Mheylani Creselia • Sep 06 2026 • 24 Dilihat

Ruang bersalin masa kini bertumpu pada kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Pemantauan detak jantung janin, partograf berbasis bukti, dan berbagai pedoman klinis modern telah terbukti meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Namun, di balik seluruh kecanggihan teknis tersebut, persalinan pada hakikatnya tetap merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam kehidupan manusia, sebuah momen yang oleh banyak perempuan dialami bukan semata sebagai proses fisiologis, melainkan juga sebagai pengalaman yang sarat makna eksistensial dan spiritual (Callister & Khalaf, 2010). Pertanyaannya kemudian, masih adakah ruang bagi penghayatan rohani di tengah pelayanan yang semakin terukur secara klinis?
Bagi seorang Ahli Madya Kebidanan yang beriman Kristen, pertanyaan ini bukan sekadar renungan filosofis, melainkan bagian nyata dari tugas profesinya. Iman Kristen mengajarkan bahwa manusia dapat mengenal Allah melalui dua jalur yang saling melengkapi, yaitu wahyu khusus yang tertulis dalam Alkitab, dan wahyu umum yang terhampar dalam seluruh ciptaan-Nya, termasuk pada tubuh dan proses kehidupan manusia. Topik ini penting untuk dikaji karena bidan berdiri pada titik temu antara kompetensi klinis dan tanggung jawab spiritual, sementara kajian menunjukkan bahwa asuhan yang memperhatikan kebutuhan spiritual pasien pada umumnya belum diberikan tenaga kesehatan secara kompeten (Meri dkk., 2024). Esai ini bertujuan mengkaji proses persalinan sebagai sarana mengenal kebesaran Allah menurut landasan Alkitab, meninjaunya melalui hasil kajian ilmiah kebidanan kontemporer, serta merumuskan implementasinya dalam praktik profesi Ahli Madya Kebidanan.
Konsep bahwa alam semesta dan tubuh manusia menyingkapkan kebesaran Allah telah lama menjadi bagian penting dalam teologi Kristen. Augustinus dari Hippo mengembangkan gagasan mengenai dua kitab Allah, yaitu Kitab Kitab Suci dan Kitab Alam, yang keduanya berasal dari sumber yang sama sehingga pada hakikatnya tidak mungkin saling bertentangan (McGrath, 2011). Dalam kerangka inilah proses persalinan dapat dipahami sebagai salah satu tanda alam ciptaan yang paling nyata, karena di dalamnya tersingkap rancangan yang begitu presisi antara tubuh ibu dan kehidupan baru yang dikandungnya.
Alkitab menegaskan hal ini secara eksplisit. Mazmur 139:13-14 menyatakan bahwa Allah telah membentuk buah pinggang manusia dan menenunnya di dalam rahim ibunya, sehingga manusia patut memuji Dia sebab kejadiannya dahsyat dan ajaib. Kejadian 1:27-28 menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya serta memberkatinya untuk beranakcuculah dan bertambah banyak, menunjukkan bahwa kemampuan melahirkan adalah bagian dari rancangan ilahi sejak semula. Adapun Pengkhotbah 11:5 mengingatkan bahwa manusia tidak mengetahui bagaimana tulang-tulang dibentuk dalam rahim perempuan yang mengandung, namun manusia dapat mengetahui pekerjaan Allah yang membuat segala sesuatu, sebuah ayat yang menegaskan keterbatasan pengetahuan manusia di hadapan misteri penciptaan sekaligus mengundang kekaguman terhadap kebesaran-Nya.
Pandangan teologis ini sejalan dengan pemikiran John Calvin mengenai sensus divinitatis, yaitu kesadaran akan keberadaan Allah yang secara alami muncul ketika manusia merenungkan keteraturan dan keindahan ciptaan-Nya (McGrath, 2011). Menurut pandangan ini, seorang bidan yang menyaksikan langsung proses kelahiran sesungguhnya berada pada posisi istimewa untuk mengalami kesadaran rohani tersebut secara berulang dalam praktik kerjanya sehari-hari.
Kajian ilmiah kontemporer memperkuat pemahaman ini dari sisi yang berbeda. Callister dan Khalaf (2010) menemukan bahwa persalinan merupakan konteks yang ideal untuk memperkaya spiritualitas perempuan lintas budaya, dan bahwa perhatian terhadap dimensi spiritual pasien meningkatkan kualitas asuhan yang diberikan. Buckley (2015), melalui tinjauan komprehensif atas fisiologi hormonal persalinan, menjelaskan bahwa oksitosin, endorfin, katekolamin, dan prolaktin bekerja dalam jalinan yang sangat terkoordinasi untuk mendukung proses kelahiran yang aman, sebuah kompleksitas yang menunjukkan tingkat presisi biologis jauh melampaui kebetulan semata. Sementara itu, penelitian Rabieepoor dan Etesami (2023) pada ibu yang baru pertama kali melahirkan(primipara) menunjukkan bahwa konseling spiritual secara terukur meningkatkan efikasi diri ibu dalam menghadapi persalinan, dan Sotudeh dkk. (2022) menemukan bahwa dimensi koping religius tertentu berhubungan secara bermakna dengan persepsi intensitas nyeri dan efikasi diri persalinan pada perempuan primipara di Iran.
