Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Hikmah Ketakwaan sebagai Sumber Ketenangan Psikologis bagi Bidan dalam Menghadapi Kegawatdaruratan Maternal

    Aug 29 202637 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Angka Kematian Ibu (AKI) hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. World Health Organization mencatat sekitar 260.000 perempuan di dunia meninggal selama kehamilan dan persalinan pada tahun 2023, dengan lebih dari 90% kematian tersebut terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, dan sebagian besar sesungguhnya dapat dicegah. Di Indonesia, rasio kematian ibu menurut estimasi WHO tercatat 140 per 100.000 kelahiran hidup pada 2023, menempatkan Indonesia di antara negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara dan masih jauh dari target SDGs 2030 sebesar 70 per 100.000. Data Kementerian Kesehatan RI melalui sistem Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) turut mencatat peningkatan jumlah kematian ibu, dengan preeklampsia dan perdarahan pascapersalinan sebagai penyebab paling dominan. Kondisi ini menuntut bidan sebagai penolong persalinan terdepan untuk mampu mengambil keputusan klinis yang tepat dan cepat di tengah situasi yang penuh tekanan, sebuah kemampuan yang sangat bergantung pada kejernihan berpikir dan kestabilan emosi, bukan semata pada penguasaan teknis.

    Kesenjangan penelitian tampak jelas: tinjauan sistematis Albendín-García dkk. (2021) terhadap studi burnout pada bidan di berbagai negara menemukan prevalensi kelelahan emosional yang tinggi, didorong oleh beban kerja, paparan trauma berulang, dan minimnya dukungan psikologis di tempat kerja. Sementara itu, kajian tentang peran spiritualitas umumnya berhenti pada dampaknya terhadap tingkat kebahagiaan atau penurunan burnout tenaga kesehatan (Badriyah dkk., 2025; Rayan dkk., 2025), dan belum banyak menyentuh bagaimana dimensi spiritual  khususnya ketakwaan dalam perspektif Islam  dapat menopang kejernihan berpikir dan ketepatan pengambilan keputusan klinis bidan pada detik-detik kritis kegawatdaruratan maternal. Mengabaikan dimensi ini berarti melewatkan sumber daya batin yang justru paling dibutuhkan saat instrumen dan protokol klinis belum cukup untuk meredakan kepanikan. Esai ini bertujuan mengupas hikmah ketakwaan sebagai sumber ketenangan psikologis yang mendasari kejernihan berpikir dan ketepatan pengambilan keputusan bidan dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal, serta merumuskan implikasi praktisnya.

    II. Pembahasan

    Takwa dalam perspektif syariat bukan sekadar kepatuhan ritual, melainkan kesadaran batin yang terus-menerus akan pengawasan Allah (muraqabah) atas setiap tindakan hamba-Nya. Muhammad Utsman Najati (2005) dalam Psikologi dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa kesadaran muraqabah ini melahirkan stabilitas emosi yang menjadi prasyarat bagi akal untuk berpikir jernih, sebab kecemasan yang tidak terkendali justru mempersempit fokus perhatian seseorang pada informasi-informasi penting di sekitarnya. Bidan yang bertakwa memiliki jangkar batin yang menjaga fokusnya tetap utuh sekalipun berhadapan dengan situasi klinis yang mengancam nyawa, karena setiap tindakannya disandarkan pada kesadaran bahwa Allah senantiasa menyertai dan menilai ikhtiarnya.

    الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir pada ayat ini mencakup makna luas: membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, hingga shalat, yaitu segala bentuk ibadah yang mendekatkan hamba kepada Allah. Al-Qurthubi menganalogikan hati manusia seperti ikan yang membutuhkan air; sebagaimana ikan akan mati tanpa air, hati akan “mati” dalam kegelisahan tanpa dzikrullah. Quraish Shihab (2002) dalam Tafsir Al-Misbah menambahkan bahwa ketenangan yang bersumber dari harta, jabatan, atau capaian duniawi bersifat sementara dan rapuh, sedangkan ketenangan dari dzikir bersifat kokoh karena berlabuh pada Zat yang kekal. Bagi bidan, sela-sela dzikir yang diselipkan di tengah penanganan gawat darurat bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme yang menahan hati agar tidak terpecah oleh kepanikan, sehingga observasi klinis  seperti mengenali tanda syok hipovolemik atau menentukan waktu rujukan yang tepat  dapat dilakukan dengan lebih presisi.

    وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (3)

    Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2–3)

    Ibnu Katsir menafsirkan bahwa siapa pun yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah akan diberi jalan keluar dari kesulitan serta pertolongan dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Ayat ini relevan bagi bidan yang menghadapi komplikasi tanpa solusi klinis yang jelas, misalnya perdarahan masif di fasilitas dengan keterbatasan stok darah. Tawakal yang lahir dari ketakwaan memberi ruang psikologis untuk tetap berikhtiar semaksimal mungkin tanpa dibebani ilusi bahwa keselamatan pasien sepenuhnya berada di tangannya sendiri. Pemahaman ini menurunkan kecemasan antisipatif (anticipatory anxiety) yang, jika dibiarkan, dapat mengganggu kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan pada momen-momen kritis.

    Rasulullah صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengajarkan cara pandang yang menjadi benteng psikologis, sebagaimana riwayat Imam Muslim: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kelapangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya; dan jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya” (HR. Muslim). Bingkai berpikir ini merupakan strategi peninjauan kognitif (cognitive reappraisal) berbasis nilai transenden: apa pun hasil akhir dari sebuah tindakan pertolongan persalinan, selalu tersedia makna spiritual yang melindungi bidan dari rasa bersalah berlebihan maupun trauma psikologis yang berkepanjangan pascakejadian kritis.

    Bukti empiris kontemporer memperkuat kaitan spiritualitas dengan performa dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Rezaei, Golmakani, Mazloum, dan Mousavi (2022) menemukan kecerdasan spiritual berkorelasi dengan mutu performa klinis bidan di Iran, sementara Golmakani, Rezaei, dan Mazloum (2018) melaporkan bahwa aktivitas religius berhubungan dengan tingkat kebahagiaan bidan di rumah sakit dan pusat kesehatan. Pada konteks Indonesia, Badriyah, Mundakir, Rohita, Lee, dan Tonapa (2025) menemukan bahwa spiritualitas dan efikasi diri secara bersama-sama melindungi perawat ICU dari burnout, dengan efikasi diri berperan sebagai mediator sebagian. Rayan, Al-Ghabeesh, dan Abu Sabra (2025) di Lebanon juga menemukan kesejahteraan religius berhubungan negatif signifikan dengan burnout perawat ICU, sedangkan Sanavi Shiri, Tavakoli, dan Momennasab (2025) mendapati coping religius berkaitan dengan penurunan gejala gangguan stres pascatrauma pada perawat pascapandemi. Temuan-temuan ini, bila dipadukan dengan tinjauan Albendín-García dkk. (2021) tentang tingginya prevalensi burnout bidan secara global, menegaskan urgensi memperkuat sumber daya psikologis-spiritual seperti ketakwaan sebagai pelengkap kompetensi teknis kebidanan.

    Penerapan ketakwaan dalam praktik kebidanan dapat diwujudkan melalui tiga langkah konkret. Pertama, menjadikan niat dan basmalah sebagai jangkar kognitif sebelum memulai tindakan, sehingga bidan memasuki situasi kritis dengan kesadaran penuh dan bukan reaksi panik semata. Kedua, membiasakan “jeda dzikir” berupa tarikan napas disertai dzikir singkat pada titik-titik pengambilan keputusan penting, misalnya sesaat sebelum memutuskan rujukan; teknik ini serupa dengan teknik grounding dalam psikologi klinis modern untuk meredakan respons stres akut, namun berpijak pada nilai transendental yang lebih kuat maknanya bagi bidan muslim. Ketiga, melakukan refleksi atau debrief spiritual setelah menangani kasus kritis, dengan bingkai tawakal dan syukur, guna mencegah akumulasi beban emosional yang berujung pada burnout maupun trauma jangka panjang.

    Mempertahankan praktik-praktik ini di tengah kultur pelayanan yang serba cepat memerlukan dukungan struktural, bukan hanya inisiatif individu. Institusi pendidikan kebidanan perlu mengintegrasikan psikologi spiritual berbasis nilai ketakwaan ke dalam kurikulum, sementara manajemen rumah sakit dan puskesmas perlu menyediakan program pendampingan rohani terjadwal serta forum spiritual debriefing pascainsiden kritis sebagai bagian dari sistem dukungan kesehatan jiwa tenaga kesehatan, sehingga ketakwaan tidak berhenti sebagai nilai personal tetapi terlembagakan dalam budaya kerja pelayanan maternal.

