Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Keseimbangan Orientasi Dunia dan Akhirat dalam Perawatan Diri Tenaga Kesehatan Berdasarkan Surah Al-Qasas Ayat 76–77

    • Oct 30 2026 • 16 Dilihat

    Pendahuluan

      Islam mengajarkan bahwa hidup manusia harus dijalani dengan seimbang, yakni tidak hanya mengejar kepentingan dunia, tetapi juga mempersiapkan akhirat. Keseimbangan ini sangat penting bagi tenaga kesehatan yang setiap hari berhadapan dengan tuntutan pelayanan, beban emosional, risiko kelelahan, dan tanggung jawab moral yang besar. Dalam profesi keperawatan, perawat tidak hanya dituntut untuk terampil secara teknis, tetapi juga kuat secara fisik, stabil secara mental, dan matang secara spiritual. Karena itu, perawatan diri bukanlah tindakan yang bertentangan dengan pengabdian, melainkan bagian dari menjaga amanah profesi agar pelayanan tetap bermutu.

      Surah Al-Qasas ayat 76–77 memberikan dasar yang sangat kuat untuk memahami prinsip tersebut. Ayat ini menampilkan kisah Qarun sebagai gambaran seseorang yang sombong karena hartanya, lalu Allah menegaskan bahwa manusia harus menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk meraih kebahagiaan akhirat, tanpa melupakan bagian dunia. Pesan ini relevan bagi tenaga kesehatan yang mudah terjebak dalam kelelahan kerja, ambisi berlebihan, atau pengabaian terhadap kebutuhan diri sendiri. Dengan memahami ayat ini secara benar, tenaga kesehatan dapat memandang profesinya sebagai ibadah yang harus dijalankan dengan seimbang, sehat, dan penuh tanggung jawab.

      Pembahasan

        Surah Al-Qasas ayat 76 menggambarkan Qarun sebagai seseorang yang memperoleh kekayaan yang sangat besar. Namun, kekayaan tersebut membuatnya bersikap melampaui batas. Allah Swt berfirman:

        QS. Al-Qasas ayat 76 yang berbunyi:

        ‎‎اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْۖ وَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤءُ بِالْعُصْبَةِ اُولِي الْقُوَّةِ ۖ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

        Artinya: “Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.’”

        QS. Al-Qasas ayat 77 yang berbunyi:

        ‎‎وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ.  

        Secara makna, ayat ini memerintahkan manusia untuk menjadikan nikmat Allah sebagai sarana menuju akhirat, tetap mengambil bagian yang baik dari dunia, berbuat baik kepada sesama, dan menjauhi kerusakan di bumi. Ayat ini tidak mengajarkan sikap materialistis, tetapi juga tidak mengajarkan sikap asketis yang menolak kebutuhan hidup. Justru, yang diajarkan adalah cara hidup yang proporsional: dunia dikelola sebagai jalan menuju ridha Allah.

        Dalam konteks tenaga kesehatan, makna ayat ini sangat relevan. Perawat dan tenaga kesehatan bekerja dalam kondisi yang sering kali menuntut mereka untuk mengutamakan orang lain di atas dirinya sendiri. Mereka harus siap menghadapi pasien kritis, keluarga pasien yang cemas, tugas administrasi yang menumpuk, dan jadwal kerja yang tidak selalu ideal. Dalam situasi seperti itu, banyak tenaga kesehatan mengalami kelelahan fisik, stres emosional, gangguan tidur, dan penurunan semangat kerja. Literatur tentang self-care menunjukkan bahwa kesehatan perawat berpengaruh langsung terhadap kemampuan mereka dalam memberikan pelayanan yang aman dan bermutu. Karena itu, menjaga kesehatan diri adalah bagian dari profesionalisme, bukan bentuk kelalaian.

