Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Sindrom Kelelahan Emosional Pada Tenaga Kesehatan ditelaah Melalui Konsep Futur dan Penjagaan Iman

    Sep 05 202647 Dilihat

    Pendahuluan

    Tenaga kesehatan merupakan kelompok pekerja yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam menjalankan pekerjaannya, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan profesional, tetapi juga harus mampu menghadapi berbagai tuntutan fisik, mental, dan emosional selama memberikan pelayanan kepada pasien. Kondisi pekerjaan yang penuh tekanan tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan tenaga kesehatan dan meningkatkan risiko terjadinya burnout. Hal ini menjadi perhatian karena kondisi burnout pada tenaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan pekerja, tetapi juga dapat berhubungan dengan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan (Hall et al., 2016). Tekanan dan tuntutan yang dialami tenaga kesehatan juga dapat menimbulkan kelelahan, termasuk kelelahan secara emosional, kelelahan emosional adalah kondisi ketika seseorang merasa sangat lelah dan merasa energi emosionalnya terkuras dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang berlangsung secara terus menerus.

    Dalam penelitian Molina-praena et al. (2018) menunjukkan bahwa 31% perawat dalam penelitian yang dianalisis mengalami tingkat kelelahan emosional yang tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kelelahan emosional merupakan salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam kehidupan kerja tenaga kesehatan. Kelelahan emosional memiliki hubungan erat dengan burnout, karena kondisi tersebut merupakan salah satu dimensi yang digunakan dalam memahami burnout, burnout tidak hanya ditandai dengan kelelahan emosional saja tetapi juga depersonalisasi dan menurunnya pencapaian pribadi, dengan demikian kelelahan emosional tidak dapat disamakan dengan burnout, melainkan menjadi salah satu bagian penting dari kondisi tersebut (Tang et al., 2022). Penelitian Huang et al. (2023) menunjukkan bahwa stres yang dirasakan berkaitan dengan kelelahan emosional pada perawat neonatal.

    Kelelahan emosional pada tenaga kesehatan penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi kesejahteraan tenaga kesehatan serta pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada pasien. Kondisi ini tidak hanya perlu dilihat dari perspektif kesehatan dan psikologis, tetapi juga dapat ditelaah melalui perspektif keagamaan. Dalam Islam, kondisi melemahnya semangat dapat dikaitkan dengan konsep futur, sedangkan penjagaan iman dapat menjadi salah satu aspek dalam menghadapi kondisi tersebut. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk menelaah sindrom kelelahan emosional pada tenaga kesehatan melalui konsep futur dan penjagaan iman dalam perspektif Islam.

    Pembahasan

    Kelelahan emosional pada tenaga kesehatan dapat terjadi karena adanya berbagai tuntutan yang dihadapi seseorang Selama menjalankan Pekerjaannya, tidak hanya dituntut untuk memberikan pelayanan secara profesional tetapi tenaga kesehatan juga harus mampu mengelola emosinya sendiri ketika dihadapkan oleh pasien yang berbeda-beda. Selain itu, pekerjaan tenaga kesehatan juga memiliki tuntutan psikologis dan fisik yang dapat membuat tenaga kesehatan terkuras apabila berlangsung secara terus menerus. Siddique et.al (2024) menunjukkan bahwa emotional labor, tuntutan psikologis, tuntutan fisik, dan job juga dapat mempengaruhi kelelahan emosional.

