Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Determinan Sosial Kesehatan dan Penyakit Tidak Menular Ditelaah dari Kacamata Islam

    • Sep 06 2026 • 75 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Transisi epidemiologi yang berlangsung di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir telah menggeser pola penyakit dari dominasi penyakit menular menuju peningkatan penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan kanker. Data menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada penduduk berusia di atas 18 tahun meningkat dari 25,8% menjadi 34,1%, sementara prevalensi diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 10,9% (Fajri, 2024). Peningkatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan sangat dipengaruhi oleh determinan sosial kesehatan, yaitu kondisi tempat seseorang dilahirkan, tumbuh, bekerja, tinggal, dan menua, yang membentuk gaya hidup, pola konsumsi, serta akses terhadap layanan kesehatan (World Health Organization, 2025).

    Pentingnya topik ini terletak pada kenyataan bahwa PTM kini menjadi penyebab kematian terbesar secara global, sementara pengendaliannya sangat bergantung pada perubahan perilaku dan perbaikan lingkungan sosial, bukan semata-mata pada intervensi medis kuratif (Centers for Disease Control and Prevention, 2024). Di sisi lain, Islam sebagai ajaran yang syamil (menyeluruh) memiliki pandangan komprehensif tentang pemeliharaan kesehatan yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis, sehingga relevan untuk dikaji sebagai kerangka nilai yang memperkuat upaya promotif dan preventif PTM. Esai ini bertujuan untuk menelaah keterkaitan antara determinan sosial kesehatan dan kejadian penyakit tidak menular, meninjaunya dari perspektif ajaran Islam, serta merumuskan implikasinya bagi praktik pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kebidanan dan kesehatan masyarakat.

    II. Pembahasan

    Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan determinan sosial kesehatan sebagai kondisi tempat seseorang lahir, tumbuh, bekerja, tinggal, dan menua, beserta seperangkat kekuatan dan sistem yang lebih luas yang membentuk kondisi kehidupan sehari-hari (World Health Organization, 2025). Determinan ini mencakup faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan fisik, serta akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, dan diperkirakan berkontribusi jauh lebih besar terhadap status kesehatan seseorang dibandingkan pelayanan medis semata (Centers for Disease Control and Prevention, 2024). Dengan kata lain, kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, tetapi juga oleh konteks sosial tempat ia menjalani kehidupannya sehari-hari.

    Kajian empiris di Kabupaten Banjarnegara memperlihatkan bahwa kejadian hipertensi dan diabetes melitus pada usia produktif berhubungan signifikan dengan kebiasaan merokok, riwayat keluarga, dan rendahnya aktivitas fisik (Fajri, 2024). Faktor-faktor tersebut pada dasarnya adalah cerminan dari determinan sosial: kebiasaan merokok sering terbentuk dari lingkungan pergaulan dan norma sosial, sementara rendahnya aktivitas fisik banyak dipengaruhi oleh jenis pekerjaan dan tata ruang perkotaan yang minim ruang gerak. Artinya, penyakit tidak menular bukan semata persoalan individu, melainkan hasil interaksi panjang antara pilihan personal dan struktur sosial di sekelilingnya.

    Islam memandang kesehatan bukan sekadar kondisi biologis, melainkan amanah ilahiah yang wajib dijaga dan bagian integral dari ibadah kepada Allah (Khafifah dkk., 2025). Dalam kerangka maqashid syariah yang dirumuskan Al-Ghazali, pemeliharaan kesehatan menempati posisi penting dalam hifdz an-nafs (memelihara jiwa), salah satu dari lima tujuan pokok syariat. Kajian tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang perintah menjaga kesehatan bahkan menemukan bahwa Al-Qur’an menawarkan paradigma kesehatan holistik yang mengintegrasikan empat dimensi manusia, yaitu jasad (fisik), nafs (psiko-emosional), aql (intelektual), dan ruh (spiritual), dengan empat prinsip dasar berupa pencegahan (al-wiqayah), keseimbangan (al-tawazun), kemurnian (al-thaharah), dan tanggung jawab (al-mas’uliyyah) (Aswan dkk., 2025).

