Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Sumber Daya Manusia Cerdas Tapi Tidak Beretika: Gagalkah Pendidikan Kita?

    May 27 2026199 Dilihat

    1. PENDAHULUAN

    Indonesia memiliki banyak sekali lulusan mahasiswa berkompeten. Namun di balik angka yang membanggakan itu, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: tingkat kepercayaan terhadap profesional muda di tempat kerja justru semakin dipertanyakan. Laporan Transparency International menempatkan Indonesia pada posisi yang masih memprihatinkan dalam indeks persepsi korupsi, sebuah cerminan bahwa kecerdasan intelektual yang tinggi belum berbanding lurus dengan integritas moral.

    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi digital, dunia kerja tidak hanya menuntut kompetensi teknis, melainkan juga karakter yang kokoh. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan maupun gelar akademik setinggi apapun. Agama, dalam hal ini Islam, telah lama mengajarkan bahwa bekerja adalah manifestasi dari iman dan Amanah sebuah tanggung jawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada atasan, tetapi kepada Sang Pencipta (Tasmara, 2002).

    Tulisan ini hadir untuk menawarkan perspektif dari kegelisahan atas kesenjangan antara prestasi akademik dan integritas karakter yang semakin terasa di dunia kerja Indonesia. Pertanyaan yang mendasar perlu diajukan: apakah sistem pendidikan kita telah sungguh-sungguh membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika?

    2. PERNYATAAN OPINI / TESIS

    Sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya berhasil mengintegrasikan pembentukan karakter dan nilai etika ke dalam proses pembelajaran secara holistik. Akibatnya, lahirlah generasi yang unggul secara intelektual namun lemah dalam integritas dan kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi kualitas sumber daya manusia di dunia kerja modern. Pembenahan mendesak diperlukan melalui penguatan pendidikan karakter berbasis nilai agama dan etika profesi di seluruh jenjang pendidikan.

    3. ARGUMEN ILMIAH

    3.1. Sistem Pendidikan Kita Masih Berorientasi pada Angka, Bukan Karakter

    Selama puluhan tahun, tolok ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia dominan diukur melalui nilai ujian, indeks prestasi kumulatif (IPK), dan peringkat akademik. Orientasi ini secara sistemis mendorong peserta didik untuk mengejar hasil akhir tanpa memperhatikan proses yang seharusnya membentuk karakter. Penelitian Lickona (1991) dalam bidang pendidikan karakter menegaskan bahwa sekolah yang hanya fokus pada kecerdasan kognitif tanpa menyentuh dimensi moral akan menghasilkan individu yang “pintar namun berbahaya” mampu menganalisis situasi secara cerdas, tetapi tidak memiliki kompas moral untuk mengarahkan kemampuannya.

    Di banyak institusi pendidikan Indonesia, mata pelajaran etika atau pendidikan karakter masih diperlakukan sebagai pelengkap, bukan inti kurikulum. Padahal, menurut Kemendikbudristek (2022), pembentukan profil pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia seharusnya menjadi prioritas utama bukan sekadar tujuan normatif di atas kertas.

    3.2. Nilai Agama Sebagai Pondasi Etika Kerja yang Terabaikan

    Islam mengajarkan konsep etos kerja yang jauh melampaui sekadar produktivitas. QS. At-Taubah: 105 menegaskan bahwa setiap pekerjaan manusia disaksikan oleh Allah, Rasul, dan sesama mukmin sebuah landasan transendental yang seharusnya membentuk perilaku berintegritas tanpa perlu pengawasan eksternal. Tasmara (2002) dalam Etos Kerja Pribadi Muslim menyebut konsep ini sebagai “kerja sebagai ibadah”: ketika seseorang menghayati bahwa pekerjaannya adalah amanah ilahiah, ia tidak akan berlaku curang meski tidak ada yang melihat.

    Sayangnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah kita masih banyak yang berhenti pada hafalan teks dan ritual formal. Dimensi penghayatan nilai bagaimana ajaran agama diterapkan nyata dalam konteks profesional dan kehidupan kerja sering kali tidak tersentuh. Akibatnya, mahasiswa yang hafal ratusan ayat bisa saja menjadi karyawan yang manipulatif, karena internalisasi nilai tidak pernah benar-benar terjadi.

    3.3. Era Digital Memperparah Krisis Integritas

    Transformasi digital membawa tantangan baru: kemudahan teknologi membuka peluang penyimpangan yang lebih canggih dan sulit terlacak. Manipulasi data, plagiarisme akademik, hingga penipuan digital semakin marak di kalangan generasi muda terdidik. Masykur dan Wijaya (2023) dalam kajian etika komunikasi digital menyatakan bahwa tanpa kompas moral yang kuat, teknologi justru menjadi alat amplifikasi perilaku tidak etis. Ironisnya, pelaku kejahatan digital sering kali adalah individu yang secara teknis cerdas, namun secara moral kosong.

