Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Peran Perawat dalam Mewujudkan Masyarakat Madani Melalui Promosi Kesehatan

    • Oct 28 2026 • 10 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Indonesia merupakan bangsa besar yang tengah bergerak menuju cita-cita luhur berupa terwujudnya masyarakat madani, yaitu masyarakat yang beradab, mandiri, egaliter, partisipatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Realitas sosiologis ini menuntut seluruh elemen bangsa, termasuk para profesional di bidang kesehatan, untuk berperan aktif dalam menopang kualitas hidup masyarakat, sebab masyarakat yang sakit-sakitan, kurang berdaya, dan minim kesadaran hidup sehat sulit diharapkan mampu berpartisipasi secara produktif dalam pembangunan peradaban. Perawat, sebagai tenaga kesehatan dengan jumlah terbesar dan interaksi paling intensif dengan masyarakat, menjadi garda terdepan yang setiap harinya berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kesehatan di tengah masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas akar rumput.

    Namun demikian, tantangan kesehatan masyarakat dewasa ini semakin kompleks, mulai dari meningkatnya penyakit tidak menular akibat gaya hidup, rendahnya kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat, hingga kesenjangan akses layanan kesehatan di berbagai wilayah. Kondisi ini menuntut pergeseran orientasi pelayanan kesehatan dari yang semula bersifat kuratif menuju pendekatan promotif dan preventif yang memberdayakan masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya sendiri secara mandiri. Dalam konteks itulah promosi kesehatan menemukan urgensinya sebagai jembatan yang menghubungkan peran profesional perawat dengan cita-cita besar mewujudkan masyarakat madani, yakni masyarakat yang tidak hanya beradab secara sosial-politik, tetapi juga sehat lahir batin dan berdaya secara mandiri. Promosi kesehatan, yakni upaya pemberdayaan yang memungkinkan masyarakat meningkatkan kendali atas kesehatannya sendiri, menjadi modal nilai yang sangat vital bagi profesi keperawatan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat.

    Esai ini bertujuan untuk menguraikan konsep dan landasan normatif promosi kesehatan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta menganalisis relevansinya sebagai modal utama peran perawat dalam mewujudkan masyarakat madani di Indonesia.

    II. Pembahasan

    Secara etimologis, istilah masyarakat madani merupakan padanan sekaligus “islamisasi” dari konsep civil society, yang menggambarkan masyarakat beradab, terbuka, egaliter, toleran, dan berlandaskan nilai-nilai etik-moral transendental (Ilma & Alfian, 2020). Konsep ini banyak dirujuk dari model masyarakat Madinah yang dibangun Rasulullah SAW, yakni masyarakat yang maju secara peradaban, hidup rukun, saling terbuka, dan menjunjung amar makruf nahi mungkar (Hamang, t.t.). Masyarakat madani tidak hanya dituntut unggul secara sosial-politik, tetapi juga sehat secara jasmani dan rohani, karena kesehatan merupakan fondasi bagi partisipasi aktif warga dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, upaya menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada dasarnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari ikhtiar membangun masyarakat madani itu sendiri, dan promosi kesehatan menjadi salah satu instrumen utamanya (Notoatmodjo, 2005).

    Landasan normatif semangat kolaboratif dalam promosi kesehatan secara tegas termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’idah [5] ayat 2 berikut ini:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ···

    Artinya: “…dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 2).

    Ayat di atas menegaskan bahwa kerja sama dalam kebaikan (al-birr) dan ketakwaan merupakan perintah yang bersifat kolektif, tidak dibebankan kepada satu pihak saja. Dalam konteks keperawatan, ayat ini menjadi landasan bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat bukanlah tugas perawat semata, melainkan tanggung jawab bersama yang melibatkan kerja sama lintas sektor, tokoh masyarakat, keluarga, dan individu itu sendiri. Perawat yang memegang teguh semangat ta’awun (tolong-menolong) akan memandang promosi kesehatan bukan sekadar pekerjaan teknis-medis, melainkan wujud kesaksian moral dan spiritual untuk menegakkan kepedulian bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakangnya. Nilai kolaboratif ini menjadi fondasi etis yang membedakan promosi kesehatan yang bermartabat dari sekadar penyuluhan yang bersifat prosedural belaka.

