Salwa Alifia • Sep 06 2026 • 46 Dilihat

Ma’rifatullah merupakan proses mengenal Allah SWT melalui pemahaman, penghayatan, dan perenungan terhadap kebesaran serta kekuasaan-Nya. Dalam Islam, manusia diarahkan untuk mengenal Allah tidak hanya melalui ibadah, tetapi juga melalui wahyu dan perenungan terhadap berbagai tanda kebesaran-Nya. Salah satu bentuk wahyu tersebut adalah ayat qauliyah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an juga mengarahkan manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri dan proses penciptaannya. Salah satu ayat yang menggambarkan proses tersebut terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14, yang menyebut beberapa istilah seperti nutfah, ‘alaqah, dan mudhghah. Ayat-ayat tersebut kemudian menjadi objek kajian dalam diskusi mengenai hubungan Al-Qur’an dengan ilmu embriologi. Kajian Hasanudin (2018) membahas konsep embrio manusia perspektif Al-Qur’an dan sains melalui QS. Al-Mu’minun ayat 12–14, sedangkan Hidayati et al. (2025) mengkaji integrasi tafsir Al-Qur’an dengan embriologi modern pada ayat yang sama.
Perkembangan embriologi modern memberikan penjelasan ilmiah mengenai proses perkembangan manusia sejak fertilisasi hingga pembentukan organ dan sistem tubuh. Moore et al. (2019) menjelaskan bahwa perkembangan manusia berlangsung melalui tahapan yang kompleks dan teratur. Perkembangan kajian tersebut kemudian mendorong munculnya pembahasan I’jaz ‘Ilmi, yaitu kajian mengenai hubungan antara ayat Al-Qur’an dan fenomena ilmiah. Namun, hubungan antara Al-Qur’an dan sains perlu dikaji secara kritis agar tidak terjadi pemaksaan teori ilmiah modern ke dalam teks Al-Qur’an. Oleh karena itu, kajian embriologi dalam Al-Qur’an lebih tepat digunakan sebagai sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah sekaligus memperkaya wawasan ilmiah. Topik ini juga relevan bagi mahasiswa keperawatan karena pemahaman mengenai penciptaan dan perkembangan manusia dapat memperkuat penghargaan terhadap martabat, kehidupan, dan kebutuhan manusia secara holistik.
Esai ini bertujuan untuk memahami konsep ma’rifatullah melalui ayat qauliyah, mengkaji landasan Al-Qur’an dan hadis mengenai penciptaan manusia, memahami pandangan ulama dan ahli mengenai ayat-ayat embriologi, membandingkannya dengan pengetahuan embriologi modern, menganalisis konsep I’jaz ‘Ilmi secara kritis, serta menjelaskan relevansinya dalam praktik profesional keperawatan.
Ma’rifatullah berarti mengenal Allah SWT melalui kesadaran terhadap kebesaran, kekuasaan, dan tanda-tanda ciptaan-Nya. Dalam Islam, mengenal Allah tidak hanya dilakukan melalui ibadah, tetapi juga melalui perenungan terhadap diri manusia dan alam semesta. Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah mengajak manusia menggunakan akal untuk memperhatikan berbagai tanda kebesaran Allah, termasuk proses penciptaan manusia.
Salah satu ayat yang membahas penciptaan manusia terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Ayat tersebut menggunakan istilah nutfah, ‘alaqah, dan mudhghah untuk menggambarkan tahapan penciptaan manusia. Kajian mengenai hubungan antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan kemudian berkaitan dengan konsep I’jaz ‘Ilmi, yaitu kajian mengenai keistimewaan Al-Qur’an yang dikaitkan dengan berbagai fenomena ilmiah.
Hasanudin (2018) menjelaskan bahwa penciptaan manusia dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 dapat dikaji melalui perspektif Al-Qur’an dan sains. Namun, I’jaz ‘Ilmi perlu dipahami secara proporsional. Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk bagi manusia, bukan buku teks embriologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membantu memahami fenomena penciptaan manusia, tetapi teori ilmiah tidak seharusnya dipaksakan ke dalam makna ayat.
Landasan utama pembahasan penciptaan manusia terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ
Artinya: “Kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 13–14).
