Dewi Sartika Panjaitan • Sep 01 2026 • 77 Dilihat

Dunia teologi moral Kristen dan dunia praktik klinis kebidanan tampak berada pada dua kutub yang berbeda: yang satu bergerak dalam ranah iman dan hati nurani, yang lain bergerak dalam ranah data, riset, dan prosedur klinis. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, keduanya bertemu pada satu titik metodologis yang sama, yaitu kasuistik atau penalaran moral berbasis kasus (case-based reasoning). Sejak era Kristen mula-mula, para bapa gereja, konselor jiwa, dan kemudian teolog moral menilai persoalan etis bukan semata dari rumusan hukum yang kaku, melainkan dengan memperhatikan keadaan konkret (circumstantiae) tiap kasus, sebagaimana ditelusuri oleh Jonsen dan Toulmin (1988) dalam sejarah panjang casuistry. Sementara itu, Evidence-Based Practice (EBP) dalam asuhan kebidanan menuntut bidan untuk memadukan bukti riset terbaik, keahlian klinis, serta nilai dan preferensi klien pada setiap kasus persalinan yang tidak pernah benar-benar identik satu sama lain.
Esai ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa semangat kasuistik moral Kristen, yaitu penalaran yang kontekstual, berorientasi pada kasus nyata, dan dituntun oleh kebijaksanaan praktis, sesungguhnya mencerminkan struktur metodologis yang sama dengan Evidence-Based Practice dalam asuhan kebidanan. Dengan memaparkan akar historis kasuistik Kristen, dasar Alkitabiah, pandangan para teolog dan ahli, serta kaitannya dengan praktik kebidanan berbasis bukti, esai ini hendak memperlihatkan bahwa nilai-nilai iman Kristen bukan sesuatu yang asing atau bertentangan dengan sains kesehatan modern, melainkan dapat memperkaya dan memberi landasan etis bagi cara bidan mengambil keputusan klinis yang bijaksana.
Menurut KBBI Pengertian Kasuistik adalah perekaman dan penelitian sebab-sebab (kasus-kasus) penyakit (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Kasuistik dalam teologi moral Kristen adalah metode penalaran etis yang menilai benar-salahnya suatu tindakan dengan menimbang prinsip moral umum bersama keadaan khusus dari kasus yang dihadapi, bukan dengan menerapkan aturan secara membabi-buta tanpa memperhatikan konteks. Jonsen dan Toulmin (1988) menelusuri akar praktik ini hingga ke tradisi pengakuan dosa dan bimbingan hati nurani dalam gereja mula-mula, yang kemudian berkembang menjadi metode ‘kasus paradigma’ (paradigm case), yaitu menilai kasus baru dengan membandingkannya pada kasus-kasus yang sudah jelas keputusan moralnya. Dalam tradisi Protestan, semangat yang sama tampak jelas dalam karya besar William Perkins (1606), The Whole Treatise of the Cases of Conscience, yang meletakkan dasar bagi apa yang disebut ‘case divinity’, yakni penerapan prinsip Alkitabiah secara langsung pada dilema hati nurani jemaat sehari-hari. Kasuistik Kristen, dengan demikian, bukan relativisme moral, melainkan kesetiaan pada kebenaran yang diterapkan secara jujur pada realitas hidup manusia yang konkret dan berubah-ubah.
Titik temu ini semakin jelas ketika ditelaah melalui konsep kebijaksanaan praktis, yang dalam filsafat Yunani disebut phronesis dan dalam teologi Latin disebut prudentia. Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae (II-II, qq. 47-56) menempatkan prudentia sebagai keutamaan yang memampukan seseorang menerapkan prinsip moral pada kasus-kasus khusus tanpa keliru, sehingga kebajikan lain seperti keadilan dan kasih dapat terwujud secara tepat dalam tindakan nyata. Devettere (2016), dalam karyanya Practical Decision Making in Health Care Ethics: Cases, Concepts, and the Virtue of Prudence, secara eksplisit menghubungkan metode kasuistik dengan keutamaan prudentia ini dalam pengambilan keputusan etis di dunia kesehatan. Sejalan dengan itu, Leathard dan Cook (2009) dalam Journal of Advanced Nursing menegaskan bahwa phronesis, yang di dalamnya melekat dimensi spiritual, merupakan unsur penting bagi tenaga kesehatan untuk mewujudkan asuhan yang holistik, termasuk dalam pelayanan kebidanan yang menyentuh aspek fisik, psikologis, sosial, sekaligus spiritual ibu dan bayinya.