    Semangat kepedulian terhadap kesehatan ini semakin diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari berikut ini:

    نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

    Artinya: “Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (H.R. Al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, Hadis No. 6412).

    Hadis ini memberikan pelajaran berharga bahwa kesehatan merupakan nikmat besar yang seringkali baru disadari nilainya ketika telah hilang. Relevansinya dengan promosi kesehatan sangat erat: tugas perawat sebagai edukator kesehatan pada dasarnya adalah upaya mengingatkan kembali masyarakat agar tidak lalai menjaga nikmat kesehatan yang telah Allah karuniakan, melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, deteksi dini penyakit, serta pencegahan sebelum sakit benar-benar terjadi. Tindakan mengingatkan dan mendampingi masyarakat inilah yang menjadi rujukan filosofis utama bahwa promosi kesehatan bersifat proaktif dan tidak boleh menunggu masyarakat jatuh sakit terlebih dahulu.

    Para ulama tafsir menegaskan bahwa kepedulian terhadap kesehatan sesama merupakan bagian dari ikhtiar memuliakan manusia (ikram al-insan) yang menjadi ruh ajaran Islam. Dalam keperawatan modern, prinsip keagamaan ini bersinergi secara sempurna dengan teori Health Promotion Model yang dicetuskan oleh Nola J. Pender. Pender menegaskan bahwa perilaku kesehatan merupakan hasil interaksi antara faktor kognitif-persepsi individu dan pengaruh lingkungan sosial, sehingga promosi kesehatan harus diarahkan pada penguatan pengetahuan, sikap, dan dukungan lingkungan secara bersamaan, bukan sekadar pemberian informasi searah (Rahmawati et al., 2023). Tanpa pemberdayaan yang menyeluruh, perawat berisiko terjebak pada pendekatan instruktif semata yang kurang menyentuh perubahan perilaku jangka panjang masyarakat.

    Relevansi pengintegrasian nilai keagamaan dan model promosi kesehatan ini dibuktikan oleh berbagai penelitian empiris. Wiguna dan Suhamdani (2022) menemukan bahwa penerapan Health Promotion Model Nola Pender berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan COVID-19. Selanjutnya, Astuti et al. (2020) membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis model promosi kesehatan efektif menurunkan risiko stunting pada anak melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan pola asuh keluarga. Pada dimensi pelayanan langsung, Utami (2017) menunjukkan bahwa promosi kesehatan berbasis Pender berpengaruh nyata terhadap peningkatan pengetahuan dan kepatuhan terapi pasien. Lebih lanjut, Sari et al. (2024) dalam praktik keperawatan komunitas menegaskan bahwa pendampingan perawat yang berkelanjutan di tingkat RT/RW mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara nyata. Rangkaian temuan ini memperkuat argumen bahwa promosi kesehatan berbasis pemberdayaan bukan sekadar nilai normatif, melainkan juga variabel yang berdampak nyata terhadap luaran kesehatan masyarakat.

    Implementasi nilai-nilai tersebut dalam praktik keperawatan dapat diwujudkan melalui beberapa langkah nyata yang saling berkaitan. Pertama, perawat perlu berperan sebagai edukator dengan memberikan penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan kepada keluarga, sekolah, dan kelompok masyarakat, sehingga kesadaran kesehatan tumbuh dari pemahaman, bukan sekadar instruksi. Kedua, perawat perlu membangun kemitraan lintas sektor bersama tokoh agama, kader kesehatan, dan pemerintah setempat sebagai wujud nyata semangat ta’awun, sehingga tanggung jawab menjaga kesehatan masyarakat tidak dipikul sendirian. Ketiga, pendekatan promosi kesehatan perlu mengakomodasi kearifan lokal dan nilai spiritual masyarakat, misalnya dengan mengaitkan pola hidup sehat sebagai bentuk rasa syukur dan ikhtiar menjaga amanah tubuh, agar pesan kesehatan lebih mudah diterima oleh masyarakat yang religius. Keempat, perawat perlu melakukan advokasi kebijakan kesehatan berbasis kebutuhan masyarakat setempat, sebagai bentuk komitmen kebangsaan dan pengamalan nilai keadilan dalam pelayanan. Keempat langkah tersebut, apabila dijalankan secara konsisten, akan menjadikan promosi kesehatan bukan sekadar wacana normatif, melainkan budaya kerja yang hidup dalam keseharian pelayanan keperawatan menuju masyarakat madani.