    Hal ini sangat menunjukkan bahwa kelelahan emosional tidak selalu berkaitan dengan kondisi emosional seseorang saja tetapi juga bisa dipengaruhi oleh tuntutan yang ada di dalam pekerjaan. Kelelahan emosional yang dialami oleh tenaga kesehatan tidak hanya berdampak Pada diri mereka sendiri, tetapi juga bisa berdampak pada pelayanan mereka terhadap pasien, kondisi kelelahan yang berlangsung secara terus menerus dapat membuat tenaga kesehatan tidak dapat melakukan pekerjaannya secara optimal. Hal ini menjadi sangat penting karena kondisi Burnout pada tenaga kesehatan juga berkaitan dengan kualitas dan kenyamanan pelayanan yang diberikan kepada pasien. Menurut Li et.al. (2024), di dalam tinjauan sistematis nya mengatakan kelelahan kerja perawat dikaitkan dengan iklim keselamatan pasien dan tingkat keselamatan pasien yang lebih rendah: pasien jadi lebih banyak infeksi nosokomial, kesalahan pengobatan dan kejadian buruk lainnya, oleh sebab itu peringkat kepuasaan pasien menjadi lebih rendah dan juga kualitas perawatan oleh perawat juga dinilai lebih rendah. Futur adalah menurunnya keteguhan dan kesadaran spiritual serta dapat mempengaruhi konsistensi dalam beribadah dan orientasi moral seseorang. (Zabidi et al., 2026). Berdasarkan jurnal Zabidi dkk. (2026), terdapat beberapa pendapat ulama mengenai futur, diantaranya Al-Ghazali dan Ibn al-Qayyim.

    Menurut Al-Ghazali, futur merupakan pelemahan tekad secara bertahap yang terjadi setelah munculnya semangat yang kuat dalam beribadah. Sementara itu, menurut Ibn al-Qayyim, futur merupakan suatu kondisi yang bersifat sementara dan dapat terjadi secara berulang dalam perjalanan spiritual seseorang. Perubahan intensitas energi spiritual merupakan hal yang dapat terjadi selama seseorang tetap menjalankan kewajibannya. Ibn al-Qayyim juga mengaitkan sikap puas diri yang berkepanjangan dengan melemahnya kepekaan moral, sehingga ketidakpedulian yang terus berlangsung dapat menyebabkan seseorang semakin kurang peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah (Zabidi et al., 2026). Dalam pembahasan Zabidi et al., (2026), pelemahan spiritual dapat ditandai dengan beberapa kondisi seperti kecemasan, kelelahan emosional, menarik diri dari pergaulan, serta berkurangnya pelaksanaan ibadah.

    Al-Insyirah ayat 5-8

    فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥

    fa inna ma‘al-‘usri yusrâ

    Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

    اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ۝٦

    inna ma‘al-‘usri yusrâ

    Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

    فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ۝٧

    fa idzâ faraghta fanshab

    Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)

    وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ ۝٨

    wa ilâ rabbika farghab

    dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!

    Ayat ini berkaitan dengan kelelahan emosional karena mengajarkan bahwa setiap kesulitan disertai kemudahan. Dalam konteks tenaga kesehatan, tekanan dan tuntutan pekerjaan dapat menyebabkan kelelahan emosional. Ayat ini dapat menjadi pengingat untuk tetap memiliki harapan, berusaha menghadapi kesulitan, dan menjadikan Allah sebagai tempat bergantung. Hal tersebut juga dapat membantu seseorang agar tidak larut dalam futur ketika mengalami tekanan dan kelelahan.

    Hadits Hanzalah — HR. Muslim No. 2750

    يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً، وَلَوْ كَانَتْ تَكُونُ قُلُوبُكُمْ كَمَا تَكُونُ عِنْدَ الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُسَلِّمَ عَلَيْكُمْ فِي

                                                                                                                                  الطُّرُقِ

    Artinya:

    “Wahai Hanzhalah, ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Seandainya hati kalian selalu dalam keadaan seperti ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim No. 2750).

    Hadits ini menunjukkan bahwa kondisi spiritual seseorang dapat mengalami perubahan. Seseorang tidak selalu berada dalam keadaan semangat dan kuat dalam beribadah. Hal ini berkaitan dengan konsep futur, yaitu ketika semangat dan keteguhan spiritual mengalami penurunan. Dalam konteks tenaga kesehatan, kelelahan emosional akibat tuntutan pekerjaan juga dapat mempengaruhi kondisi spiritual. Oleh karena itu, hadis ini mengajarkan pentingnya memahami perubahan kondisi diri dan tetap berusaha menjaga hubungan dengan Allah meskipun sedang mengalami kelelahan.