    Prinsip keseimbangan tersebut secara eksplisit ditegaskan dalam firman Allah SWT pada Surah Al-A’raf ayat 31,

    ٌوَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ٰ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

    yang artinya “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini secara langsung relevan dengan patogenesis penyakit tidak menular, karena pola makan berlebihan yang tinggi gula, garam, dan lemak merupakan faktor risiko utama obesitas, hipertensi, dan diabetes melitus. Larangan berlebih-lebihan (israf) dalam ayat tersebut dapat dimaknai sebagai anjuran gizi seimbang yang, jika diterapkan secara konsisten dalam pola hidup masyarakat, berpotensi menekan angka kejadian PTM yang selama ini terus meningkat.

    Dimensi sosial dari kesehatan turut ditegaskan melalui kaidah fikih yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW,

    لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

    yang artinya “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Kaidah ini menjadi dasar etis bagi tanggung jawab kolektif dalam menjaga lingkungan sosial yang mendukung kesehatan bersama, misalnya larangan merokok di ruang publik yang berdampak pada perokok pasif, pentingnya sanitasi lingkungan, dan pengendalian polusi udara. Dengan demikian, hadis ini memperkuat konsep determinan sosial kesehatan bahwa kondisi lingkungan bersama turut menentukan derajat kesehatan setiap individu di dalamnya, sejalan dengan prinsip pencegahan (al-wiqayah) yang ditekankan dalam ajaran Islam (Aswan dkk., 2025).

    Konvergensi antara wisdom Qur’ani dan temuan ilmiah modern semakin menegaskan bahwa nilai-nilai spiritual dapat melengkapi pendekatan sekuler dalam promosi kesehatan (Aswan dkk., 2025). Prinsip tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa turut berperan penting, sebab kesehatan mental yang prima ikut memengaruhi kepatuhan seseorang terhadap pola hidup sehat, termasuk kesediaan untuk mengubah kebiasaan merokok, pola makan, dan aktivitas fisik yang menjadi determinan utama PTM (Khafifah dkk., 2025). Perspektif ini menunjukkan bahwa pendekatan kesehatan yang hanya berfokus pada aspek fisik tanpa mempertimbangkan dimensi spiritual dan sosial cenderung kurang efektif dalam jangka panjang.

    Dalam konteks implementasi pada praktik profesi kesehatan, khususnya pelayanan kebidanan dan kesehatan masyarakat, nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam edukasi kesehatan berbasis pendekatan spiritual, misalnya menyampaikan pesan gizi seimbang dengan merujuk pada anjuran tidak berlebihan dalam Al-Qur’an, serta mendorong deteksi dini PTM melalui program Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang melibatkan tokoh agama dan komunitas. Bidan dan tenaga kesehatan lain dapat memanfaatkan pendekatan keluarga dan komunitas yang bernuansa keagamaan untuk memperkuat kesadaran preventif, mengingat masyarakat Indonesia yang religius cenderung lebih menerima pesan kesehatan yang dikaitkan dengan nilai-nilai keimanan. Pendekatan integratif semacam ini berpotensi meningkatkan efektivitas program promotif dan preventif PTM di tingkat layanan primer.

    III. Penutup

    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa determinan sosial kesehatan, seperti kebiasaan merokok, pola makan, aktivitas fisik, dan lingkungan sosial, memiliki peran besar dalam meningkatnya kejadian penyakit tidak menular di Indonesia. Islam, melalui Al-Qur’an dan hadis, telah memberikan panduan preventif dan promotif yang selaras dengan prinsip kesehatan masyarakat modern, terutama melalui anjuran keseimbangan dalam pola makan dan larangan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, disarankan agar tenaga kesehatan, termasuk bidan, mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam program edukasi dan promosi kesehatan guna memperkuat upaya pengendalian penyakit tidak menular di tengah masyarakat yang religius.

