Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • JANGAN TUNGGU KONFLIK

    Jun 11 202619 Dilihat

    Membangun Toleransi Sebelum Terlambat

    1. PENDAHULUAN

    Pernah nggak kamu baru sadar ada kebocoran di atap rumah justru pas hujan deras? Baru panik, baru lari cari ember, baru sibuk menambalnya   padahal kalau sejak awal rutin dicek, semua itu bisa dihindari.

    Anehnya, kita sering berlaku sama terhadap toleransi. Kita baru ngomongin rukun antarumat beragama kalau sudah ada gesekan. Kita baru peduli keharmonisan sosial kalau berita konflik sudah muncul di beranda. Kita baru ingat pentingnya saling menghormati kalau sudah ada yang terluka.

    Padahal Indonesia adalah negara dengan lebih dari 270 juta penduduk dan enam agama yang diakui resmi   belum lagi ratusan kepercayaan lokal yang hidup berdampingan. Kita hidup di atas kekayaan perbedaan yang luar biasa. Sensus BPS (2020) mencatat bahwa Indonesia dihuni oleh lebih dari 1.300 suku bangsa dengan beragam tradisi dan keyakinan. Dan justru karena itu, toleransi bukan sesuatu yang bisa kita tunda atau anggap sepele.

    Data Setara Institute (2023) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2022 terjadi 175 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik   ia adalah cermin dari kegagalan kita membangun fondasi toleransi sebelum konflik muncul. Tulisan ini hadir untuk menegaskan satu hal: bahwa toleransi dan kerukunan antarumat beragama harus dibangun hari ini, bukan setelah segalanya pecah.

    2. PERNYATAAN OPINI

    Krisis toleransi yang muncul di berbagai daerah di Indonesia bukan terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari pembiaran   dari sikap acuh, dari kurangnya ruang dialog, dari generasi muda yang tidak pernah diajari cara menghargai perbedaan secara nyata. Oleh karena itu, membangun toleransi dan kerukunan antarumat beragama harus dimulai sekarang, bukan nanti, dan bukan hanya setelah terjadi masalah.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1 Toleransi Itu Bukan Cuma Diam

    Banyak yang salah kaprah soal toleransi. Dikira, cukup dengan tidak mengganggu orang lain yang berbeda agama, berarti sudah toleran. Padahal itu baru level paling dasar   sekadar tidak menyakiti.

    Toleransi yang sesungguhnya lebih dari itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi diartikan sebagai sikap atau sifat toleran; batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Kata tolerance dalam bahasa Latin berasal dari tolerate yang artinya memikul bersama. Artinya, toleransi bukan pasif. Ia aktif. Ia tentang mau repot memahami sudut pandang orang lain, mau memberi ruang meski berbeda keyakinan, dan mau berjalan berdampingan meski tidak selalu sepakat.

    Dalam kajian akademis, Bukhori (2022) mendefinisikan toleransi beragama sebagai kemampuan seseorang untuk menerima dan menghargai keberadaan orang lain dengan keyakinan yang berbeda tanpa harus menyetujui isi keyakinan tersebut. Sementara itu, Artis (2011) menegaskan bahwa toleransi dalam konteks sosial-keagamaan mencakup dimensi kognitif (memahami perbedaan), afektif (menghargai perbedaan), dan konatif (berperilaku sesuai dengan penghargaan tersebut). Dengan kata lain, toleransi yang sesungguhnya adalah keputusan aktif, bukan ketidakpedulian pasif.

    Dalam khazanah Islam, hal ini dikenal dengan istilah tasamuh   sikap berlapang dada terhadap perbedaan. Bukan berarti kita menyetujui semua keyakinan orang lain, tapi kita menghormati hak mereka untuk meyakininya. Ada perbedaan besar antara setuju dan menghormati   dan toleransi ada di sana.

    ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฏููŠู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽู„ููŠูŽ ุฏููŠู†ู

    “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

    (QS. Al-Kafirun: 6)

    Ayat ini sering disalahpahami sebagai bentuk pemisahan atau ketidakpedulian. Padahal justru sebaliknya   ini adalah deklarasi saling menghormati tanpa perlu saling menyerang. Kamu boleh berbeda keyakinan denganku, dan aku tidak akan memaksamu. Itu justru bentuk toleransi yang paling tegas.

