Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Compassion dan Rahmah: Integrasi Nilai Islam dalam Patient Centered Care Kardiovaskular

    Aug 30 202687 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu kelompok penyakit yang memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup dan keselamatan pasien. Kondisi seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gangguan kardiovaskular lainnya membutuhkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada diagnosis dan terapi, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis, sosial, spiritual, serta nilai dan preferensi pasien. Dalam praktik pelayanan kesehatan modern, pendekatan tersebut dikenal sebagai Patient Centered Care (PCC), yaitu pelayanan yang menempatkan pasien sebagai individu yang aktif dalam proses pengambilan keputusan mengenai kesehatannya. Pendekatan PCC menekankan komunikasi yang baik, penghargaan terhadap pilihan pasien, keterlibatan keluarga, koordinasi pelayanan, serta hubungan terapeutik antara tenaga kesehatan dan pasien (Epstein & Street, 2011).

    Dalam konteks pelayanan kesehatan yang berlandaskan nilai Islam, PCC dapat diperkuat melalui penerapan compassion dan rahmah. Compassion dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menyadari penderitaan orang lain, merasakan kepedulian, dan terdorong untuk memberikan bantuan yang tepat. Sementara itu, rahmah memiliki makna kasih sayang, kelembutan, kepedulian, dan belas kasih yang menjadi bagian penting dari ajaran Islam. Integrasi kedua nilai tersebut sangat relevan dalam pelayanan kardiovaskular karena pasien sering menghadapi rasa takut, kecemasan, perubahan gaya hidup, keterbatasan aktivitas, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa. Esai ini membahas bagaimana compassion dan rahmah dapat diintegrasikan ke dalam PCC kardiovaskular serta penerapannya dalam pelayanan kebidanan.

    II. Pembahasan

    Patient Centered Care memandang pasien bukan sekadar objek penyakit, melainkan manusia yang memiliki kebutuhan fisik, emosional, sosial, budaya, dan spiritual. Menurut Mead dan Bower (2000), pelayanan yang berpusat pada pasien mencakup perspektif biopsikososial, pemahaman terhadap pengalaman pasien mengenai penyakit, serta keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan tidak hanya ditentukan oleh ketepatan tindakan medis, tetapi juga oleh kemampuan tenaga kesehatan membangun hubungan yang menghargai martabat pasien. Dalam pelayanan kardiovaskular, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan mendengarkan keluhan pasien secara aktif, menjelaskan kondisi dan pilihan terapi menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menghargai keputusan pasien, serta melibatkan keluarga sesuai dengan keinginan pasien.

    Nilai compassion memperkuat hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien. Pasien dengan penyakit kardiovaskular dapat mengalami kecemasan mengenai risiko serangan jantung, kematian, ketergantungan obat, perubahan pola makan, atau keterbatasan aktivitas. Apabila tenaga kesehatan hanya berfokus pada tekanan darah, denyut jantung, hasil pemeriksaan laboratorium, atau pemberian obat, aspek emosional pasien dapat terabaikan. Sikap compassion mendorong tenaga kesehatan untuk melihat pasien secara utuh. Bentuk sederhananya dapat berupa mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan respons empatik terhadap ketakutan pasien, menggunakan komunikasi yang lembut, serta memberikan dukungan ketika pasien mengalami kesulitan dalam menjalankan perubahan gaya hidup.

    Secara ilmiah, hubungan interpersonal yang baik merupakan bagian penting dari kualitas pelayanan kesehatan. Rathert et al (2013) menjelaskan bahwa patient-centered care berkaitan dengan pengalaman pasien yang lebih baik dan dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas pelayanan. Oleh karena itu, compassion bukan hanya persoalan keramahan, tetapi dapat menjadi bagian dari kompetensi profesional tenaga kesehatan. Dalam pelayanan kardiovaskular, komunikasi penuh empati dapat membantu pasien memahami faktor risiko, meningkatkan motivasi untuk menjalani terapi, dan membangun kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.

    Dalam Islam, prinsip kasih sayang memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:

    ูˆูŽู…ูŽุข ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽูฐูƒูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู‘ู„ู’ุนูŽูฐู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

    Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019).

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa rahmah merupakan salah satu karakter utama yang melekat pada ajaran Islam. Dalam konteks pelayanan kesehatan, nilai rahmah dapat diterjemahkan sebagai komitmen untuk memberikan pelayanan yang penuh kepedulian, menghormati martabat manusia, dan berusaha mengurangi penderitaan. Tenaga kesehatan Muslim tidak hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga dapat memandang pelayanan kepada pasien sebagai bentuk pengabdian dan amal kebaikan.

