Ninda Aprilya Rivanni • Oct 28 2026 • 18 Dilihat

Profesi gizi lahir dari kepercayaan besar yang diberikan kepada seseorang untuk turut menjaga kesehatan tubuh manusia lewat pengaturan pola makan. Tugas ini tidak cukup dijalani dengan bekal ilmu dan keterampilan teknis semata, sebab di baliknya terdapat tanggung jawab moral yang menyentuh keselamatan hidup orang lain. Bagi seorang muslim, tanggung jawab tersebut pada akhirnya bermuara pada satu kesadaran yang lebih dalam, yaitu bahwa segala pekerjaan yang dilakukan sesungguhnya sedang disaksikan oleh Allah SWT. Kesadaran inilah yang dalam ajaran Islam disebut akhlak kepada Allah, mencakup di antaranya tauhid, syukur, ikhlas, sabar, dan muraqabah, yang bersama-sama menuntun niat, sikap, dan perilaku seorang tenaga gizi agar pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada standar profesional, tetapi juga bernilai ibadah.
Di lapangan, tidak jarang tekanan pekerjaan, target capaian, dan rutinitas yang padat membuat aspek spiritual ini terlupakan, sehingga pelayanan kesehatan berjalan sebagai kegiatan teknis belaka tanpa ruh keikhlasan. Padahal nilai-nilai tersebut sejatinya berfungsi sebagai kontrol internal yang menjaga kejujuran dan mutu pelayanan, terutama dalam bidang gizi yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Bertolak dari persoalan tersebut, esai ini disusun untuk mengkaji bagaimana akhlak kepada Allah dapat berperan sebagai fondasi spiritual dalam pelayanan gizi, sekaligus menelusuri keterkaitannya dengan praktik profesional ahli gizi melalui rujukan Al-Qur’an, hadis, pandangan ulama, dan beberapa hasil kajian ilmiah terkait.
Secara sederhana, akhlak kepada Allah bisa dimaknai sebagai sikap batin sekaligus perilaku lahir seorang hamba yang tumbuh dari kesadaran tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang layak disembah, ditaati, dan dijadikan tujuan akhir dari setiap perbuatan. Azra (2025) memaparkan bahwa akhlak kepada Allah mencakup dimensi keimanan yang terpancar lewat ketaatan, kecintaan, rasa syukur, dan ketakwaan dalam keseharian seorang muslim. Menariknya, akhlak semacam ini tidak berhenti di ranah ibadah ritual saja, melainkan merambah ke seluruh sisi kehidupan, termasuk pekerjaan dan profesi, karena pada dasarnya setiap amal seorang hamba adalah bentuk pengabdian kepada Penciptanya.
Al-Qur’an sendiri memberi pijakan yang cukup jelas mengenai hal ini, salah satunya melalui firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]: 172 berikut:
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขู ููููุง ูููููุง ู ููู ุทููููุจูุงุชู ู ูุง ุฑูุฒูููููุงููู ู ููุงุดูููุฑููุง ููููููู ุฅููู ููููุชูู ู ุฅููููุงูู ุชูุนูุจูุฏูููู
Artinya: โWahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nyaโ (terj. Kementerian Agama RI, 2019). Ayat ini menyandingkan dua hal sekaligus, yaitu perintah mengonsumsi makanan yang baik atau thayyib dan sikap syukur kepada Allah. Kaitannya dengan profesi gizi cukup terang, sebab tugas utama seorang ahli gizi bukan hanya memastikan asupan makanan memenuhi standar ilmiah, tetapi juga memastikan makanan tersebut halal dan thayyib. Dengan kata lain, pelayanan gizi yang baik sekaligus menjadi jalan bagi seseorang untuk menjalankan perintah Allah dan mensyukuri rezeki yang telah diberikan-Nya.
Selain ayat di atas, terdapat pula hadis yang menjadi pijakan penting, yaitu sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA:
ุฅููููู ูุง ุงููุฃูุนูู ูุงูู ุจูุงูููููููุงุชูุ ููุฅููููู ูุง ููููููู ุงู ูุฑูุฆู ู ูุง ููููู
Artinya: โSesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannyaโ (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan hadis ini cukup dalam bila dikaitkan dengan pekerjaan sehari-hari seorang ahli gizi: nilai ibadah dari sebuah pelayanan tidak diukur dari seberapa besar atau kecil tindakan teknis yang dilakukan, melainkan dari niat yang melandasinya. Ketika pelayanan gizi diniatkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah, kualitas dan kejujuran kerja akan tetap terjaga meski tidak ada atasan yang mengawasi, karena kesadaran muraqabah menempatkan Allah sebagai pengawas yang tidak pernah lengah.