        Pesan kedua dari ayat ini adalah larangan melupakan bagian dunia. Bagian dunia yang dimaksud bukan berarti mengejar kemewahan, tetapi memenuhi kebutuhan dasar manusia secara wajar, seperti tidur yang cukup, makan dengan baik, menjaga kebersihan tubuh, mengatur waktu istirahat, dan memelihara kesehatan mental. Dalam keperawatan, perawat yang terus-menerus mengabaikan kebutuhan dirinya akan mudah mengalami burnout. Burnout bukan sekadar rasa lelah, tetapi kondisi kelelahan emosional dan mental yang dapat menurunkan empati, ketelitian, dan kualitas interaksi dengan pasien. Karena itu, self-care perlu dipahami sebagai usaha menjaga keseimbangan agar tenaga kesehatan tetap mampu bekerja secara optimal.

        Prinsip ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad tentang hak tubuh.

         Rasulullah bersabda:

         إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا.  

        Hadis ini menegaskan bahwa tubuh manusia memiliki hak yang harus dipenuhi, termasuk hak untuk beristirahat, memperoleh makanan yang cukup, dan tidak dipaksa melampaui batas. Dalam konteks tenaga kesehatan, hadis ini memberi pesan penting bahwa ibadah dan pelayanan tidak boleh dijalankan dengan cara yang merusak kesehatan. Menolong pasien adalah amal besar, tetapi tubuh yang dipaksa terus-menerus tanpa pemulihan akan kehilangan daya tahan. Oleh karena itu, istirahat dan perawatan diri justru menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

        Selain menjaga tubuh, tenaga kesehatan juga perlu menjaga hati dan pikiran. Ayat Al-Qasas 77 memerintahkan manusia untuk berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Dalam dunia keperawatan, perintah ini dapat diterjemahkan sebagai sikap empatik, sabar, santun, dan penuh perhatian kepada pasien. Namun, seseorang sulit memberi kebaikan kepada orang lain jika dirinya sendiri sedang kacau, lelah, atau tertekan. Karena itu, self-care memiliki hubungan langsung dengan kualitas caring. Penelitian tentang self-compassion, mindfulness, dan self-care pada tenaga kesehatan menunjukkan bahwa perawatan diri dapat menurunkan stres, meningkatkan kesejahteraan, dan membantu mencegah burnout.

        Implementasi nilai-nilai tersebut dalam pelayanan keperawatan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana tetapi konsisten. Tenaga kesehatan dapat mengatur waktu tidur agar tubuh memperoleh pemulihan yang cukup. Mereka juga perlu menjaga pola makan dan hidrasi, tidak menunda makan terlalu lama, serta tetap memberi ruang untuk ibadah di tengah kesibukan kerja. Selain itu, tenaga kesehatan sebaiknya membangun hubungan kerja yang sehat, saling mendukung, dan tidak membiarkan konflik kecil menguras energi psikologis. Perawatan diri dalam perspektif Islam bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Dengan demikian, self-care menjadi bagian dari pengelolaan amanah kerja, bukan sekadar kebutuhan pribadi.

        Contoh kasus dapat memperjelas penerapan konsep ini. Seorang perawat di ruang rawat inap sering mengambil shift tambahan karena merasa bertanggung jawab terhadap kekurangan tenaga di unitnya. Pada awalnya ia menganggap kebiasaan itu sebagai bentuk pengabdian. Namun, setelah beberapa bulan, ia mulai sulit tidur, kehilangan konsentrasi, mudah tersinggung, dan merasa cepat lelah. Kondisi tersebut membuatnya kurang sabar kepada pasien dan rekan kerja. Setelah mengikuti kajian dan pelatihan, ia memahami makna Surah Al-Qasas ayat 77 bahwa ia harus mengejar akhirat melalui pekerjaannya, tetapi tetap tidak boleh melupakan bagian dunianya, termasuk kesehatan diri. Ia lalu memperbaiki pola tidur, membatasi lembur yang tidak mendesak, menjaga makan, dan meluangkan waktu untuk shalat tepat waktu. Perubahan tersebut membuatnya lebih tenang, fokus, dan ramah dalam memberikan pelayanan. Kasus ini menunjukkan bahwa self-care yang dilandasi nilai agama tidak mengurangi dedikasi, tetapi justru meningkatkan mutu pelayanan.