Ayat tersebut menggambarkan penciptaan manusia sebagai proses yang berlangsung secara bertahap. Istilah nutfah, ‘alaqah, dan mudhghah menunjukkan tahapan yang dapat menjadi bahan perenungan manusia terhadap kekuasaan Allah SWT.
Penjelasan mengenai penciptaan manusia juga terdapat dalam hadis Abdullah bin Mas‘ud r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ …
Artinya: “Sesungguhnya penciptaan setiap orang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama waktu yang sama, kemudian menjadi mudhghah selama waktu yang sama…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut memperkuat gambaran tentang tahapan penciptaan manusia. Dengan demikian, Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan keagamaan, sedangkan embriologi memberikan penjelasan mengenai perkembangan manusia dari perspektif biologis.
Pemahaman terhadap istilah nutfah, ‘alaqah, dan mudhghah perlu memperhatikan bahasa dan konteks ayat. Nutfah berkaitan dengan sesuatu yang sedikit atau setetes, ‘alaqah berkaitan dengan sesuatu yang melekat, sedangkan mudhghah menggambarkan sesuatu yang menyerupai segumpal daging. Hasanudin (2018) menunjukkan bahwa penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dapat dikaji melalui hubungan antara tafsir dan sains.
Hidayati et al. (2025) juga membahas integrasi penafsiran Al-Qur’an dengan embriologi modern pada QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Kajian tersebut menunjukkan bahwa ayat penciptaan manusia dapat menjadi ruang dialog antara pemahaman agama dan ilmu pengetahuan. Namun, keduanya tetap perlu dibedakan karena memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda.
Embriologi modern menjelaskan bahwa perkembangan manusia merupakan proses biologis yang berlangsung secara bertahap. Menurut Moore et al. (2019), proses tersebut dimulai dari fertilisasi, yaitu penyatuan sperma dan ovum yang menghasilkan zigot. Setelah itu terjadi pembelahan sel, perkembangan embrio, implantasi pada dinding rahim, pembentukan jaringan, serta perkembangan berbagai organ tubuh.
Tahapan tersebut dapat dibandingkan secara deskriptif dengan istilah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14. Makna ‘alaqah sebagai sesuatu yang melekat dapat dibandingkan dengan proses implantasi embrio pada dinding rahim. Sementara itu, mudhghah dapat menjadi bahan perbandingan dengan bentuk embrio pada tahap perkembangan tertentu. Hidayati et al. (2025) menunjukkan adanya hubungan yang dapat dikaji antara penafsiran ayat dan embriologi modern.
Walaupun demikian, embriologi modern mempunyai istilah, mekanisme, dan penjelasan yang jauh lebih rinci. Oleh sebab itu, hubungan antara Al-Qur’an dan embriologi sebaiknya dipahami sebagai kajian perbandingan dan refleksi, bukan sebagai kesamaan mutlak antara istilah Al-Qur’an dengan terminologi ilmiah modern.
Menurut penulis, kajian mengenai penciptaan manusia dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan ma’rifatullah. Proses perkembangan manusia yang kompleks dan berlangsung secara bertahap dapat mendorong manusia menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam hal ini, ilmu embriologi membantu manusia memahami proses tersebut dari sisi biologis, sedangkan Al-Qur’an memberikan dimensi spiritual yang mengarahkan manusia untuk merenungkan makna penciptaan.
Penulis berpandangan bahwa I’jaz ‘Ilmi tidak seharusnya hanya digunakan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an merupakan buku sains. Al-Qur’an memiliki fungsi utama sebagai petunjuk. Ilmu pengetahuan dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman dan refleksi terhadap ayat-ayat Allah tanpa memaksakan teori ilmiah tertentu ke dalam teks wahyu.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Al-Qur’an memberikan dasar spiritual dan nilai, sedangkan ilmu pengetahuan menjelaskan fenomena berdasarkan penelitian. Keduanya dapat digunakan secara seimbang untuk membentuk pemahaman yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga membangun kesadaran moral dan spiritual.
