M. Sultan Kumala • Jun 08 2026 • 17 Dilihat

Islam merupakan agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. (ḥablum minallāh), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia (ḥablum minannās). Salah satu prinsip fundamental yang menjadi dasar kehidupan seorang muslim adalah amanah dan tanggung jawab. Kedua konsep tersebut memiliki kedudukan yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan kualitas keimanan, akhlak, dan integritas seseorang. Dalam perspektif Islam, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari aspek material atau pencapaian duniawi, melainkan juga dari sejauh mana ia mampu menjaga amanah yang diberikan oleh Allah Swt., masyarakat, keluarga, maupun dirinya sendiri.
Di era modern saat ini, berbagai persoalan sosial seperti korupsi, manipulasi data, penyalahgunaan jabatan, ketidakjujuran akademik, plagiarisme, serta rendahnya rasa tanggung jawab menjadi tantangan serius dalam kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut menunjukkan adanya krisis integritas yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dan dunia kerja. Menurut Transparency International (2024), rendahnya integritas individu menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi tingginya tingkat korupsi di berbagai negara.
Islam sejak awal telah memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Al-Qur’an dan Hadis mengajarkan bahwa setiap manusia merupakan pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amanah yang diembannya. Oleh karena itu, amanah bukan sekadar nilai moral, melainkan bagian dari keimanan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep amanah dalam Islam memiliki cakupan yang luas. Amanah tidak hanya berkaitan dengan menjaga titipan atau melaksanakan tugas tertentu, tetapi juga mencakup pemeliharaan hak-hak Allah, hak sesama manusia, serta hak terhadap diri sendiri. Dalam konteks kehidupan modern, nilai amanah dan tanggung jawab sangat relevan diterapkan oleh mahasiswa, tenaga pendidik, pemimpin organisasi, aparatur negara, maupun profesional di berbagai bidang pekerjaan.
Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, pemahaman mengenai amanah dan tanggung jawab menjadi sangat penting karena profesi teknik berkaitan erat dengan keselamatan manusia, pengelolaan teknologi, dan pembangunan masyarakat. Kesalahan yang timbul akibat ketidakjujuran atau kurangnya tanggung jawab dapat menimbulkan dampak yang luas terhadap kehidupan banyak orang. Oleh sebab itu, kajian mengenai amanah dan tanggung jawab dalam Islam perlu dipahami secara mendalam agar dapat menjadi landasan etis dalam kehidupan akademik maupun profesional.
Amanah dan tanggung jawab merupakan nilai fundamental dalam Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis serta menjadi dasar pembentukan karakter jujur, berintegritas, dan profesional dalam kehidupan individu maupun sosial.
Amanah merupakan salah satu nilai fundamental dalam ajaran Islam yang berkaitan dengan kepercayaan, tanggung jawab, dan komitmen moral seseorang dalam menjalankan tugas atau kewajiban yang dibebankan kepadanya. Secara etimologis, kata amanah berasal dari bahasa Arab amina-ya’manu-amānah yang berarti terpercaya, jujur, dan dapat dipercaya (Ibn Manzur, 2003).
Dalam perspektif Islam, amanah tidak hanya terbatas pada menjaga titipan harta benda, tetapi juga mencakup seluruh kewajiban yang diberikan oleh Allah Swt., masyarakat, keluarga, maupun diri sendiri. Amanah meliputi kewajiban menjalankan ibadah, menjaga hubungan sosial, menunaikan tugas pekerjaan, serta melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan (Shihab, 2017).
Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa [4]: 58). Ayat tersebut menunjukkan bahwa amanah merupakan perintah langsung dari Allah Swt. yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim dalam berbagai aspek kehidupan.
Tanggung jawab dalam Islam dikenal dengan istilah mas’uliyyah, yaitu kesediaan seseorang untuk menerima konsekuensi atas tindakan dan keputusan yang diambilnya. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya baik di dunia maupun di akhirat (Qardhawi, 2013). Konsep tanggung jawab mencakup beberapa dimensi, yaitu:
Menurut Al-Ghazali (2015), manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk mengelola kehidupan berdasarkan petunjuk Allah serta menjaga keseimbangan sosial dan moral dalam masyarakat.
Kejujuran (shidq) merupakan kesesuaian antara perkataan, perbuatan, dan kenyataan. Kejujuran menjadi salah satu indikator utama integritas seseorang dan merupakan bagian dari akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. Rasulullah Saw. bersabda: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Al-Attas (1995), kejujuran merupakan fondasi utama pembentukan karakter muslim yang berintegritas karena menjadi dasar munculnya kepercayaan dalam hubungan sosial.
