisi ruang dapat ikut membentuk pengalaman pasien, sehingga kebersihan, pencahayaan, kebisingan, keteraturan, dan unsur visual perlu dipertimbangkan secara tepat.

    Temuan tersebut juga harus dipahami secara kritis. Estetika tidak otomatis menghasilkan kesembuhan dan tidak boleh menggantikan intervensi klinis berbasis bukti. Kajian terbaru mengenai hubungan lingkungan fisik dan person-centred care menunjukkan bahwa desain yang tampak lebih estetis dapat meningkatkan pengalaman, tetapi fasilitas kesehatan tetap perlu bergerak lebih jauh agar lingkungan benar-benar mendukung keterlibatan pasien dan pengambilan keputusan bersama (Byrne et al., 2026). Dengan demikian, keindahan dalam pelayanan keperawatan sebaiknya dipahami sebagai unsur pendukung, bukan sebagai tujuan tunggal. Ruangan yang indah tetapi tidak aman, sulit dipantau, atau menghambat tindakan perawat tidak dapat disebut sebagai penerapan estetika yang baik.

    Pada praktik keperawatan, apresiasi estetika dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Perawat dapat menjaga kebersihan dan kerapian tempat tidur pasien, memastikan lingkungan sekitar tidak berantakan, mengatur peralatan agar mudah ditemukan, mengurangi kebisingan yang tidak perlu.

    Menurut Alharbi (2025) menempatkan kenyamanan sebagai salah satu perhatian penting dalam pengetahuan dan praktik keperawatan serta mengaitkannya dengan gagasan healing environment. Penataan tersebut tidak harus mahal. Justru, prinsip estetika dalam perspektif Islam mendorong kesesuaian dan kemanfaatan sehingga sumber daya digunakan secara wajar dan tidak berlebihan.

    Keindahan dalam keperawatan juga terlihat melalui hubungan interpersonal antara perawat dan pasien. International Council of Nurses (ICN, 2021) menempatkan martabat, rasa hormat, empati, kepedulian, integritas, privasi, kerahasiaan, dan keselamatan sebagai bagian dari nilai etis keperawatan. Perawat karena itu perlu menyapa pasien dengan sopan, mendengarkan keluhan, memberikan informasi yang dapat dipahami, menjaga kerahasiaan, meminta persetujuan sesuai ketentuan, serta menghormati nilai dan keyakinan pasien. Sikap tersebut merupakan bentuk estetika moral: keindahan yang tampak melalui perilaku dan cara memperlakukan manusia.

    Keterkaitan antara lingkungan, perawat, dan kepuasan pasien juga didukung oleh penelitian tentang kepuasan terhadap asuhan keperawatan. Johansson et al. (2002) menemukan bahwa kepuasan pasien terhadap keperawatan dipengaruhi oleh beberapa domain, antara lain lingkungan fisik, komunikasi dan informasi, keterlibatan pasien, hubungan interpersonal perawat-pasien, serta kompetensi teknis perawat. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman pasien terbentuk dari gabungan faktor fisik dan perilaku. Karena itu, seorang perawat yang ingin menerapkan nilai estetika tidak cukup hanya memperhatikan ruangan yang rapi, tetapi juga perlu menghadirkan komunikasi yang hangat, sikap responsif, dan tindakan yang kompeten.

    Dalam perspektif Islam, penerapan estetika tersebut harus menghindari berlebih-lebihan. Keindahan tidak boleh membuat pelayanan menjadi mahal tanpa manfaat, mengganggu kontrol infeksi, menghalangi akses alat, meningkatkan risiko jatuh, atau mengurangi privasi pasien. WHO (2025) menegaskan bahwa pelayanan bermutu harus aman sekaligus berpusat pada manusia. Prinsip ini sejalan dengan nilai hadis tentang keindahan karena keindahan yang benar tidak boleh dibangun melalui tindakan yang merugikan orang lain.

    Menurut analisis penulis, cinta Allah pada keindahan dapat menjadi motivasi spiritual sekaligus etis bagi perawat untuk memberikan pelayanan yang lebih manusiawi. Ketika perawat merapikan lingkungan pasien, menjaga kebersihan, menutup tirai saat tindakan, berbicara dengan lembut, menghormati pilihan pasien, dan tetap menjalankan prosedur sesuai standar, tindakan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk keindahan yang memiliki nilai moral. Estetika akhirnya tidak hanya berada pada “apa yang terlihat”, tetapi juga pada “bagaimana pasien diperlakukan”. Pandangan ini mempertemukan nilai agama dengan prinsip person-centred care dan etika profesi keperawatan.

