Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Semangat Iqra’ sebagai Fondasi Budaya Belajar sepanjang Hayat bagi Profesi Ahli Gizi

    Sep 01 202632 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah shalat, puasa, atau ibadah ritual lainnya, melainkan satu kata yang sederhana namun sarat makna: “Iqra'” bacalah. Perintah ini turun di Gua Hira dan menjadi titik awal risalah kenabian sekaligus fondasi peradaban Islam yang sejak awal menempatkan ilmu pengetahuan pada posisi yang sangat mulia. Iqra’ bukan sekadar perintah membaca huruf demi huruf, melainkan sebuah seruan untuk mengamati, memahami, merenungi, dan terus-menerus mencari kebenaran melalui proses belajar yang tidak pernah berhenti. Semangat inilah yang kemudian melahirkan tradisi keilmuan besar dalam sejarah Islam, mulai dari lahirnya para ilmuwan muslim di bidang kedokteran, astronomi, matematika, hingga ilmu-ilmu keagamaan.

    Semangat iqra’ ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tuntutan profesi di era modern, termasuk profesi ahli gizi. Ilmu gizi merupakan disiplin ilmu yang terus berkembang pesat seiring kemajuan riset di bidang biomedis, teknologi pangan, dan kesehatan masyarakat. Pedoman gizi, rekomendasi asupan, serta pendekatan intervensi gizi senantiasa diperbarui berdasarkan bukti ilmiah terkini (evidence-based practice). Oleh karena itu, seorang ahli gizi yang berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formalnya berisiko memberikan pelayanan yang tidak lagi relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Esai ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana semangat iqra’ sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis dapat menjadi fondasi spiritual dan filosofis bagi terbentuknya budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) di kalangan profesi ahli gizi, serta bagaimana nilai tersebut berimplikasi pada kualitas pelayanan gizi kepada masyarakat.

    II. Pembahasan

    Perintah iqra’ pertama kali termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1 hingga 5, yang berbunyi:

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5)

    Ayat ini menegaskan bahwa proses belajar (iqra’) selalu berkaitan erat dengan penyandaran diri kepada Allah SWT sebagai sumber segala ilmu. Kata iqra’ dalam bentuk fi’il amr (kata kerja perintah) yang diulang dua kali menunjukkan penekanan bahwa membaca dan belajar bukan aktivitas sesekali, melainkan proses yang harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Ayat kelima, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”, mengandung pesan bahwa ilmu manusia bersifat terbatas dan senantiasa dapat bertambah selama manusia mau membuka diri terhadap proses pembelajaran baru. Prinsip ini sangat relevan dengan hakikat ilmu gizi yang terus berkembang; apa yang dianggap sebagai rekomendasi terbaik hari ini bisa jadi diperbarui oleh temuan penelitian di masa mendatang.

    Semangat belajar sepanjang hayat ini diperkuat oleh sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu hadis yang masyhur menyebutkan:

    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

    “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

    Hadis ini menegaskan bahwa aktivitas menuntut ilmu memiliki kedudukan sebagai kewajiban (fardhu), bukan sekadar anjuran yang bersifat pilihan. Selain itu, terdapat pula hadis riwayat Imam Muslim yang menggambarkan keutamaan besar bagi orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

    Hadis ini memberikan motivasi spiritual bahwa proses belajar, betapapun melelahkan, memiliki nilai ibadah yang tinggi di sisi Allah SWT. Selain itu, terdapat riwayat lain yang menegaskan keutamaan orang yang berilmu dan memahami agamanya secara mendalam, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam terhadap agama” (HR. Bukhari dan Muslim). Meskipun konteks hadis ini berbicara tentang pemahaman agama (tafaqquh fid-din), para ulama memaknainya secara lebih luas sebagai anjuran untuk mendalami ilmu pengetahuan secara umum, termasuk ilmu-ilmu keduniaan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia, seperti ilmu kesehatan dan gizi.

    Para ulama klasik turut memberikan penekanan yang kuat terhadap urgensi menuntut ilmu secara berkelanjutan. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kesempurnaan diri manusia, dan bahwa proses mencari ilmu tidak boleh berhenti selama manusia masih memiliki kesempatan untuk berpikir dan belajar. Sementara itu, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah memandang ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama bagi kemajuan sebuah peradaban; suatu masyarakat yang menghentikan tradisi keilmuannya akan mengalami kemunduran (stagnasi), sedangkan masyarakat yang terus memperbarui pengetahuannya akan mengalami kemajuan yang berkesinambungan. Pandangan ini relevan jika ditarik ke ranah profesi modern, termasuk profesi kesehatan, bahwa kemajuan suatu bidang keilmuan sangat bergantung pada semangat para pelakunya untuk terus belajar dan memperbarui kompetensi.

    Dari sisi kajian ilmiah kontemporer, konsep lifelong learning telah menjadi paradigma yang mapan di dunia pendidikan profesi kesehatan. Ilmu gizi (nutritional science) merupakan salah satu bidang yang mengalami perkembangan sangat cepat, ditandai dengan munculnya cabang-cabang keilmuan baru seperti nutrigenomik, gizi presisi (precision nutrition), serta pembaruan pedoman gizi seimbang yang terus disesuaikan dengan temuan epidemiologis terbaru. Organisasi profesi gizi, baik di tingkat internasional seperti Academy of Nutrition and Dietetics maupun di tingkat nasional seperti Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), mewajibkan anggotanya untuk memenuhi satuan kredit partisipasi (SKP) melalui kegiatan pengembangan profesi berkelanjutan atau continuing professional development (CPD) sebagai syarat perpanjangan izin praktik. Kewajiban formal ini pada hakikatnya merupakan manifestasi kontemporer dari semangat iqra’ yang telah diperintahkan Al-Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu.