Integritas merupakan kesatuan antara nilai, keyakinan, dan perilaku yang tercermin dalam konsistensi seseorang menjalankan prinsip-prinsip moral. Dalam Islam, integritas tercermin melalui perpaduan sifat amanah, siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas) yang dimiliki oleh para nabi. Beekun (1997) menjelaskan bahwa integritas dalam perspektif Islam merupakan komitmen untuk menjaga nilai-nilai kebenaran meskipun menghadapi berbagai tekanan dan tantangan. Dengan demikian, amanah, tanggung jawab, kejujuran, dan integritas merupakan konsep yang saling berkaitan dalam membentuk karakter muslim yang ideal.
Teori Etika Islam menekankan bahwa seluruh perilaku manusia harus didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Menurut Beekun (1997), etika Islam tidak hanya mempertimbangkan aspek benar dan salah secara sosial, tetapi juga mempertimbangkan dimensi spiritual dan pertanggungjawaban kepada Allah Swt. Dalam teori ini, amanah dan tanggung jawab dipandang sebagai kewajiban moral yang harus dilaksanakan oleh setiap individu dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Penerapan teori etika Islam dapat dilihat dalam prinsip:
Teori khalifah menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai wakil Allah di bumi yang bertugas memakmurkan dan menjaga kehidupan sesuai petunjuk-Nya. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
Menurut Al-Mawardi (2006), konsep khalifah menunjukkan bahwa manusia diberikan amanah besar untuk mengelola sumber daya, memimpin masyarakat, serta menjaga keadilan dan kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini, amanah dan tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.
Akuntabilitas (hisab) merupakan teori yang menjelaskan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya di hadapan Allah Swt. Allah Swt. berfirman: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8).
Menurut Chapra (2000), konsep akuntabilitas Islam lebih luas dibandingkan akuntabilitas modern karena mencakup pertanggungjawaban duniawi sekaligus ukhrawi. Teori ini memperkuat pentingnya integritas dalam menjalankan amanah karena setiap tindakan akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Menurut Lickona (2012), pendidikan karakter bertujuan membentuk individu yang mengetahui, mencintai, dan melakukan kebaikan. Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis dengan tujuan membentuk insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Amanah dan tanggung jawab menjadi bagian penting dari pendidikan karakter Islam karena kedua nilai tersebut berperan dalam membangun kepribadian yang jujur dan profesional.
Penelitian mengenai amanah, tanggung jawab, kejujuran, dan integritas telah banyak dilakukan oleh para akademisi. Penelitian yang dilakukan oleh Hakim (2020) menunjukkan bahwa penerapan nilai amanah dalam lingkungan pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap pembentukan karakter mahasiswa. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat pemahaman agama yang baik cenderung menunjukkan perilaku yang lebih jujur dan bertanggung jawab dalam kegiatan akademik.
Penelitian Hidayat dan Yusuf (2021) mengenai integritas dalam perspektif Islam menemukan bahwa nilai amanah menjadi faktor utama dalam membangun budaya antikorupsi. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa individu yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat terhadap kejujuran dan tanggung jawab.
Sementara itu, penelitian Suryadi (2022) tentang implementasi nilai amanah dalam organisasi menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam mampu meningkatkan kepercayaan anggota organisasi dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif.
Penelitian lainnya oleh Fauzi dan Rahman (2023) mengenai etika profesi berbasis Islam menemukan bahwa amanah dan integritas merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh calon profesional, termasuk mahasiswa teknik dan sains. Penelitian tersebut menegaskan bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kualitas moral dan tanggung jawab individu.
Berdasarkan berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa amanah dan tanggung jawab memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter, peningkatan kualitas kepemimpinan, penguatan budaya antikorupsi, serta pengembangan profesionalisme. Namun demikian, masih diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai hubungan antara amanah, tanggung jawab, kejujuran, dan integritas berdasarkan landasan Al-Qur’an dan Hadis serta relevansinya dalam kehidupan mahasiswa dan masyarakat modern.
Konsep amanah memiliki landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan rujukan adalah QS. An-Nisa ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).
Menurut Tafsir Ibn Katsir, ayat ini memerintahkan setiap muslim untuk menunaikan seluruh amanah yang dipercayakan kepadanya, baik amanah berupa harta, jabatan, ilmu, maupun tanggung jawab sosial (Ibn Katsir, 2003).
Selain itu, Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia” (QS. Al-Ahzab: 72). Ayat ini menunjukkan bahwa amanah merupakan tanggung jawab yang sangat besar sehingga bahkan makhluk-makhluk besar ciptaan Allah enggan memikulnya. Manusia menerima amanah tersebut karena diberikan akal, kebebasan memilih, dan kemampuan untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Menurut Quraish Shihab (2017), amanah dalam ayat ini mencakup seluruh kewajiban agama dan sosial yang harus dijalankan manusia selama hidup di dunia.
