Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Prestasi Akademik sebagai Ibadah : Merajut Keseimbangan Capaian dan Pengabdian Sosial

    • Oct 30 2026 • 14 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Dalam pandangan islam, prestasi akademik tidak sesederhana nilai bagus, IP tinggi atau mendapat penghargaan dari kampus. Prestasi juga bisa menjadi bagian dari ibadah ketika dijalani dengan niat yang lurus, usaha yang sungguh-sungguh,dan tujuan yang bermanfaat. Jadi, belajar bukan hanya kewajiban sebagai mahasiswa, tetapi juga bentuk tanggung jawab sebagai seorang Muslim untuk terus memperbaiki diri dan memberi manfaat kepada orang lain.

    Hal ini sejalan dengan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ayat ini memberi pesan bahwa ilmu memang punya kedudukan yang tinggi. Artinya, orang yang belajar dengan sungguh-sungguh bukan hanya sedang mengejar dunia, tetapi juga sedang menempuh jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dari sini, prestasi akademik seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

    II. Pembahasan

    Al-Qur’an memberikan penegasan yang cukup jelas soal kedudukan ilmu. Dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT berfirman:

    ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูู†ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฃููˆุชููˆุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุงุชู

    “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadalah/58:11)

    Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu punya nilai yang jauh melampaui sekadar bekal kerja. Ia adalah jalan yang meninggikan derajat seseorang, baik di sisi Allah maupun di tengah masyarakat. Menariknya, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW pun berisi perintah untuk membaca dan belajar, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1-5:

    ุงู‚ู’ุฑูŽุฃู’ ุจูุงุณู’ู…ู ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,โ€ (Q.S. Al-‘Alaq/96:1)

    Fakta bahwa Islam memulai risalahnya dengan perintah belajar, bukan perintah ibadah ritual lain, cukup menggambarkan betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam ajaran ini. Hadis Nabi SAW pun menegaskan hal serupa, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (H.R. Ibnu Majah). Namun kewajiban ini tidak berhenti pada penguasaan ilmu semata. Dalam hadis lain yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Kalau dua hadis ini dibaca berdampingan, terlihat jelas alurnya: belajar itu wajib, tapi ujungnya harus bermuara pada kemanfaatan untuk orang lain, bukan berhenti sebagai kebanggaan pribadi.

    Ada satu hal lagi yang menentukan apakah proses belajar bernilai ibadah atau tidak, yaitu niat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” (H.R. Bukhari-Muslim). Prinsip ini sebenarnya sederhana tapi berdampak besar. Aktivitas yang tampak sama, misalnya begadang menyusun laporan asuhan kebidanan atau berlatih keterampilan menolong persalinan, bisa bernilai ibadah kalau diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempersiapkan diri menolong sesama. Niat inilah yang membedakan mahasiswa yang belajar demi validasi dan gengsi, dengan mahasiswa yang belajar karena merasa punya tanggung jawab untuk kelak bermanfaat.

    Gagasan bahwa spiritualitas menopang prestasi akademik ternyata bukan sekadar keyakinan normatif, melainkan juga didukung sejumlah temuan ilmiah. Hasanah (2020) misalnya menemukan bahwa spiritual coping, yang di dalamnya termasuk praktik ibadah seperti salat dan doa, terbukti membantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik dengan lebih tenang, karena mereka mampu memaknai ulang kesulitan yang dialami. Temuan ini sejalan dengan hasil Fasikhah dan Fatimah (2013) yang menunjukkan bahwa kemampuan mengatur diri dalam belajar atau self-regulated learning berkontribusi nyata terhadap prestasi akademik mahasiswa. Kedisiplinan mengatur diri semacam ini sebenarnya juga tercermin dalam praktik ibadah, misalnya konsistensi menjaga waktu salat lima kali sehari yang secara tidak langsung melatih kedisiplinan terhadap waktu belajar. Basuki (2015) turut melaporkan adanya pengaruh kecerdasan spiritual terhadap prestasi belajar, dan Handayani (2019) memperkuat hal itu lewat penelitiannya terhadap siswa SMA. Sementara itu, Al Waro’, Pratama, dan Yoenanto (2023) mencatat bahwa religiusitas berkontribusi terhadap prestasi akademik mahasiswa yang tinggal di lingkungan pesantren, meski besarnya pengaruh itu bervariasi tergantung faktor psikologis lain yang menyertainya. Dari beberapa temuan ini, ada benang merah yang cukup konsisten: kekuatan spiritual bukan penghambat produktivitas, justru sumber daya batin yang membuat mahasiswa lebih tahan menghadapi proses belajar yang panjang dan melelahkan.