    Daftar Pustaka

    Aswan, A. R., Abubakar, A., & Mardan. (2025). Pendidikan kesehatan dalam perspektif Al-Qur’an: Studi terhadap ayat-ayat tentang perintah menjaga kesehatan. Jurnal Ilmiah Edukatif, 11(2), 337–345. https://doi.org/10.37567/jie.v11i2.4450

    Al-Albani, M. N. (2008). Ringkasan shahih Bukhari (Jilid 3–4). Gema Insani.

    Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Social determinants of health (SDOH). https://www.cdc.gov/about/priorities/why-is-addressing-sdoh-important.html

    Fajri, U. N. (2024). Faktor determinan penyakit tidak menular (hipertensi dan diabetes melitus) pada usia produktif di Kabupaten Banjarnegara. Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 14(3), 615–633. https://doi.org/10.22487/preventif.v14i3.1007

    Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Khafifah, D., Rahmadani, N. F., & Latifah. (2025). Konsep kesehatan dalam perspektif Islam dan implementasinya pada pelayanan kesehatan modern. JIKES: Jurnal Ilmu Kesehatan, 4(1), 88–94. https://doi.org/10.71456/jik.v4i1.1515

    World Health Organization. (2025). Social determinants of health. https://www.who.int/health-topics/social-determinants-of-health

    Kontributor: Rini Ekamayanti

    Editor: Ahmad Ali, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Akhlak Sebagai Buah Keimanan: Refleksi B...

    by Anggun Aulia • Nov 04 2026

    I. Pendahuluan Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi kesehatan yang memiliki tanggung jaw...

    Sinergi Hukum Negara, Etika Profesi dan ...

    by Talitha Anindya Wardani • Nov 04 2026

    PENDAHULUAN Keperawatan merupakan profesi yang berperan sentral dalam sistem pelayanan kesehatan kar...

    Fitrah sebagai Dasar Perilaku Hidup Seha...

    by Amanda Febryana Putri • Nov 03 2026

    Pendahuluan Masalah gizi masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Survei Status Gi...

    Pelayanan Spiritual bagi Pasien Nifas se...

    by Jenita Br Surbakti • Nov 03 2026

    I. Pendahuluan Masa nifas merupakan masa yang penting bagi seorang perempuan karena setelah melahirk...

    Penghormatan Martabat Pasien Sebagai Wuj...

    by Zahratus Syifa • Nov 03 2026

    Pendahuluan Dalam konteks asuhan keperawatan, penghormatan terhadap martabat pasien bukan sekadar pr...

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Menjadi Saleh di Jalan Raya dan Ruang Siber: Re...

    1. PENDAHULUAN Beberapa waktu lalu, saya sempat tertahan agak lama di salah satu persimpangan jalan kota Palembang yang sedang padat-padatnya. D...

    01 Jun 2026

    Islam sebagai Way of Life: Antara Ideal Teologi...

    I. Pendahuluan Salah satu klaim terbesar yang dibawa Islam sejak kelahirannya di Jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi adalah klaim tentang kesempu...

    12 Jun 2026

    Penguatan Karakter Islami dalam Kehidupan Mahas...

    1. Pendahuluan Di tengah perkembangan era digital dan modernisasi yang semakin pesat, mahasiswa menghadapi banyak tantangan yang tidak hanya ber...

    Ghibthah Berhadapan dengan Hasad: Mengubah Riva...

    Pendahuluan Dunia kerja mempertemukan individu dengan latar belakang, kemampuan, target, dan kesempatan yang berbeda. Perbedaan tersebut secara ...

    05 Sep 2026

    Menjaga Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Bera...

    PENDAHULUAN Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman yang luar biasa. Kemajemukan suku, budaya, bahasa, dan agama bukanlah sebuah kebetulan...

    01 Jun 2026
    back to top