Rasulullah Saw. dikenal sebagai pribadi yang memiliki gelar Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya. Gelar tersebut diperoleh bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak memiliki amanah dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad). Hadis ini menunjukkan bahwa amanah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seorang muslim.
Dalam hadis lain Rasulullah Saw. bersabda: “Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut menunjukkan tingginya kedudukan orang yang menjaga kejujuran dan integritas dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Dalam Islam, amanah bukan hanya masalah etika sosial, tetapi juga merupakan manifestasi keimanan. Seseorang yang beriman akan berusaha menjalankan amanah karena menyadari bahwa Allah Swt. selalu mengawasi seluruh perbuatannya.
Menurut Al-Ghazali (2015), kejujuran dan amanah merupakan buah dari keimanan yang kuat. Sebaliknya, pengkhianatan dan ketidakjujuran menunjukkan lemahnya hubungan seseorang dengan Allah Swt. Karena itu, Al-Qur’an sering menghubungkan antara keimanan dan amanah. Orang-orang beriman digambarkan sebagai mereka yang menjaga amanah dan menepati janji (QS. Al-Mu’minun: 8).
Mahasiswa memiliki berbagai bentuk amanah yang harus dijaga, antara lain:
Praktik plagiarisme, menyontek, manipulasi data penelitian, maupun pemalsuan kehadiran merupakan bentuk pelanggaran amanah yang bertentangan dengan nilai Islam. Sebaliknya, mahasiswa yang jujur dalam belajar akan memperoleh keberkahan ilmu dan membangun karakter profesional yang kuat untuk masa depan.
Dalam dunia teknik, amanah memiliki peran yang sangat penting. Seorang insinyur bertanggung jawab memastikan bahwa rancangan, sistem, dan teknologi yang dibuat aman digunakan oleh masyarakat. Kesalahan akibat kelalaian atau manipulasi data dapat mengakibatkan kerugian besar bahkan hilangnya nyawa manusia. Oleh karena itu, profesionalisme dalam bidang teknik harus didasarkan pada integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.
Menurut kode etik profesi teknik, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan teknis yang diambil. Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat.
Amanah dan tanggung jawab merupakan nilai fundamental dalam ajaran Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pembentukan karakter individu maupun kehidupan sosial masyarakat. Kedua nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi bagian dari hubungan seorang hamba dengan Allah Swt. Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan pedoman yang jelas mengenai pentingnya menjaga amanah, melaksanakan tanggung jawab, menjunjung tinggi kejujuran, serta mempertahankan integritas dalam setiap aspek kehidupan. Nilai-nilai tersebut bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi landasan utama bagi perilaku seorang muslim.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa amanah dalam Islam mencakup seluruh bentuk kewajiban yang dipercayakan kepada manusia, baik amanah terhadap Allah Swt., diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun lingkungan. Amanah tidak hanya berupa titipan harta atau jabatan, tetapi juga meliputi pelaksanaan ibadah, penyampaian ilmu, pemanfaatan waktu, serta pengelolaan berbagai tanggung jawab sosial. Sementara itu, tanggung jawab (mas’uliyyah) merupakan kesediaan seseorang untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya serta menerima konsekuensi atas setiap tindakan yang dilakukan.
Al-Qur’an dan Hadis memberikan penegasan yang kuat mengenai kewajiban menjaga amanah dan bersikap jujur. Ayat-ayat Al-Qur’an seperti QS. An-Nisa ayat 58 dan QS. Al-Ahzab ayat 72 menunjukkan bahwa amanah merupakan perintah Allah Swt. yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Demikian pula berbagai hadis Rasulullah Saw. menegaskan bahwa amanah merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan menjadi ciri utama seorang mukmin yang sejati. Oleh karena itu, kejujuran dan integritas tidak hanya dipandang sebagai nilai moral, tetapi juga sebagai manifestasi dari keimanan seseorang kepada Allah Swt. (Shihab, 2017).
Kajian ini juga menunjukkan bahwa amanah memiliki hubungan yang sangat erat dengan integritas. Individu yang mampu menjaga amanah akan cenderung memiliki sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan konsisten dalam menjalankan prinsip-prinsip kebenaran. Sebaliknya, pengkhianatan terhadap amanah dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan sosial seperti korupsi, manipulasi, penipuan, penyalahgunaan jabatan, dan berbagai perilaku tidak etis lainnya yang merugikan masyarakat. Oleh sebab itu, penguatan nilai amanah menjadi salah satu solusi penting dalam menghadapi krisis moral yang terjadi di berbagai sektor kehidupan saat ini.