Alkitab sendiri memperlihatkan pola penalaran kontekstual semacam ini. Kitab Amsal mengajarkan bahwa hikmat bukan hasil rekayasa manusia semata, melainkan pemberian Allah: “Sebab Tuhanlah yang memberikan hikmat” (Amsal 2:6). Rasul Yakobus bahkan mendorong orang percaya yang kekurangan hikmat untuk memintanya kepada Allah, yang memberi dengan murah hati (Yakobus 1:5). Hikmat Ilahi inilah yang menjadi dasar rohani dari kebijaksanaan praktis yang dibutuhkan bidan ketika menimbang bukti klinis di hadapan kasus nyata yang unik. Dalam Roma 14, Rasul Paulus menghadapi persoalan konkret jemaat mengenai makanan dan hari-hari tertentu, dan alih-alih memberi satu aturan kaku untuk semua orang, ia justru mengarahkan setiap orang untuk yakin benar dalam hati nuraninya sendiri di hadapan Tuhan (Roma 14:5). Pola ini adalah penalaran kasuistik yang otentik, yaitu prinsip iman yang sama diterapkan secara berbeda menurut keadaan hati nurani dan konteks masing-masing pribadi, sebagaimana EBP menghormati nilai dan preferensi tiap pasien secara individual.
Metode Yesus sendiri dalam mengajar sering kali bersifat kasuistik. Ketika seorang ahli Taurat bertanya secara abstrak, “Siapakah sesamaku manusia?” (Lukas 10:29), Yesus tidak menjawab dengan definisi teoretis, melainkan dengan sebuah kasus konkret, yaitu perumpamaan orang Samaria yang baik hatı (Lukas 10:30-37), yang kemudian menjadi semacam ‘kasus paradigma’ bagi umat Kristen sepanjang zaman dalam memahami makna kasih kepada sesama. Cara berpikir inilah yang oleh Jonsen dan Toulmin (1988) disebut sebagai inti dari penalaran kasuistik, yakni bergerak dari kasus konkret menuju pemahaman moral, bukan sebaliknya. Rasul Paulus pun menunjukkan kelenturan kontekstual yang sama ketika ia menyatakan dirinya rela ‘menjadi segala-galanya bagı semua orang’ demi menjangkau mereka dengan Injil (1 Korintus 9:19-23), sembari tetap setia pada kebenaran inti yang tidak berubah. Semangat inilah yang tercermin dalam praktik bidan Kristen yang menyesuaikan pendekatan komunikasi, edukasi, dan dukungan spiritualnya sesuai latar belakang budaya dan keyakinan tiap klien, tanpa mengorbankan standar keselamatan dan mutu asuhan yang berbasis bukti.
Landasan Alkitabiah yang paling langsung berbicara tentang profesi kebidanan itu sendiri terdapat dalam kitab Keluaran. Ketika Firaun memerintahkan Shifra dan Pua, dua bidan Ibrani, untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari perempuan Ibrani, keduanya tidak taat begitu saja pada perintah penguasa, melainkan bertindak berdasarkan penilaian moral atas keadaan konkret yang mereka hadapi di ruang bersalin, sehingga bayi-bayi itu dibiarkan hidup (Keluaran 1:15-21). Teks ini mencatat bahwa alasan tindakan mereka berpijak pada rasa takut akan Allah, bukan sekadar ketaatan formal pada aturan manusia, dan karena kesetiaan itu Allah berkenan kepada mereka. Kisah ini adalah salah satu “kasus paradigma tertua dalam Alkitab mengenai seorang penolong persalinan yang harus mengambil keputusan etis di tempat, dengan menimbang prinsip moral yang lebih tinggi (menghormati kehidupan) di hadapan tekanan otoritas dan keadaan nyata di lapangan. Pola pengambilan keputusan Shifra dan Pua ini secara langsung mencerminkan apa yang dituntut oleh EBP masa kini dari seorang bidan, yaitu tidak sekadar menjalankan protokol secara kaku, melainkan menimbangkannya secara bijaksana terhadap situasi konkret dan keselamatan pasien yang dihadapi, sebagaimana misalnya pedoman asuhan persalinan dari World Health Organization (WHO) tetap menuntut penyesuaian klinis pada kondisi khusus tiap ibu dan bayi (World Health Organization, 2018).
