Selvi Hertati Br Simbolon • Sep 17 2026 • 8 Dilihat

Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu kelahiran. Dalam proses tersebut, seorang bidan tidak hanya dituntut menguasai keterampilan klinis, tetapi juga dihadapkan pada situasi yang sarat dengan pergumulan emosional, ketidakpastian, bahkan risiko yang mengancam nyawa ibu dan bayi. Kompleksitas ini menuntut lebih dari sekadar kompetensi teknis; ia menuntut kedalaman karakter dan kematangan spiritual yang menjadi penopang integritas pelayanan. Sayangnya, arus modernisasi pelayanan kesehatan yang berorientasi pada efisiensi, target, dan rasionalitas teknokratis kerap menggeser dimensi spiritual ke pinggir, sehingga pelayanan kebidanan berisiko kehilangan jiwa pelayanannya dan berubah menjadi rutinitas mekanis semata.
Dalam tradisi iman Kristen, istilah akhlak dipahami sebagai watak dan karakter batin yang terpancar dari relasi seseorang dengan Allah. Akhlak kepada Allah bukan sekadar aturan moral yang berdiri sendiri, melainkan akar dari seluruh perilaku etis seseorang, termasuk dalam menjalankan profesi. Ketika seorang bidan memiliki akhlak yang benar kepada Allah, yakni sikap takut akan Tuhan, kasih, kejujuran, dan kerendahan hati di hadapan-Nya, maka sikap tersebut akan terpancar secara alami dalam relasinya dengan pasien, keluarga, dan rekan sejawat. Topik ini menjadi penting untuk dikaji karena pelayanan kebidanan yang bermutu tidak dapat dipisahkan dari fondasi moral-spiritual penyedianya, sementara pendidikan kebidanan selama ini masih cenderung berfokus pada ranah kognitif dan psikomotorik dibandingkan ranah spiritual.
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis konsep akhlak kepada Allah sebagai fondasi spiritual dalam pelayanan kebidanan, mengaitkannya dengan landasan Alkitab, pandangan para ahli etika Kristen, serta temuan kajian ilmiah di bidang keperawatan dan kebidanan, dan selanjutnya merumuskan implikasi praktisnya bagi profesi bidan dalam kehidupan pelayanan sehari-hari.
Secara konseptual, akhlak kepada Allah merujuk pada kualitas relasi vertikal manusia dengan Sang Pencipta yang terwujud dalam sikap taat, hormat, dan kasih. Relasi vertikal ini menjadi sumber energi moral bagi relasi horizontal manusia dengan sesama. Dalam kajian keperawatan dan kebidanan kontemporer, konsep ini sejajar dengan apa yang disebut sebagai spiritualitas dan spiritual care, yaitu dimensi batin yang memberi makna, tujuan, dan kekuatan bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanannya. Berbeda dengan etika profesi yang bersifat prosedural dan eksternal, akhlak kepada Allah bersifat internal dan menjadi motivasi terdalam dari setiap tindakan pelayanan yang tulus.
Landasan bagi konsep ini secara jelas termaktub dalam Alkitab. Kitab Amsal menegaskan, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN” (Amsal 9:10a). Ayat ini menunjukkan bahwa segala hikmat, termasuk kebijaksanaan dalam mengambil keputusan klinis yang etis, bersumber dari relasi yang benar dengan Allah. Selaras dengan itu, Tuhan Yesus menegaskan hukum kasih sebagai inti dari seluruh kehidupan orang percaya, yakni mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia (Matius 22:37–39). Prinsip inilah yang menjadi kerangka moral tertinggi bagi setiap tenaga kesehatan Kristen, termasuk bidan, dalam memandang setiap ibu dan bayi yang dilayaninya sebagai pribadi yang bermartabat karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Para ahli etika Kristen memperkuat pandangan ini. Geisler (2017) menegaskan bahwa etika Kristen tidak berangkat dari aturan moral yang otonom dan berdiri sendiri, melainkan berakar pada karakter Allah sendiri sebagai sumber kebenaran dan kebaikan tertinggi; dengan demikian, tindakan bermoral seorang tenaga kesehatan sejatinya merupakan cerminan dari karakter Allah yang ia imani. Wright (2020) menambahkan bahwa hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya dalam Perjanjian Lama menjadi dasar bagi seluruh perilaku etis umat perjanjian tersebut, termasuk dalam relasi sosial dan pelayanan kepada sesama yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Pandangan ini relevan bagi profesi kebidanan yang setiap harinya berhadapan dengan pihak yang berada dalam kondisi rentan, yaitu ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi baru lahir.
Kajian ilmiah di bidang keperawatan dan kebidanan turut memperlihatkan pentingnya dimensi spiritual dalam pelayanan kesehatan. Cheraghi et al. (2023) dalam kajian integratifnya menemukan bahwa prinsip etik beneficence atau berbuat baik dalam asuhan keperawatan tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai personal tenaga kesehatan, termasuk nilai spiritual yang mereka anut, karena nilai-nilai tersebut menjadi dasar motivasi dalam bertindak demi kebaikan pasien. Salehpour et al. (2025) menegaskan bahwa perawatan diri secara spiritual pada tenaga kesehatan berkontribusi terhadap ketahanan emosional dan kualitas asuhan yang diberikan kepada pasien, sekalipun makna dan cakupannya dalam praktik klinis masih perlu diperjelas lebih lanjut. Sejalan dengan itu, Setyawan dan Asih (2020) menemukan bahwa perawat yang memiliki persepsi spiritual yang baik cenderung lebih mampu memenuhi kebutuhan spiritual pasien secara utuh. Temuan Meri et al. (2024) di Pekanbaru juga menunjukkan bahwa pelatihan spiritual care secara signifikan meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai asuhan berbasis spiritual, dengan nilai signifikansi p sebesar 0,035.