    Prinsip tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad saw.:

    ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูุฑู’ุญูŽู…ู’

    Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi. (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadis ini memberikan pesan bahwa kasih sayang merupakan nilai yang harus diwujudkan dalam perilaku. Dalam pelayanan kesehatan, seorang bidan atau tenaga kesehatan hendaknya tidak membedakan kualitas pelayanan berdasarkan status sosial, tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, ataupun latar belakang pasien. Setiap pasien memiliki hak untuk memperoleh pelayanan yang aman, bermartabat, dan penuh penghormatan.

    Islam juga mengajarkan pentingnya kelembutan dalam berinteraksi. Rasulullah saw. bersabda:

    ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฑูŽูููŠู‚ูŒ ูŠูุญูุจูู‘ ุงู„ุฑูู‘ูู’ู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ูƒูู„ูู‘ู‡ู

    Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan. (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadis tersebut memiliki relevansi langsung dengan komunikasi terapeutik. Kelembutan dalam berbicara dapat membantu pasien merasa aman dan dihargai. Sebaliknya, komunikasi yang kasar, terburu-buru, atau menghakimi dapat meningkatkan kecemasan dan membuat pasien enggan menyampaikan keluhan secara terbuka. Dengan demikian, rahmah dapat menjadi landasan etis bagi penerapan komunikasi yang berpusat pada pasien.

    Integrasi compassion dan rahmah dalam pelayanan kardiovaskular juga memiliki hubungan dengan konsep menjaga jiwa (hifz al-nafs) dalam maqashid al-shariah. Menjaga kehidupan merupakan salah satu tujuan penting syariat Islam. Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 32 Allah Swt. berfirman:

    ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู‡ูŽุง ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ูŠูŽุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง

    Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019).

    Ayat ini memberikan landasan moral bahwa upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan manusia memiliki nilai yang sangat penting. Pencegahan dan pengendalian penyakit kardiovaskular, edukasi mengenai pola hidup sehat, pemantauan faktor risiko, serta rujukan yang tepat dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan.

    Penerapan nilai tersebut juga penting dalam pelayanan kebidanan. Kehamilan merupakan kondisi fisiologis, tetapi perubahan kardiovaskular selama kehamilan dapat memperberat penyakit jantung atau hipertensi yang telah ada maupun memunculkan komplikasi tertentu. Bidan memiliki peran penting dalam melakukan pengkajian, mengenali tanda bahaya, memberikan edukasi, melakukan pemantauan sesuai kewenangan, dan merujuk pasien apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dalam konteks ini, PCC menuntut bidan untuk melibatkan perempuan dalam proses pelayanan, menghormati pilihan dan keyakinannya, serta memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi kesehatan dirinya dan janinnya.

    Misalnya, seorang ibu hamil dengan hipertensi dan faktor risiko penyakit kardiovaskular mungkin merasa takut terhadap kemungkinan komplikasi. Pendekatan yang hanya berorientasi pada angka tekanan darah dapat membuat pasien merasa tidak dipahami. Sebaliknya, bidan yang menerapkan compassion akan mendengarkan kekhawatiran pasien, menjelaskan kondisi secara sederhana, memberikan kesempatan bertanya, serta membantu pasien memahami alasan pemantauan dan rujukan. Nilai rahmah kemudian diwujudkan melalui sikap lembut, tidak menghakimi, menjaga privasi dan aurat, serta menghormati kebutuhan spiritual pasien. Jika pasien menghendaki dukungan keluarga atau praktik keagamaan yang tidak bertentangan dengan keselamatan medis, tenaga kesehatan dapat mengakomodasinya secara profesional.

    Integrasi nilai Islam juga tidak berarti menggantikan bukti ilmiah dengan pendekatan spiritual. Sebaliknya, nilai agama dan ilmu kesehatan dapat berjalan secara harmonis. Intervensi kardiovaskular tetap harus berdasarkan bukti ilmiah, standar profesi, keselamatan pasien, serta kewenangan tenaga kesehatan. Compassion dan rahmah memberikan dimensi kemanusiaan dan spiritual sehingga penerapan ilmu tersebut tidak kehilangan orientasi pada martabat pasien. Dengan demikian, pelayanan yang ideal adalah pelayanan yang kompeten secara ilmiah sekaligus manusiawi secara moral.