Namun, muraqabah tidak boleh berhenti sebagai konsep normatif yang hanya indah diucapkan. Pertanyaannya, bagaimana kesadaran ini bisa dilatih dan diukur secara konkret dalam praktik gizi sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan spiritual? Salah satu caranya adalah dengan membiasakan refleksi singkat sebelum dan sesudah memberikan pelayanan, misalnya menanyakan pada diri sendiri apakah rekomendasi yang diberikan kepada pasien benar-benar didasarkan pada kebutuhan klinis atau justru dipengaruhi kepentingan lain. Kebiasaan mencatat dan mengevaluasi keputusan-keputusan gizi yang diambil, disertai kejujuran mengakui kekeliruan, juga dapat menjadi bentuk latihan muraqabah yang terukur, karena kesadaran diawasi Allah pada akhirnya perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan kerja yang bisa dievaluasi, bukan sekadar niat yang tersimpan di hati.
Dari sisi pemikiran ulama klasik, Imam al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin mengaitkan akhlak mulia dengan proses penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs yang berpusat pada kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Baginya, kebaikan akhlak seorang hamba terhadap sesama manusia sesungguhnya adalah cerminan dari kualitas hubungannya dengan Allah, sehingga sulit membayangkan seseorang dapat benar-benar berakhlak mulia dalam pekerjaannya jika hatinya kosong dari kesadaran ketuhanan. Pandangan ini semakin menegaskan bahwa profesionalisme dalam pelayanan gizi tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kualitas keimanan dan kedekatan batin seorang tenaga gizi kepada Allah.
Sejumlah kajian ilmiah kontemporer turut memperkuat gambaran di atas, meski masing-masing menyoroti sisi yang sedikit berbeda. Ilham dan Latifah (2025), misalnya, menemukan bahwa etika profesi tenaga kesehatan dalam perspektif Islam dibangun di atas nilai amanah, ihsan, ta’awun atau tolong-menolong, dan keadilan, yang ternyata selaras dengan prinsip bioetika modern namun memberi tambahan dimensi spiritual dan tanggung jawab moral yang lebih luas. Nilai amanah tampak sangat relevan dengan pelayanan gizi, mengingat ahli gizi memegang kepercayaan besar dalam menentukan pola makan pasien yang berdampak langsung pada proses pemulihan dan kualitas hidupnya. Titik tekan Ilham dan Latifah lebih pada kerangka etika profesi secara umum, sementara persoalan yang lebih spesifik dan justru paling terasa dalam praktik gizi kontemporer adalah benturan antara nilai spiritual tersebut dengan tekanan komersialisasi pangan, sebagaimana diuraikan berikut.
Godaan untuk mempromosikan produk pangan yang sebenarnya kurang sehat demi kepentingan bisnis merupakan salah satu ujian akhlak yang paling nyata dan paling sering dihadapi ahli gizi masa kini. Tekanan ini bisa datang dalam berbagai bentuk, misalnya tawaran endorsement dari perusahaan suplemen atau susu formula yang mengharapkan ahli gizi merekomendasikan produk tertentu kepada pasien tanpa mempertimbangkan kebutuhan klinis yang sebenarnya, godaan bekerja sama dengan industri makanan olahan tinggi gula dan lemak dengan imbalan finansial, atau tuntutan tempat kerja yang mengukur keberhasilan semata dari sisi penjualan produk kesehatan. Hidayati dkk. (2025) menjelaskan bahwa penguatan nilai takwa, ikhlas, syukur, dan muraqabah membantu manusia menghadapi tantangan komersialisasi dan sekularisasi ilmu di era digital dengan cara yang lebih etis dan bertanggung jawab. Sejalan dengan itu, Maulana dkk. (2025) dalam kajian tentang etika bisnis Islam pada praktik pemasaran menegaskan bahwa promosi yang etis harus dilandasi kejujuran dan perlindungan hak konsumen, bukan sekadar dorongan mengejar keuntungan sebesar-besarnya, sebuah prinsip yang seharusnya berlaku pula ketika produk yang dipromosikan menyangkut pangan dan kesehatan tubuh manusia. Dalam konteks inilah akhlak kepada Allah menemukan ujian nyatanya: seorang ahli gizi yang berpegang pada tauhid akan menempatkan kebenaran ilmiah dan kemaslahatan pasien di atas keuntungan pribadi, sebab ia menyadari bahwa rezeki yang halal tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan amanah dan kejujuran profesinya. Sebaliknya, ahli gizi yang lemah kesadaran spiritualnya lebih rentan tunduk pada tekanan komersial tersebut, karena tidak ada lagi rasa diawasi yang menahan diri