Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadapi Tantangan di Tempat Kerja

    Sep 15 202625 Dilihat

    Pendahuluan

      Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Peran tenaga kesehatan tidak hanya terbatas pada upaya mengobati penyakit, tetapi juga mencakup pemeliharaan kualitas hidup, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pemberian pelayanan yang bermartabat. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi profesional sekaligus menjunjung tinggi etika dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut diperlukan agar pelayanan kesehatan dapat memperoleh kepercayaan masyarakat dan memberikan manfaat yang optimal. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai persoalan etika, seperti konflik kepentingan, komersialisasi pelayanan, keterbatasan waktu dalam melayani pasien, komunikasi yang kurang baik, serta kurangnya perhatian terhadap nilai budaya dan agama yang dianut pasien.Dalam perspektif Islam, etika profesi kesehatan memiliki dasar yang kuat yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran para ulama terdahulu. Profesi kesehatan dipandang sebagai sebuah amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki kewajiban untuk menjaga kehidupan dan kesehatan. Hal tersebut sejalan dengan konsep ḥifẓ al-nafs, yaitu menjaga jiwa, yang merupakan salah satu bagian dari maqāṣid al-syarīʿah atau tujuan utama syariat Islam (Bakhtiar, 2013; Sachedina, 2009). Oleh karena itu, nilai seperti ihsan (memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya), taʿawun (saling membantu), tadbir (mengelola diri dan sumber daya secara baik), serta keadilan menjadi bagian penting dalam membentuk etika tenaga Kesehatan.Etika profesi Ahli gizi dalam Islam tidak hanya menilai keberhasilan pelayanan berdasarkan hasil medis, tetapi juga memperhatikan proses pelayanan, niat, sikap, dan karakter tenaga kesehatan. Hal ini tercermin dalam konsep adab al-ṭabīb, yaitu etika dan perilaku seorang tenaga kesehatan—termasuk ahli gizi—sebagaimana dijelaskan oleh Ishāq ibn ʻAlī al-Rūḥāwī dalam karya klasiknya, Adab al-Ṭabīb (Al-Rūḥāwī, t.t.). Dalam perkembangan pelayanan kesehatan modern, penerapan nilai-nilai Islam menjadi semakin relevan. Hal ini disebabkan oleh adanya kebutuhan pasien Muslim terhadap pelayanan yang menghargai keyakinan mereka, perkembangan teknologi medis dan komersialisasi layanan yang dapat menimbulkan persoalan kemanusiaan, serta keberagaman budaya dan agama yang membutuhkan pendekatan pelayanan yang lebih sensitif dan menghargai perbedaan.

      Penerapan etika profesi yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan sesuai dengan konteks pasien dapat membantu meningkatkan kepuasan pasien, mendukung kepatuhan terhadap pengobatan, serta membangun hubungan yang lebih baik antara tenaga kesehatan dan pasien. Meskipun demikian, penerapan etika profesi berbasis nilai Islam masih menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah masih terbatasnya pemahaman atau literasi mengenai nilai-nilai Islam di kalangan tenaga kesehatan. Selain itu, kebijakan dan regulasi di beberapa institusi pelayanan kesehatan belum sepenuhnya mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam praktik pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai etika Islam agar dapat berjalan sejalan dengan standar profesional kesehatan modern.

      Pembahasan

        Akhlak dapat dipandang sebagai hasil nyata dari keimanan seseorang. Dalam perumpamaan pohon yang baik dalam Surah Ibrahim, iman diibaratkan sebagai akar, ilmu sebagai batang, sedangkan amal saleh dan akhlak mulia merupakan buahnya. Artinya, keimanan yang kuat seharusnya tercermin dalam perilaku yang baik. Sebaliknya, akhlak yang buruk menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara keimanan dalam hati dan perilaku yang ditampilkan. Kondisi tersebut disebut nifak amali, yaitu ketika perbuatan seseorang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Dengan demikian, iman dan akhlak memiliki hubungan yang erat karena akhlak menjadi salah satu bentuk nyata dari keimanan seseorang.

        Etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak kebiasaan, merujuk pada kajian filosofis yang membahas baik buruk atau benar tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika tidak mempersoalkan apa atau siapa manusia, melainkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak, sehingga etika bersifat lebih universal dan teoretis dibandingkan moral yang bersifat lokal dan praktis. Para ahli membagi etika ke dalam tiga cabang, yaitu etika deskriptif yang menguraikan kesadaran pengalaman moral secara ilmiah, etika normatif yang mempersoalkan sifat kebaikan dan keharusan memperbaiki tingkah laku, dan metaetika yang secara analitis menyelidiki makna istilah-istilah normatif dalam pernyataan etis. Akhlak berasal dari kata Arab خُل ُق (khuluq) yang berarti tabiat, budi pekerti, atau kebiasaan. Kata akhlak sendiri sebagai bentuk jamak tidak ditemukan langsung dalam Al-Qur’an, namun bentuk tunggalnya, yaitu khuluq, disebutkan dua kali, yakni dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 137 dan Surah Al-Qalam ayat 4. Secara terminologis, akhlak adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang darinya lahir suatu perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan dalam Ensiklopedi Islam. Ahmad Amin mendefinisikan akhlak sebagai ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan sebagian manusia kepada yang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju manusia dalam perbuatannya, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.

        Gizi yang baik merupakan landasan penting dalam menjaga kesehatan individu dan masyarakat. Dalam konteks masyarakat Muslim, kebutuhan akan kesadaran gizi menjadi lebih krusial karena menyangkut tanggung jawab keagamaan dalam merawat tubuh yang merupakan titipan dari Allah. Malnutrisi, baik dalam bentuk kekurangan maupun kelebihan gizi, dapat menyebabkan berbagai penyakit yang mengganggu produktivitas dan kualitas hidup umat, yang pada akhirnya berdampak pada ketahanan komunitas Muslim secara keseluruhan.

        Di banyak negara dengan populasi mayoritas Muslim, permasalahan gizi masih menjadi tantangan besar. Misalnya, prevalensi stunting, anemia, obesitas, dan penyakit metabolik masih tinggi di berbagai wilayah (Ghattas et al., 2020). Hal ini memperlihatkan bahwa literasi gizi belum terintegrasi secara memadai dalam kehidupan masyarakat.

        Mengenai ciri-ciri konkret orang beriman yang berakhlak mulia, Allah menjelaskan dalam Surah Al-Ahqaf ayat 13 mengenai keteguhan pendirian. Mengenai kedermawanan dan kesabaran, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 177:

        لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ۝١٧٧                                 

        Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(Q.S Al- Baqoroh -177)

        Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menegaskan hubungan iman dan akhlak melalui hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah: ً

        “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Tirmidzi nomor 1162, dinilai hasan sahih).

        Akhlak sebagai landasan etika profesi memiliki keterkaitan yang erat dengan seluruh kompetensi dalam bidang gizi, baik kompetensi yang telah dipelajari maupun yang akan dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan teknis seorang ahli gizi perlu diimbangi dengan kematangan akhlak agar pelayanan yang diberikan tidak hanya tepat secara profesional, tetapi juga memberikan manfaat dan nilai kemanusiaan bagi pasien. Prinsip ini juga sejalan dengan gagasan Al-Mawardi (t.t.) mengenai pentingnya keadilan dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah pelayanan kepada masyarakat. Berbagai aspek akhlak beserta penerapannya dalam praktik pelayanan gizi akan dikaji lebih lanjut pada bagian berikut.

        Penerapan akhlak sebagai dasar etika profesi dapat diwujudkan melalui pengintegrasian nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab ke dalam setiap standar prosedur operasional maupun dalam interaksi klinis antara ahli gizi dan pasien. Selain itu, enam dimensi akhlak yang telah dijelaskan sebelumnya dapat digunakan sebagai instrumen untuk melakukan evaluasi diri secara menyeluruh dalam menjalankan profesi. Ahli gizi dapat menjadikan keenam dimensi tersebut sebagai kerangka refleksi secara berkala untuk menilai sejauh mana hubungan dengan Allah, pasien, rekan kerja, serta lingkungan telah tercermin dalam perilaku dan pelaksanaan tugas profesional.

        Para ulama klasik menjelaskan bahwa kasih sayang (rahmah) merupakan salah satu sifat mulia yang mencerminkan kesempurnaan sifat Allah Swt., sebagaimana tergambar dalam nama-Nya, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Oleh karena itu, meneladani nilai kasih sayang merupakan bagian dari pembentukan akhlak terpuji yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Dalam konteks pelayanan kesehatan, nilai tersebut menunjukkan bahwa compassion tidak hanya dipahami sebagai kemampuan interpersonal dalam berkomunikasi dengan pasien, tetapi juga sebagai bentuk pengamalan akhlak rahmah melalui sikap peduli, empati, dan perhatian terhadap kondisi pasien.

