M. Tri Apriansyah • May 26 2026 • 148 Dilihat

Di era modern, mahasiswa mengalami perubahan dalam cara berinteraksi sosial yang semakin mengarah pada sikap individualistis. Kesibukan akademik, tekanan pencapaian, serta perkembangan teknologi digital membuat banyak individu lebih berfokus pada kepentingan pribadi dibandingkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini menyebabkan menurunnya perilaku saling membantu, rasa menghargai, dan kepekaan sosial di kehidupan kampus. Fenomena tersebut dapat dilihat dari perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, masih banyak mahasiswa yang tetap melewati lantai yang sedang dibersihkan petugas kebersihan tanpa mempertimbangkan usaha dan kenyamanan pekerja tersebut. Tindakan ini tampak sepele, namun mencerminkan rendahnya empati sosial karena individu lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan penghargaan terhadap orang lain. Jika perilaku seperti ini terus dibiarkan, lingkungan kampus berpotensi membentuk budaya sosial yang kurang peduli dan semakin individualistis.
Empati merupakan kemampuan individu untuk memahami serta merasakan kondisi emosional orang lain yang menyebabkan munculnya perilaku altruistik, seperti membantu, menghargai, dan peduli terhadap sesama. Dalam kehidupan mahasiswa, empati menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan menciptakan lingkungan akademik yang harmonis. Namun, perkembangan kehidupan modern yang kompetitif sering kali membuat nilai-nilai kemanusiaan bergeser menjadi orientasi pada pencapaian pribadi semata.Berdasarkan kondisi tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara empati dan perilaku altruistik di lingkungan mahasiswa, khususnya dalam kehidupan sosial mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya. Melalui pemahaman mengenai pentingnya empati, mahasiswa diharapkan tidak hanya berkembang dalam aspek akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter sosial yang peduli, memanusiakan, dan mampu menjaga nilai kebersamaan di tengah perkembangan zaman.
Menurut saya, menurunnya perilaku altruistik di kalangan mahasiswa disebabkan oleh melemahnya empati sosial akibat gaya hidup modern yang semakin individualistis dan mengarah pada kepentingan pribadi. Perkembangan teknologi digital, persaingan akademik, serta cara interaksi yang semakin terbatas menyebabkan banyak mahasiswa kurang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Padahal, empati memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku altruistik, seperti kepedulian, sikap tolong-menolong, dan penghargaan terhadap orang lain. Oleh karena itu, penguatan nilai empati di lingkungan pendidikan menjadi hal yang penting agar mahasiswa tidak hanya unggul dalam aspek intelektual dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter sosial yang humanis dan bertanggung jawab.
Beberapa penelitian dan artikel ilmiah menunjukkan bahwa empati memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku peduli, kerja sama sosial, serta kecenderungan seseorang dalam membantu orang lain di lingkungan masyarakat. Berikut beberapa argumen ilmiah yang mendukung opini tersebut.
Dalam tulisan “Pendidikan Karakter Holistik: Menyatukan Kecerdasan Intelektual dan Emosional dalam Perkembangan Diri” yang ditulis oleh Al Zari Dwi R dkk., dijelaskan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membangun karakter seseorang tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosional, seperti empati dan kepedulian sosial. Individu yang terlalu berorientasi pada pencapaian pribadi cenderung mengalami ego intelektual, yaitu kondisi ketika seseorang lebih fokus pada keberhasilan dirinya sendiri dibandingkan memahami kondisi orang lain.Fenomena tersebut relevan dengan kehidupan mahasiswa di era modern yang sering kali dihadapkan pada persaingan akademik, tuntutan prestasi, dan budaya produktivitas. Banyak mahasiswa bersaing mencapai nilai tinggi serta pengakuan sosial, tetapi kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Akibatnya, muncul sikap individualistis yang membuat perilaku altruistik, seperti membantu, menghargai, dan peduli terhadap sesama, semakin berkurang.
Dengan demikian, empati tidak hanya berfungsi sebagai respons emosional, tetapi juga menjadi fondasi moral yang dapat menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan kepedulian sosial. Tanpa adanya empati, perkembangan intelektual justru berpotensi melahirkan individu yang unggul secara kemampuan, namun lemah dalam nilai kemanusiaan.
