Chantika Maria Paskah Purba • Oct 27 2026 • 32 Dilihat

Persalinan merupakan salah satu proses penting dalam kehidupan seorang perempuan karena menjadi tahap lahirnya seorang manusia ke dunia. Persalinan tidak hanya merupakan proses biologis yang berkaitan dengan kontraksi rahim, pembukaan serviks, dan kelahiran bayi, tetapi juga merupakan pengalaman yang melibatkan aspek psikologis, sosial, budaya, dan spiritual. Oleh karena itu, pelayanan persalinan seharusnya tidak hanya berfokus pada keselamatan ibu dan bayi, tetapi juga memperhatikan martabat, hak, kebutuhan, serta keyakinan ibu selama menjalani proses persalinan. Persalinan yang memanusiakan merupakan pelayanan yang menempatkan ibu sebagai pribadi yang memiliki nilai dan martabat. Ibu bersalin bukan hanya objek tindakan medis, melainkan seseorang yang berhak memperoleh informasi, mendapatkan penghormatan, menjaga privasi, menyampaikan keinginan, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan dirinya. World Health Organization (WHO, 2018) menjelaskan bahwa pelayanan maternitas yang berkualitas perlu menghormati martabat, privasi, kerahasiaan, hak untuk mendapatkan informasi, serta kebebasan perempuan dari perlakuan buruk selama proses persalinan.
Topik ini penting karena pengalaman seorang perempuan selama persalinan dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis dan pandangannya terhadap pelayanan kesehatan. Perlakuan yang kasar, komunikasi yang buruk, kurangnya informasi, atau tindakan yang dilakukan tanpa penjelasan dapat membuat ibu merasa tidak dihargai. Sebaliknya, pelayanan yang penuh empati, komunikasi yang baik, dukungan emosional, serta penghormatan terhadap pilihan ibu dapat menciptakan pengalaman persalinan yang lebih positif. Dalam perspektif Kristen, manusia memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kejadian 1:27 menyatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang harus dihormati. Oleh sebab itu, perempuan yang sedang menjalani persalinan harus diperlakukan sebagai pribadi yang berharga, bukan sekadar sebagai pasien yang membutuhkan tindakan medis. Agama juga memiliki fungsi profetik, yaitu menghadirkan suara moral yang membela kebenaran, keadilan, kasih, dan martabat manusia. Dalam konteks pelayanan kebidanan, fungsi profetik dapat diwujudkan melalui sikap tenaga kesehatan yang membela hak ibu, memberikan pelayanan tanpa diskriminasi, serta memperlakukan ibu dan bayi dengan kasih dan penghormatan. Dengan demikian, nilai agama dapat menjadi dasar moral bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang manusiawi. Penulisan esai ini bertujuan untuk membahas konsep persalinan yang memanusiakan ditinjau dari fungsi profetik agama dalam perspektif Kristen, menjelaskan landasan Alkitab yang berkaitan dengan penghormatan terhadap manusia, menguraikan pendapat ahli dan hasil kajian ilmiah, serta menganalisis penerapannya dalam praktik profesi kebidanan.
Persalinan yang memanusiakan merupakan pendekatan pelayanan yang melihat ibu bersalin sebagai manusia secara utuh. Artinya, pelayanan tidak hanya memperhatikan kondisi fisik dan keselamatan medis, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional, sosial, budaya, dan spiritual ibu. Pendekatan ini sejalan dengan konsep respectful maternity care, yaitu pelayanan maternitas yang menghargai hak dan martabat perempuan selama kehamilan, persalinan, dan masa setelah melahirkan. Dalam pelayanan persalinan yang memanusiakan, bidan perlu memberikan informasi yang jelas sebelum melakukan tindakan, meminta persetujuan, menjaga privasi dan kerahasiaan pasien, mendengarkan keluhan, serta memberikan kesempatan kepada ibu untuk menyampaikan kebutuhan dan pilihannya. WHO (2018) menekankan bahwa pengalaman persalinan yang positif perlu didukung oleh komunikasi yang efektif, penghormatan terhadap martabat perempuan, dukungan emosional, serta keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Konsep tersebut memiliki hubungan yang erat dengan fungsi profetik agama Kristen. Fungsi profetik tidak hanya berarti menyampaikan pesan agama, tetapi juga menjalankan panggilan untuk menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan membela mereka yang membutuhkan. Ibu bersalin merupakan salah satu kelompok yang berada dalam kondisi rentan sehingga membutuhkan perhatian dan perlindungan. Oleh karena itu, tenaga kesehatan dipanggil untuk menggunakan ilmu dan keterampilannya dalam memberikan pelayanan yang tidak hanya benar secara medis, tetapi juga benar secara moral dan manusiawi. Landasan Alkitab mengenai penghormatan terhadap manusia dapat ditemukan dalam Kejadian 1:27. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini menjadi dasar bahwa kehidupan manusia memiliki nilai yang tinggi. Dalam pelayanan kebidanan, prinsip tersebut berarti bahwa setiap ibu harus dihormati tanpa memandang status ekonomi, pendidikan, suku, budaya, agama, atau kondisi sosialnya.
Nilai kasih juga menjadi dasar utama dalam pelayanan Kristen. Markus 12:31 menyatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Perintah tersebut dapat diterapkan oleh bidan melalui sikap ramah, sabar, empati, dan kepedulian terhadap ibu bersalin. Kasih bukan hanya ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata seperti membantu ibu menghadapi rasa takut, memberikan dukungan selama persalinan, dan tidak memperlakukan ibu secara kasar. Galatia 6:2 juga menyatakan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!” Ayat ini memiliki hubungan dengan peran bidan dalam mendampingi ibu selama proses persalinan. Persalinan dapat menjadi pengalaman yang penuh tantangan bagi seorang perempuan sehingga kehadiran tenaga kesehatan yang memberikan dukungan dapat membantu ibu merasa lebih aman dan tidak sendirian. Selain kasih, Alkitab juga mengajarkan tentang keadilan. Mikha 6:8 menyatakan bahwa manusia dipanggil untuk “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.” Dalam praktik kebidanan, prinsip keadilan dapat diwujudkan dengan memberikan pelayanan yang sama kepada semua ibu tanpa membedakan latar belakangnya. Bidan harus memberikan pelayanan berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan pasien, bukan berdasarkan status sosial atau kemampuan ekonomi. Dari sudut pandang ahli, pelayanan yang berpusat pada perempuan merupakan bagian penting dari pelayanan maternitas yang berkualitas. WHO (2018) menyatakan bahwa pelayanan persalinan harus memperhatikan pengalaman perempuan, termasuk hak atas privasi, kerahasiaan, informasi, penghormatan, dan pilihan. Perempuan juga perlu mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka selama proses persalinan.
