Nadiva Zahra Farlis • Oct 19 2026 • 37 Dilihat

Perkembangan ilmu kesehatan yang dikenal saat ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai ilmuwan dari berbagai zaman dan peradaban. Salah satu peradaban yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu kesehatan adalah peradaban Islam. Pada masa kejayaan Islam, ilmu pengetahuan berkembang dalam berbagai bidang, termasuk kedokteran. Para ilmuwan Muslim tidak hanya mempelajari pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga mengembangkan ilmu melalui kegiatan pengkajian dan pemikiran baru dalam berbagai bidang, termasuk kedokteran (Maryam, 2022).
Salah satu tokoh dalam perkembangan ilmu kedokteran Islam adalah Ibnu Nafis. Ia dikenal melalui penjelasannya mengenai sirkulasi pulmonal atau peredaran darah melalui paru-paru. Menurut Tehrani, Ibnu Nafis memberikan deskripsi mengenai sirkulasi pulmonal, yaitu darah dari sisi kanan jantung menuju paru-paru kemudian kembali ke sisi kiri jantung (Tehrani, 2021). Pemikiran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan pemahaman mengenai fungsi tubuh manusia.
Topik Ibnu Nafis penting dikaji oleh mahasiswa gizi karena ilmu gizi tidak hanya mempelajari makanan dan kandungan zat gizi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana tubuh menggunakan zat gizi tersebut. Zat gizi yang diperoleh dari makanan akan melalui proses pencernaan dan penyerapan sebelum digunakan untuk mendukung berbagai fungsi tubuh. Oleh karena itu, pemahaman mengenai sistem tubuh dan fisiologi menjadi salah satu dasar dalam mempelajari ilmu gizi. Dalam hal ini, pemikiran Ibnu Nafis tidak dapat disebut sebagai penemuan ilmu gizi, tetapi dapat dilihat sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia yang memiliki relevansi dengan ilmu kesehatan, termasuk gizi.
Selain aspek ilmu kesehatan, pembahasan mengenai gizi dalam perspektif Islam juga penting karena makanan tidak hanya dinilai berdasarkan kandungan gizinya, tetapi juga berdasarkan ketentuan agama. Islam mengajarkan umatnya untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Oleh sebab itu, seorang ahli gizi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat Muslim perlu mempertimbangkan aspek kesehatan sekaligus nilai-nilai Islam dalam memberikan edukasi maupun rekomendasi makanan.
Berdasarkan hal tersebut, esai ini bertujuan untuk menjelaskan pemikiran Ibnu Nafis mengenai sirkulasi darah, menghubungkannya dengan perkembangan ilmu dasar kesehatan dan ilmu gizi, serta menganalisis penerapan nilai-nilai Islam dalam praktik profesi gizi.
Perkembangan ilmu kedokteran dalam peradaban Islam mempunyai perjalanan yang panjang. Pada masa kejayaan Islam, ilmu kedokteran berkembang melalui kegiatan penerjemahan, pengkajian, dan pengembangan pengetahuan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah ilmu kedokteran dan memberikan dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran pada masa berikutnya (Maryam, 2022). Dalam perkembangan tersebut, Ibnu Nafis menjadi salah satu tokoh yang memberikan pemikiran penting mengenai sistem peredaran darah.
Ibnu Nafis memberikan penjelasan mengenai sirkulasi pulmonal yang pada masa itu berbeda dari pemahaman yang telah berkembang sebelumnya. Menurut Tehrani, darah dari sisi kanan jantung menuju paru-paru dan kemudian kembali ke sisi kiri jantung (Tehrani, 2021). Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa darah memiliki jalur peredaran melalui paru-paru sebelum mencapai sisi kiri jantung.
Pemikiran Ibnu Nafis menjadi penting karena memperlihatkan adanya usaha untuk memahami fungsi tubuh manusia secara lebih mendalam. Kontribusinya juga menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi melalui penerimaan terhadap teori yang telah ada, tetapi juga melalui pengamatan dan pemikiran kritis (Tehrani, 2021). Dari sudut pandang mahasiswa gizi, sikap tersebut dapat menjadi pembelajaran bahwa ilmu kesehatan perlu dipelajari secara kritis dan berdasarkan bukti.
Sirkulasi darah dan ilmu gizi merupakan dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya memiliki hubungan melalui fungsi tubuh manusia. Ilmu gizi mempelajari makanan, zat gizi, kebutuhan tubuh, serta pemanfaatan zat gizi dalam mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Setelah zat gizi dari makanan dicerna dan diserap, tubuh membutuhkan sistem untuk mendistribusikan berbagai zat tersebut ke bagian tubuh yang memerlukannya.
