Syahira Nurul Aini • Sep 06 2026 • 36 Dilihat

Lingkungan akademik merupakan ruang yang mempertemukan individu dengan latar belakang pengetahuan, karakter, kemampuan, dan cara berpikir yang berbeda. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu berkomunikasi, berdiskusi, bertukar gagasan, menerima kritik, dan bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi juga oleh kualitas interaksi antaranggotanya. Kerja sama tim yang sehat membutuhkan komunikasi yang terbuka, sikap saling menghargai, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola perbedaan secara bijaksana.
Dalam perspektif Islam, interaksi dengan sesama manusia tidak dapat dilepaskan dari konsep adab. Adab mengatur bagaimana seseorang berbicara, menyampaikan pendapat, memperlakukan orang lain, menyikapi perbedaan, serta menjaga kehormatan sesama. Prinsip tersebut menjadi semakin penting dalam kehidupan akademik karena diskusi ilmiah sering kali mempertemukan pendapat yang berbeda. Tanpa adab, perbedaan pendapat dapat berubah menjadi konflik personal, saling merendahkan, bahkan menghambat pencapaian tujuan kelompok. Sebaliknya, komunikasi yang dilandasi nilai-nilai Islam dapat membangun lingkungan akademik yang aman, produktif, dan saling mendukung. Penelitian mengenai etika komunikasi Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa komunikasi yang jujur, baik, santun, dan saling menghargai relevan diterapkan dalam kehidupan modern, baik secara langsung maupun melalui media digital.Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini bertujuan menganalisis adab berinteraksi akademik dalam Islam sebagai fondasi terbentuknya kerja sama tim yang sehat. Pembahasan diarahkan pada nilai komunikasi yang baik, penghormatan terhadap sesama, sikap saling menolong, penghindaran prasangka dan ghibah, serta penerapannya dalam kegiatan akademik dan kehidupan profesional.
Adab dalam Islam pada dasarnya merupakan tata perilaku yang menunjukkan kualitas akhlak seseorang. Dalam konteks akademik, adab tidak hanya berkaitan dengan kesopanan berbicara kepada dosen, tetapi juga mencakup hubungan antarmahasiswa, hubungan dalam kelompok, cara menyampaikan kritik, penggunaan informasi, serta sikap ketika menghadapi perbedaan pendapat. Dengan demikian, adab akademik dapat dipahami sebagai penerapan nilai-nilai akhlak Islam dalam proses memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Etika kerja Qur’ani sendiri mencakup nilai religius, kualitas, dan nilai personal yang berpengaruh terhadap budaya kerja dalam organisasi.
Salah satu prinsip penting dalam membangun interaksi akademik adalah larangan merendahkan orang lain. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Ayat tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan akademik. Dalam kerja kelompok, seseorang mungkin memiliki kemampuan yang lebih rendah pada bidang tertentu, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki kelebihan. Seorang mahasiswa yang kurang mampu berbicara di depan kelas, misalnya, mungkin mempunyai kemampuan yang baik dalam mencari sumber, mengolah data, atau menyusun tulisan. Karena itu, merendahkan anggota kelompok hanya karena perbedaan kemampuan dapat merusak kepercayaan diri dan menghambat kerja sama. Nilai yang dapat diterapkan adalah menghargai kontribusi setiap anggota serta menghindari candaan yang merendahkan, pemberian julukan buruk, dan kritik yang menyerang pribadi.
Selain larangan merendahkan, Islam juga mengajarkan umatnya untuk menghindari prasangka, mencari-cari kesalahan, dan membicarakan keburukan orang lain. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Dalam kerja kelompok, ayat tersebut dapat diterapkan dengan tidak langsung menuduh anggota kelompok malas, tidak bertanggung jawab, atau tidak peduli sebelum mengetahui keadaan sebenarnya. Ketika seorang anggota belum menyelesaikan tugas, langkah yang lebih sesuai dengan adab adalah melakukan klarifikasi dan mencari solusi. Prasangka negatif dapat menciptakan konflik yang sebenarnya dapat dihindari. Demikian pula ghibah dapat menghancurkan kepercayaan dalam kelompok karena masalah yang seharusnya diselesaikan melalui komunikasi langsung justru dibicarakan kepada pihak lain. Penelitian tentang komunikasi organisasi dalam perspektif Al-Qur’an juga menempatkan komunikasi yang efektif sebagai salah satu faktor penting untuk menjaga kondusivitas organisasi.