    Keterkaitan semangat iqra’ dengan pelayanan gizi kepada masyarakat dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, budaya belajar sepanjang hayat memastikan bahwa ahli gizi senantiasa memberikan edukasi dan intervensi gizi yang berbasis bukti ilmiah terkini, bukan sekadar mengandalkan pengetahuan yang diperoleh saat pendidikan formal bertahun-tahun sebelumnya. Kedua, dengan terus memperbarui ilmu, ahli gizi mampu beradaptasi terhadap perubahan pola penyakit di masyarakat, seperti meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan pola makan, sehingga strategi intervensi gizi dapat disesuaikan secara tepat. Ketiga, semangat iqra’ juga menumbuhkan sikap rendah hati dan kesadaran akan keterbatasan ilmu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-‘Alaq ayat 5, sehingga seorang ahli gizi senantiasa terbuka terhadap masukan, kritik ilmiah, dan temuan penelitian baru demi meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien maupun klien. Dengan demikian, semangat iqra’ tidak hanya menjadi nilai spiritual, tetapi juga menjadi landasan etos kerja profesional yang berorientasi pada mutu pelayanan gizi yang berkelanjutan.

    III. Penutup

    Semangat iqra’ yang termaktub dalam wahyu pertama Al-Qur’an mengandung pesan universal tentang pentingnya belajar secara terus-menerus sepanjang hidup manusia. Nilai ini diperkuat oleh berbagai hadis Nabi Muhammad SAW yang menempatkan aktivitas menuntut ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan menuju kemuliaan, serta didukung oleh pandangan para ulama klasik yang menekankan bahwa kemajuan peradaban sangat bergantung pada budaya keilmuan yang hidup. Bagi profesi ahli gizi, semangat iqra’ ini menemukan relevansinya secara nyata dalam bentuk budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) yang tercermin dalam kewajiban pengembangan profesi berkelanjutan (CPD). Dengan menghayati dan mengamalkan semangat iqra’, seorang ahli gizi tidak hanya menjalankan tuntutan profesionalisme, tetapi juga menunaikan panggilan spiritual untuk terus mencari ilmu demi kemaslahatan diri sendiri dan masyarakat yang dilayaninya.

    Daftar Pustaka

    Academy of Nutrition and Dietetics. (2022). Continuing professional development guide for dietetics practitioners. Chicago: Academy of Nutrition and Dietetics.

    Al-Ghazali, I. (2011). Ihya’ Ulumuddin: Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (terj. M. Zuhri). Semarang: CV. Asy-Syifa’.

    Asosiasi Dietisien Indonesia. (2021). Pedoman pengembangan profesi berkelanjutan bagi dietisien Indonesia. Jakarta: AsDI.

    Ibnu Khaldun. (2000). Muqaddimah (terj. Ahmadie Thoha). Jakarta: Pustaka Firdaus.

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Persatuan Ahli Gizi Indonesia. (2020). Standar kompetensi dan praktik gizi Indonesia. Jakarta: Persagi.

    Rahman, F. (2018). Konsep ilmu dalam Al-Qur’an dan implikasinya terhadap pendidikan sepanjang hayat. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 145–160.

    Sari, D. K., & Handayani, R. (2021). Evidence-based practice dalam pelayanan gizi klinik: Tinjauan literatur. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 18(1), 22–31.

    Kontributor: Bunga Nadhirah Putri

    Editor: Ahmad Ali, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Kompetensi Klinis dan Kedalaman Spiritua...

    by Shofwatun Nisa Sep 17 2026

    I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...

    Akhlak Kepada Allah Sebagai Fondasi Spir...

    by Selvi Hertati Br Simbolon Sep 17 2026

    PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...

    Cinta Allah pada Keindahan sebagai Landa...

    by Naswa Nabila Putri Sep 16 2026

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...

    Benteng Akhlak Ahli Gizi dalam Menghadap...

    by Anggun Rizqiyana Sep 15 2026

    Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...

    Budaya Kerja Berbasis Nilai Ihsan dalam ...

    by Mutiara Situmorang Sep 15 2026

    I. Pendahuluan  Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...

    Kisah Penumpang Kapal dalam Hadis Nabi s...

    by Jennysa Maulani Sep 15 2026

    I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Perbedaan sebagai Sumber Kekuatan: Perspektif I...

    1. PENDAHULUAN Lingkungan kampus dapat dianggap sebagai cerminan masyarakat yang mengumpulkan individu dari beragam&nbs...

    Agama dan Hukum

    Mewujudkan Keadilan dan Etika Digital dalam Kehidupan Bermasyarakat 1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia be...

    03 Jun 2026

    Bukan Sekadar Bertahan: Bagaimana Islam Menjawa...

    1. PENDAHULUAN Islam sebagai agama yang dipeluk oleh lebih dari 1,9 miliar umat manusia di seluruh dunia tidak dapat dilepaskan dari konteks zam...

    03 Jun 2026

    Iman, Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Ka...

    I. Pendahuluan Al-Qur’an merupakan kitab umat Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. secara   mutawatir.   Umat Islam ...

    14 Jun 2026

    Korupsi di Bidang Pendidikan: Generasi yang Ter...

    1. PENDAHULUAN Pendidikan adalah hak mendasar setiap warga negara sekaligus investasi paling berharga yang dapat dilakukan oleh suatu bangsa. Na...

    11 Apr 2026
    back to top