Audrey Theresia Hutauruk • Oct 30 2026 • 7 Dilihat

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki berbagai dimensi yang saling berkaitan, yaitu jasmani, rohani, emosional, dan sosial. Dalam pelayanan kesehatan, khususnya keperawatan, dimensi jasmani menjadi bagian penting karena kondisi tubuh dapat diamati melalui pengkajian fisik dan menjadi dasar dalam menentukan tindakan keperawatan. Namun, pasien tidak dapat dipahami hanya berdasarkan kondisi fisiknya. Rasa sakit, kelemahan, perubahan fungsi tubuh, atau penyakit kronis dapat memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, dan kehidupan spiritual seseorang. Oleh karena itu, perawatan terhadap tubuh perlu dilakukan secara holistik dengan tetap menggunakan ilmu keperawatan yang berbasis bukti.
Dalam perspektif Kristen, tubuh manusia memiliki nilai yang sangat penting karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei). Tubuh juga dipandang sebagai bait Roh Kudus sehingga manusia memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan memeliharanya. Pandangan tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan profesi keperawatan. Merawat tubuh pasien bukan hanya melakukan tindakan teknis, tetapi juga menghormati martabat manusia yang sedang berada dalam kondisi rentan. Shelly, Miller, dan Fenstermacher (2021) memandang keperawatan sebagai panggilan untuk memberikan pelayanan yang penuh kasih kepada manusia secara utuh. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa iman Kristen dapat memberikan dasar nilai dalam menjalankan profesi keperawatan, sedangkan ilmu keperawatan memberikan dasar ilmiah agar tindakan dilakukan secara tepat dan aman.
Topik ini semakin penting karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan membuat tuntutan terhadap perawat semakin tinggi. Perawat tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinis, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang manusiawi. Dalam praktiknya, perawat dapat berhadapan dengan pasien yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda. Karena itu, nilai Kristen dalam diri perawat perlu diwujudkan melalui kasih, empati, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap pasien tanpa memaksakan keyakinan pribadi.
Esai ini bertujuan untuk menganalisis dimensi jasmani manusia berdasarkan perspektif Kristen dan ilmu keperawatan modern. Selain itu, esai ini membahas hubungan antara pemahaman teologis tentang tubuh dengan konsep keperawatan holistik serta menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam praktik profesi keperawatan.
Dimensi jasmani merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia. Dalam perspektif Kristen, manusia dipahami sebagai ciptaan Allah yang memiliki martabat. Konsep imago Dei menunjukkan bahwa manusia memiliki nilai karena diciptakan menurut gambar Allah. Oleh sebab itu, tubuh manusia tidak seharusnya dipandang hanya sebagai objek biologis. Tubuh merupakan bagian dari manusia secara utuh yang memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan kerentanan. Ketika seseorang mengalami sakit, kondisi tersebut bukan hanya memengaruhi organ atau fungsi tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi perasaan, aktivitas, hubungan dengan orang lain, dan kehidupan spiritualnya.
Pemahaman tersebut dapat dilihat dalam 1 Korintus 6:19–20: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Ayat ini menegaskan bahwa tubuh memiliki nilai dan harus diperlakukan dengan hormat. Dalam konteks keperawatan, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui tindakan yang menjaga privasi, kenyamanan, keselamatan, dan martabat pasien. Ketika perawat melakukan pemeriksaan fisik atau tindakan yang menyentuh tubuh pasien, perawat perlu menjelaskan tindakan, meminta persetujuan, menjaga bagian tubuh yang tidak sedang diperiksa, dan melakukan prosedur sesuai standar. Dengan demikian, penghormatan terhadap tubuh tidak berhenti pada pemahaman iman, tetapi terlihat dalam perilaku profesional.
Siswanto (2024) menjelaskan bahwa tubuh merupakan bagian integral dari keberadaan manusia dan tidak dapat dipisahkan secara kaku dari keseluruhan diri manusia. Pemahaman ini penting bagi perawat karena pasien yang mengalami gangguan fisik tetap harus dipandang sebagai pribadi yang utuh. Pasien dengan keterbatasan gerak, misalnya, bukan hanya membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga dapat membutuhkan dukungan emosional karena perubahan kemampuan tubuh dapat membuatnya merasa tidak berdaya. Di sinilah kemampuan perawat dalam memberikan komunikasi terapeutik dan menunjukkan empati menjadi penting.