Karena itu, pemahaman mengenai fisiologi tubuh menjadi salah satu pengetahuan yang mendukung pembelajaran ilmu gizi. Dalam konteks ini, kontribusi Ibnu Nafis lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perkembangan ilmu dasar mengenai fungsi tubuh, bukan sebagai kontribusi langsung terhadap ilmu gizi. Ibnu Nafis tidak membahas kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin, mineral, atau pedoman makan seperti yang dipelajari dalam ilmu gizi modern.
Menurut penulis, hubungan tersebut justru penting untuk diperjelas agar pembahasan tidak menempatkan Ibnu Nafis sebagai ahli gizi. Nilai utama yang dapat diambil adalah bahwa perkembangan ilmu kesehatan berlangsung secara bertahap dan saling berkaitan. Pemahaman mengenai fungsi tubuh yang berkembang dari masa ke masa menjadi salah satu dasar bagi berbagai cabang ilmu kesehatan, termasuk ilmu gizi.
Bagi mahasiswa gizi, pemahaman tersebut dapat membantu melihat bahwa makanan tidak dapat dipisahkan dari proses fisiologis tubuh. Makanan menyediakan zat gizi yang diperlukan tubuh, sedangkan tubuh memiliki berbagai sistem untuk menggunakan dan mendistribusikan zat tersebut. Dengan demikian, mempelajari fisiologi tidak hanya menjadi bagian dari teori, tetapi juga membantu mahasiswa gizi memahami hubungan antara makanan, zat gizi, dan fungsi tubuh secara lebih menyeluruh.
Landasan Al-Qur’an tentang Makanan Halal dan Thayyib
Dalam Islam, pembahasan mengenai makanan mempunyai dasar yang jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”⁵
Ayat tersebut memberikan landasan bahwa makanan yang dikonsumsi manusia perlu memperhatikan dua aspek, yaitu halal dan thayyib. Halal berkaitan dengan ketentuan yang diperbolehkan menurut syariat, sedangkan thayyib berkaitan dengan sesuatu yang baik. Dalam konteks ilmu gizi, konsep tersebut dapat dikaitkan dengan pemilihan makanan yang aman, berkualitas, dan memberikan manfaat bagi tubuh. Kajian Widiyati menunjukkan adanya hubungan antara makanan, gizi, kesehatan, serta konsep makanan halal dan baik dalam perspektif Islam.⁶
Menurut penulis, konsep halal dan thayyib memiliki relevansi yang kuat dengan profesi gizi. Ahli gizi tidak hanya perlu mempertimbangkan apakah suatu makanan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi, tetapi pada masyarakat Muslim juga perlu memperhatikan kesesuaian makanan dengan prinsip halal. Dengan demikian, rekomendasi makanan dapat diberikan secara lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan nilai agama.
Hadis tentang Menjaga Kekuatan dan Kesehatan
Selain Al-Qur’an, perhatian terhadap kondisi tubuh juga dapat ditemukan dalam hadis. Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.”
Hadis tersebut dapat dipahami sebagai salah satu ajaran yang mendorong seorang Muslim untuk memperhatikan kondisi dirinya. Dalam kaitannya dengan ilmu gizi, kesehatan tubuh dapat didukung melalui pemenuhan kebutuhan zat gizi yang sesuai, pola makan yang baik, serta perilaku hidup sehat. Namun, hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai penjelasan ilmiah mengenai kebutuhan zat gizi tertentu. Hadis tersebut lebih tepat digunakan sebagai landasan nilai mengenai pentingnya menjaga kondisi diri, kemudian ilmu gizi memberikan penjelasan ilmiah mengenai kebutuhan dan pemanfaatan zat gizi.
Sulaiman et al. menjelaskan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap makanan dan minuman serta kesehatan manusia (Sulaiman et al., 2024). Hal ini memperlihatkan bahwa nilai agama dan ilmu kesehatan dapat ditempatkan secara berdampingan. Menurut penulis, pendekatan tersebut penting bagi mahasiswa gizi karena calon tenaga gizi akan berhadapan dengan masyarakat yang mempunyai latar belakang budaya dan agama yang beragam.