    3.2 Kerukunan: Lebih dari Sekadar Tidak Ribut

    Kalau toleransi adalah sikapnya, maka kerukunan adalah buahnya. Rukun   kata yang berasal dari bahasa Arab ruknun, artinya tiang atau pondasi   menggambarkan sesuatu yang berdiri kuat karena saling menopang, bukan karena salah satu pihak diam saja.

    Kerukunan umat beragama bukan berarti semua orang harus setuju satu sama lain. Ia adalah kondisi di mana perbedaan bisa hadir tanpa harus memicu permusuhan. Sukandarman (2024) dalam penelitiannya tentang harmoni dalam keberagaman menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama di Indonesia bersandar pada tiga pilar: pengakuan atas perbedaan, dialog yang setara, dan kerja sama dalam isu-isu kepentingan bersama. Tanpa ketiga pilar ini, kerukunan yang ada hanyalah kerukunan semu   diam karena takut, bukan damai karena saling menghargai.

    Penelitian Siagian (1993) juga menegaskan bahwa toleransi dalam perspektif sosial bukan hanya urusan individu, melainkan proses sosial yang dibangun melalui interaksi terus-menerus antara kelompok yang berbeda. Ketika interaksi itu absen, prasangka tumbuh; dan ketika prasangka tumbuh tidak diperiksa, ia mudah meledak menjadi konflik. Di mana kamu bisa merayakan Lebaran dan tetanggamu merayakan Natal, dan kalian saling mengucapkan selamat dengan tulus   bukan karena terpaksa, tapi karena memang peduli.

    “Toleransi adalah pilihan dalam hati; kerukunan adalah pilihan dalam tindakan.”

    3.3 Belajar dari Ambon: Bukti Bahwa Damai Bisa Dibangun Ulang

    Kalau kamu pernah dengar soal konflik Ambon di akhir 1990-an, kamu tahu betapa mahalnya harga dari tidak adanya toleransi. Konflik yang berlangsung bertahun-tahun itu meninggalkan luka dalam   ratusan nyawa melayang, ribuan orang mengungsi, dan kepercayaan antarumat beragama hancur berkeping.

    Tetapi hari ini, Ambon berdiri sebagai bukti bahwa perdamaian bukan cuma impian. Para peneliti konflik mencatat bahwa rekonsiliasi Ambon berhasil justru karena pendekatan berbasis komunitas   bukan hanya kebijakan atas-bawah. Braithwaite, Braithwaite, Cookson, dan Dunn (2010) dalam kajian mereka tentang konflik Ambon menyimpulkan bahwa perdamaian pasca-konflik paling tahan lama adalah yang dibangun melalui restorasi hubungan sosial antarwarga, bukan sekadar penandatanganan perjanjian oleh elite. Masyarakatnya bangkit melalui jalan yang panjang: dialog lintas agama, keterlibatan tokoh masyarakat, kegiatan gotong royong lintas komunitas, dan kemauan untuk duduk bersama meski pernah saling menyakiti.

    Rais (2012) dalam studinya mengenai resolusi konflik berbasis kearifan lokal di Maluku menunjukkan bahwa tradisi pela gandong   sistem persaudaraan adat yang mengikat komunitas Muslim dan Kristen di Maluku   menjadi jembatan rekonsiliasi yang jauh lebih efektif daripada intervensi eksternal. Ini membuktikan bahwa modal sosial toleransi sebenarnya sudah ada dalam budaya kita; yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mengaktifkannya kembali sebelum   bukan setelah   konflik meletus.

    “Ambon mengajarkan kita: toleransi yang paling kuat bukan yang lahir dari teori, tapi dari keputusan nyata di kehidupan sehari-hari.”

    3.4 Kenapa Harus Sekarang, dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    Di era media sosial seperti sekarang, gesekan antaragama bisa dipicu oleh satu postingan, satu komentar, satu video yang viral. Algoritma dirancang untuk memperkuat emosi   dan sayangnya, kemarahan jauh lebih mudah viral daripada kedamaian. Penelitian Nasrullah (2016) tentang media sosial dan polarisasi di Indonesia menunjukkan bahwa konten yang memancing emosi negatif memiliki potensi penyebaran tiga kali lebih cepat dibandingkan konten yang bersifat informatif dan menyejukkan. Ini bukan alasan untuk pesimis, melainkan untuk bertindak lebih cepat.

    Wahid Foundation (2020) dalam laporan survei nasionalnya menemukan bahwa 59,9% responden berpotensi melakukan tindakan intoleran apabila tidak ada edukasi dan intervensi yang memadai. Angka ini menegaskan bahwa toleransi bukan sesuatu yang otomatis hadir karena kita hidup bersebelahan secara fisik. Ia harus dilatih, diinternalisasi, dan dibudayakan secara sadar dan berkelanjutan.

    ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌูŽุณูŽู‘ุณููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุจ ุจูŽู‘ุนู’ุถููƒูู… ุจูŽุนู’ุถู‹ุง

    “Janganlah kamu saling mencari-cari kesalahan dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”

    (QS. Al-Hujurat: 12)

    Pesan ini seolah diturunkan untuk zaman ini   di mana mencari kesalahan orang lain bisa dilakukan dalam hitungan detik, dan menyebarkannya hanya butuh satu klik. Jangan tunggu ada yang terluka dulu baru sadar bahwa kata-kata punya dampak.

    Lalu, apa yang konkret bisa kita lakukan? Ada tiga langkah operasional yang dapat dijalankan pada level individu, komunitas, dan institusi:

    Pertama, pada level individu, kenali sebelum menilai. Sebelum menyimpulkan tentang orang yang berbeda agama, coba kenali dulu melalui dialog langsung. Riset Allport (1954) melalui Contact Hypothesis-nya   yang terus dikonfirmasi oleh penelitian-penelitian modern   membuktikan bahwa kontak langsung yang positif antara kelompok berbeda secara signifikan mengurangi prasangka dan meningkatkan empati. Selain itu, jaga kolom komentarmu di media sosial. Satu komentar provokatif bisa menjadi sumbu konflik; satu komentar yang menenangkan bisa menjadi rem. Pilih dengan sadar untuk menjadi yang kedua.

    Kedua, pada level komunitas, jadikan toleransi sebagai kebiasaan, bukan reaksi. Ini bisa dimulai dari hal kecil: menginisiasi kegiatan gotong royong lintas agama di lingkungan sekitar, menghadiri perayaan komunitas yang berbeda keyakinan sebagai tamu yang hormat, atau membentuk forum dialog antarpemuda lintas agama di kampus dan lingkungan. Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan nyata toleransi melalui Piagam Madinah   sebuah perjanjian hidup berdampingan antara umat Islam, Yahudi, dan kelompok lain, yang disusun secara proaktif sebelum konflik terjadi.

    Ketiga, pada level institusi dan kebijakan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil perlu mengintegrasikan program penguatan toleransi ke dalam kurikulum, program kemasyarakatan, dan pelatihan kepemimpinan secara berkelanjutan   bukan hanya reaktif saat konflik muncul. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang sudah ada perlu direvitalisasi agar lebih menjangkau kalangan muda dan lebih aktif hadir sebelum potensi konflik membesar.

    ู„ูŽุง ุฅููƒู’ุฑูŽุงู‡ูŽ ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู

    “Tidak ada paksaan dalam agama.”

    (QS. Al-Baqarah: 256)

    4. DISKUSI & IMPLIKASI

    Toleransi dan kerukunan antarumat beragama bukan urusan yang bisa diserahkan kepada pemerintah atau tokoh agama saja. Ia adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari pilihan-pilihan kecil setiap warga negara. Data dan kasus yang telah dipaparkan di atas menunjukkan satu pola yang konsisten: konflik biasanya bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi pembiaran yang panjang.

    Implikasinya jelas. Di level pendidikan, materi toleransi dan kerukunan perlu masuk bukan hanya sebagai hafalan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama, tetapi sebagai pengalaman langsung: kunjungan ke rumah ibadah yang berbeda, projek bersama antarpelajar lintas agama, dan diskusi terbuka tentang keberagaman yang difasilitasi dengan baik. Kemendikbudristek (2022) sendiri telah merekomendasikan pendekatan berbasis pengalaman (experiential learning) dalam penguatan profil pelajar Pancasila, termasuk dimensi kebhinekaan global.

    Di level digital, literasi media yang berfokus pada verifikasi informasi dan kesadaran akan manipulasi emosi perlu diperkuat. Mahasiswa dan generasi muda adalah kelompok paling rentan sekaligus paling berpotensi dalam mengubah ekosistem digital menjadi ruang yang lebih sehat. Mereka bisa menjadi agen perubahan, asalkan dibekali dengan keterampilan dan kesadaran yang memadai.

    Pada akhirnya, membangun toleransi sebelum terlambat adalah investasi terbaik yang bisa kita lakukan untuk Indonesia. Bukan karena kita naif tentang adanya perbedaan, justru sebaliknya: karena kita cukup dewasa untuk tahu bahwa perbedaan, bila tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi bahan bakar konflik yang paling merusak.