Dalam artikel Implementasi Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Perilaku Empati Remaja karya Kosasih Fitriani Shinta dkk., menjelaskan bahwa interaksi sosial yang positif dapat menumbuhkan rasa peduli, kerja sama, dan sikap saling membantu antarsesama. Sebaliknya, lingkungan yang minim kepedulian sosial cenderung membentuk individu yang bersikap acuh dan kurang peka terhadap kondisi orang lain. Kondisi tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan mahasiswa modern yang lebih sering berinteraksi melalui media digital dibandingkan komunikasi langsung. Intensitas penggunaan teknologi membuat sebagian mahasiswa menjadi lebih fokus pada aktivitas pribadi sehingga hubungan sosial di lingkungan kampus menjadi kurang erat. Akibatnya, nilai kebersamaan dan budaya saling membantu perlahan mengalami penurunan.
Selain itu, lingkungan pergaulan yang kompetitif juga dapat memengaruhi cara berpikir mahasiswa. Persaingan akademik yang terlalu tinggi sering kali membuat individu lebih mementingkan pencapaian pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Jika situasi ini terus berlangsung, maka mahasiswa berpotensi kehilangan sensitivitas sosial dan terbiasa bersikap individualistis dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, pembentukan perilaku altruistik tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial yang mendukung nilai empati dan kebersamaan. Lingkungan kampus perlu menciptakan budaya sosial yang positif melalui kolaborasi, kegiatan organisasi, dan aktivitas sosial agar mahasiswa terbiasa membangun hubungan yang peduli terhadap sesama.
Dalam karya Kartasamita, A. M., & Nardo, R., berjudul “Peran Empati Sosial Dalam Mengurangi erilaku Agresif Di Dunia Digital”, dijelaskan bahwa rendahnya empati sosial di dunia digital dapat memicu munculnya perilaku agresif, penyebaran ujaran kebencian, serta menurunnya kepedulian terhadap sesama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berdampak positif apabila tidak diimbangi dengan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.Fenomena ini juga terjadi di kalangan mahasiswa yang semakin bergantung pada media sosial dan komunikasi virtual. Kemudahan akses teknologi membuat interaksi langsung menjadi semakin berkurang, sehingga banyak individu kesulitan memahami ekspresi emosional dan kondisi nyata orang lain. Akibatnya, sebagian mahasiswa menjadi lebih mudah bersikap acuh, kurang peduli, bahkan menunjukkan respons sosial yang minim terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, budaya digital yang menekankan validasi sosial, popularitas, dan pencitraan diri turut memperkuat sikap individualistis pada generasi muda. Banyak individu lebih fokus membangun citra pribadi di media sosial dibandingkan membangun hubungan sosial yang sehat di kehidupan nyata. Jika kondisi ini terus berkembang, maka nilai empati dan solidaritas sosial berpotensi semakin melemah di tengah masyarakat modern.
Oleh karena itu, literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami etika, tanggung jawab sosial, dan empati dalam berinteraksi di ruang digital. Mahasiswa seharusnya mengerti bahwa penggunaan teknologi seharusnya menjadi sarana memperkuat hubungan sosial, bukan malah mengurangi rasa kepedulian terhadap sesama.
Keterkaitan antara empati dan perilaku altruistik memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan sosial mahasiswa di era modern. Menurunnya tingkat empati dapat menyebabkan munculnya sikap individualistis, rendahnya kepedulian sosial, serta berkurangnya keinginan untuk membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan pola hidup modern tidak selalu berdampak positif terhadap hubungan sosial apabila tidak diimbangi dengan nilai kemanusiaan dan kesadaran moral. Di lingkungan perguruan tinggi, rendahnya empati dapat memengaruhi kualitas interaksi antarmahasiswa. Mahasiswa yang terlalu berorientasi pada pencapaian pribadi cenderung kurang peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya, seperti minimnya kerja sama, rendahnya rasa menghargai, dan lemahnya budaya saling membantu. Jika keadaan ini terus berkembang, maka lingkungan kampus berpotensi menjadi ruang yang kompetitif tetapi miskin solidaritas sosial.
Sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya, penguatan empati dapat dilakukan melalui berbagai bentuk aktivitas sosial dan pendidikan karakter. Misalnya, kampus dapat meningkatkan program pengabdian masyarakat, kegiatan sukarela, kerja kelompok kolaboratif, serta pembiasaan etika sosial dalam kehidupan akademik. Selain itu, organisasi mahasiswa juga memiliki peran penting dalam membangun budaya peduli melalui kegiatan sosial yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat.
Dalam konteks digital, mahasiswa juga perlu memiliki literasi digital yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga etika dan tanggung jawab sosial. Penggunaan media sosial seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan informasi positif, membangun solidaritas, dan meningkatkan kepedulian terhadap isu sosial, bukan justru memperkuat sikap individualistis dan kurangnya empati.
Oleh karena itu, penguatan empati menjadi hal yang penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter sosial yang humanis, peduli, dan mampu menjaga nilai kebersamaan di tengah perkembangan zaman yang semakin kompetitif.
Rendahnya perilaku altruistik di kalangan mahasiswa bukan sekadar fenomena sosial biasa, melainkan cerminan melemahnya empati di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Perkembangan teknologi digital, persaingan akademik, dan pola hidup yang berorientasi pada kepentingan pribadi secara tidak langsung memengaruhi cara mahasiswa membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, kepedulian sosial, sikap menghargai, dan budaya saling membantu perlahan mengalami penurunan.
Berdasarkan pembahasan tersebut, empati memiliki peranan penting dalam membentuk perilaku altruistik dan menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, penguatan empati perlu dilakukan melalui pendidikan karakter, budaya kolaborasi, kegiatan sosial, serta literasi digital yang bertanggung jawab agar mahasiswa mampu menciptakan hubungan sosial yang sehat di era modern.Selain itu, lingkungan kampus juga perlu menciptakan ruang interaksi sosial yang mampu menumbuhkan rasa peduli, kerja sama, dan solidaritas antarmahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya berkembang sebagai individu yang unggul dalam akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter sosial yang humanis dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Maka yang dapat diambil dalam opini ini ialah, kemajuan teknologi dan kecerdasan intelektual tidak akan memiliki makna apabila manusia kehilangan empati dan kepedulian sosial sebagai hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.
Al Zari, R. D., Asbari, M., & Yudhistira, A. (2025). Pendidikan Karakter Holistik: Menyatukan Kecerdasan Intelektual dan Emosional dalam Perkembangan Diri. Journal of Information Systems and Management (JISMA), 4(5), 23-27. https://doi.org/10.4444/jisma.v4i5.1225
Kosasih, S. F., Choiri, M. F., Nafilah, H., Pasya, M. F. R., & Sahputra, D. (2023). Implementasi Lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Perilaku Empati Remaja. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 9(1), 74-85. https://doi.org/10.22373/je.v9i1.15882
Kartasamita, A. M., & Nardo, R. (2026). PERAN EMPATI SOSIAL DALAM MENGURANGI PERILAKU AGRESIF DI RUANG DIGITAL. KENDALI: Economics and Social Humanities, 4(3), 779-784. https://doi.org/10.58738/kendali.v4i3.1274
Kontributor: M. Tri Apriansyah
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...
1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...
1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...
1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

I. Pendahuluan Salah satu klaim terbesar yang dibawa Islam sejak kelahirannya di Jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi adalah klaim tentang kesempu...

1. PENDAHULUAN Selama bertahun-tahun, korupsi telah menjadi hambatan utama bagi pembangunan nasional Indonesia. (Suyatmiko, 2021) menyatakan bah...

1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi salah satu permasalahan serius yang dihadapi Indonesia hingga saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan untu...

1. PENDAHULUAN Kehadiran teknologi Kecerdasan Buatan (AI), khususnya Generative AI seperti model bahasa besar, telah membawa revolusi luar biasa...

1. PENDAHULUAN Korupsi masih menjadi tantangan sistemik yang menghambat kemajuan berbagai sektor di Indonesia, mulai dari ekonomi hingga keadila...

No comments yet.