    Implementasinya dapat dilakukan di berbagai tempat praktik, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun pelayanan keperawatan komunitas. Di ruang rawat, perawat dapat menjaga keteraturan dan kenyamanan lingkungan sambil tetap memastikan keselamatan pasien. Pada komunikasi, perawat dapat menggunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami. Pada tindakan, perawat menjaga privasi, keselamatan, kebersihan, dan kenyamanan. Pada aspek spiritual, perawat menghormati keyakinan pasien tanpa memaksakan keyakinan pribadi. Seluruh tindakan tersebut menunjukkan bahwa apresiasi estetika dalam keperawatan dapat bersifat sederhana tetapi bermakna.

    Dengan demikian, hasil kajian keislaman dan ilmiah menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara keindahan, kenyamanan, etika, dan pengalaman pasien, tetapi hubungan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka keselamatan dan mutu pelayanan. Estetika tidak boleh dipisahkan dari kompetensi klinis. Justru, estetika yang tepat adalah estetika yang memperkuat keselamatan, kenyamanan, martabat, dan keterlibatan pasien. Inilah bentuk penerapan yang paling sesuai dengan makna hadis bahwa Allah mencintai keindahan: keindahan yang tidak sombong, tidak berlebihan, dan memberikan manfaat kepada manusia.

    III. Penutup

    Cinta Allah pada keindahan dapat menjadi landasan apresiasi estetika dalam pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan. QS. As-Sajdah ayat 7 dan hadis riwayat Muslim tentang Allah yang mencintai keindahan memberikan dasar spiritual bahwa keindahan dapat dihargai selama tidak bertentangan dengan nilai moral. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa lingkungan fisik, kenyamanan, komunikasi, hubungan interpersonal, dan keterlibatan pasien turut membentuk pengalaman terhadap pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, penerapan estetika oleh perawat sebaiknya diwujudkan melalui lingkungan yang bersih dan tertata, penampilan profesional, komunikasi yang santun, penghormatan terhadap privasi dan martabat pasien, serta tindakan keperawatan yang aman dan kompeten. Keindahan yang ideal bukan kemewahan, melainkan keselarasan antara fungsi, kenyamanan, akhlak, dan keselamatan pasien.

    Daftar Pustaka

    Al-Qurthubi, M. A. (n.d.). Tafsir al-Qurthubi: Surah As-Sajdah ayat 7. Quran.com.

    Alharbi, K. (2025). Creating a healing environment: The role of comfort in nursing care. Holistic Nursing Practice, 39(4), 224–229. https://doi.org/10.1097/HNP. 0731

    Byrne, A.-L., Hall, A., Cutmore, E., & Mulvogue, J. (2026). Beyond satisfaction: Person-centred care and the physical environment revisited—An integrative review. Nursing Open, 13(1), e70395. https://doi.org/10.1002/nop2.70395

    Dijkstra, K., Pieterse, M., & Pruyn, A. (2006). Physical environmental stimuli that turn healthcare facilities into healing environments through psychologically mediated effects: Systematic review. Journal of Advanced Nursing, 56(2), 166–181. https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2006.03990.x

    International Council of Nurses. (2021). The ICN code of ethics for nurses. International Council of Nurses.

    Ibn Kathir, I. (n.d.). Tafsir Ibn Kathir: Surah As-Sajdah ayat 7. King Saud University.

    Johansson, P., Oléni, M., & Fridlund, B. (2002). Patient satisfaction with nursing care in the context of health care: A literature study. Scandinavian Journal of Caring Sciences, 16(4), 337–344. https://doi.org/10.1046/j.1471-6712.2002.00094.x

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim (Hadis No. 91a).

    Ulrich, R. S., Zimring, C., Zhu, X., DuBose, J., Seo, H.-B., Choi, Y.-S., Quan, X., & Joseph, A. (2008). A review of the research literature on evidence-based healthcare design. HERD: Health Environments Research & Design Journal, 1(3), 61–125. https://doi.org/10.1177/193758670800100306

    World Health Organization. (2025). Quality health services. World Health Organization.

    Kontributor: Naswa Nabila Putri

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    Kemuliaan Manusia Sebagai Dasar Pencegah...

    by Priska Simanungkalit Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena berhubung...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam Pelayan...

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan ke...

    15 Sep 2026

    Integritas Dimulai Dari Bangku Kuliah: Membangu...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi sering disebut sebagai “menara gading” peradaban tempat di mana akal budi diasah, nilai-nilai kebena...

    PANCASILA DI ERA FYP

    Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

    03 Jun 2026

    AGAMA DAN KEMANUSIAAN

    Aktualisasi Nilai Islam dalam Membangun Masyarakat yang Adil dan Peduli 1. PENDAHULUAN Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, berbaga...

    14 Jun 2026

    Korelasi Agama Islam dan Kebahagiaan Perspektif...

    PENDAHULUAN Peradaban modern abad ke-21 telah mencapai kulminasi baru yang mengagumkan dalam hal kenyamanan material, efisiensi teknologi, dan k...

    12 Jun 2026
    back to top