Naurah Dela Safitri • Oct 20 2026 • 27 Dilihat

Penyakit kardiovaskular tercatat oleh World Health Organization (2021) sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, merenggut jutaan nyawa setiap tahun dan menyisakan pasien yang harus hidup dengan ketergantungan pengobatan jangka panjang. Di balik angka statistik tersebut, terdapat manusia yang bergulat dengan rasa takut, cemas, dan ketidakpastian akan masa depannya. Sayangnya, pelayanan kesehatan modern kerap terjebak pada pendekatan biomedis semata, memeriksa tekanan darah dan membaca rekam jantung tanpa benar-benar menyapa sisi kemanusiaan pasien. Di titik inilah paradigma Patient Centered Care (PCC) hadir sebagai koreksi, menempatkan pasien bukan sekadar objek tindakan medis, melainkan subjek yang harus dihormati dan disertai secara utuh dalam proses penyembuhannya.
Namun, sebuah kerangka pelayanan tidak akan bermakna tanpa ruh yang menghidupkannya. Islam, melalui konsep rahmah dan compassion, menawarkan fondasi nilai yang menjadikan PCC bukan sekadar prosedur administratif, melainkan panggilan etik dan spiritual. Esai ini bertujuan menelaah bagaimana nilai compassion dan rahmah dapat dijalin ke dalam kerangka Patient Centered Care, serta bagaimana keterpaduan keduanya dapat diimplementasikan secara nyata dalam praktik pelayanan pasien kardiovaskular.
Secara konseptual, compassion dalam literatur keperawatan dan kedokteran dimaknai sebagai kepekaan untuk menyadari penderitaan orang lain, disertai dorongan batin serta tindakan nyata untuk meringankannya. Compassion berbeda dari sekadar empati, karena tidak berhenti pada memahami perasaan pasien, melainkan bergerak menjadi aksi konkret berupa perhatian, kehadiran, dan pelayanan yang tulus. Konsep ini sejalan dengan rahmah dalam Islam, yang juga menuntut wujud nyata berupa perbuatan, bukan sekadar perasaan iba yang berhenti di hati.
Patient Centered Care, sebagaimana dirumuskan Institute of Medicine (2001), adalah pendekatan pelayanan kesehatan yang menghormati dan responsif terhadap preferensi, kebutuhan, dan nilai individual pasien, dengan empat pilar utama: penghormatan terhadap nilai pasien, koordinasi perawatan, penyediaan informasi yang memadai, dan dukungan emosional yang berkesinambungan. Marques dkk. (2021) menegaskan bahwa pada pasien dengan penyakit kardiometabolik, penerapan PCC berkontribusi pada peningkatan kepatuhan terapi dan kualitas hidup, sementara Goldfarb dkk. (2024) dalam pernyataan ilmiah American Heart Association menyebutkan bahwa pengambilan keputusan bersama (shared decision-making) antara pasien, keluarga, dan tim kesehatan menjadi elemen inti PCC pada layanan jantung. Bagi pasien kardiovaskular, pendekatan ini sangat krusial karena penyakit jantung bersifat kronis, menuntut kepatuhan pengobatan seumur hidup, dan sering diiringi kecemasan mendalam terhadap risiko kematian mendadak.
Islam telah lebih dahulu meletakkan rahmah sebagai inti dari seluruh ajarannya. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya melalui nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebagai isyarat bahwa kasih sayang meliputi seluruh ciptaan-Nya. Risalah kenabian Muhammad Saw. pun diturunkan dengan misi yang sama, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa rahmah bukan sekadar anjuran moral, melainkan misi eksistensial yang harus terwujud dalam setiap interaksi antarmanusia, termasuk relasi tenaga kesehatan dengan pasien.
Kelembutan yang dianjurkan Al-Qur’an turut ditegaskan Nabi Muhammad Saw. dalam sabdanya:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh (penduduk) langit.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr)
Hadis ini menempatkan rahmah sebagai hukum timbal balik: kasih sayang yang ditebar kepada pasien yang menderita akan berbuah kasih sayang pula dari Allah. Semangat ini sejalan dengan anjuran Nabi Saw. untuk menjenguk dan mendoakan orang sakit sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, yang menunjukkan bahwa kehadiran dan doa bagi orang sakit memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bukan sekadar formalitas sosial.
Ulama klasik turut menegaskan kedudukan rahmah dalam konteks perawatan orang sakit. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menempatkan rahmah sebagai buah dari kesempurnaan iman, yang mendorong seseorang merasakan penderitaan sesamanya seolah penderitaan itu miliknya sendiri. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaad al-Ma’ad menekankan pentingnya sikap rifq atau kelembutan dalam merawat orang sakit, seraya mengingatkan bahwa kelembutan tidak pernah hadir pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Prinsip ini dapat diterapkan langsung oleh tenaga kesehatan, mulai dari cara menyampaikan diagnosis hingga ekspresi wajah ketika mendampingi pasien di ruang intensif jantung.
