Febby Casandra Wijaya • Jun 07 2026 • 21 Dilihat

Pertanyaan mengenai siapa manusia dan untuk apa manusia hidup merupakan salah satu persoalan paling mendasar dalam sejarah pemikiran manusia. Sejak zaman kuno hingga era modern, manusia terus berusaha memahami hakikat dirinya, asal-usul keberadaannya, dan tujuan akhir kehidupannya. Berbagai disiplin ilmu seperti filsafat, psikologi, sosiologi, dan teologi berusaha memberikan jawaban atas persoalan tersebut. Namun demikian, agama tetap menjadi sumber utama yang memberikan penjelasan komprehensif mengenai makna dan tujuan hidup manusia.
Dalam perspektif agama, manusia tidak diciptakan secara kebetulan atau tanpa tujuan. Kehadiran manusia di dunia merupakan bagian dari rencana Tuhan yang mengandung makna, tugas, dan tanggung jawab tertentu. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan, diberi akal dan kebebasan memilih, serta dibebani amanah untuk menjalankan perannya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Konsep ini menjadikan kehidupan manusia memiliki arah yang jelas dan tidak sekadar berorientasi pada pemenuhan kebutuhan material semata.
Di era modern, kemajuan teknologi dan globalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun di sisi lain, berbagai persoalan seperti krisis identitas, hedonisme, materialisme, depresi, dan hilangnya makna hidup semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia membutuhkan landasan spiritual yang mampu memberikan arah dan tujuan hidup yang jelas. Agama berperan penting dalam menjawab kebutuhan tersebut karena menawarkan pandangan yang menyeluruh mengenai hakikat manusia dan tujuan penciptaannya.
Manusia menurut agama merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah, mengembangkan potensi kemanusiaannya, serta menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Pemahaman terhadap tujuan hidup tersebut menjadi fondasi utama bagi terbentuknya kehidupan yang bermakna, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebahagiaan dunia serta akhirat.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kedudukan istimewa dibandingkan makhluk lainnya. Dalam Islam, manusia diciptakan dengan kesempurnaan fisik dan spiritual serta diberikan akal untuk berpikir, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. At-Tin ayat 4.
Menurut Shihab (2017, hlm. 142), manusia memiliki tiga dimensi utama, yaitu dimensi jasmani, akal, dan ruhani. Ketiga dimensi tersebut harus berkembang secara seimbang agar manusia mampu menjalankan fungsi dan tujuan hidupnya secara optimal. Manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk biologis yang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki hubungan dengan Tuhan dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.
Yuliatun (2024) menjelaskan bahwa manusia dalam Islam memiliki kedudukan sebagai makhluk yang dimuliakan karena diberikan kemampuan berpikir, kebebasan memilih, dan amanah untuk mengelola kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah.
Tujuan hidup merupakan arah dan makna yang menjadi dasar seluruh aktivitas manusia. Dalam perspektif agama, tujuan hidup tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi tetapi juga keselamatan dan kebahagiaan akhirat. Islam menegaskan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana tercantum dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Konsep ibadah dalam Islam memiliki makna yang luas, meliputi seluruh aktivitas yang dilakukan sesuai dengan syariat dan diniatkan untuk memperoleh ridha Allah.
Al-Ghazali (2015, hlm. 58) menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan hakiki (sa’adah) melalui pengenalan kepada Allah, penyucian jiwa, dan pelaksanaan amal saleh. Oleh karena itu, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kualitas spiritual dan moral seseorang.
Dalam Islam, manusia memiliki dua peran utama, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai khalifah di bumi (khalifatullah fil ardh). Sebagai hamba, manusia berkewajiban beribadah dan menaati seluruh perintah Allah. Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab menjaga, mengelola, dan memakmurkan bumi.
Fatimah, Ahmad, dan Suhartini (2019) menjelaskan bahwa kedua peran tersebut tidak dapat dipisahkan karena tujuan hidup manusia bukan hanya membangun hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia dan lingkungan.
Makna hidup merupakan pemahaman individu mengenai alasan keberadaannya dan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan. Frankl (2006, hlm. 104) menyatakan bahwa kebutuhan paling mendasar manusia bukanlah kesenangan ataupun kekuasaan, melainkan menemukan makna hidup.