    Tenaga kesehatan juga perlu menghindari pemaksaan nilai agama kepada pasien. Rahmah justru menuntut penghormatan terhadap manusia dan pemberian pelayanan secara bijaksana. Edukasi spiritual dapat diberikan apabila sesuai dengan kebutuhan dan persetujuan pasien. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip PCC yang menempatkan preferensi dan kebutuhan pasien sebagai bagian penting dalam proses pelayanan (Epstein & Street, 2011). Dengan demikian, integrasi nilai Islam harus dilakukan secara inklusif, etis, dan tetap berorientasi pada keselamatan.

    Pada akhirnya, compassion dan rahmah dapat membentuk karakter tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil melakukan tindakan klinis, tetapi juga mampu menghadirkan rasa aman, dihargai, dan didengarkan. Dalam pelayanan kardiovaskular, kualitas hubungan tersebut dapat mendukung keterlibatan pasien dalam perawatan dan membantu membangun kepercayaan. Bagi profesi kebidanan, penerapan nilai ini menjadi semakin penting karena bidan berinteraksi dengan perempuan dan keluarga dalam berbagai tahapan kehidupan, termasuk ketika terdapat risiko kardiovaskular selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas.

    III. Penutup

    Compassion dan rahmah merupakan dua nilai yang dapat memperkuat penerapan Patient Centered Care dalam pelayanan kardiovaskular. Compassion menekankan kepedulian terhadap penderitaan pasien dan dorongan untuk memberikan bantuan yang tepat, sedangkan rahmah memberikan landasan spiritual dan moral berupa kasih sayang, kelembutan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan upaya menjaga kehidupan. Integrasi keduanya tidak menggantikan prinsip ilmiah, tetapi melengkapinya dengan pendekatan yang lebih holistik. Dalam pelayanan kebidanan, penerapan nilai tersebut dapat diwujudkan melalui komunikasi terapeutik, penghormatan terhadap privasi dan keyakinan pasien, keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan, edukasi kesehatan, deteksi dini faktor risiko kardiovaskular, serta rujukan yang tepat. Dengan demikian, pelayanan kesehatan dapat menjadi pelayanan yang tidak hanya aman dan berbasis bukti, tetapi juga penuh empati, kasih sayang, dan sesuai dengan nilai kemanusiaan serta ajaran Islam.

    Daftar Pustaka

    American College of Obstetricians and Gynecologists. (2019). ACOG Practice Bulletin No. 202: Gestational hypertension and preeclampsia. Obstetrics & Gynecology, 133(1), e1โ€“e25.

    Epstein, R. M., & Street, R. L. (2011). The values and value of patient-centered care. Annals of Family Medicine, 9(2), 100โ€“103. https://doi.org/10.1370/afm.1239

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Mead, N., & Bower, P. (2000). Patient-centredness: A conceptual framework and review of the empirical literature. Social Science & Medicine, 51(7), 1087โ€“1110. https://doi.org/10.1016/S0277-9536(00)00098-8

    Rathert, C., Wyrwich, M. D., & Boren, S. A. (2013). Patient-centered care and outcomes: A systematic review of the literature. Medical Care Research and Review, 70(4), 351โ€“379. https://doi.org/10.1177/1077558712465774

    World Health Organization. (2021). Cardiovascular diseases (CVDs). World Health Organization.

    Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Sahih al-Bukhari. Dar Ibn Kathir.

    Muslim, I. (n.d.). Sahih Muslim. Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.

    Kontributor:ย Rosiyanda Putri Jelita

    Editor:ย M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

    by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Keberagaman Budaya: Kekayaan Atau Tantangan?

    PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keberagaman budaya tertinggi di dunia. Dengan lebih dari 1.300 suku bangsa, leb...

    11 Apr 2026

    JANGAN TUNGGU KONFLIK

    Membangun Toleransi Sebelum Terlambat 1. PENDAHULUAN Pernah nggak kamu baru sadar ada kebocoran di atap rumah justru pas hujan deras? Baru panik...

    11 Jun 2026

    Strategi Penyuluhan Anti Korupsi Berbasis Nilai...

    1. PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia masih menjadi tantangan struktural yang menghambat pemerataan kesejahteraan dan kualitas layanan publik. Mas...

    12 Apr 2026

    Harmoni Transendental: Menggagas Persatuan di T...

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemajemukan tertinggi di dunia, sebuah mozaik demografis yang menaungi ratus...

    Metode dan Media Penyuluhan Anti Korupsi: Ruang...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia. Berdasarkan data Transparenc...

    back to top