Relevansi nilai ini didukung kajian ilmiah kontemporer. Studi INTERHEART yang melibatkan lebih dari 24.000 responden di 52 negara menemukan bahwa faktor psikososial seperti stres kronis, kecemasan, dan depresi berkontribusi signifikan terhadap risiko infark miokard akut, setara dengan faktor risiko biomedis seperti hipertensi (Rosengren dkk., 2004). Temuan ini memperkuat argumen bahwa dukungan emosional bukan pelengkap di luar terapi medis, melainkan bagian yang memengaruhi luaran klinis pasien kardiovaskular secara nyata.
Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis memandang bahwa nilai rahmah dan prinsip ilmiah Patient Centered Care sesungguhnya saling menguatkan, bukan berdiri sendiri-sendiri. Al-Qur’an dan hadis memberikan landasan etik mengapa pasien harus diperlakukan dengan lembut, sementara studi seperti INTERHEART menjelaskan secara empiris bagaimana kelalaian terhadap sisi psikososial pasien dapat memperburuk kondisi jantungnya. Dengan kata lain, rahmah bukan sekadar nilai spiritual yang bersifat anjuran, melainkan juga faktor klinis yang terbukti memengaruhi kesehatan jantung. Sintesis ini menunjukkan bahwa PCC yang islami tidak bertentangan dengan evidence-based medicine, melainkan justru menjadi penyempurna dari sisi yang selama ini sering terabaikan oleh sistem pelayanan yang terlalu berorientasi pada prosedur.
Dalam praktik nyata pelayanan pasien kardiovaskular, penjalinan compassion dan rahmah dengan kerangka PCC dapat diwujudkan tenaga kesehatan melalui langkah-langkah konkret: menyampaikan diagnosis dan prognosis dengan bahasa yang jujur namun penuh empati, melibatkan pasien beserta keluarga dalam pengambilan keputusan terapi, menyediakan ruang bagi kebutuhan spiritual pasien seperti bimbingan doa menjelang tindakan operasi jantung, serta meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan pasien secara utuh, tidak hanya membaca angka pada rekam medis. Kesabaran menghadapi pasien lanjut usia yang mudah cemas, dan ketulusan menenteramkan keluarga yang menunggu di luar ruang tindakan, adalah bentuk sederhana namun bermakna dari rahmah yang hidup dalam pelayanan kesehatan.
Patient Centered Care dan nilai rahmah dalam Islam pada dasarnya bertemu pada satu titik yang sama: memandang pasien sebagai manusia utuh, bukan sekadar kumpulan gejala klinis. Landasan Al-Qur’an, hadis, pendapat ulama, dan temuan ilmiah seperti studi INTERHEART secara konsisten menunjukkan bahwa dukungan emosional dan spiritual bukan pelengkap, melainkan bagian dari terapi itu sendiri bagi pasien kardiovaskular.
Penulis merekomendasikan agar institusi kesehatan memasukkan pelatihan komunikasi berempati dan spiritual care ke dalam standar prosedur operasional pelayanan jantung, serta agar tenaga kesehatan secara individu membiasakan diri meneladani sikap rifq dan rahmah dalam setiap interaksi dengan pasien, sehingga pelayanan kardiovaskular yang diberikan benar-benar menyembuhkan jasad sekaligus menenteramkan jiwa.
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Ghazali. (t.t.). Ihya’ Ulumuddin (Jilid 3, Kitab Adab al-Ulfah wa al-Ukhuwwah).
Goldfarb, M. J., Saylor, M. A., Bozkurt, B., Code, J., Di Palo, K. E., Durante, A., Flanary, K., Masterson Creber, R., Ogunniyi, M. O., Rodriguez, F., & Gulati, M. (2024). Patient-centered adult cardiovascular care: A scientific statement from the American Heart Association. Circulation, 149(18), e1176–e1188.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (t.t.). Zaad al-Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad (Jilid 4, Bab al-Tibb al-Nabawi).
Institute of Medicine. (2001). Crossing the quality chasm: A new health system for the 21st century. National Academies Press.
Marques, M. do C., Pires, R., Perdigão, M., Sousa, L., Fonseca, C., Pinho, L. G., & Lopes, M. (2021). Patient-centered care for patients with cardiometabolic diseases: An integrative review. Journal of Personalized Medicine, 11(12), 1289.
Muslim, Abu al-Husain. (t.t.). Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab.
Rosengren, A., Hawken, S., Ôunpuu, S., Sliwa, K., Zubaid, M., Almahmeed, A. W., Ngu Blackett, K., Sitthi-amorn, C., Sato, H., & Yusuf, S. (2004). Association of psychosocial risk factors with risk of acute myocardial infarction in 11 119 cases and 13 648 controls from 52 countries (the INTERHEART study): Case-control study. The Lancet, 364(9438), 953–962.
Tirmidzi, Abu ‘Isa. (t.t.). Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa al-Shilah.
World Health Organization. (2021). Cardiovascular diseases (CVDs). WHO Fact Sheets.
Kontributor: Naurah Dela Safitri
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN Dunia akademik merupakan pilar utama dalam pembangunan peradaban yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, objektivitas, dan integr...

1. PENDAHULUAN Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita pikirkan: siapa sesungguhnya yang paling menderita akibat korupsi? Bukan hanya masyarakat ...

Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui politik berbagai keputusan yang berkaitan deng...

1. PENDAHULUAN Beberapa waktu lalu, saya sempat tertahan agak lama di salah satu persimpangan jalan kota Palembang yang sedang padat-padatnya. D...

1. PENDAHULUAN Dalam dua dekade terakhir, Indonesia mencatat pertumbuhan ekon...

No comments yet.