Hubungan ilmu gizi dengan pelayanan kesehatan dapat dilihat dari penelitian Yenni et al. di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi. Penelitian tersebut membahas hubungan mutu asuhan gizi dengan lama rawat inap pasien dan menunjukkan bahwa pengkajian serta asuhan gizi yang diberikan secara tepat waktu menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan pelayanan pasien (Yenni et al., 2024).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelayanan gizi bukan hanya berkaitan dengan menentukan makanan yang dikonsumsi pasien. Ahli gizi perlu melakukan pengkajian dan memberikan asuhan sesuai dengan kondisi pasien. Dalam praktiknya, kondisi setiap pasien berbeda sehingga pelayanan gizi perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Jika dikaitkan dengan pembahasan Ibnu Nafis, pemahaman terhadap fungsi tubuh menjadi salah satu pengetahuan dasar yang mendukung tenaga kesehatan dalam memahami kondisi manusia. Bagi ahli gizi, pemahaman tersebut dapat membantu menghubungkan kondisi fisiologis pasien dengan kebutuhan gizi dan bentuk pelayanan yang diberikan.
Relevansi pembahasan ini dapat diterapkan secara langsung dalam praktik profesi gizi. Seorang ahli gizi perlu menggunakan pengetahuan ilmiah untuk melakukan pengkajian, menentukan masalah gizi, menyusun intervensi, memberikan edukasi, dan melakukan pemantauan terhadap kondisi klien atau pasien. Penelitian Yenni et al. menunjukkan pentingnya mutu asuhan gizi dan ketepatan waktu dalam pelayanan (Yenni et al., 2024).
Dalam masyarakat Muslim, implementasi profesi gizi juga dapat dilakukan dengan memperhatikan konsep makanan halal dan thayyib. Ketika memberikan rekomendasi makanan, ahli gizi dapat mempertimbangkan kandungan zat gizi, keamanan makanan, kondisi kesehatan, kebutuhan individu, serta kesesuaian makanan dengan prinsip halal. Dengan cara tersebut, rekomendasi yang diberikan tidak hanya memenuhi aspek gizi tetapi juga sesuai dengan nilai yang dianut oleh masyarakat.
Implementasi lainnya adalah melalui edukasi gizi. Penelitian Nurnajmi et al. membahas edukasi manajemen laktasi berbasis Islam terhadap pengetahuan dan motivasi ibu hamil mengenai ASI eksklusif. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis Islam dapat digunakan dalam edukasi kesehatan (Nurnajmi et al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa ahli gizi dapat menyesuaikan cara penyampaian edukasi dengan latar belakang masyarakat tanpa meninggalkan prinsip ilmiah.
Selain itu, Chairani et al. membahas edukasi gizi seimbang dan pengenalan konsep Isi Piringku pada siswa remaja SMA Islam (Chairani et al., 2024). Edukasi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai makanan dan gizi perlu diberikan sejak remaja. Dalam praktik profesi, ahli gizi dapat menggunakan pendekatan edukasi yang sesuai dengan usia, lingkungan, kebutuhan, dan karakteristik sasaran.
Menurut penulis, penerapan nilai Islam dalam profesi gizi bukan berarti menggantikan ilmu gizi dengan ajaran agama. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Ilmu gizi memberikan dasar ilmiah mengenai kebutuhan dan pemanfaatan zat gizi, sedangkan nilai Islam dapat menjadi landasan dalam memilih dan menyampaikan rekomendasi makanan kepada masyarakat Muslim. Perpaduan keduanya dapat membantu ahli gizi memberikan pelayanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan pembahasan tersebut, kontribusi Ibnu Nafis lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan ilmu kesehatan dan fisiologi. Pemikirannya mengenai sirkulasi pulmonal bukan merupakan ilmu gizi secara langsung, tetapi memberikan gambaran bahwa pengetahuan mengenai tubuh manusia berkembang melalui proses pengamatan dan pemikiran ilmiah (Tehrani, 2021).
Menurut penulis, hal yang paling relevan bagi mahasiswa gizi bukan hanya mengetahui siapa Ibnu Nafis dan apa kontribusinya, tetapi juga memahami bagaimana ilmu kesehatan berkembang dan saling berhubungan. Mahasiswa gizi membutuhkan pengetahuan mengenai fungsi tubuh untuk memahami bagaimana makanan dan zat gizi berhubungan dengan kesehatan.
Selain itu, nilai yang terdapat dalam ajaran Islam mengenai makanan halal dan thayyib dapat diterapkan dalam profesi gizi. Konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memberikan rekomendasi makanan yang tidak hanya memperhatikan kandungan gizi, tetapi juga keamanan, kualitas, dan kesesuaian dengan nilai masyarakat.
