Noorania Alila Rahmadhani • Oct 27 2026 • 24 Dilihat

Ulama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam. Mereka bukan hanya orang yang menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing umat dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, disebutkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ulama memiliki peran besar dalam melanjutkan tugas kenabian, terutama dalam menyampaikan ilmu, membina akhlak, mengarahkan umat kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Namun, pada zaman kontemporer, tanggung jawab ulama menjadi semakin kompleks. Perkembangan teknologi, globalisasi, media sosial, perubahan sosial, krisis moral, serta munculnya berbagai persoalan baru menuntut ulama untuk memiliki wawasan yang luas. Ulama tidak cukup hanya memahami persoalan keagamaan secara tekstual, tetapi juga perlu memahami perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, kesehatan, lingkungan, dan teknologi.
Di tengah kemajuan zaman, umat Islam menghadapi berbagai tantangan. Informasi keagamaan dapat diperoleh dengan mudah melalui internet, tetapi tidak semuanya benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Munculnya berita palsu, ujaran kebencian, fanatisme, radikalisme, serta pemahaman agama yang sempit dapat membingungkan masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran ulama yang berilmu, berakhlak, bijaksana, dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat sangat dibutuhkan.
Sebagai pewaris nabi, ulama harus mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi juga menghadirkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Topik mengenai ulama sebagai pewaris nabi penting dibahas karena ulama memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran dan perilaku umat Islam. Penjelasan ulama dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menghadapi masalah kehidupan. Oleh karena itu, ulama harus memiliki integritas keilmuan dan moral agar ajaran yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Perubahan zaman juga menyebabkan munculnya persoalan-persoalan yang tidak secara langsung ditemukan dalam literatur klasik. Misalnya, persoalan kecerdasan buatan, transaksi digital, rekayasa genetika, perubahan iklim, kesehatan mental, ekonomi global, dan etika penggunaan media sosial. Persoalan tersebut membutuhkan pemahaman agama yang mendalam sekaligus kemampuan untuk berdialog dengan ilmu pengetahuan modern
Selain itu, pembahasan ini penting bagi mahasiswa dan generasi muda. Generasi muda merupakan kelompok yang paling banyak menggunakan teknologi dan media sosial. Mereka membutuhkan bimbingan keagamaan yang relevan, terbuka, dan sesuai dengan tantangan zaman. Ulama perlu hadir di ruang-ruang digital untuk menyampaikan ilmu Islam dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi kedalaman dan ketepatan ajaran
Penulisan ini bertujuan untuk:
Ulama disebut sebagai pewaris nabi karena mereka melanjutkan tugas keilmuan, dakwah, pembinaan akhlak, dan pelayanan kepada umat. Hadis Rasulullah SAW menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu (Abu Dawud, 2009).
Oleh sebab itu, ulama memiliki amanah besar untuk menjaga, mengamalkan, dan menyampaikan ilmu tersebut.Pada zaman kontemporer, tanggung jawab ulama semakin kompleks. Pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan milenium dengan memadukan tradisi dan modernisasi (Azra, 2012).
Ulama tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, dan budaya agar Islam dapat berdialog dengan kemodernan (Madjid, 2008).
Dalam konteks profesi kesehatan, peran ulama juga sangat relevan. Islam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu serta menggunakan akal untuk memahami ciptaan Allah (Al-Attas, 1993). Tenaga kesehatan perlu memiliki etos agama dalam praktik pelayanan (Hidayat, 2013). Kerja sama antara ulama dan ilmuwan Muslim penting untuk menghasilkan solusi bioetika seperti AI, rekayasa genetika, dan etika medis (Mulkhan, 2002). Pemahaman terhadap Al-Qur’an perlu disertai kemampuan membumikannya dalam kehidupan nyata (Shihab, 2013), termasuk dalam isu kesehatan, lingkungan, dan sosial.
Selain itu, sejarah pemikiran dan dinamika masyarakat juga penting dipahami agar fatwa tidak menimbulkan kesulitan (Ibn Khaldun, 2011). Islam memiliki karakteristik yang fleksibel dalam menjawab persoalan baru sesuai tujuan syariat (Al-Qardhawi, 1996).
Ulama juga memiliki tanggung jawab untuk meluruskan informasi keagamaan yang keliru. Di media sosial, banyak orang menyampaikan pendapat agama tanpa pengetahuan yang memadai. Keadaan ini dapat membingungkan umat. Oleh karena itu, ulama harus memberikan edukasi agar masyarakat mampu membedakan antara informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Artinya:
“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari nomor 3461. Hadis ini menunjukkan pentingnya menyampaikan ilmu, tetapi penyampaian tersebut harus berdasarkan pengetahuan yang benar. Seseorang tidak boleh menyampaikan informasi agama tanpa memahami maknanya atau tanpa memastikan kebenarannya.