    Ini membuktikan bahwa kecerdasan dan etika adalah dua hal yang harus dibangun bersamaan. Satu tanpa yang lain hanya menghasilkan manusia setengah jadi berbahaya dalam versi yang berbeda.

    4. DISKUSI / IMPLIKASI

    Krisis etika sumber daya manusia bukan hanya masalah individu, ini adalah masalah sistemik yang berdampak luas. Di level organisasi, rendahnya integritas karyawan berdampak pada meningkatnya biaya pengawasan, turunnya produktivitas, dan rusaknya budaya kerja. Di level nasional, SDM yang cerdas namun tidak beretika menjadi salah satu penyebab struktural mengapa korupsi dan penyimpangan masih sulit diberantas meski tingkat pendidikan terus meningkat.

    Implikasi dari opini ini setidaknya menyentuh tiga ranah. Pertama, kebijakan kurikulum perlu direformasi untuk menjadikan pendidikan karakter bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan ruh yang meresap ke dalam setiap disiplin ilmu. Dosen teknik seharusnya juga mengajarkan tanggung jawab moral dalam merancang sistem; dosen ekonomi seharusnya membahas konsekuensi etis di balik keputusan bisnis. Kedua, institusi keagamaan dan keluarga perlu bersinergi dengan sekolah untuk memastikan nilai-nilai agama tidak berhenti di hafalan, tetapi terwujud dalam perilaku nyata. Ketiga, dunia industri perlu aktif membangun budaya kerja yang menghargai integritas bukan hanya menuntut performa tanpa memperhatikan cara mencapainya.

    5. PENUTUP

    Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang diketahui seseorang, melainkan tentang siapa dirinya ketika tidak ada yang melihat. Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya mampu bersaing secara global, tetapi juga dapat dipercaya yang jujur bukan karena takut sanksi, yang disiplin bukan karena diawasi, dan yang bertanggung jawab karena memang itulah standar moralnya.

    Untuk itu, reformasi pendidikan yang mengintegrasikan nilai agama, etika profesi, dan pembentukan karakter secara holistik bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Karena pada akhirnya, bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang pintar, tetapi bangsa yang berintegritas. Dan integritas itu harus mulai dibangun dari bangku sekolah, bukan dari daftar sanksi di tempat kerja.

    REFERENSI

    Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books. https://www.amazon.com/Educating-Character-Schools-Respect-Responsibility/dp/0553370529

    Masykur, R., & Wijaya, A. (2023). Etika komunikasi digital dalam perspektif Islam: Studi analisis nilai-nilai moderasi beragama. Jurnal Muttaqien, 4(1), 1–15. https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jurnal-muttaqien/article/view/19895

    Tasmara, T. (2002). Membudayakan etos kerja Islami. Gema Insani Press. https://www.goodreads.com/book/show/6453845-membudayakan-etos-kerja-islami

    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Kemendikbudristek. https://kurikulum.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2022/06/Panduan-P5.pdf

    Kontributor: Ridha Ayna Zahra

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan Sebagai...

    by M. Fariz Al Farezi Jun 17 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...

    AGAMA DAN KEWARGANEGARAAN

    by Achmad Arzaqi Jun 16 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...

    Toleransi Beragama dalam Masyarakat Mult...

    by M. Miftahul Huda Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....

    KONSEP KETUHANAN DAN KEIMANAN

    by M. Hafiidh Ghoniyy Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...

    Mengindonesiakan Islam: Menyelaraskan Ag...

    by Muhammad Davidio Hazel Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...

    Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificia...

    by Randy Tri Gustira Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Penguatan Karakter Islami Sebagai Solusi Krisis...

    PENDAHULUAN Pendidikan karakter Islami adalah fondasi utama terciptanya individu dengan moral, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini me...

    30 May 2026

    Kebijakan Whistleblower: Sudahkah Melindungi De...

    1.  PENDAHULUAN Korupsi adalah masalah bersama yang dihadapi negara-negara didunia. Korupsi menjadi kanker yang merusak pembangunan sebuah ...

    28 Apr 2026

    Dualitas Fungsi Abdullah dan Khalifah SebagaiKe...

    I. PENDAHULUAN Gizi merupakan bidang kesehatan yang berperan penting dalam mempertahankan kesehatan, mencegah penyakit, dan meningkatkan kualita...

    28 Aug 2026

    Masyarakat Madani dan Kepedulian Kesehatan Publ...

    I. Pendahuluan Kesehatan publik merupakan salah satu indikator utama kemajuan suatu bangsa yang tercermin dari derajat kesejahteraan fisik, ment...

    11 Sep 2026

    Implementasi Nilai-Nilai Ketuhanan dalam Pancas...

    Pendahuluan Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, baik dari segi suku, budaya, bahasa, maupun ...

    01 Jun 2026
    back to top