Kaitan antara kasuistik moral Kristen dan EBP menjadi sangat nyata dalam praktik kebidanan sehari-hari. Setiap ibu yang datang untuk bersalin membawa riwayat obstetri, kondisi fisik, keadaan psikologis, serta nilai dan keyakinan spiritual yang berbeda-beda, sehingga tidak ada satu pun pedoman klinis yang dapat diterapkan secara seragam tanpa penyesuaian. Bidan yang menjalankan EBP dituntut untuk menimbang bukti riset terbaik bersama keahlian klinisnya, lalu mendudukkannya berdampingan dengan nilai dan preferensi ibu yang dilayani, persis sebagaimana penalaran kasuistik Kristen menimbang prinsip moral umum bersama keadaan khusus tiap kasus hati nurani. Kerendahan hati epistemik untuk tidak menggeneralisasi secara kaku, penghormatan terhadap martabat pribadi yang dihadapi, dan kebijaksanaan praktis dalam mengambil keputusan, adalah tiga nilai yang sama-sama menjadi jantung dari kasuistik moral Kristen dan metodologi Evidence-Based Practice, sehingga keduanya bukan berdiri berhadapan melainkan saling mencerminkan.
Kasuistik moral Kristen dan Evidence-Based Practice dalam asuhan kebidanan, meskipun lahir dari tradisi yang berbeda, yaitu teologi moral dan sains kesehatan, ternyata berbagi semangat metodologis yang sama: keduanya menolak penerapan prinsip secara kaku dan seragam, serta menuntut kebijaksanaan praktis untuk memadukan kebenaran atau bukti yang bersifat umum dengan keadaan konkret dan nilai pribadi tiap kasus yang dihadapi. Alkitab, sejak Amsal hingga perumpamaan Yesus dan tulisan Rasul Paulus, memperlihatkan pola penalaran berbasis kasus yang setia pada kebenaran namun peka terhadap konteks, sebagaimana ditegaskan pula oleh para teolog seperti Thomas Aquinas dan William Perkins. Dengan demikian, semangat kasuistik moral Kristen tidak bertentangan dengan metodologi EBP, melainkan dapat menjadi landasan etis dan spiritual yang memperkaya cara bidan mengambil keputusan klinis yang bijaksana, holistik, dan berpusat pada martabat setiap ibu dan bayi yang dilayaninya.
Alkitab: Terjemahan Baru. (2011). Lembaga Alkitab Indonesia. https://alkitab.sabda.org/
Aquinas, T. (2021). Summa theologica, part II-II (secunda secundae). Phoemixx Classics Ebooks. https://share.google/50AtG92VK14u0eYEH
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ke-5). Balai Pustaka. https://kbbi.web.id/kasuistik
Devettere, R. J. (2009). Practical decision making in health care ethics: Cases and concepts. Georgetown University Press. https://share.google/NciNcGeyQUw9AXfS5
Jonsen, A. R., & Toulmin, S. (1988). The abuse of casuistry: A history of moral reasoning. Univ of California Press. https://share.google/0Wi8YhUdnY982lCEN
Leathard, H. L., & Cook, M. J. (2009). Learning for holistic care: Addressing practical wisdom (phronesis) and the spiritual sphere. Journal of advanced nursing, 65(6), 1318-1327. https://share.google/pCttM2QJXlwJnU9k8
Perkins, W. The whole treatise of the cases of conscience, distinguished into three Bookes… Taught and deliuered by MW Perkins in his Holyday Lectures… now published together… by T. Pickering, etc. J. Legat. https://share.google/wVry54eYYnp6WBhm1
Peterson, C. B., Becker, C. B., Treasure, J., Shafran, R., & Bryant-Waugh, R. (2016). The three-legged stool of evidence-based practice in eating disorder treatment: research, clinical, and patient perspectives. BMC medicine, 14(1), 69. https://share.google/XCOhnn9uCnEBhFLuD
Sackett, D. L., Rosenberg, W. M., Gray, J. M., Haynes, R. B., & Richardson, W. S. (1996). Evidence based medicine: what it is and what it isn’t. bmj, 312(7023), 71-72. https://share.google/2awsuyOmkHFKl5Xha
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-RHR-18.12
Kontributor: Dewi Sartika Panjaitan
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Lingkungan kampus dapat dianggap sebagai cerminan masyarakat yang mengumpulkan individu dari beragam&nbs...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu persoalan mendasar yang masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan nasional Indonesia. P...

Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda hari ini. Di tengah notifikasi yang tak pern...

1. PENDAHULUAN Integritas memegang peranan yang tidak dapat diabaikan dalam upaya membangun pendidikan tinggi yang berkualitas dan mampu bersain...

1. PENDAHULUAN Diskusi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) seringkali dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama, terutama agama Islam. Sebagia...

Ide yang sangat cemerlang dewi, terimakasih ilmunya dewi
sangat bermanfaat…
semangatt!
Good good