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis memandang bahwa akhlak kepada Allah bukanlah urusan privat yang terpisah dari kompetensi profesional, melainkan sumber energi moral yang menopang bidan dalam menghadapi tekanan kerja yang tinggi, situasi kegawatdaruratan, kelelahan fisik dan emosional, serta berbagai dilema etis seperti penghormatan otonomi pasien dan penyampaian informasi secara jujur. Tanpa fondasi vertikal ini, pelayanan kebidanan berisiko tereduksi menjadi rutinitas teknokratis yang kehilangan kepekaan dan belas kasih, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai kajian bahwa krisis compassion fatigue kerap muncul ketika dimensi makna dan spiritualitas dalam bekerja diabaikan. Sebaliknya, bidan yang akhlaknya kepada Allah terpelihara akan memandang setiap tindakannya, sekecil apa pun, sebagai bentuk ibadah dan ungkapan kasih kepada Allah yang dinyatakan melalui pelayanan kepada sesama.
Implementasi akhlak kepada Allah dalam praktik profesi kebidanan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk konkret. Pertama, kebiasaan berdoa dan merenung sejenak sebelum melakukan tindakan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap proses pertolongan persalinan. Kedua, sikap sabar, rendah hati, dan penuh kasih dalam menghadapi pasien dari berbagai latar belakang mencerminkan kasih Allah yang tidak membeda-bedakan. Ketiga, kejujuran dalam memberikan informasi kepada pasien dan keluarga, termasuk dalam situasi yang sulit, merupakan wujud integritas yang berakar dari ketaatan kepada Allah yang membenci dusta. Keempat, penghormatan terhadap martabat ibu dan janin sebagai gambar Allah mendorong bidan untuk senantiasa mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan pasien di atas kepentingan pribadi. Kelima, institusi pelayanan kesehatan perlu menyediakan ruang pembinaan spiritual dan pelatihan spiritual care secara berkelanjutan agar nilai-nilai iman tenaga kesehatan terus terpelihara di tengah tekanan pekerjaan yang tinggi.
Akhlak kepada Allah merupakan fondasi spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kebidanan yang bermutu dan manusiawi. Kompetensi klinis semata tidak cukup untuk menghasilkan pelayanan yang penuh belas kasih dan integritas apabila tidak ditopang oleh karakter yang berakar pada relasi yang benar dengan Allah. Landasan Alkitab, pandangan para ahli etika Kristen, maupun temuan kajian ilmiah kontemporer secara konsisten menegaskan bahwa dimensi spiritual menjadi penentu penting bagi kualitas dan keberlanjutan pelayanan tenaga kesehatan, termasuk bidan.
Berdasarkan simpulan tersebut, penulis merekomendasikan agar institusi pendidikan kebidanan mengintegrasikan pembinaan karakter dan spiritualitas ke dalam kurikulum secara terstruktur, tidak sekadar sebagai pelengkap. Setiap bidan secara pribadi juga perlu membangun disiplin rohani yang konsisten, seperti doa dan perenungan firman, sebagai sumber kekuatan dalam menjalankan panggilan profesinya. Selain itu, institusi pelayanan kesehatan disarankan menyediakan wadah pembinaan dan pendampingan spiritual bagi tenaga kesehatan guna mencegah kelelahan emosional serta menjaga agar pelayanan kebidanan senantiasa dijiwai oleh kasih dan ketulusan yang bersumber dari akhlak yang benar kepada Allah.
Cheraghi, R., Valizadeh, L., Zamanzadeh, V., Hassankhani, H., & Jafarzadeh, A. (2023). Clarification of ethical principle of the beneficence in nursing care: An integrative review. BMC Nursing, 22, Article 89. https://doi.org/10.1186/s12912-023-01246-4
Geisler, N. (2017). Etika Kristen. Literatur SAAT.
Meri, D., Mayenti, F., Efliani, D., & Mustika, A. (2024). Pelayanan keperawatan berbasis spiritual ditinjau dari aspek proses asuhan keperawatan spiritual di Rumah Sakit Sansani Pekanbaru. Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma.
Salehpour, M., Sharifi, S., & Parandeh, A. (2025). Spiritual self-care in clinical nursing: An integrative review. International Journal of Nursing Studies Advances, 8, Article 100407. https://doi.org/10.1016/j.ijnsa.2025.100407
Setyawan, D., & Asih. (2020). Persepsi perawat mengenai spiritualitas dan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien di Instalasi Gawat Darurat. Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(1).
Wright, C. J. H. (2020). Old Testament ethics for the people of God. IVP Academic.
Alkitab. (2020). Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia. (Kutipan: Amsal 9:10; Matius 22:37–39).
Kontributor:Â Selvi Hertati Br Simbolon
Editor:Â Ahmad Ali, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena berhubung...

1. PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang dipeluk oleh lebih dari 1,9 miliar umat manusia di seluruh dunia tidak dapat dilepaskan dari konteks zam...

PENDAHULUAN Manusia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan sekadar untuk hidup dan menikmati dunia, melainkan diberi peran istimewa se...

PENDAHULUAN Pendidikan karakter Islami adalah fondasi utama terciptanya individu dengan moral, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini me...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan sosial yang sangat serius dan hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam prose...

Fondasi Karakter Mahasiswa di Era Modern 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang pesat, persoalan nilai dan peri...

No comments yet.