Kajian penciptaan manusia memiliki relevansi yang kuat dengan keperawatan karena manusia merupakan fokus utama pelayanan keperawatan. Kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT dapat membentuk sikap perawat untuk menghargai kehidupan, martabat, dan hak setiap pasien.
Dalam praktik keperawatan, nilai ma’rifatullah dapat diwujudkan melalui komunikasi terapeutik, menjaga privasi pasien, menghormati keyakinan dan kebutuhan spiritual, memberikan pelayanan tanpa diskriminasi, serta memperhatikan kebutuhan pasien secara holistik. Perawat juga perlu menggabungkan nilai spiritual dengan ilmu keperawatan berbasis bukti agar pelayanan tetap profesional.
Bagi mahasiswa keperawatan, pembahasan ini memberikan pemahaman bahwa merawat pasien bukan sekadar melakukan tindakan klinis, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral. Perawat dapat memberikan pelayanan dengan empati, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan demikian, kajian I’jaz ‘Ilmi mengenai embriologi dapat menjadi salah satu bentuk integrasi antara ilmu keperawatan dan nilai keislaman dalam memberikan asuhan yang ilmiah, manusiawi, dan bermartabat.
Ayat-ayat Al-Qur’an mengenai penciptaan manusia, khususnya QS. Al-Mu’minun ayat 12–14, memberikan gambaran mengenai proses penciptaan manusia melalui istilah nutfah, ‘alaqah, dan mudhghah. Hadis Nabi Muhammad SAW juga memperkuat pembahasan mengenai tahapan penciptaan manusia. Jika dibandingkan dengan embriologi modern, terdapat beberapa kesesuaian deskriptif yang dapat menjadi bahan dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Namun, kesesuaian tersebut tidak seharusnya dipaksakan menjadi kesamaan terminologi ilmiah. Dari perspektif ma’rifatullah, mempelajari proses penciptaan manusia dapat menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Dalam keperawatan, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui caring, komunikasi terapeutik, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pelayanan yang profesional dan holistik.
Kajian I’jaz ‘Ilmi perlu dilakukan secara kritis dengan menggunakan sumber Al-Qur’an, hadis, tafsir, jurnal ilmiah, dan textbook yang kredibel. Mahasiswa keperawatan diharapkan mampu mengintegrasikan nilai spiritual dengan ilmu kesehatan tanpa mencampuradukkan fungsi keduanya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat digunakan secara bertanggung jawab dan nilai keagamaan dapat menjadi landasan moral dalam memberikan pelayanan keperawatan.
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari.
Al-Qur’an. (2000). Al-Qur’an dan terjemahannya. Departemen Agama Republik Indonesia.
Hasanudin, M. (2018). Konsep embrio manusia prespektif Al-Qur’an dan sains (Kajian analisis QS. Al-Mu’minun ayat 12–14). Qaf: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 3(1), 1–31. https://ojs.unsiq.ac.id/index.php/qaf/article/view/2024
Hidayati, F., Aliffa, K. N., Candrika, A. R. A., & Lutfiyah, L. N. (2025). Integration of Qur’an interpretation and modern embryology: Study of Surah Al-Mu’minun verses 12–14. Al-Ulum: Jurnal Pemikiran dan Penelitian ke Islaman, 12(3), 252–261. https://doi.org/10.31102/alulum.12.3.2025.252-261
Moore, K. L., Persaud, T. V. N., & Torchia, M. G. (2019). The developing human: Clinically oriented embryology (11th ed.). Elsevier.
Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Sahih Muslim.
Kontributor: Salwa Alifia
Editor: Ahmad Ali, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

Pendahuluan Pelayanan kebidanan merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan perempuan, ibu, dan bayi sejak masa prakonsepsi, kehamila...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia. Berdasarkan data Transparenc...

1. Pendahuluan Pelayanan kebidanan merupakan salah satu pilar utama dalam sistem kesehatan masyarakat yang berfokus pada keselamatan ibu dan ana...

I. Pendahuluan Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia, namun akses terhadap layanan dan pengetahuan ke...

PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

No comments yet.