Islam juga memberikan landasan positif berupa perintah untuk bekerja sama dalam kebaikan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَان
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Konsep ta‘āwun dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa kerja sama bukan sekadar pembagian tugas untuk memperoleh nilai akademik, tetapi juga sarana untuk menghasilkan kebaikan bersama. Dalam kelompok akademik, ta‘āwun dapat diwujudkan dengan membantu anggota yang mengalami kesulitan memahami materi, berbagi sumber yang relevan, memberikan masukan terhadap pekerjaan teman, dan memastikan setiap anggota mempunyai kesempatan untuk berkontribusi. Kajian mengenai pembelajaran kolaboratif dalam perspektif Al-Qur’an menemukan bahwa nilai ta‘āwun dan musyawarah memiliki relevansi dengan keterampilan kerja sama yang dibutuhkan di dunia kerja, termasuk komunikasi, pemecahan masalah, dan pengelolaan konflik.
Adab komunikasi juga sangat penting dalam mewujudkan kerja sama yang sehat. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari, No. 6136).
Hadis ini mengajarkan bahwa kemampuan berbicara harus disertai tanggung jawab moral. Dalam diskusi akademik, kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti seseorang boleh berbicara secara kasar atau menyerang karakter orang lain. Kritik seharusnya diarahkan pada gagasan, data, atau metode, bukan pada pribadi. Sebagai contoh, kalimat “data ini perlu diperiksa kembali karena sumbernya belum cukup kuat” jauh lebih konstruktif daripada mengatakan “kamu memang tidak bisa membuat tugas.” Perbedaan cara berbicara tersebut dapat menentukan apakah kritik menjadi sarana perbaikan atau justru sumber konflik.
Prinsip saling menghargai juga ditegaskan dalam hadis lain. Rasulullah saw. bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muslim, No. 45a).
Dalam konteks akademik, hadis tersebut dapat dimaknai sebagai prinsip empati dan keadilan dalam interaksi. Seorang mahasiswa tentu menginginkan pendapatnya didengarkan, kontribusinya dihargai, dan kesalahannya dikritik secara baik. Karena itu, ia juga harus memberikan perlakuan yang sama kepada anggota kelompok lainnya. Sikap tersebut akan menciptakan hubungan tim yang didasarkan pada rasa saling percaya, bukan persaingan pribadi.
Penerapan nilai-nilai tersebut juga mempunyai dasar ilmiah dalam konteks organisasi dan dunia profesional. Penelitian Udin (2023) terhadap 196 pekerja menunjukkan bahwa etika kerja Islam dan berbagi pengetahuan berperan dalam meningkatkan kinerja, sementara penelitian lain terhadap tenaga pendidik di Indonesia menemukan hubungan antara etika kerja Islam dan perilaku menyampaikan gagasan positif dalam organisasi . Penelitian terhadap 418 pekerja pada institusi pendidikan dan perbankan di Indonesia juga menemukan bahwa Islamic Work Ethics berpengaruh positif terhadap thriving at work dan organizational citizenship behavior. Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya relevan sebagai ajaran moral, tetapi juga dapat mendukung terciptanya perilaku kerja yang konstruktif.