        Penutup

          Surah Al-Qasas ayat 76–77 mengajarkan keseimbangan hidup yang sangat penting bagi tenaga kesehatan. Ayat ini menegaskan bahwa nikmat Allah harus diarahkan untuk mencari akhirat, tetapi manusia tetap wajib memperhatikan kebutuhan dunia secara wajar dan sehat. Dalam praktik keperawatan, prinsip ini mendorong tenaga kesehatan untuk menjaga tubuh, pikiran, dan jiwa agar tetap mampu memberikan pelayanan terbaik. Hadis tentang hak tubuh memperkuat bahwa merawat diri adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan, bukan tindakan yang bertentangan dengan ibadah.

          Dengan demikian, orientasi dunia dan akhirat bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi yang harus berjalan bersama. Tenaga kesehatan yang mampu menyeimbangkan pekerjaan, istirahat, ibadah, dan relasi sosial akan lebih siap memberikan pelayanan yang aman, empatik, dan profesional. Nilai Al-Qasas 76–77 dapat menjadi dasar penting dalam membangun budaya self-care yang sehat, terarah, dan bernilai ibadah di lingkungan pelayanan kesehatan.

          Daftar Pustaka

          Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis tentang hak tubuh). https://islamuna.com/hadith/sahih-bukhari-5199

          Al-Qur’an al-Karim. (n.d.). Surah Al-Qasas ayat 76–77. https://quran.com/al-qasas/76-77

          Fruh, S. M., Williams, S. G., Heye, M. L., & Berge, J. M. (2021). Self-care in nurses. Journal of Radiology Nursing, 40(3), 194–199.

          Lewis, S., Willis, K., Bismark, M., et al. (2021). A time for self-care? Frontline health workers’ strategies for managing mental health during the COVID-19 pandemic. SSM – Mental Health, 2, 100053. https://doi.org/10.1016/j.ssmmh.2021.100053

          Sist, L., Savadori, S., Grandi, A., Martoni, M., Baiocchi, E., Lombardo, C., & Colombo, L. (2022). Self-care for nurses and midwives: Findings from a scoping review. Healthcare, 10(12), 2473. https://doi.org/10.3390/healthcare10122473

          Steen, M., Javanmard, M., & Vernon, R. (2022). The influence of self-compassion upon midwives and nurses: A scoping review. Evidence Based Midwifery, 20(1), 16–24.

          Kontributor: Fatihaturriskiyah

          Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

          Share to

          Related News

          Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

          by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

          PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

          Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

          by Ayla Azzura • Nov 02 2026

          Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

          Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

          by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

          1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

          Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

          by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

          PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

          Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

          by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

          PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

          Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

          by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

          Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

          No comments yet.

          Please write your comment.

          Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

          *

          *

          Jurnal Dedikasi

          Jurnal Madani

          Jurnal Cendekia

          Other News

          Bukan Sekadar Bertahan: Bagaimana Islam Menjawa...

          1. PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang dipeluk oleh lebih dari 1,9 miliar umat manusia di seluruh dunia tidak dapat dilepaskan dari konteks zam...

          03 Jun 2026

          Metode dan Media Penyuluhan Anti Korupsi: Penyu...

          1. PENDAHULUAN Selama bertahun-tahun, korupsi telah menjadi hambatan utama bagi pembangunan nasional Indonesia. (Suyatmiko, 2021) menyatakan bah...

          08 Apr 2026

          Kebijakan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi:...

          1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling kompleks dalam tata kelola pemerintahan modern yang berdampak luas terhadap berb...

          08 Apr 2026

          Peran Ulama sebagai Pewaris Nabi dalam Kehidupa...

          Pendahuluan Ulama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam. Mereka bukan hanya orang yang menguasai ilmu agama, tetapi juga memilik...

          E-Government: Mengurangi Interaksi, Mengurangi ...

          1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan utama dalam tata kelola pemerintahan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. P...

          back to top