    Hasil penelitian Harris dan Tao (2022) yang melibatkan 207 perawat menunjukkan adanya hubungan antara religiusitas dan spiritualitas dengan kesejahteraan mental perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa religiusitas dan spiritualitas memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan mental. Kesejahteraan mental yang lebih baik kemudian berhubungan dengan tingkat burnout yang lebih rendah, termasuk kelelahan emosional (emotional exhaustion) dan depersonalisasi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat burnout lebih tinggi ditemukan pada perawat yang bekerja di lingkungan intensive care/critical care serta pada perawat dengan pengalaman kerja 2–5 tahun. Selain itu, peneliti menjelaskan bahwa spiritualitas pribadi dapat menjadi salah satu faktor yang membantu melindungi perawat dari burnout karena dapat mendukung kesejahteraan mental.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi spiritual dan kesejahteraan mental memiliki keterkaitan dengan kelelahan emosional pada tenaga kesehatan. Oleh karena itu, menjaga spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, tetapi juga dapat menjadi salah satu bagian yang mendukung tenaga kesehatan dalam menghadapi tekanan dan tuntutan pekerjaan.

    Berdasarkan hasil kajian, penulis menganalisis bahwa kondisi spiritual memiliki keterkaitan dengan kesejahteraan mental tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan yang mengalami kelelahan emosional bisa menjadi jarang beribadah, berdoa, dan berdzikir karena mengalami kelelahan emosional. Kondisi ini sangat berhubungan dengan futur karena iman seseorang dapat menjadi lemah ketika sedang mengalami kelelahan emosional. Oleh karena itu, menjaga kondisi mental dan spiritual sangat penting bagi tenaga kesehatan.

    Sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi futur pada tenaga kesehatan, perawat perlu menjaga kesejahteraan spiritualnya dengan tetap menjalankan ibadah, menjaga makna dan tujuan dalam pekerjaan, serta mendapatkan dukungan dari lingkungan kerja. Menurut Celano et al. (2022), lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan spiritual dapat membantu mengurangi burnout pada perawat. Selain itu, pendidikan mengenai spiritualitas juga penting agar perawat dapat memahami dan menjaga kebutuhan spiritual dirinya.

    Dalam praktik profesi keperawatan, perawat dapat menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan spiritual dengan cara beristirahat dan mengatur waktu kerja. Untuk memenuhi kebutuhan spiritual, perawat tetap menjalankan ibadah serta melakukan zikir dan doa. Apabila perawat mulai mengalami kelelahan emosional dan kehilangan semangat spiritual, perawat dapat mencari bantuan atau dukungan dari senior, rekan kerja, maupun orang terdekat. Jika kondisi tersebut semakin berat atau berlangsung terus-menerus, perawat juga dapat mencari bantuan profesional. Selain menjaga kondisi dirinya, perawat dapat memperhatikan kebutuhan spiritual pasien dengan memberikan dukungan sesuai dengan keyakinan dan kebutuhan pasien, seperti memberikan kesempatan kepada pasien untuk berdoa sesuai agama atau keyakinannya masing-masing serta mendukung pasien dalam menjalankan kebutuhan spiritualnya.

    Penutup

    Kelelahan emosional dapat mempengaruhi kondisi mental dan spiritual tenaga kesehatan. Tekanan dan beban pekerjaan yang terus-menerus dapat menurunkan energi, motivasi, serta semangat dalam beraktivitas dan beribadah. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan futur, yaitu menurunnya keteguhan dan semangat spiritual seseorang. Futur tidak selalu berarti hilangnya keimanan, tetapi menunjukkan perlunya menjaga kembali hubungan dengan Allah. Tenaga kesehatan perlu menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kondisi mental, dan kebutuhan spiritual agar tetap mampu memberikan pelayanan yang baik, profesional, dan penuh kepedulian kepada pasien.

    Saran/Rekomendasi

    Tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih memperhatikan kondisi mental dan spiritual nya dalam menjalankan pekerjaannya dengan tidak memaksakan diri secara berlebihan, mengatur waktu istirahat, serta tetap menjaga ibadah, doa, dan zikir. Tenaga kesehatan juga diharapkan tidak ragu untuk mencari dukungan dari rekan kerja, senior, keluarga, atau tenaga profesional apabila mulai mengalami kelelahan emosional dan penurunan semangat spiritual. Bagi pihak rumah sakit atau instansi kesehatan, juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan mendukung kesejahteraan tenaga kesehatan, memberikan dukungan yang memadai, serta memperhatikan kebutuhan mental dan spiritual perawat agar dapat mencegah terjadinya kelelahan emosional dan futur yang berkepanjangan pada perawat.