    III. Penutup

    Kajian ini menyimpulkan bahwa ketakwaan berperan sebagai basis regulasi kognitif-emosi  melalui muraqabah, dzikir, tawakal, serta sikap sabar dan syukur  yang tidak hanya menenangkan batin, tetapi turut menopang kejernihan berpikir dan ketepatan pengambilan keputusan klinis bidan dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal. Implikasi teoretisnya memperkaya ilmu kebidanan dengan perspektif spiritual-kognitif yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam literatur manajemen stres kerja tenaga kesehatan. Secara praktis, kajian ini merekomendasikan integrasi nilai ketakwaan ke dalam kurikulum pendidikan kebidanan, pengembangan pelatihan berbasis spiritualitas Islam, serta kebijakan pendampingan rohani dan spiritual debriefing pascainsiden di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian lanjutan dengan desain eksperimental disarankan untuk mengukur pengaruh langsung intervensi berbasis ketakwaan terhadap akurasi dan kecepatan pengambilan keputusan klinis bidan dalam simulasi kegawatdaruratan maternal.

    Daftar Pustaka

    Albendín-García, L., Suleiman-Martos, N., Cañadas-De la Fuente, G. A., Ramírez-Baena, L., Gómez-Urquiza, J. L., & De la Fuente-Solana, E. I. (2021). Prevalence, related factors, and levels of burnout among midwives: A systematic review. Journal of Midwifery & Women’s Health, 66(1), 24–44. https://doi.org/10.1111/jmwh.13186

    Al-Qur’an al-Karim.

    Badriyah, F. L., Mundakir, M., Rohita, T., Lee, B.-O., & Tonapa, S. I. (2025). The mediating role of self-efficacy in the relationship between spirituality and burnout among intensive care unit nurses: A pathway analysis. Applied Nursing Research, 86, Article 152005. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2025.152005

    Golmakani, N., Rezaei, F., & Mazloum, S. R. (2018). The relationship of spiritual intelligence and religious activities with happiness of midwives working in hospitals and health centers. Journal of Midwifery and Reproductive Health, 6(2), 1264–1272. https://doi.org/10.22038/jmrh.2017.9935

    Hamka. (2015). Tafsir Al-Azhar (Jilid 13). Gema Insani Press.

    Katsir, I. (2000). Tafsir Ibnu Katsir (terjemahan M. Abdul Ghoffar, Jilid 8). Pustaka Imam Syafi’i.

    Najati, M. U. (2005). Psikologi dalam Al-Qur’an: Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan (terjemahan). Pustaka Setia.

    Qurthubi, A. A. M. A. (2008). Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (terjemahan). Pustaka Azzam.

    Rayan, A., Al-Ghabeesh, S., Abu Sabra, M. A., et al. (2025). The association between spiritual well-being and burnout in intensive care unit nurses in Lebanon: A cross-sectional, correlational and descriptive study. Journal of Religion and Health. https://doi.org/10.1007/s10943-025-02463-8

    Rezaei, F., Golmakani, N., Mazloum, S. R., & Mousavi, F. S. (2022). Spiritual intelligence and its relationship with midwives’ clinical performance and dimensions. Studies in Medical Sciences, 33(9), 652–660. https://doi.org/10.52547/umj.33.9.3

    Sanavi Shiri, Z., Tavakoli, P., & Momennasab, M. (2025). Relationship between religious coping and post-traumatic stress disorder and professional quality of life of nurses working at COVID-19 wards: A descriptive correlational study. Frontiers in Public Health. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1535340

    Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

    World Health Organization. (2025). Maternal mortality. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality

    Kontributor: Aisyah Aprilia Artha Nauli

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

    by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Agama dan Hukum

    Mewujudkan Keadilan dan Etika Digital dalam Kehidupan Bermasyarakat 1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia be...

    03 Jun 2026

    PANCASILA DI ERA FYP

    Menyelaraskan Tren Digital dengan Nilai Agama dan Karakter Bangsa PENDAHULUAN Di sebuah kafe kekinian, sekumpulan anak muda duduk dalam satu mej...

    03 Jun 2026

    Korelasi Agama Islam dan Kebahagiaan Perspektif...

    PENDAHULUAN Peradaban modern abad ke-21 telah mencapai kulminasi baru yang mengagumkan dalam hal kenyamanan material, efisiensi teknologi, dan k...

    12 Jun 2026

    Kejujuran Akademik Nilai yang Mulai Terkikis

    1. PENDAHULUAN Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan tinggi di Indonesia diguncang oleh sejumlah kasus pelanggaran akademik yang melib...

    11 Apr 2026

    Analisis Dampak Korupsi Pada Sektor Kesehatan D...

    1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor kesehatan dan gizi merupakan fondasi fundamental bagi produktivitas nasional dan keberlanjutan pembang...

    17 Apr 2026
    back to top