ketika pengawasan manusia tidak hadir. Ketegangan antara idealisme spiritual dan realitas tekanan profesional inilah yang menjadikan akhlak kepada Allah bukan sekadar nilai normatif, melainkan pedoman yang benar-benar diuji dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Sementara itu, Suryani dan Sakban (2022) menjelaskan bahwa akhlak manusia terhadap Allah dapat dilihat dari tiga bentuk utama, yakni ibadah, doa, dan tawakal. Ketiganya bisa diterjemahkan ke dalam praktik pelayanan gizi sehari-hari, misalnya lewat kebiasaan berdoa sebelum memulai tugas, bekerja sungguh-sungguh sebagai wujud ibadah, dan bertawakal kepada Allah atas hasil akhir dari usaha yang sudah dilakukan, mengingat kesembuhan dan perbaikan status gizi pasien pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Kerangka ini melengkapi pembahasan sebelumnya: jika muraqabah berfungsi sebagai kontrol saat menghadapi godaan komersial, maka ibadah, doa, dan tawakal menjadi sumber ketenangan batin yang membuat ahli gizi tidak mudah goyah ketika idealismenya diuji oleh kepentingan bisnis maupun target kerja.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak kepada Allah merupakan fondasi spiritual yang tidak bisa diabaikan dalam pelayanan gizi sebagai salah satu profesi kesehatan. Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa niat yang lurus serta kesadaran akan pengawasan Allah menjadi penentu kualitas dan keikhlasan pelayanan yang diberikan seorang ahli gizi, sementara kajian ilmiah memperlihatkan bahwa nilai-nilai spiritual tersebut sejalan dengan prinsip etika profesi kesehatan modern, bahkan memberi dimensi moral yang lebih dalam, khususnya ketika ahli gizi dihadapkan pada godaan komersialisasi pangan yang menuntut keteguhan sikap. Bertolak dari simpulan tersebut, penguatan pendidikan akhlak perlu terus diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan gizi, dan dibiasakan lewat refleksi spiritual yang konkret dan terukur dalam praktik sehari-hari, agar pelayanan gizi yang dijalankan tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.
Al-Ghazali, A. H. (t.t.). Ihya’ Ulumuddin (terj.).
Azra, S. (2025). Pemahaman akhlak Islam terhadap Allah, Rasul, orang tua, dan diri sendiri sebagai fondasi karakter unggul. An-Najah: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan, 4(4), 205โ209. https://journal.nabest.id/index.php/annajah/article/view/569
Hidayati, E., Hidayat, N., & Purnawati, R. T. (2025). Implikasi akhlak kepada Allah SWT di era digital: Solusi krisis moral dan sekularisasi ilmu. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 14(2). https://jurnal.iaibafa.ac.id/index.php/tafaqquh/article/view/tafaqquh_des25_5
Ilham, & Latifah. (2025). Etika profesi tenaga kesehatan dalam perspektif Islam. JIKES: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), 72โ80. https://doi.org/10.71456/jik.v4i1.1508
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Kementerian Agama RI.
Maulana, N. I., Supriatal, Kumala, D., & Fahruqi, M. N. (2025). Etika bisnis Islam dalam pemasaran: Konsep dan implikasi dalam praktik pemasaran. Jurnal Manajemen Bisnis dan Keuangan, 6(1), 9โ27. https://doi.org/10.51805/jmbk.v6i1.291
Suryani, I., & Sakban, W. (2022). Aplikasi akhlak manusia terhadap dirinya, Allah SWT., dan Rasulullah SAW. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6(1), 97โ104. https://doi.org/10.31004/jptam.v6i1.2832
Kontributor: Ninda Aprilya Rivanni
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN Selama bertahun-tahun, korupsi telah menjadi hambatan utama bagi pembangunan nasional Indonesia. (Suyatmiko, 2021) menyatakan bah...

Pendahuluan Pelayanan kebidanan merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan perempuan, ibu, dan bayi sejak masa prakonsepsi, kehamila...

I. Pendahuluan Agama Islam tidak hanya mengatur tata cara hubungan vertikal yang bersifat ritual antara manusia dengan Sang Pencipta (habluminal...

I. Pendahuluan Al-Qurโan merupakan kitab umat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. secara mutawatir. Umat Islam ...

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Korupsi di Indonesia telah berkembang melampaui sekadar kejahatan keuangan; ia telah menjadi fenomena “...

No comments yet.