    Daftar Pustaka

    Hall, L. H., Johnson, J., Watt, I., Tsipa, A., & O’Connor, D. B. (2016). Healthcare staff wellbeing, burnout, and patient safety: A systematic review. *PLOS ONE, 11*(7), e0159015. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159015

    Molina-Praena, J., Ramirez-Baena, L., Gómez-Urquiza, J. L., Cañadas, G. R., De la Fuente,

    E. I., & Cañadas-De la Fuente, G. A. (2018). Levels of burnout and risk factors in medical area nurses: A meta-analytic study. *International Journal of Environmental Research and Public Health, 15*(12), 2800. [https://doi.org/10.3390/ijerph15122800]

    Tang, R., Feng, O., Chong, J. J., & Wang, A. (2022). Evaluating the impact of coronavirus disease on burnout among healthcare workers using Maslach Burnout Inventory tool: A

    systematic review. *Proceedings of Singapore Healthcare, 31*, 1–13. [https://doi.org/10.1177/20101058221117390]

    Huang, Z.-P., Huang, F., Liang, Q., Liao, F.-Z., Tang, C.-Z., Luo, M.-L., Lu, S.-L., Lian, J.-J.,

    Li, S.-E., Wei, S.-Q., & Wu, B. (2023). Socioeconomic factors, perceived stress, and social support effect on neonatal nurse burnout in China: A cross-sectional study. *BMC Nursing, 22*, 218.

    [https://doi.org/10.1186/s12912-023-01380-z]

    Siddique, S., Gore, R., Zhang, Y., & Punnett, L. (2024). Emotional exhaustion in healthcare workers: Moving beyond coping skills to improve organizational conditions. *Journal of Occupational and Environmental Medicine, 66*(4), e125–e130. [https://doi.org/10.1097/JOM.0000000000003063]

    Li, L. Z., Yang, P., Singer, S. J., Pfeffer, J., Mathur, M. B., & Shanafelt, T. (2024). Nurse burnout and patient safety, satisfaction, and quality of care: A systematic review and meta-analysis. *JAMA Network Open, 7*(11), e2443059. [https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.43059]

    Zabidi, A. F. M., Jumat, N. H. B., & Majid, L. B. (2026). Al-Futūr al-Rūḥī in the Qurʾān: A semantic-field model of spiritual weakening. *Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis, 27*(1), 327–350.[https://doi.org/10.14421/qh.v27i1.6893]

    Harris, S., & Tao, H. (2022). The impact of US nurses’ personal religious and spiritual beliefs on their mental well-being and burnout: A path analysis. *Journal of Religion and Health, 61*(3), 1772–1791.[https://doi.org/10.1007/s10943-021-01203-y]

    Celano, T., Harris, S., Sawyer, A. T., & Hamilton, T. (2022). Promoting spiritual well-being among nurses. *Nurse Leader, 20*(2), 188–192. [https://doi.org/10.1016/j.mnl.2021.08.002]

    Kontributor: Annisa Nayla Ardhinny

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

    by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Semangat Iqra’ sebagai Fondasi Budaya Belajar...

    I. Pendahuluan Wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah shalat, puasa, atau ibadah ritual lainnya, mel...

    Dampak Jangka Panjang Korupsi Bagi Generasi Men...

    1. PENDAHULUAN Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita pikirkan: siapa sesungguhnya yang paling menderita akibat korupsi? Bukan hanya masyarakat ...

    09 Apr 2026

    AKHLAK, MORAL, DAN ETIKA

    Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang pesat, persoalan nilai dan peri...

    Mengemas Penyuluhan Anti Korupsi agar Tidak Men...

    1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi tantangan sistemik yang menghambat kemajuan berbagai sektor di Indonesia, mulai dari ekonomi hingga keadila...

    06 Apr 2026

    Ham dan Islam: Dua Jalan yang Sebenarnya Bertem...

    1. PENDAHULUAN Diskusi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) seringkali dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama, terutama agama Islam. Sebagia...

    back to top