Penulis memandang bahwa temuan-temuan ilmiah tersebut, meskipun sebagian besar berasal dari konteks budaya dan keagamaan yang berbeda dari populasi Kristen di Indonesia, secara konsisten menunjukkan pola yang sama, yaitu bahwa dimensi spiritual dan dimensi biologis dalam persalinan tidak berdiri terpisah, melainkan saling memengaruhi. Kehati-hatian tetap diperlukan dalam menggeneralisasi hasil penelitian berbasis budaya religius tertentu ke konteks pelayanan yang lebih beragam, namun pola umum bahwa penghayatan spiritual berkorelasi dengan efikasi diri dan pengalaman persalinan yang lebih positif cukup konsisten ditemukan lintas budaya. Bagi penulis, hal ini menjadi dasar yang cukup kuat untuk menegaskan bahwa asuhan kebidanan yang hanya berorientasi pada capaian teknis berisiko kehilangan dimensi penting yang justru terbukti berkontribusi terhadap kesejahteraan ibu secara menyeluruh.
Implementasi pemahaman ini dalam praktik Ahli Madya Kebidanan dapat diwujudkan dalam langkah-langkah yang realistis sesuai kewenangan dan lingkup kerja di layanan primer. Pada tahap antenatal(masa sebelum persalinan),bidan dapat menyisipkan pertanyaan sederhana mengenai kebutuhan spiritual ibu sebagai bagian dari anamnesis, tanpa memaksakan keyakinan tertentu kepada pasien yang berbeda agama. Pada tahap persalinan, penerapan prinsip fisiologi hormonal sebagaimana dijelaskan Buckley (2015), yakni penyediaan lingkungan yang tenang, pendampingan yang konsisten, dan minimalisasi gangguan yang tidak perlu, sejalan dengan penghayatan bahwa proses kelahiran adalah karya yang layak dihormati, bukan sekadar prosedur yang harus dipercepat. Bidan yang beriman Kristen juga dapat menawarkan doa atau pendampingan rohani sederhana ketika pasien menghendakinya, serta merujuk pasien kepada rohaniwan apabila dibutuhkan dukungan spiritual yang lebih mendalam. Seluruh langkah tersebut tidak menuntut penambahan prosedur klinis baru, melainkan mengubah cara pandang dan sikap hati bidan dalam menjalankan tugas yang sudah ada, sejalan dengan nasihat dalam Kolose 3:23 bahwa apa pun yang diperbuat hendaklah dikerjakan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa proses persalinan bukan sekadar rangkaian mekanisme biologis, melainkan juga salah satu tanda alam ciptaan yang paling nyata memperlihatkan kebesaran dan kasih Allah kepada manusia. Landasan Alkitab dalam Mazmur 139, Kejadian 1, dan Pengkhotbah 11 sejalan dengan pandangan teologis Augustinus dan Calvin mengenai pengenalan akan Allah melalui ciptaan-Nya, sementara kajian ilmiah kontemporer mengenai fisiologi hormonal dan peran spiritualitas dalam persalinan memperkuat pemahaman bahwa dimensi biologis dan rohani manusia tidak dapat dipisahkan secara tegas.
Penulis menyarankan agar institusi pendidikan kebidanan turut mengembangkan materi asuhan spiritual dalam kurikulum Ahli Madya Kebidanan, agar lulusan memiliki kompetensi dasar dalam mengenali dan merespons kebutuhan rohani pasien secara profesional. Penelitian lanjutan pada konteks bidan dan ibu bersalin beragama Kristen di Indonesia juga diperlukan untuk memperkuat basis bukti yang lebih relevan secara budaya. Dengan demikian, integrasi iman dan ilmu pengetahuan dapat terus dikembangkan bukan sebagai wacana normatif semata, melainkan sebagai praktik nyata yang meningkatkan mutu pelayanan kebidanan sekaligus menghormati martabat setiap ibu dan bayi sebagai ciptaan Allah.
Alkitab Terjemahan Baru. (t.t.). Alkitab.me. Diakses 26 Agustus 2026, dari https://alkitab.me.
Buckley, S. J. (2015). Hormonal physiology of childbearing: Evidence and implications for women, babies, and maternity care. Journal of Perinatal Education, 24(3), 145–153. https://doi.org/10.1891/1058-1243.24.3.145.
Callister, L. C., & Khalaf, I. (2010). Spirituality in childbearing women. The Journal of Perinatal Education, 19(2), 16–24. https://doi.org/10.1624/105812410X495514.
McGrath, A. E. (2011). Christian theology: An introduction (5th ed.). Wiley-Blackwell.
Meri, D., Mayenti, F., Efliani, D., & Mustika, A. (2024). Pelayanan keperawatan berbasis spiritual ditinjau dari aspek proses asuhan keperawatan spiritual di Rumah Sakit Sansani Pekanbaru. Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma, 5(3), 826–832. https://doi.org/10.26874/jakw.v5i3.537.
Rabieepoor, S., & Etesami, E. (2023). The effect of spiritual counseling on childbirth self-efficacy to cope with labor in primiparous women. Journal of Midwifery and Reproductive Health, 11(3),3848-3860
Sotudeh, T., Hasanpoor-Azghady, S. B., & Amiri-Farahani, L. (2022). Relationship between religious coping, pain severity, and childbirth self-efficacy in Iranian primipara women. Obstetrics and Gynecology International, 2022,2338683.
Kontributor:Â Mheylani Creselia
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

I. Pendahuluan Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu masalah kese...

PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan kronis yang hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan di Indonesi...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan lap...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan fenomena sosial yang kompleks dan telah menjadi masalah global yang berdampak luas terhadap berbagai aspek kehi...

No comments yet.