Dalam konteks kehidupan mahasiswa, amanah diwujudkan melalui kesungguhan dalam menuntut ilmu, kejujuran akademik, kedisiplinan, serta tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk memiliki integritas yang tinggi karena mereka akan menjadi calon pemimpin, tenaga profesional, dan agen perubahan di masa depan. Sikap seperti plagiarisme, menyontek, manipulasi data penelitian, dan ketidakjujuran akademik merupakan bentuk pelanggaran amanah yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam dunia kerja dan profesi, khususnya bidang teknik, amanah dan tanggung jawab memiliki arti yang sangat penting. Seorang profesional dituntut untuk bekerja secara jujur, kompeten, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. Integritas menjadi faktor utama yang menentukan kualitas profesionalisme seseorang. Oleh karena itu, nilai-nilai Islam mengenai amanah dan tanggung jawab sangat relevan untuk diterapkan dalam dunia kerja modern yang semakin kompleks dan kompetitif.
Meskipun demikian, perkembangan teknologi, globalisasi, dan kemajuan digital juga menghadirkan berbagai tantangan baru terhadap penerapan nilai amanah. Penyebaran hoaks, penipuan digital, korupsi, penyalahgunaan teknologi, serta rendahnya etika dalam penggunaan media sosial menjadi bukti bahwa penguatan karakter berbasis nilai agama masih sangat dibutuhkan. Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk menanamkan nilai amanah sejak dini melalui pendidikan karakter yang berlandaskan ajaran Islam.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa amanah dan tanggung jawab merupakan fondasi utama dalam pembentukan pribadi muslim yang berakhlak mulia, berintegritas, dan profesional. Nilai-nilai tersebut tidak hanya penting untuk kehidupan individu, tetapi juga menjadi faktor penentu terciptanya masyarakat yang adil, harmonis, dan sejahtera. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya menjadikan amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai prinsip hidup yang senantiasa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt. dan kontribusi positif bagi kemajuan umat dan bangsa.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.
Al-Ghazali. (2015). Ihya Ulumuddin. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah.
Al-Mawardi. (2006). Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah. Dar Al-Hadith.
Beekun, R. I. (1997). Islamic Business Ethics. International Institute of Islamic Thought.
Chapra, M. U. (2000). The Future of Economics: An Islamic Perspective. Islamic Foundation.
Fauzi, M., & Rahman, A. (2023). Etika profesi berbasis nilai Islam pada mahasiswa teknik. Jurnal Pendidikan dan Etika Profesi, 7(2), 88–103.
Hakim, A. (2020). Implementasi nilai amanah dalam pembentukan karakter mahasiswa. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 120–134.
Hidayat, M., & Yusuf, R. (2021). Integritas dan budaya antikorupsi dalam perspektif Islam. Jurnal Etika dan Peradaban Islam, 5(1), 45–58.
Ibn Katsir. (2003). Tafsir Ibn Katsir. Darussalam.
Ibn Manzur. (2003). Lisan al-Arab. Dar Sadir.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama RI.
Lickona, T. (2012). Character Matters. Simon & Schuster.
Qardhawi, Y. (2013). Karakteristik Islam. Pustaka Al-Kautsar.
Shihab, M. Q. (2017). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Vol. 11). Lentera Hati.
Siddiqi, M. N. (2006). Teaching Morality in Islam. Islamic Foundation.
Suryadi, A. (2022). Implementasi nilai amanah dalam kepemimpinan organisasi Islam. Jurnal Manajemen Dakwah, 10(1), 66–81.
Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2024. Transparency International.
Zuhaili, W. (2011). Tafsir Al-Munir. Gema Insani.
Kontributor: M. Sultan Kumala
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
Kajian Tafsir atas Doktrin Pemadatan Makna dalam Tradisi Keilmuan Islam ABSTRAK Kajian ini membahas ...
1. PENDAHULUAN Dunia terus berubah dengan akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi ...
1. Pendahuluan Masjid telah lama berdiri sebagai institusi sentral dalam sejarah dan peradaban Islam...
Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga...
1. PENDAHULUAN Era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komuni...
Kajian Tafsir atas Doktrin Ijmal Al-Qur’an dalam Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas ...

Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang pesat, persoalan nilai dan peri...

1. PENDAHULUAN Peradaban manusia berada di puncak revolusi teknologi yang masif. Kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), robotika...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan sistemik yang berdampak luas terhadap berbagai sektor pembangunan, termasuk ekonomi...

1. PENDAHULUAN Di sebuah kelas perkuliahan, seorang mahasiswa menyerahkan laporan praktikum dengan hasil yang sempurna. Grafik yang rapi, data y...

1. PENDAHULUAN Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang tetangga non-Muslim duduk menunggu di depan rumahnya setiap Idul Adha tiba. Bukan ka...

No comments yet.