Dalam ilmu keperawatan modern, dimensi jasmani mencakup berbagai kebutuhan dan fungsi fisik seperti nutrisi, pernapasan, aktivitas, istirahat, tidur, kebersihan, berat badan, fungsi organ, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan (Potter & Perry, 2023). Pengkajian fisik membantu perawat mengenali masalah pasien, menentukan intervensi, memantau perubahan kondisi, dan mengevaluasi hasil asuhan. Akan tetapi, pengkajian fisik tidak seharusnya berdiri sendiri. Kondisi fisik selalu berhubungan dengan aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Karena itu, pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual menjadi penting agar perawat tidak hanya melihat penyakit, tetapi juga memahami pengalaman pasien dalam menghadapi penyakit tersebut.
O’Brien (2021) menjelaskan pentingnya spiritualitas dalam keperawatan karena pasien dapat memiliki kebutuhan untuk menemukan makna, harapan, dan kekuatan ketika menghadapi sakit. Spiritual care bukan berarti perawat harus memaksakan agama tertentu kepada pasien. Sebaliknya, perawat perlu mengenali kebutuhan spiritual pasien, mendengarkan hal yang penting bagi pasien, dan memberikan dukungan sesuai keyakinan serta keinginannya. Bagi perawat Kristen, keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah dapat menjadi dasar untuk memperlakukan setiap pasien dengan hormat, termasuk pasien yang memiliki agama atau keyakinan berbeda.
Dalam praktik keperawatan, pemahaman terhadap pasien juga tidak dapat dilepaskan dari latar belakang budaya dan keyakinannya. Setiap pasien dapat memiliki kebiasaan, cara berpikir, nilai, serta kebutuhan yang berbeda dalam menerima pelayanan kesehatan. Br.R., A. H. V., Manalu, E. R., Panjaitan, K. B., Gultom, E. C. V., & Octaria, M. (2024) meneliti 204 mahasiswa keperawatan dan 109 perawat. Hasil penelitian menunjukkan kompetensi budaya berada pada kategori rendah pada 55,9% mahasiswa dan 53,2% perawat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kompetensi budaya dalam keperawatan masih perlu diperkuat melalui pendidikan dan pelatihan. Temuan ini relevan dengan praktik perawat Kristen karena menghargai manusia sebagai ciptaan Allah juga berarti menghormati latar belakang budaya dan keyakinan pasien.
Menurut penulis, hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai iman tidak dapat diterapkan dengan cara memaksakan keyakinan perawat kepada pasien. Justru, nilai kasih dan penghormatan terhadap sesama perlu diwujudkan melalui kemampuan memahami pasien sebagai pribadi yang berbeda. Perawat Kristen dapat tetap memegang keyakinannya sambil memberikan pelayanan yang adil dan menghormati pilihan pasien. Dengan demikian, kompetensi budaya menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan yang manusiawi dan profesional.
Shelly, Miller, dan Fenstermacher (2021) memandang keperawatan sebagai panggilan untuk merawat manusia secara utuh. Dalam perspektif tersebut, pelayanan keperawatan bukan hanya pekerjaan yang berhubungan dengan keterampilan teknis, tetapi juga bentuk pelayanan kepada sesama. Pemikiran ini memberikan makna yang lebih dalam terhadap tindakan keperawatan sehari-hari. Ketika perawat membantu pasien mandi, mengganti posisi tubuh, memberikan obat, merawat luka, atau mendampingi pasien yang sedang mengalami penderitaan, tindakan tersebut dapat dilakukan dengan sikap kasih dan tanggung jawab. Namun, nilai spiritual tersebut harus berjalan bersama kompetensi profesional. Seorang perawat Kristen tidak cukup hanya memiliki niat baik, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang benar agar pelayanan yang diberikan aman dan efektif.
Menurut analisis penulis, titik temu antara perspektif Kristen dan ilmu keperawatan modern terletak pada cara keduanya memandang manusia sebagai pribadi yang perlu dihargai dan dirawat. Ilmu keperawatan memberikan dasar ilmiah mengenai bagaimana tubuh dikaji dan dirawat, sedangkan perspektif Kristen memberikan dasar nilai mengenai mengapa manusia perlu diperlakukan dengan kasih dan martabat. Dengan demikian, iman dan ilmu tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama selama tindakan keperawatan tetap berdasarkan evidence-based practice, etika profesi, keselamatan pasien, dan kebutuhan pasien.
Integrasi tersebut dapat diterapkan dalam berbagai tindakan keperawatan. Pertama, perawat perlu melihat setiap tindakan fisik sebagai kesempatan untuk menunjukkan penghormatan terhadap martabat pasien. Menjaga privasi saat memandikan pasien, melakukan pemeriksaan, atau merawat luka merupakan contoh sederhana yang menunjukkan penghargaan terhadap tubuh. Kedua, perawat dapat memberikan komunikasi terapeutik dengan mendengarkan keluhan pasien, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyampaikan kekhawatirannya. Ketiga, perawat dapat memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat, nutrisi, aktivitas fisik, istirahat, kebersihan diri, kepatuhan terhadap pengobatan, dan pencegahan perilaku yang dapat merusak kesehatan. Bagi pasien Kristen, pemahaman bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus dapat menjadi salah satu dasar motivasi untuk menjaga kesehatan.