Dalam perspektif agama, makna hidup ditemukan melalui keyakinan bahwa kehidupan memiliki tujuan yang ditetapkan oleh Tuhan. Pemahaman tersebut memberikan motivasi, ketenangan batin, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Teori fitrah menjelaskan bahwa manusia sejak lahir memiliki potensi dasar untuk mengenal Tuhan dan menerima kebenaran. Menurut Al-Attas (1995, hlm. 88), fitrah merupakan keadaan asli manusia yang mengarahkan dirinya kepada nilai-nilai ketuhanan dan moralitas. Teori ini mendukung konsep bahwa pencarian tujuan hidup merupakan kebutuhan alamiah manusia karena dalam dirinya terdapat dorongan untuk memahami asal-usul dan tujuan keberadaannya.
Teori khalifah didasarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai wakil Allah di bumi. Menurut Al-Mawardi (2006, hlm. 27), konsep khalifah mengandung tanggung jawab untuk menjaga keadilan, memelihara lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Teori ini menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan ekologis.
Frankl (2006, hlm. 110) melalui teori logoterapi menjelaskan bahwa manusia selalu berusaha menemukan makna hidup. Kehidupan yang memiliki tujuan akan memberikan motivasi yang kuat dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan. Teori ini relevan dengan ajaran agama karena keduanya menekankan pentingnya tujuan hidup sebagai sumber motivasi, ketahanan mental, dan kebahagiaan manusia.
Menurut Hasan Langgulung (2003, hlm. 57), pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjalankan tugas sebagai hamba Allah serta khalifah di bumi. Teori ini mendukung pandangan bahwa tujuan hidup manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian individu, tetapi juga pembentukan karakter dan kontribusi terhadap masyarakat.
Penelitian Fatimah, Ahmad, dan Suhartini (2019) yang berjudul Konsep Tujuan Hidup Manusia: Tinjauan Teologis dalam Pendidikan Islam menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia menurut Islam mencakup dua dimensi utama, yaitu pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan fungsi khalifah di bumi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tujuan hidup berpengaruh terhadap pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, dan perilaku keagamaan individu.
Penelitian Hudaeri (2007) dalam artikel Agama dan Problem Makna Hidup menemukan bahwa agama memiliki peran penting dalam membantu manusia menemukan makna hidup dan mengatasi krisis eksistensial. Individu yang memiliki pemahaman religius yang baik cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup dan ketahanan psikologis yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang kehilangan orientasi spiritual.
Penelitian Ibrahim (2023) mengenai Konsep Tujuan Hidup Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang tujuan hidup manusia sebagai proses pengabdian kepada Allah yang diwujudkan melalui amal saleh, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kontribusi terhadap masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa tujuan hidup dalam Islam bersifat komprehensif karena mencakup aspek spiritual, sosial, dan moral.
Penelitian Yuliatun (2024) mengenai Manusia dan Tujuan Penciptaannya Menurut Pandangan Islam menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan berbagai potensi yang harus dikembangkan untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan. Pemahaman terhadap tujuan penciptaan manusia dinilai mampu meningkatkan kesadaran moral serta tanggung jawab sosial.
Selain itu, penelitian Aflakseir (2012) mengenai hubungan religiusitas dan makna hidup menunjukkan bahwa tingkat religiusitas yang tinggi berkorelasi positif dengan kemampuan individu menemukan tujuan hidup, optimisme, dan kesejahteraan psikologis. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa agama memiliki kontribusi penting dalam membentuk orientasi hidup manusia.
Penelitian King dan Boyatzis (2015) juga menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas berperan dalam pembentukan identitas, pengambilan keputusan, serta pencarian makna hidup, terutama pada generasi muda yang hidup di tengah perubahan sosial yang cepat. Agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem keyakinan, tetapi juga sebagai sumber nilai dan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Sementara itu, penelitian Mangunjaya (2011) mengenai etika lingkungan dalam perspektif Islam menjelaskan bahwa konsep manusia sebagai khalifah memiliki implikasi langsung terhadap tanggung jawab menjaga kelestarian alam. Penelitian tersebut menegaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan hidup.