Hasil kajian ilmiah menunjukkan bahwa pelayanan yang menghormati perempuan dapat meningkatkan pengalaman positif selama persalinan. Komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan ibu dapat membangun kepercayaan serta mengurangi kecemasan. Dukungan emosional dan keberadaan pendamping pilihan ibu juga dapat membantu ibu merasa lebih aman selama persalinan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya dapat dinilai dari keberhasilan tindakan klinis, tetapi juga dari bagaimana seorang ibu diperlakukan selama mendapatkan pelayanan. Menurut penulis, persalinan yang memanusiakan merupakan bentuk nyata penerapan fungsi profetik agama dalam profesi kebidanan. Seorang bidan tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk membantu ibu melahirkan dengan aman, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga martabat ibu. Ilmu kebidanan memberikan dasar profesional dalam melakukan tindakan, sedangkan nilai agama memberikan dasar moral mengenai bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penerapan nilai kasih dalam pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan komunikasi terapeutik, memberikan motivasi, mendengarkan keluhan ibu, dan memberikan dukungan selama proses persalinan. Nilai keadilan dapat diterapkan dengan memberikan pelayanan tanpa diskriminasi. Nilai penghormatan terhadap manusia dapat diwujudkan dengan menjaga privasi, meminta persetujuan sebelum tindakan, serta memberikan informasi yang mudah dipahami. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan spiritual ibu juga perlu diperhatikan. Apabila ibu ingin berdoa atau mendapatkan dukungan rohani dan kondisi klinis memungkinkan, bidan dapat memberikan kesempatan tersebut. Namun, kebutuhan spiritual tetap harus disesuaikan dengan kondisi keselamatan ibu dan bayi. Dengan demikian, aspek spiritual tidak dipisahkan dari pelayanan kesehatan, tetapi menjadi salah satu bagian dari pelayanan yang menyeluruh. Implementasi persalinan yang memanusiakan dalam praktik kebidanan juga berarti bidan harus tetap menjalankan standar profesi dan melakukan tindakan sesuai indikasi medis. Memanusiakan pasien bukan berarti mengabaikan keselamatan. Apabila terjadi komplikasi, bidan harus segera melakukan penanganan sesuai kompetensi dan melakukan rujukan apabila diperlukan. Dalam keadaan tersebut, komunikasi tetap harus dilakukan dengan baik sehingga ibu dan keluarga memahami kondisi serta alasan tindakan yang diberikan. Dengan demikian, fungsi profetik agama dapat menjadi landasan moral bagi bidan untuk memberikan pelayanan yang aman, penuh kasih, adil, dan menghargai martabat manusia. Pelayanan kebidanan yang demikian mencerminkan bahwa profesi kesehatan bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi juga bentuk pengabdian kepada sesama manusia.
Persalinan yang memanusiakan merupakan pelayanan yang menghargai martabat, hak, kebutuhan, dan keyakinan ibu selama proses persalinan. Dalam perspektif Kristen, pelayanan ini mencerminkan kasih Allah melalui sikap menghargai, menolong, berlaku adil, dan peduli terhadap sesama. Nilai kasih dalam Markus 12:31, saling menolong dalam Galatia 6:2, serta keadilan dalam Mikha 6:8 menjadi dasar penting bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang manusiawi.
Oleh karena itu, bidan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi klinis, tetapi juga mampu memberikan komunikasi yang baik, empati, dukungan emosional, serta menghormati kebutuhan spiritual dan budaya ibu. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, pelayanan persalinan dapat diberikan secara aman, penuh kasih, adil, dan tetap menghargai martabat setiap manusia.
Alkitab. (2019). Alkitab terjemahan baru. Lembaga Alkitab Indonesia.
Hauerwas, S. (1981). Community of character: Toward a constructive Christian social ethic. University of Notre Dame Press.
Swinton, J., & Mowat, H. (2016). Practical theology and qualitative research methods. SCM Press.
World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience. World Health Organization.
World Health Organization. (2025). Compendium on respectful maternal and newborn care. World Health Organization.
Kontributor: Chantika Maria Paskah Purba
Editor: Dani Habibi, M.Ag.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan masa kini bergerak sangat cepat. Pedoman klinis terus diperbarui, hasil penelitian baru terbit hampir setiap ...

1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan permasalahan mendasar yang tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menggerus kepercayaan publik terh...

1. PENDAHULUAN Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak ada masyarakat yang ditemukan hidup sepenuhnya tanpa dimensi religius. Sejak penemuan ...

Pendahuluan Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang sangat tinggi, baik dari segi suku, budaya, bahasa, maupun ...

Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Peran tenaga kesehatan tidak hanya te...

No comments yet.