    Persoalannya, budaya akademik hari ini kadang terlalu menekankan kompetisi individual sampai-sampai melupakan sisi pengabdian. Ilmu dikejar demi kepentingan diri sendiri, sementara kepekaan terhadap kesulitan orang lain lama-lama menipis. Padahal Al-Qur’an mengingatkan tujuan penciptaan manusia dalam Surah Az-Zariyat ayat 56:

    ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู’ุฌูู†ูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู†ุณูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat/51:56)

    Ibadah dalam ayat ini tidak terbatas pada ritual vertikal, melainkan mencakup segala perbuatan baik yang membawa manfaat bagi sesama. Al-Qur’an bahkan mengajak umatnya untuk berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba mengalahkan orang lain demi kepentingan pribadi:

    ููŽุงุณู’ุชูŽุจูู‚ููˆุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู

    “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. Al-Baqarah/2:148)

    Ayat ini menggeser makna “persaingan” itu sendiri. Kalau selama ini persaingan akademik dipahami sebagai siapa yang paling unggul secara pribadi, Al-Qur’an justru mengarahkan persaingan pada siapa yang paling banyak memberi kebaikan untuk orang lain.

    Nah, di titik inilah relevansi topik ini dengan pelayanan kebidanan menjadi sangat terasa. Profesi bidan berhadapan langsung dengan keselamatan ibu dan bayi, sebuah tanggung jawab yang menuntut penguasaan ilmu sekaligus ketulusan hati. Prestasi akademik seorang mahasiswa kebidanan, seperti penguasaan asuhan kehamilan berbasis bukti, keterampilan pertolongan persalinan yang aman, atau kepekaan mendeteksi tanda bahaya kehamilan sejak dini, sebenarnya belum selesai maknanya kalau hanya berhenti sebagai nilai bagus di atas kertas. Ilmu itu baru menemukan makna sesungguhnya ketika dipakai untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, memberi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja dan calon pengantin, mendampingi ibu menyusui di daerah dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas, atau turun langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah terpencil. Kalau dilihat dari sudut pandang ini, setiap jam belajar, setiap praktik klinik, dan setiap ujian kompetensi yang dilalui mahasiswa kebidanan sesungguhnya bisa bernilai ibadah, sebab pada akhirnya kompetensi itu dipakai untuk menyelamatkan nyawa dan menenangkan hati perempuan yang sedang berjuang melahirkan kehidupan baru. Semangat semacam ini idealnya menjiwai setiap institusi pendidikan kebidanan, agar tidak sekadar mencetak lulusan dengan IPK tinggi, tapi juga menumbuhkan bidan yang empatik, amanah, dan benar-benar berorientasi melayani.

    III.  Penutup

    Prestasi akademik dan pengabdian sosial sebenarnya bukan dua hal yang saling berlawanan. Keduanya bisa saling menguatkan, asal dijalani dengan niat yang lurus. Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW sudah menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban sekaligus ibadah yang mengangkat derajat manusia, dan ilmu itu baru sempurna maknanya ketika dipersembahkan untuk kemaslahatan orang banyak. Kajian-kajian ilmiah pun memperkuat bahwa kekuatan spiritual, mulai dari praktik ibadah sampai kecerdasan spiritual, memberi sumbangan nyata terhadap ketekunan dan capaian belajar mahasiswa. Bagi calon tenaga kesehatan, khususnya mahasiswa kebidanan, kesadaran ini penting untuk terus dijaga, supaya setiap gelar dan kompetensi yang diraih tidak berhenti jadi kebanggaan pribadi, melainkan tumbuh menjadi jalan pengabdian yang menyelamatkan dan menenteramkan sesama. Dengan merajut keseimbangan antara capaian akademik dan pengabdian sosial, pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas, tapi juga pribadi yang benar-benar bermakna bagi kehidupan orang banyak.

    IV. Daftar Pustaka

    Al Waro’, M. A., Pratama, M. F., & Yoenanto, N. H. (2023). Pengaruh religiusitas dan efikasi diri terhadap prestasi akademik mahasiswa yang tinggal di pondok pesantren. Jurnal Risalah, 9(2).

    Basuki, K. H. (2015). Pengaruh kecerdasan spiritual dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar matematika. Jurnal Formatif, 5(2), 120โ€“133.

    Fasikhah, S. S., & Fatimah, S. (2013). Self-regulated learning (SRL) dalam meningkatkan prestasi akademik pada mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(1), 145โ€“155.

    Handayani, S. (2019). Kecerdasan spiritual dan prestasi hasil belajar siswa SMA Negeri 1 Godean. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 3(2), 292โ€“306.

    Hasanah, U. (2020). Spiritual coping sebagai strategi menghadapi stres akademik mahasiswa. Jurnal Konseling Religi, 11(2), 102โ€“113.

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Kontributor:ย Fayza Kulla Azmina

    Editor:ย Ahmad Ali, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Fiqh al-Muwฤzanฤt sebagai Timbangan Manfaat d...

    I. Pendahuluan Perkembangan teknologi kesehatan dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar terhadap pelayanan kesehatan. Berbag...

    09 Sep 2026

    Meneguhkan Pancasila Melalui Perspektif Keagama...

    1. PENDAHULUAN Agama adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. Terkadang ada cerita yang secara keliru menggabungk...

    Antara Amanah Ilmu dan Kemudahan AI

    Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam beberapa tahun...

    09 Jun 2026

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam Pelayan...

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan ke...

    15 Sep 2026

    Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Sumber Utama...

    Pendahuluan Gizi merupakan salah satu determinan utama derajat kesehatan individu maupun masyarakat, sehingga profesi ahli gizi menempati posisi...

    28 Oct 2026
    back to top