Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Wahyu Pertama sebagai Fondasi Tradisi Literasi Islam dan Relevansinya bagi Pendidikan Gizi

    • Oct 19 2026 • 32 Dilihat

    I. Pendahuluan

    Islam adalah agama yang menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan yang sangat mulia. Kemuliaan ini tergambar jelas sejak peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira, yang bukan berupa perintah ibadah ritual, melainkan perintah untuk “membaca” (iqra’). Perintah ini menjadi tonggak sejarah yang meletakkan dasar bagi lahirnya tradisi literasi dalam peradaban Islam, sebuah tradisi yang kelak melahirkan generasi ulama, ilmuwan, dan cendekiawan yang menguasai berbagai cabang keilmuan, mulai dari tafsir, hadis, kedokteran, hingga ilmu falak. Latar belakang inilah yang menjadikan topik literasi dalam perspektif wahyu pertama penting untuk dikaji, sebab literasi bukan sekadar keterampilan membaca-menulis, melainkan fondasi peradaban yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kesadaran ketuhanan.

    Esai ini bertujuan untuk mengkaji makna dan kandungan wahyu pertama, yaitu Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, sebagai fondasi tradisi literasi dalam Islam, serta menelusuri relevansinya bagi pendidikan gizi, khususnya dalam konteks pelayanan kebidanan. Semangat iqra’ yang mendorong umat Islam untuk membaca, meneliti, dan mengajarkan ilmu pengetahuan pada dasarnya sejalan dengan tugas tenaga kesehatan, termasuk bidan, dalam memberikan edukasi gizi yang berbasis ilmu pengetahuan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan masyarakat luas demi terwujudnya generasi yang sehat.

    II. Pembahasan

    Peristiwa turunnya wahyu pertama terjadi ketika Nabi Muhammad ﷺ sedang bertahannus atau berkhalwat di Gua Hira. Malaikat Jibril datang dan menyampaikan wahyu pertama yang tercantum dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 sebagai berikut.

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۰ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۰ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۰ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۰ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019, QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5).

    Kata iqra’ yang menjadi kata pertama dalam wahyu ini memiliki makna yang sangat luas, tidak terbatas pada membaca teks tertulis, tetapi juga mencakup perintah untuk mengamati, meneliti, memahami, dan merenungkan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam) maupun ayat-ayat qauliyah (teks wahyu). Ibn Kathir (2000) menjelaskan bahwa perintah iqra’ yang diikuti dengan bi ismi rabbika (dengan nama Tuhanmu) menegaskan bahwa aktivitas membaca dan mencari ilmu dalam Islam harus senantiasa dilandasi kesadaran ketuhanan, sehingga ilmu yang diperoleh membawa manusia semakin dekat kepada Sang Pencipta, bukan sebaliknya. Sementara itu, ungkapan khalaqa al-insana min ‘alaq (menciptakan manusia dari segumpal darah/sesuatu yang melekat) dipandang oleh Al-Qurthubi (2009) sebagai isyarat awal tentang proses penciptaan manusia yang kelak dijelaskan secara lebih rinci dalam ayat-ayat lain, misalnya Surah Al-Mu’minun ayat 12–14. Menariknya, tahapan ‘alaqah yang digambarkan Al-Qur’an ini selaras dengan temuan embriologi modern mengenai fase implantasi dan perlekatan zigot pada dinding rahim (Sadler, 2019), sehingga memperlihatkan keselarasan antara wahyu dan sains, sekaligus relevansinya dengan ilmu kebidanan dan reproduksi.

    Ayat selanjutnya, alladzi ‘allama bi al-qalam (yang mengajar dengan pena), menegaskan kedudukan tulisan sebagai sarana transmisi ilmu. Dari sinilah tradisi literasi Islam bermula: penulisan wahyu oleh para sahabat, kodifikasi mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan, pembukuan hadis, hingga berdirinya pusat-pusat keilmuan seperti Bayt al-Hikmah pada masa kejayaan Abbasiyah yang menjadi motor penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan dunia. Kewajiban menuntut ilmu ini juga ditegaskan dalam sebuah hadis Nabi ﷺ, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim” (Ibn Majah, t.t.), yang menunjukkan bahwa aktivitas belajar dan mengajar bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban keagamaan yang mendasar. Hadis ini memperkuat kedudukan ayat pertama Al-‘Alaq sebagai fondasi normatif bagi tradisi keilmuan Islam, sekaligus menegaskan bahwa literasi merupakan tanggung jawab setiap individu muslim tanpa terkecuali.

