Naurah Mazayya Aniswar • Jun 04 2026 • 7 Dilihat

Begitulah ritme hidup banyak anak muda hari ini. Di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti dan tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja di media sosial, banyak dari kita diam-diam menyimpan satu pertanyaan yang sama: kenapa rasanya masih kurang, padahal secara materi sudah cukup?
Pertanyaan itu bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa ada bagian dari diri kita yang belum terpenuhi bagian yang jauh lebih dalam dari sekadar angka di rekening atau jumlah followers.
World Happiness Report 2023 mencatat fakta yang cukup mengejutkan: meskipun standar hidup manusia terus meningkat secara material, tingkat kebahagiaan di banyak negara maju justru stagnan atau bahkan menurun. Di Indonesia sendiri, data Kemenkes 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 10 orang dewasa mengalami gangguan kesehatan mental dengan kecemasan dan depresi sebagai yang paling umum. Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.
Al-Ghazali, cendekiawan Islam abad ke-11, sudah memperingatkan dalam Ihya Ulumuddin: manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia akan melupakan tujuan hidupnya sendiri. Ribuan tahun kemudian, peringatan itu terasa semakin relevan. Artikel ini hadir untuk mengajak kamu berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya, untuk apa kita hidup?
Krisis kehilangan arah yang banyak dialami anak muda bukan sekadar dampak media sosial biasa. Ini adalah akibat diabaikannya dimensi spiritual dalam diri manusia. Pemahaman tentang siapa kita, apa peran kita di dunia, dan bagaimana memaknai setiap aktivitas sehari-hari itulah kunci kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang atau diraih dengan jumlah followers.
Kesalahan terbesar zaman ini adalah melihat manusia hanya dari sisi fisiknya. Akibatnya, ketika perut kenyang, badan sehat, dan rekening berisi orang merasa seharusnya sudah bahagia. Tapi masih ada yang terasa kurang. Mengapa?
Al-Qur’an menjawab dengan sangat jelas. Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12–14, Allah menggambarkan proses penciptaan manusia yang luar biasa terencana dari saripati tanah, berkembang menjadi janin, hingga Allah meniupkan ruh ke dalamnya:
“Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun: 14)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia bukan hanya daging dan tulang. Ada ruh yang menjadi inti keberadaan kita. Dan ruh itu butuh “makanan” yang tidak bisa dipenuhi oleh harta atau popularitas.
Viktor Frankl, psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menyimpulkan hal yang sama dalam Man’s Search for Meaning (1946): motivasi paling mendasar manusia bukan mencari kesenangan, melainkan mencari makna. Orang yang punya makna dalam hidupnya mampu bertahan di kondisi paling berat sekalipun.
Dalam Islam, ini disebut fitrah naluri bawaan manusia untuk mencari dan terhubung dengan Sang Pencipta. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mengabaikan fitrah ini sama saja dengan melawan kodrat diri sendiri.
Islam memberi manusia dua gelar sekaligus: khalifah (pemimpin di bumi) dan ‘abd (hamba Allah). Keduanya bukan pilihan keduanya harus dijalankan bersamaan.
Sebagai khalifah, kita punya mandat aktif untuk berkontribusi nyata. Ini bukan soal jabatan atau pangkat. Mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh untuk kelak membantu masyarakat, kreator konten yang membuat konten bermanfaat, anak yang merawat orang tuanya semuanya adalah ekspresi dari peran khalifah.
Sebagai ‘abd, kita punya kompas moral yang tidak bisa dibeli. Allah mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)
Kesadaran bahwa Allah selalu melihat inilah muraqabah adalah benteng paling kokoh dari dalam diri. Ketika semua orang bisa ditipu tapi Allah tidak bisa, standar perilaku kita otomatis naik jauh di atas rata-rata.
Banyak anak muda memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari: agama itu untuk Jumat, Ramadan, atau saat minta lulus ujian. Selebihnya, ya “urusan dunia.” Pemahaman seperti inilah yang jadi salah satu akar dari rasa hampa yang banyak dialami generasi kita.
Islam mengajarkan yang sebaliknya. Allah berfirman:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Ini adalah deklarasi totalitas. Seluruh hidup, bukan hanya saat di atas sajadah. Mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan jujur? Ibadah. Karyawan yang bekerja dengan integritas? Ibadah. Seseorang yang membuang sampah pada tempatnya karena sadar bumi ini amanah? Itu juga ibadah.
Penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health yang menganalisis data lebih dari 74.000 responden (VanderWeele, 2020) menemukan bahwa individu dengan kehidupan spiritual yang aktif memiliki tingkat kesejahteraan psikologis dan ketahanan mental yang secara signifikan lebih tinggi. Sains pun mengonfirmasi: menghidupi konsep ibadah yang menyeluruh bukan hanya soal pahala ia membuat hidup di dunia terasa lebih penuh dan lebih kuat.
Semua ini bukan teori semata. Ada tiga langkah nyata yang bisa dimulai hari ini:
Pertama, rekonstruksi definisi sukses versi kamu sendiri. Selama kamu terus mengukur hidup dengan standar Instagram seberapa mewah yang tampak, seberapa banyak yang dimiliki krisis makna itu tidak akan selesai. Coba praktikkan muhasabah: lima menit sebelum tidur, tanyakan pada diri sendiri, “Hari ini aku sudah berkontribusi apa?”
Kedua, dorong lingkungan pendidikan untuk lebih relevan. Pendidikan agama yang hanya berkutat pada hafalan perlu berevolusi menjadi ruang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial: siapa saya, apa tujuan saya hidup, dan bagaimana saya bisa memberi manfaat? Itulah inti dari islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas Al-Faruqi.
Ketiga, yakini bahwa kontribusimu itu bermakna, sekecil apapun. Negara seperti Bhutan telah membuktikan bahwa kesejahteraan sejati tidak bisa diukur hanya dari angka ekonomi. Ada dimensi batin, spiritual, dan sosial yang sama pentingnya. Indonesia, dengan modal spiritual yang luar biasa besar, memiliki potensi untuk menjadi model pembangunan manusia yang lebih utuh.
Di tengah dunia yang semakin cepat, semakin bising, dan semakin penuh tuntutan, mudah sekali terbawa arus tanpa sempat bertanya: sebenarnya, aku sedang pergi ke mana?. Artikel ini bukan menawarkan jalan pintas menuju kebahagiaan. Ini adalah ajakan untuk kembali pada pertanyaan paling mendasar: siapa kita, untuk apa kita ada, dan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini? Jawaban atas tiga pertanyaan itu yang bisa ditemukan melalui pemahaman tentang fitrah manusia, peran ganda sebagai khalifah dan hamba, serta konsep ibadah yang menyeluruh adalah kompas yang tidak akan pernah kehabisan baterai.
Generasi yang kuat bukan yang paling banyak hartanya atau paling viral di media sosial. Generasi yang kuat adalah mereka yang tahu untuk apa mereka hidup dan berani menjalaninya dengan penuh makna serta integritas.
“Pertanyaan terpenting bukan seberapa tinggi jabatanmu atau seberapa penuh rekeningmu, melainkan: apakah hidupmu sudah memberikan manfaat nyata bagi sesama dan mendatangkan keridhaan dari Sang Pencipta?”
Al-Qur’an al-Karim. Terjemahan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Jakarta: Kementerian Agama RI.
Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan. International Institute of Islamic Thought.
Al-Ghazali, A. H. M. (2016). Ihya Ulumuddin. Bandung: Mizan Pustaka.
Frankl, V. E. (2014). Man’s Search for Meaning. Jakarta: Noura Books.
Institute for Economics and Peace. (2023). Global Peace Index 2023. Sydney: IEP.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Hasil Survei Kesehatan Jiwa Nasional. Jakarta: Kemenkes RI.
VanderWeele, T. J. (2020). Religion and Health: A Synthesis. Oxford University Press.
World Happiness Report. (2023). World Happiness Report 2023. New York: SDSN.
Kontributor:Â Naurah Mazayya Aniswar
Editor:Â M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
Membangun Karakter Islam yang Nyata di Tengah Generasi Serba Pamer 1. PENDAHULUAN Coba scroll feed I...
1. PENDAHULUAN Abad ke-21 ditandai dengan akselerasi eksponensial dalam bidang sains dan teknologi y...
1. PENDAHULUAN Dalam ajaran Islam, amanah dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat penting dal...
Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang teru...
Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi palin...
1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan tertinggi di dunia, ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan masalah struktural yang terjadi hampir di seluruh sektor di Indonesia, merusak fondasi ekonomi, sosial dan tata...

1. PENDAHULUAN Lingkungan akademik adalah tempat belajar di mana banyak orang berkumpul, mereka berasal dari latar belakang yang beragam, sepert...

1. PENDAHULUAN Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan (AI), khususnya Generative AI seperti model bahasa besar, telah membawa revolusi luar biasa...

1. PENDAHULUAN Penyuluhan merupakan salah satu metode penting dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat di berbagai bidang ...

PENDUHULUAN Kerusakan lingkungan hidup menjadi salah satu permasalahan global yang semakin mengkhawatirkan di era modern. Pencemaran udara, penu...

No comments yet.