    5. PENUTUP

    Indonesia adalah negara yang luar biasa. Kita hidup di atas keberagaman yang di banyak negara lain justru menjadi sumber perang. Bahwa kita masih bisa berdiri bersama sampai hari ini   itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil kerja keras generasi-generasi sebelumnya yang memilih damai atas perpecahan.

    Pertanyaannya sekarang ada di tangan kita: mau kita teruskan warisan itu, atau kita biarkan perlahan tergerus? Jangan tunggu ada konflik dulu baru kita peduli. Jangan tunggu ada korban dulu baru kita angkat bicara. Toleransi dan kerukunan bukan sekadar nilai yang indah di atas kertas   ia adalah pilihan nyata yang harus kita buat setiap hari, dalam komentar yang kita ketik, dalam prasangka yang kita periksa, dan dalam keberanian untuk duduk bersama orang yang berbeda dari kita.

    “Pertanyaan terpentingnya bukan ‘agama apa yang paling benar?’   tapi ‘sudahkah aku menjadi orang yang bisa hidup berdampingan dengan baik?’ Jawaban atas pertanyaan itu yang menentukan seperti apa Indonesia kita ke depan.”

    REFERENSI

    Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Jakarta: Kementerian Agama RI.

    Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice. Addison-Wesley.

    Artis. (2011). Kerukunan dan toleransi antar umat beragama. TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama, 3(1), 86โ€“97.

    Badan Pusat Statistik. (2020). Hasil sensus penduduk 2020. BPS Republik Indonesia.

    Braithwaite, J., Braithwaite, V., Cookson, M., & Dunn, L. (2010). Anomie and violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding. ANU E Press.

    Bukhori, B. (2022). Toleransi beragama: Peran fundamentalisme agama dan kontrol diri. Semarang: CV. Pilar Nusantara.

    Kemendikbudristek. (2022). Panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

    Nasrullah, R. (2016). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.

    Rais, M. A. (2012). Resolusi konflik berbasis kearifan lokal: Studi kasus pela gandong di Maluku. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 16(1), 1โ€“15.

    Setara Institute. (2023). Laporan kondisi kebebasan beragama/berkeyakinan di Indonesia 2022. Setara Institute for Democracy and Peace.

    Siagian, S. (1993). Toleransi dalam perspektif sosial. Jakarta: Gramedia.

    Sukandarman, A. R. (2024). Harmoni dalam keberagaman: Toleransi dan kerukunan antar umat. Perspektif: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Bahasa, 2(1), 128โ€“144.

    Wahid Foundation. (2020). Survei nasional: Potensi intoleransi dan radikalisme sosial keagamaan di kalangan muslim Indonesia. Wahid Foundation.

    Kontributor:ย Gahara Zuhud Gahari

    Editor:ย Dani Habibi, M.Ag.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan Sebagai...

    by M. Fariz Al Farezi Jun 17 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...

    AGAMA DAN KEWARGANEGARAAN

    by Achmad Arzaqi Jun 16 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...

    Toleransi Beragama dalam Masyarakat Mult...

    by M. Miftahul Huda Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....

    KONSEP KETUHANAN DAN KEIMANAN

    by M. Hafiidh Ghoniyy Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...

    Mengindonesiakan Islam: Menyelaraskan Ag...

    by Muhammad Davidio Hazel Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...

    Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificia...

    by Randy Tri Gustira Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Korupsi dalam Infrastruktur Kesehatan: Gedung M...

    1. PENDAHULUAN Korupsi dalam sektor kesehatan di Indonesia adalah masalah sistemik yang telah berlangsung lama, dengan pola penggelapan dana pub...

    05 Apr 2026

    DI ANTARA LIKE DAN KOMENTAR, MASIHKAH ADA KEMAN...

    Perspektif Islam dalam Menghadapi Tantangan Dunia Digital 1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehi...

    10 Jun 2026

    Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangs...

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Kemudahan akses informasi melalui in...

    Kampus Berintegritas: Mulai Dari Diri Sendiri

    1. PENDAHULUAN Kampus merupakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai wadah pembentu...

    13 Apr 2026

    Indeks Persepsi Korupsi Indonesia: Masih Jauh d...

    1. PENDAHULUAN Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perceptions Index (CPI) merupakan indikator global yang mengukur tingkat persepsi k...

    18 Apr 2026
    back to top