Dengan demikian, adab berinteraksi akademik dapat menjadi latihan sebelum mahasiswa memasuki dunia profesi. Kebiasaan mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan, menyampaikan kritik secara santun, menjaga amanah tugas, berbagi pengetahuan, dan menyelesaikan konflik secara adil merupakan kompetensi yang dibutuhkan dalam hampir semua bidang pekerjaan. Kerja sama yang sehat tidak berarti tidak pernah terjadi perbedaan. Justru, tim yang sehat adalah tim yang mampu mengelola perbedaan melalui komunikasi yang beradab dan berorientasi pada tujuan bersama. Dalam perspektif Islam, kualitas kerja juga berkaitan dengan amanah, tanggung jawab, integritas, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas. Kajian mengenai etika kerja Qur’ani menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut dapat menjadi dasar pembentukan budaya kerja yang berkualitas dan bertanggung jawab .
Adab berinteraksi akademik dalam Islam merupakan fondasi penting bagi terbentuknya kerja sama tim yang sehat. Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk tidak merendahkan orang lain, menjauhi prasangka dan ghibah, serta membangun hubungan berdasarkan tolong-menolong dalam kebaikan. Sementara itu, hadis Nabi Muhammad saw. menegaskan pentingnya berkata baik, menjaga perasaan orang lain, dan menginginkan kebaikan bagi sesama. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan akademik melalui komunikasi yang santun, pembagian tugas yang adil, penghargaan terhadap kontribusi setiap anggota, kritik yang konstruktif, serta penyelesaian konflik melalui dialog. Dengan membiasakan adab tersebut sejak di lingkungan pendidikan, mahasiswa tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi tenaga profesional yang mampu bekerja sama secara bertanggung jawab, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, penerapan adab akademik seharusnya tidak berhenti pada teori, tetapi menjadi kebiasaan nyata dalam setiap aktivitas pembelajaran dan kerja kelompok.
Achmadi, A., Hariani, S., & Mohammed, I. S. (2023). Encouraging employees’ voice behavior through Islamic work ethics: The role of team cohesion. SERAMBI: Jurnal Ekonomi ManajemenZ dan Bisnis Islam, 5(2).
Fauzan, R. (2023). Etika komunikasi dalam organisasi perspektif Al-Quran. AL-IDZAAH: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 5(1). https://doi.org/10.24127/al-idzaah.v5i1.3659
Kamri, N. A., Ramlan, S. F., & Ibrahim, A. (2014). Qur’anic work ethics. Jurnal Usuluddin, 40, 135–172. https://doi.org/10.22452/usuluddin.vol40.6
Saihu, M., Amalia, E., & Fathoni, M. A. (2022). Development of thriving at work and organizational citizenship behavior through Islamic work ethics and humble leadership. Asian Journal of Business Ethics. https://doi.org/10.1007/s13520-022-00160-3
Sukmaningtyas, A. N. I., Nurrohim, A., Amatullah, A., Az-Zahra, F. S., Jundy, A. M. M., Lovely, T., & Haqq, M. S. (2024). Etika komunikasi Al-Qur’an dan relevansinya dengan komunikasi di zaman modern. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir, 4(2). https://doi.org/10.19109/jsq.v4i2.23981
Udin, U. (2023). Ethical leadership and employee performance: The role of Islamic work ethics and knowledge sharing. Human Systems Management, 43(1). https://doi.org/10.3233/HSM-220197
Zamhariroh, N. M., & Thobroni, A. Y. (2024). Relevansi model pembelajaran kolaboratif dalam perspektif Al-Qur’an dengan tuntutan kerjasama dalam tim di dunia kerja. An-Nahdlah: Jurnal Pendidikan Islam.
Al-Qur’an. QS. Al-Hujurat [49]: 11–12; QS. Al-Ma’idah [5]: 2.
Al-Bukhari. Sahih al-Bukhari, hadis no. 6136.
Muslim. Sahih Muslim, hadis no. 45a.
Kontributor: Syahira Nurul Aini
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa peradaban manusia ke dalam era disrupsi digital yang masif. Ruang s...

Pendahuluan Pelayanan keperawatan tidak hanya membutuhkan keterampilan dalam melakukan tindakan kepada pasien, tetapi juga membutuhkan sikap mor...

Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

Pendahuluan Latar Belakang Di tengah pesatnya perkembangan teknologi medis dan sains keperawatan kontemporer, dunia kesehatan modern justru diha...

1. PENDAHULUAN Korupsi dalam sektor kesehatan di Indonesia adalah masalah sistemik yang telah berlangsung lama, dengan pola penggelapan dana pub...

No comments yet.