Kajian Sulaiman et al. memperlihatkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap makanan dan Kesehatan (Sulaiman et al., 2024), sedangkan penelitian Yenni et al. memperlihatkan penerapan ilmu gizi melalui pelayanan dan edukasi (Yenni et al., 2024). Dengan demikian, menurut penulis, seorang ahli gizi dapat menjalankan profesinya dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, kebutuhan individu, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Ibnu Nafis merupakan salah satu ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi penting dalam perkembangan pemahaman mengenai sirkulasi pulmonal. Ia menjelaskan perjalanan darah dari sisi kanan jantung menuju paru-paru dan kemudian kembali ke sisi kiri jantung (Tehrani, 2021). Pemikiran tersebut menjadi bagian dari perkembangan ilmu fisiologi dan menunjukkan pentingnya pengamatan serta pemikiran kritis dalam perkembangan ilmu kesehatan.
Bagi ilmu gizi, kontribusi Ibnu Nafis tidak dapat disebut sebagai kontribusi langsung karena ia tidak membahas zat gizi atau kebutuhan makanan. Namun, pemahamannya mengenai fungsi tubuh memiliki relevansi tidak langsung dengan ilmu gizi karena ilmu gizi juga membutuhkan dasar pengetahuan mengenai fisiologi manusia. Dengan memahami hubungan antara fungsi tubuh dan zat gizi, mahasiswa gizi dapat melihat ilmu yang dipelajarinya secara lebih menyeluruh.
Dalam perspektif Islam, makanan juga mempunyai landasan yang kuat melalui konsep halal dan thayyib sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 168. Hadis tentang mukmin yang kuat juga dapat menjadi landasan nilai untuk memperhatikan kondisi dan kesehatan tubuh. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam profesi gizi melalui pemilihan makanan, pelayanan asuhan gizi, serta edukasi kepada masyarakat.
Hasil kajian ilmiah menunjukkan bahwa ilmu gizi mempunyai peran dalam pelayanan kesehatan dan edukasi masyarakat. Oleh karena itu, menurut penulis, mahasiswa gizi perlu memahami perkembangan ilmu kesehatan sekaligus mampu menerapkan ilmu gizi berdasarkan bukti ilmiah dan tetap mempertimbangkan nilai agama serta kondisi masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran mengenai Ibnu Nafis tidak hanya menjadi pengetahuan sejarah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi untuk membangun sikap ilmiah dan profesional dalam menjalankan profesi gizi.
Chairani, A., Hadiwiardjo, Y. H., Kristanti, M., Ramadhani, I., & Prabarini, S. (2024). Pentingnya edukasi gizi seimbang dan pengenalan Isi Piringku pada siswa remaja SMA Islam. SEGARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 60–64. https://doi.org/10.33533/segara.v1i2.7301
Maryam, H. (2022). Perkembangan kedokteran dalam Islam. Al-Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 2(1), 98–109.
Nurnajmi, N., Kesumasari, C., Amalia Mansur, M., & Syam, A. (2024). Edukasi manajemen laktasi berbasis Islam terhadap pengetahuan dan motivasi ibu hamil. JGMI: The Journal of Indonesian Community Nutrition, 13(2).
Sulaiman, F., Burhan, A. H., & Rahmatullah, W. (2024). Islam, makanan, dan kesehatan. Al-Asalmiya Nursing: Jurnal Ilmu Keperawatan, 13(1), 27–41. https://doi.org/10.35328/keperawatan.v13i1.2628.
Tehrani, S. (2021). Ibn-al-nafis: An ophthalmologistwho first correctly described the circulatory system. In Translational Vision Science and Technology (Vol. 10, Number 2, p. 1). Association for Research in Vision and Ophthalmology Inc. https://doi.org/10.1167/TVST.10.2.17
Yenni, F., Purba, M. B., Syauqy, A., Muis, S. F., & Ratna Noer, E. (2024). HUBUNGAN MUTU ASUHAN GIZI DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN DI RUMAH SAKIT ISLAM IBNU SINA BUKITTINGGI. 13(1), 69–80. http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/
Kontributor: Nadiva Zahra Farlis
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN Permasalahan gizi masyarakat, khususnya stunting, masih menjadi isu kesehatan yang serius di Indonesia. Stunting merupakan kondis...

PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu kelahir...

1. PENDAHULUAN Agama merupakan pedoman hidup yang komprehensif, mengatur hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta (Allah Swt.) sekaligus h...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

I. Pendahuluan Kesehatan ibu dan anak itu penting untuk pembangunan kesehatan karena kondisi ibu dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga ...

No comments yet.