Berdasarkan berbagai penelitian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penelitian menekankan tujuan hidup manusia dalam Islam sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, pencarian makna hidup, pengembangan potensi diri, dan pelaksanaan fungsi khalifah di bumi. Namun, penelitian-penelitian tersebut masih lebih banyak berfokus pada aspek teologis dan filosofis. Kajian mengenai relevansi tujuan hidup menurut agama dalam menghadapi tantangan kontemporer, seperti krisis identitas, materialisme, perkembangan teknologi digital, dan perubahan sosial global, masih relatif terbatas. Oleh karena itu, esai ini berupaya mengkaji tidak hanya konsep tujuan hidup menurut agama, tetapi juga relevansinya dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan modern.
Dalam Islam, manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki kedudukan mulia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik dan diberi kemampuan berpikir yang tidak dimiliki makhluk lain. Kemuliaan tersebut bukan sekadar keistimewaan, tetapi juga mengandung tanggung jawab yang besar.
Quraish Shihab (2017, hlm. 142) menjelaskan bahwa manusia memperoleh kemuliaan karena memiliki potensi untuk mengenal Tuhan, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai moral. Potensi tersebut menjadi pembeda utama antara manusia dan makhluk lainnya.
Penelitian mengenai konsep manusia dalam Islam menunjukkan bahwa manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk biologis, tetapi juga makhluk spiritual yang memiliki tujuan hidup yang melampaui kehidupan duniawi. Kehidupan manusia tidak berakhir dengan kematian, melainkan berlanjut menuju kehidupan akhirat yang menjadi tempat pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya.
Tujuan utama hidup manusia dalam Islam ditegaskan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ibadah dalam pengertian Islam tidak hanya terbatas pada ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah dan diniatkan untuk memperoleh ridha-Nya.
Al-Ghazali (2015, hlm. 58) menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah penghambaan total kepada Allah yang tercermin dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, belajar, bekerja, meneliti, membantu sesama, dan menjaga lingkungan juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Konsep ini menunjukkan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mencapai kesuksesan material, tetapi membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan melalui seluruh aktivitas kehidupannya.
Selain menunjukkan tanggung jawab manusia dalam mengelola bumi, konsep khalifah juga dapat dianalisis dalam konteks berbagai persoalan kontemporer. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, serta penyalahgunaan teknologi menunjukkan bahwa kemajuan manusia tidak selalu diikuti oleh tanggung jawab moral yang memadai. Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut mencerminkan belum optimalnya pelaksanaan fungsi manusia sebagai khalifah. Oleh karena itu, konsep khalifah tidak hanya memiliki makna teologis, tetapi juga menjadi landasan etis dalam menghadapi tantangan global saat ini. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan bersama, bukan sekadar memenuhi kepentingan ekonomi atau kelompok tertentu.
Dalam konteks modern, peran khalifah dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi yang berkeadilan, serta pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan umat.
Agama tidak hanya menjelaskan tujuan hidup, tetapi juga memberikan makna yang mendalam terhadap kehidupan manusia. Menurut Hudaeri (2007),problem makna hidup merupakan persoalan eksistensial yang selalu dihadapi manusia. Agama memberikan jawaban atas persoalan tersebut melalui nilai-nilai spiritual yang membantu manusia memahami keberadaannya dan tujuan hidupnya.
Frankl (2006, hlm. 112) menegaskan bahwa manusia dapat bertahan menghadapi berbagai kesulitan apabila memiliki alasan yang kuat untuk hidup. Dalam Islam, alasan tersebut terletak pada keyakinan bahwa kehidupan dunia merupakan bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat yang kekal.
Di era digital, krisis makna hidup juga semakin terlihat melalui meningkatnya gaya hidup konsumtif, budaya pencitraan di media sosial, dan kecenderungan mengukur keberhasilan berdasarkan materi. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan spiritual manusia. Dalam konteks tersebut, tujuan hidup menurut agama menjadi relevan karena memberikan orientasi yang lebih luas daripada sekadar pencapaian duniawi. Pemahaman bahwa manusia adalah hamba Allah dan khalifah di bumi dapat menjadi pedoman dalam menggunakan teknologi secara bijaksana, menjaga keseimbangan hidup, serta membangun kehidupan yang bermakna dan bertanggung jawab.
Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai tujuan hidup dapat menjadi motivasi untuk belajar secara sungguh-sungguh, mengembangkan karakter yang baik, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hakikat manusia menurut agama, khususnya Islam, adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki dimensi jasmani, akal, dan ruhani serta diberi kedudukan mulia sebagai hamba dan khalifah di bumi. Tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah dan mengabdikan seluruh potensi yang dimilikinya untuk memperoleh ridha-Nya. Sebagai hamba, manusia berkewajiban menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sedangkan sebagai khalifah manusia bertanggung jawab menjaga, mengelola, dan memakmurkan bumi secara adil dan berkelanjutan. Dalam kehidupan modern yang ditandai oleh perkembangan teknologi, globalisasi, dan berbagai krisis makna hidup, pemahaman terhadap tujuan hidup menurut agama tetap relevan karena mampu memberikan arah, nilai moral, serta landasan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Dengan demikian, tujuan hidup menurut agama tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, dan pembangunan peradaban yang lebih baik.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. ISTAC.
Aflakseir, A. (2012). Religiosity, Personal Meaning, and Psychological Well-Being. Journal of Social Sciences.
Al-Ghazali. (2015). Ihya Ulumuddin. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah.
Al-Mawardi. (2006). Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah. Dar Al-Hadith.
Fatimah, I. F., Ahmad, N., & Suhartini, A. (2019). Konsep tujuan hidup manusia: Tinjauan teologis dalam pendidikan Islam. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 8(1). https://doi.org/10.36667/jppi.v8i1.433
Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
Hudaeri, M. (2007). Agama dan problem makna hidup. Al Qalam, 24(2). https://doi.org/10.32678/alqalam.v24i2.1633
Ibrahim, A. (2023). Konsep tujuan hidup manusia dalam perspektif Al-Qur’an. Basha’ir: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir, 3(2). https://doi.org/10.47498/bashair.v3i2.2552
King, P. E., & Boyatzis, C. J. (2015). Religious and Spiritual Development. Handbook of Child Psychology and Developmental Science.
Langgulung, H. (2003). Asas-Asas Pendidikan Islam. Pustaka Al Husna.
Mangunjaya, F. M. (2011). Developing Environmental Awareness and Conservation Through Islamic Teaching. Journal of Islamic Studies.
Shihab, M. Q. (2017). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Yuliatun, S. (2024). Manusia dan tujuan penciptaannya menurut pandangan Islam. Journal J-MPI: Jurnal Manajemen Pendidikan, Penelitian dan Kajian Keislaman, 3(1), 45–51. https://doi.org/10.63353/journaljmpi.v3i1.294
Kontributor:Â Febby Casandra Wijaya
Editor:Â M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
Dilema Mahasiswa Muslim di Era Kecerdasan Buatan 1. PENDAHULUAN Perkembangan kecerdasan buatan (Arti...
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubaha...
Saatnya Kita Ngomongin Soal Etika 1. PENDAHULUAN Pernah nggak sih kamu ngeliat seseorang yang skilln...
Ketika Nilai Agama Jadi Fondasi Karier 1. PENDAHULUAN Bayangkan kamu baru saja lulus, dapat kerja pe...
Tinjauan Aksiolologis Hukum Islam/Kristen terhadap Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pengambi...
Harmoni Nilai Ketuhanan dalam Dasar Negara Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mer...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan struktural yang terus menghantui banyak negara, termasuk Indonesia. Meskipun berbagai k...

Kajian Tafsir atas Kedudukan Basmalah sebagai Inti Surah Al-Fatihah ABSTRAK Kajian ini membahas tiga persoalan pokok: pertama, bagaimana para ul...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia sejak lama dan hingga kini belum sepenuh...

1. PENDAHULUAN Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada masyarakat yang ditemukan hidup sepenuhnya tanpa dimensi religius. Sejak penemuan ...

1. PENDAHULUAN Indonesia memiliki banyak sekali lulusan mahasiswa berkompeten. Namun di balik angka yang membanggakan itu, muncul fenomena yang ...

No comments yet.