    III. Penutup

    Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan bukan sekadar wacana teknis-medis, melainkan modal etis dan praktis yang sangat vital bagi perawat dalam mewujudkan masyarakat madani yang sehat, mandiri, dan beradab. Pengintegrasian semangat ta’awun dalam Al-Qur’an, teladan kepedulian dalam hadis Rasulullah SAW, serta teori Health Promotion Model dari Nola J. Pender membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan yang inklusif berbanding lurus dengan peningkatan efektivitas promosi kesehatan dan kemandirian masyarakat. Perawat yang mampu memadukan keteguhan nilai spiritual dengan pendekatan keilmuan keperawatan akan menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual dalam mendampingi masyarakat menuju derajat kesehatan yang lebih baik.

    Sebagai rekomendasi, institusi pendidikan keperawatan perlu memasukkan materi integrasi nilai keagamaan dan model promosi kesehatan secara formal ke dalam kurikulum pembelajaran, agar mahasiswa keperawatan terbiasa berpikir promotif-preventif sejak masa pendidikan. Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit disarankan untuk memperkuat kemitraan lintas sektor dengan tokoh agama dan kader masyarakat, sehingga nilai-nilai promosi kesehatan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar terwujud dalam sistem pelayanan kesehatan yang manusiawi dan berkelanjutan bagi terwujudnya masyarakat madani Indonesia.

    Daftar Pustaka

    Al-Qur’an al-Karim. Surah Al-Ma’idah [5]: 2.

    Al-Bukhari, M. I. I. (t.t.). Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, Hadis No. 6412.

    Astuti, D. D., Adriani, R. B., & Handayani, T. W. (2020). Pemberdayaan masyarakat dalam rangka stop generasi stunting. Jurnal Masyarakat Mandiri, 4(2), 2–6.

    Hamang, M. N. (t.t.). Peranan pendidikan Islam dalam membentuk masyarakat madani. Istiqra: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, Universitas Muhammadiyah Parepare.

    Ilma, M., & Alfian, R. N. (2020). Konsepsi masyarakat madani dalam bingkai pendidikan Islam. Ma’alim: Jurnal Pendidikan Islam, 1(1), 20–32.

    Notoatmodjo, S. (2005). Promosi kesehatan: Teori dan aplikasinya. Rineka Cipta.

    Rahmawati, N., Erwanto, & Rohimah, A. (2023). Analisis penerapan model promosi kesehatan Pender dalam praktik keperawatan komunitas: Scoping review. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendekia, 2(2), 24–32.

    Sari, R. P., Andrianto, B. P., Pramesti, A., Putri, A. N., & Safitri, A. N. (2024). Peran keperawatan komunitas dalam meningkatkan kesehatan masyarakat RT.005/RW.002 Kp. Gebang Kota Tangerang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia, 3(6), 133–141.

    Utami, T. A. (2017). Promosi kesehatan Nola Pender berpengaruh terhadap pengetahuan dan kepatuhan ODHA dalam terapi ARV. Indonesian Journal of Nursing and Midwifery, 5(1), 58–67.

    Wiguna, R. I., & Suhamdani, H. (2022). Impact of the “Nola J Pender” health promotion model towards the level of community compliance in implementing COVID-19 health protocols. The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education, 10(1), 85–92. https://doi.org/10.20473/jpk.V10.I1.2022.85-92

    Kontributor: Syaqila Mayfitri

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Tata Kelola Kampus Berintegritas : Tata Kelola ...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan yang memegang peranan strategis dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas se...

    13 Apr 2026

    Metode dan Media Penyuluhan Anti Korupsi : Pela...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan sosial yang sangat serius dan hingga saat ini masih menjadi tantangan besar dalam prose...

    08 Apr 2026

    Kerangka Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah ...

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Perawat tida...

    30 Oct 2026

    Indikator Keberhasilan Penyuluhan Anti Korupsi

    PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

    Bahaya Riya dalam Pelayanan Kesehatan

    A. Pendahuluan Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pengabdian yang memiliki nilai kemanusiaan sekaligus dapat menjadi ibadah bagi se...

    back to top