    Semangat literasi yang lahir dari wahyu pertama ini memiliki relevansi yang erat dengan pendidikan gizi, khususnya dalam pelayanan kebidanan. Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian khusus terhadap pola makan manusia, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 168, “Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”, serta Surah Al-A’raf ayat 31, “Makan dan minumlah, namun jangan berlebihan” (Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019). Kedua ayat ini menjadi landasan konsep gizi seimbang dalam perspektif Islam, yang menekankan aspek halal, thayyib (baik/bergizi), dan tidak berlebihan (israf). Prinsip ini sejalan dengan pedoman gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2014). Namun demikian, pemahaman dan penerapan prinsip ini memerlukan kemampuan literasi, baik literasi keagamaan maupun literasi kesehatan, agar seseorang mampu membaca, memahami, dan mengaplikasikan informasi gizi secara tepat.

    Bidan sebagai tenaga kesehatan yang berperan penting dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak dituntut memiliki kemampuan literasi ilmiah yang memadai untuk membaca dan mengkaji perkembangan ilmu gizi terkini, kemudian menerjemahkannya ke dalam edukasi yang mudah dipahami oleh ibu hamil dan ibu menyusui, sebagaimana ditekankan dalam rekomendasi perawatan antenatal WHO (World Health Organization, 2016) yang menempatkan edukasi gizi sebagai komponen penting pelayanan kehamilan. Mengingat proses penciptaan manusia dijelaskan Al-Qur’an bermula dari fase ‘alaqah yang sangat bergantung pada asupan nutrisi ibu melalui darah dan plasenta, edukasi gizi pada masa kehamilan menjadi krusial untuk mendukung tumbuh kembang janin secara optimal. Dengan demikian, semangat iqra’ — membaca, meneliti, dan mengajarkan — yang menjadi fondasi wahyu pertama sesungguhnya adalah semangat yang sama yang harus dimiliki bidan dalam menjalankan fungsi edukatifnya, yakni membaca perkembangan ilmu gizi berbasis bukti (evidence-based) dan mengajarkannya kepada masyarakat demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.

    III. Penutup

    Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ berupa perintah iqra’ merupakan fondasi utama tradisi literasi dalam Islam, yang menegaskan pentingnya membaca, meneliti, menulis, dan mengajarkan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Semangat ini memiliki relevansi yang nyata bagi pendidikan gizi dalam pelayanan kebidanan, sebab tugas bidan dalam mengedukasi ibu hamil dan menyusui tentang gizi yang halal, baik, dan seimbang pada hakikatnya adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai iqra’ tersebut. Dengan menyatukan landasan wahyu dan kemajuan ilmu pengetahuan, edukasi gizi yang diberikan akan lebih bermakna, komprehensif, dan mampu berkontribusi pada terwujudnya generasi yang sehat jasmani maupun rohani.

    Daftar Pustaka

    Al-Qurthubi, M. A. (2009). Tafsir al-Qurthubi (A. R. Kadir, Terj.). Pustaka Azzam.

    Ibn Kathir, I. (2000). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (M. A. Ghoffar & A. M. Karim, Terj.). Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

    Ibn Majah, M. Y. (t.t.). Sunan Ibn Majah, Kitab al-‘Ilm.

    Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman gizi seimbang. Kemenkes RI.

    Sadler, T. W. (2019). Langman’s medical embryology (14th ed.). Wolters Kluwer.

    World Health Organization. (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. WHO Press.

    Kontributor: Azzra Nabila Putri Helki

    Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Kecerdasan Buatan dan Etika Keilahian: Tantanga...

    1.  PENDAHULUAN Dunia teknik elektro saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat besar. Kita tidak lagi sekadar bicara soal otomatisas...

    23 May 2026

    Masyarakat Madani dan Kepedulian Kesehatan Publ...

    I. Pendahuluan Kesehatan publik merupakan salah satu indikator utama kemajuan suatu bangsa yang tercermin dari derajat kesejahteraan fisik, ment...

    11 Sep 2026

    Ketika Teknologi Kian Cerdas, Akankah Iman Kita...

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi di era modern, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi tingkat tinggi, te...

    Fungsi Hukum Katolik dalam Membangun Keteratura...

    I. Pendahuluan Institusi pelayanan gizi baik dalam bentuk unit gizi klinik rumah sakit, puskesmas, maupun lembaga pangan berbasis masyarakat mer...

    Kasih Kristus Sebagai Fondasi Perekat Kerja Sam...

    I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan pada era modern tidak lagi dapat dijalankan secara tunggal oleh satu profesi. Seorang pasien yang dirawat di ...

    back to top