Dukungan spiritual juga dapat diterapkan dalam praktik klinis dengan tetap memperhatikan persetujuan pasien. Jika pasien Kristen menginginkan doa atau dukungan rohani, perawat dapat memfasilitasi kebutuhan tersebut sesuai kebijakan fasilitas pelayanan kesehatan. Sebaliknya, jika pasien memiliki keyakinan berbeda atau tidak menginginkan dukungan keagamaan, keputusan tersebut harus dihormati. Prinsip ini penting karena menjadi perawat Kristen bukan berarti memaksakan keyakinan kepada pasien. Justru, kasih Kristen dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap kebebasan, martabat, dan kebutuhan pasien.
Integrasi ini juga relevan dalam perawatan paliatif. Pasien yang berada pada kondisi terminal tidak selalu membutuhkan tindakan yang berorientasi pada penyembuhan. Mereka juga membutuhkan kenyamanan, pendampingan, komunikasi, dan dukungan dalam menghadapi penderitaan serta kematian. Dalam kondisi tersebut, perawat Kristen dapat menunjukkan kasih melalui kehadiran, mendengarkan cerita pasien, memberikan dukungan sesuai kebutuhan, dan memfasilitasi pelayanan rohani apabila pasien menghendakinya. Dengan demikian, pelayanan keperawatan tetap berfokus pada pasien dan tidak hanya pada penyakit.
Pada akhirnya, integrasi perspektif Kristen dengan ilmu keperawatan modern bukan berarti menggantikan ilmu medis dengan pendekatan keagamaan. Integrasi yang tepat justru menjadikan ilmu dan iman saling melengkapi. Ilmu memberikan dasar untuk melakukan tindakan secara benar, sedangkan iman memberikan nilai dan motivasi untuk melakukan tindakan tersebut dengan kasih, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap manusia. Hal ini menjadi salah satu kekuatan yang dapat dimiliki perawat Kristen dalam menjalankan profesinya.
Dimensi jasmani merupakan bagian penting dari keberadaan manusia yang harus dipahami secara utuh. Dalam perspektif Kristen, tubuh merupakan ciptaan Allah yang berharga dan dipandang sebagai bait Roh Kudus. Sementara itu, ilmu keperawatan modern memandang kondisi fisik sebagai bagian dari pelayanan yang harus dikaji dan ditangani secara ilmiah serta dihubungkan dengan aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Kedua perspektif tersebut memiliki titik temu dalam penghargaan terhadap manusia sebagai pribadi yang memiliki martabat.
Integrasi perspektif Kristen dan ilmu keperawatan dapat diterapkan melalui pelayanan yang aman, kompeten, penuh kasih, menjaga privasi, menggunakan komunikasi terapeutik, memberikan edukasi kesehatan, serta memenuhi kebutuhan spiritual pasien sesuai persetujuan dan keyakinannya. Oleh karena itu, perawat Kristen perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klinis sekaligus membangun karakter yang mencerminkan kasih dan kepedulian. Pendidikan keperawatan juga perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami spiritual care, kompetensi budaya, dan etika pelayanan. Dengan demikian, iman Kristen tidak hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi dapat diwujudkan melalui pelayanan keperawatan yang profesional, manusiawi, dan bertanggung jawab.
Br.R., A. H. V., Manalu, E. R., Panjaitan, K. B., Gultom, E. C. V., & Octaria, M. (2024). Gambaran kompetensi budaya pada mahasiswa keperawatan dan perawat. NERS: Jurnal Keperawatan, 20(2), 144–153.
O’Brien, M. E. (2021). Spirituality in nursing: Standing on holy ground (7th ed.). Jones & Bartlett Learning.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2023). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier.
Shelly, J. A., Miller, A. B., & Fenstermacher, K. H. (2021). Called to care: A Christian vision for nursing (3rd ed.). InterVarsity Press.
Siswanto, K. (2024). Peningkatan kualitas hidup manusia dalam perspektif teologi dan pendidikan Kristen. Proceeding National Conference of Christian Education and Theology, 2(2), 1–27.
Kontributor:Â Audrey Theresia Hutauruk
Editor:Â Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Berbagai in...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan struktural yang paling merusak tatanan pemerintahan dan pelayanan publik di Indonesia (...

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah sistemik yang menggerogoti fondasi ekonomi, hukum, dan sosial bangsa. M...

1. PENDAHULUAN Ketika seseorang mendengar kata “korupsi”, gambaran yang paling sering muncul adalah politisi yang ditangkap KPK atau pejabat...

1. PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah berevolusi menjadi tantangan sistemik yang tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga mendisto...

No comments yet.