Ulama tidak hanya dinilai berdasarkan apa yang disampaikan, tetapi juga berdasarkan perilakunya. Keteladanan merupakan bagian penting dari dakwah Islam. Apabila seorang ulama mengajarkan kejujuran tetapi tidak jujur dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat akan kehilangan kepercayaan.
Seorang ulama harus menunjukkan akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti jujur, amanah, adil, sabar, rendah hati, dan menghormati orang lain. Ulama juga harus bersikap terbuka terhadap perbedaan pendapat. Perbedaan dalam masalah tertentu tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghina atau bermusuhan.
Rasulullah SAW bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi nomor 1924. Hadis tersebut mengajarkan bahwa ulama harus menyampaikan agama dengan kasih sayang dan kelembutan. Dakwah yang penuh hinaan dan kebencian tidak sesuai dengan misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ulama memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan persoalan sosial yang dihadapi umat. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan. Masalah kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, konflik, diskriminasi, kerusakan lingkungan, dan rendahnya pendidikan perlu menjadi perhatian ulama.
Ulama harus mendorong umat untuk membela kebenaran dan membantu orang yang membutuhkan. Mereka dapat mengajak masyarakat untuk bersedekah, membangun pendidikan, membantu korban bencana, dan menjaga lingkungan. Dengan demikian, dakwah Islam tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.
Ulama juga perlu menjadi penengah ketika terjadi konflik di masyarakat. Mereka harus menyampaikan pesan persaudaraan, perdamaian, dan toleransi. Dalam masyarakat yang memiliki beragam suku, agama, dan budaya, sikap saling menghormati sangat penting untuk menjaga persatuan.
Teknologi digital memberikan peluang besar bagi ulama untuk menyebarkan ilmu. Kajian, ceramah, diskusi, dan materi pendidikan Islam dapat disampaikan melalui media sosial. Masyarakat yang tinggal jauh dari lembaga pendidikan agama juga dapat memperoleh pengetahuan dengan lebih mudah.
Namun, media digital juga memiliki risiko. Informasi agama yang disampaikan secara singkat dapat kehilangan konteks. Potongan ceramah dapat disebarkan tanpa penjelasan yang lengkap. Selain itu, judul yang provokatif sering digunakan untuk menarik perhatian masyarakat.
Oleh karena itu, ulama harus menggunakan media digital secara bijaksana. Informasi yang disampaikan harus memiliki sumber yang jelas, tidak mengandung fitnah, serta tidak memprovokasi permusuhan. Bahasa dakwah juga harus santun, mendidik, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Ulama perlu membantu umat memahami bahwa tidak semua informasi yang viral adalah benar. Masyarakat harus diajarkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Sikap tabayun atau memeriksa kebenaran berita sesuai dengan ajaran Islam.
Ilmuwan Muslim memiliki peran penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu serta menggunakan akal untuk memahami ciptaan Allah. Karena itu, ilmu agama dan ilmu umum seharusnya saling mendukung.
Ilmuwan Muslim di bidang kesehatan, pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lingkungan perlu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Kemajuan ilmu harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan, menjaga kehidupan, dan mengurangi kerusakan.
Kerja sama antara ulama dan ilmuwan Muslim juga sangat penting. Ulama memiliki pemahaman mengenai nilai-nilai agama, sedangkan ilmuwan memahami persoalan teknis dan ilmiah. Kolaborasi keduanya dapat menghasilkan solusi yang lebih baik dalam menghadapi masalah kontemporer.
Ulama menghadapi berbagai tantangan, antara lain:
Tantangan tersebut, ulama perlu meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan berdialog. Ulama juga perlu memahami perkembangan teknologi, menggunakan media sosial secara positif, serta menjalin kerja sama dengan ilmuwan dan berbagai lembaga masyarakat.
Dalam bidang kesehatan, peran ulama sebagai pewaris nabi dapat diwujudkan melalui kontribusi dalam memberikan bimbingan moral dan etika kepada tenaga kesehatan. Ulama dapat membantu menjelaskan berbagai persoalan kontemporer, seperti etika transplantasi organ, teknologi reproduksi, kecerdasan buatan dalam pelayanan kesehatan, serta pelayanan kesehatan yang berlandaskan nilai kemanusiaan. Kerja sama antara ulama dan tenaga kesehatan penting agar pelayanan yang diberikan tidak hanya memperhatikan aspek medis, tetapi juga aspek spiritual dan moral pasien.
Ketajaman Analisis