        Para pemikir kontemporer dalam bidang etika keperawatan dan gizi berbasis Islam memandang bahwa compassion memiliki dimensi moral dan spiritual yang lebih luas daripada sekadar keterampilan interpersonal. Sikap tersebut merupakan manifestasi dari akhlak rahmah yang menjadi salah satu nilai penting dalam ajaran Islam. Hal ini selaras dengan kedudukan Rasulullah saw. sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Konsep tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang merupakan bagian penting dari misi kenabian yang bersifat universal. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan Muslim, termasuk ahli gizi, perlu menjadikan nilai kasih sayang sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan agar interaksi dengan pasien tidak hanya berorientasi pada aspek profesional, tetapi juga mencerminkan kepedulian, penghormatan, dan kemanusiaan.

        Dalam praktik sehari-hari, nilai-nilai akhlak tersebut dapat diwujudkan melalui langkah-langkah yang konkret. Misalnya, seorang ahli gizi dapat menyusun preskripsi diet dengan tetap mempertimbangkan keterjangkauan bahan pangan bagi pasien kurang mampu, sehingga rekomendasi yang diberikan realistis untuk dijalankan tanpa mengorbankan kualitas gizi. Selain itu, prinsip keadilan dan kasih sayang juga menuntut ahli gizi untuk memberikan kualitas pelayanan yang setara antara pasien pengguna BPJS Kesehatan dan pasien umum, tanpa membedakan perlakuan berdasarkan status pembiayaan. Melalui langkah-langkah tersebut, akhlak Islam tidak lagi menjadi konsep yang abstrak, melainkan terwujud secara nyata dalam standar pelayanan gizi sehari-hari.

        Penutup

          Akhlak Islam merupakan dasar yang kuat dalam pembentukan etika profesi Ahli Gizi. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya menegakkan keadilan dan melakukan kebajikan dalam kehidupan. Dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan mengenai etika dalam profesi kesehatan telah berkembang sejak masa klasik dan terus mengalami pengembangan pada masa kontemporer melalui pengintegrasian nilai-nilai Islam dengan prinsip etika profesional modern. Akhlak dipandang sebagai manifestasi dari keimanan, sebagaimana tercermin dalam perumpamaan tentang pohon yang baik. Al-Qur’an juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antara keimanan dan amal saleh, sedangkan hadis menegaskan bahwa kualitas akhlak menjadi salah satu indikator kesempurnaan iman. Selain itu, para ulama tasawuf telah merumuskan berbagai karakteristik manusia yang berakhlak mulia yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan refleksi dan evaluasi diri, termasuk dalam menjalankan tanggung jawab profesional sebagai Ahli Gizi.

          DAFTAR PUSTAKA

          Al-Mawardi, A. H. (t.t.). Al-Hawi Al-Kabir. Dar Al-Kutub Al Ilmiyah.

          Al-Qur’an al-Karim.(Q.S.Al-Baqoroh -177)

          Bakhtiar, N. (2013). Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Aswaja Pressindo.

          Ghattas, H., Acharya, Y., Jamaluddine, Z., Assi, M., El Asmar, K., & Jones, A. D. (2020). Child-level double burden of malnutrition in the MENA and LAC regions: Prevalence and social determinants. Maternal & Child Nutrition, 16(2), e12923. https://doi.org/10.1111/mcn.12923

          Sachedina, A. (2009). Islamic Biomedical Ethics: Principles and Application. Oxford University Press.

          Kontributor: Anggun Rizqiyana

          Editor: Ahmad Ali, M.Pd.

            Share to

            Related News

            Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

            by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

            I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

            Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

            by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

            PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

            Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

            by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

            I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

            Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

            by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

            I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

            Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

            by Jennysa Maulani Sep 15 2026

            I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

            Kemuliaan Manusia Sebagai Dasar Pencegah...

            by Priska Simanungkalit Sep 15 2026

            I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena berhubung...

            No comments yet.

            Please write your comment.

            Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

            *

            *

            Jurnal Dedikasi

            Jurnal Madani

            Jurnal Cendekia

            Other News

            Antara Amanah Ilmu dan Kemudahan AI

            Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun...

            09 Jun 2026

            Mengindonesiakan Islam: Menyelaraskan Agama dan...

            1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat yang menerimanya, melainkan sebagai ajaran y...

            Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landasan Apr...

            I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, tetapi juga dengan pengalaman manusia ketika men...

            16 Sep 2026

            Identifikasi Sasaran Penyuluhan Anti Korupsi

            1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Korupsi di Indonesia telah berkembang melampaui sekadar kejahatan keuangan; ia telah menjadi fenomena “...

            18 Apr 2026

            Edukasi Kesehatan Sebagai Pemenuhan Hak Masyara...

            I. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia, namun akses terhadap layanan dan pengetahuan ke...

            back to top