Tantangan terbesar ulama pada era digital bukan hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga menjaga kredibilitas ilmu di tengah derasnya arus informasi. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama, dari yang sebelumnya bergantung pada majelis ilmu dan kitab, menjadi lebih banyak melalui media sosial. Kemudahan ini membuka peluang besar bagi dakwah, tetapi juga menimbulkan persoalan karena tidak semua informasi keagamaan memiliki dasar yang kuat. Masyarakat sering kali menilai kebenaran suatu konten berdasarkan popularitas, jumlah penonton, atau banyaknya tanda suka, bukan berdasarkan keakuratan dalil dan kompetensi penyampainya. Akibatnya, informasi yang keliru dapat menyebar lebih cepat daripada penjelasan ilmiah yang membutuhkan kajian mendalam. Dalam kondisi ini, ulama memiliki tanggung jawab penting sebagai penjaga kualitas ilmu dengan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan, meluruskan kesalahpahaman, dan membimbing masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi agama.
Oleh karena itu, ulama dituntut untuk menguasai literasi digital tanpa mengorbankan prinsip keilmuan dan ketelitian dalam berdakwah. Penggunaan media sosial bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi strategi untuk menjangkau masyarakat yang memiliki kebiasaan belajar berbeda. Dakwah perlu disampaikan secara akurat, menarik, dan mudah dipahami, tetapi tetap berlandaskan dalil yang kuat serta tidak menghilangkan konteks ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah di era digital tidak cukup diukur dari banyaknya konten yang ditonton, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh pemahaman agama yang benar dan mampu menerapkannya secara bijaksana. Dengan demikian, ulama perlu menyeimbangkan kedalaman ilmu, kemampuan komunikasi, dan kecakapan teknologi agar dakwah tetap memiliki otoritas, relevansi, dan kredibilitas di tengah perubahan zaman.
Contoh Nyata
Pada masa pandemi COVID-19, banyak ulama berperan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan, vaksinasi, dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa ulama tidak hanya berperan dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Ulama disebut sebagai pewaris nabi karena mereka melanjutkan tugas keilmuan, dakwah, pembinaan akhlak, dan pelayanan kepada umat. Hadis Rasulullah SAW menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu. Oleh sebab itu, ulama memiliki amanah besar untuk menjaga, mengamalkan, dan menyampaikan ilmu tersebut.
Pada zaman kontemporer, tanggung jawab ulama semakin kompleks. Ulama tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga perlu memahami perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, dan budaya. Mereka harus mampu menjawab persoalan baru dengan tetap berpegang pada Al-Qur’an, hadis, dan tujuan syariat.
Ulama juga harus menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, kasih sayang, toleransi, dan kepedulian sosial. Dakwah yang dilakukan harus menghadirkan kedamaian serta menjauhkan umat dari kebencian, fitnah, dan perpecahan.
Ulama perlu terus meningkatkan ilmu dan kompetensi melalui pendidikan, penelitian, serta dialog lintas bidang. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadis perlu disertai kemampuan membaca perubahan zaman.
Lembaga pendidikan Islam juga perlu membentuk ulama yang memiliki kemampuan komunikasi, literasi digital, wawasan sosial, dan berpikir kritis. Ulama hendaknya memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ilmu yang benar, santun, dan mencerahkan.
Masyarakat juga perlu bersikap bijak dalam menerima informasi agama. Setiap informasi harus diperiksa sumber dan kebenarannya sebelum disebarkan. Dengan kerja sama antara ulama, ilmuwan Muslim, lembaga pendidikan, dan masyarakat, ilmu Islam dapat menjadi sumber kemajuan, kedamaian, dan kemaslahatan bagi seluruh umat.
Daftar Pustaka
Abu Dawud, S. (2009). Sunan Abi Dawud. Riyadh: Darussalam.
Al-Attas, S. N. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization.
Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya’ Ulumuddin. Jakarta: Republika.
Al-Qardhawi, Y. (1996). Karakteristik Islam: Kajian Analitik. Surabaya: Risalah Gusti.
At-Tirmidzi, M. I. (2007). Sunan at-Tirmidzi. Riyadh: Darussalam.
Azra, A. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
Bukhari, M. I. (2002). Shahih al-Bukhari. Riyadh: Darussalam.
Hidayat, K. (2013). Agama untuk Peradaban: Membumikan Etos Agama dalam Kehidupan. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Ibn Khaldun, A. R. (2011). Mukaddimah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Madjid, N. (2008). Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.
Mulkhan, A. M. (2002). Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Shihab, M. Q. (2013). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Kontributor: Noorania Alila Rahmadhani
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM pada dasarnya adalah hak dasar yang melekat ...

Membangun Toleransi Sebelum Terlambat 1. PENDAHULUAN Pernah nggak kamu baru sadar ada kebocoran di atap rumah justru pas hujan deras? Baru panik...

I. Pendahuluan Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Pola makan merupakan salah satu faktor yang da...

1. PENDAHULUAN Peradaban manusia berada di puncak revolusi teknologi yang masif. Kehadiran Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), robotika...

I. Pendahuluan Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan penguasa...

No comments yet.