Keisha Aulia Chandra • Oct 22 2026 • 54 Dilihat

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pengabdian yang memiliki nilai kemanusiaan sekaligus dapat menjadi ibadah bagi seorang Muslim. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik, tetapi juga harus memiliki sikap profesional, jujur, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan pasien. Setiap tindakan dalam memberikan pelayanan kesehatan, seperti membantu pasien, memberikan edukasi, merawat, maupun memenuhi kebutuhan pasien, dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar karena Allah SWT.
Namun, dalam menjalankan profesi kesehatan terdapat berbagai tantangan yang dapat memengaruhi ketulusan seseorang, salah satunya adalah riya. Riya merupakan sikap melakukan atau memperlihatkan suatu kebaikan dengan tujuan mendapatkan perhatian, pujian, atau pengakuan dari manusia. Dalam kehidupan modern, munculnya media sosial dan budaya pencitraan membuat seseorang semakin mudah memperlihatkan aktivitas baik yang dilakukan kepada orang lain. Dalam pelayanan kesehatan, kondisi tersebut dapat muncul ketika seseorang lebih mengutamakan citra dirinya dibandingkan kepentingan pasien.
Riya bukan hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Perbuatan yang secara lahiriah terlihat baik dapat kehilangan nilai ibadah apabila dilakukan dengan niat untuk mendapatkan pujian manusia. Selain itu, riya juga dapat memengaruhi profesionalisme karena seseorang mungkin memberikan pelayanan yang berbeda ketika mendapatkan perhatian atau pengawasan dibandingkan ketika tidak diperhatikan.
Topik mengenai bahaya riya penting dibahas karena tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan dan keselamatan manusia. Seorang tenaga kesehatan, termasuk ahli gizi, perlu memiliki integritas agar pelayanan yang diberikan benar-benar berorientasi pada kebutuhan pasien. Oleh karena itu, esai ini bertujuan untuk membahas konsep riya berdasarkan perspektif Islam, menganalisis landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadis, menghubungkannya dengan etika profesi kesehatan, serta menjelaskan penerapannya dalam praktik pelayanan kesehatan khususnya bidang gizi.
Secara bahasa, riya berasal dari kata ru’yah yang berarti melihat atau memperlihatkan. Secara istilah, riya adalah melakukan suatu amal dengan tujuan agar amal tersebut dilihat, diketahui, atau mendapatkan pujian dari manusia. Riya termasuk penyakit hati karena berkaitan dengan niat seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Seseorang dapat melakukan perbuatan yang baik secara lahiriah, tetapi apabila tujuan utamanya adalah mendapatkan pengakuan manusia, maka perbuatan tersebut dapat kehilangan nilai keikhlasannya.
Dalam Islam, keikhlasan menjadi dasar penting dalam melakukan amal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” (Kementerian Agama RI, 2019).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah harus dilakukan dengan keikhlasan hanya kepada Allah SWT. Jika dikaitkan dengan pelayanan kesehatan, pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dapat menjadi amal apabila diniatkan untuk membantu manusia sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, orientasi utama seorang tenaga kesehatan seharusnya bukan sekadar mendapatkan pujian, penghargaan, atau popularitas, tetapi memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan tanggung jawab profesinya.
Bahaya riya juga dijelaskan dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–6:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.” (Kementerian Agama RI, 2019).
Ayat tersebut memberikan peringatan terhadap orang yang melakukan ibadah tetapi di dalamnya terdapat sikap riya. Meskipun konteks ayat berkaitan dengan ibadah, pesan mengenai larangan riya memiliki relevansi dalam berbagai amal kebaikan. Dalam pelayanan kesehatan, seseorang dapat melakukan tindakan yang bermanfaat bagi pasien, tetapi jika tujuan utamanya hanya untuk memperoleh pujian atau membangun citra diri, maka nilai keikhlasannya menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Shihab (2002) menjelaskan bahwa riya berkaitan dengan keinginan seseorang untuk mendapatkan perhatian dan penilaian manusia dalam amal yang dilakukannya.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan mengenai riya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa hal yang paling beliau khawatirkan terhadap umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya (HR. Ahmad). Hadis tersebut menunjukkan bahwa riya bukanlah persoalan yang dapat dianggap ringan. Seseorang dapat tetap melakukan kebaikan, tetapi niat yang menyertainya harus diperhatikan agar amal tersebut tidak berubah menjadi sarana mencari pengakuan manusia.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa riya merupakan salah satu penyakit hati yang sulit dikenali karena dapat masuk secara halus ke dalam amal seseorang. Riya dapat muncul karena kecintaan terhadap pujian, kedudukan, dan penghargaan dari manusia (Al-Ghazali, 2011). Hal tersebut sangat relevan dengan kehidupan profesional saat ini. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan, penghargaan dari atasan, pujian pasien, prestasi kerja, hingga perhatian di media sosial dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mendapatkan apresiasi sebenarnya bukan sesuatu yang salah, tetapi masalah muncul apabila penghargaan tersebut menjadi tujuan utama seseorang dalam bekerja.
Dalam etika kesehatan, tenaga kesehatan juga memiliki kewajiban untuk menempatkan kepentingan pasien sebagai salah satu prioritas utama. Beauchamp dan Childress (2019) menjelaskan prinsip beneficence, yaitu kewajiban untuk memberikan manfaat dan mengutamakan kepentingan pasien. Prinsip tersebut memiliki hubungan dengan nilai keikhlasan dalam Islam. Pelayanan yang baik seharusnya tidak dilakukan hanya ketika tenaga kesehatan mendapatkan perhatian, tetapi dilakukan secara konsisten karena merupakan tanggung jawab profesional.
Riya dalam pelayanan kesehatan dapat memberikan dampak pada dua sisi, yaitu sisi spiritual dan profesional. Dari sisi spiritual, riya dapat menyebabkan amal kehilangan nilai keikhlasannya karena orientasinya telah bergeser dari Allah SWT kepada manusia. Dari sisi profesional, sikap tersebut dapat membuat seseorang lebih mementingkan citra daripada kualitas pelayanan. Misalnya, tenaga kesehatan dapat terlihat sangat ramah ketika ada pasien atau atasan yang memperhatikan, tetapi kurang peduli ketika tidak ada yang melihat. Kondisi seperti ini bertentangan dengan prinsip profesionalisme yang menuntut konsistensi dalam memberikan pelayanan.
Dalam bidang gizi, potensi riya juga dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seorang ahli gizi atau calon ahli gizi dapat melakukan edukasi gizi dengan tujuan membantu pasien memahami pola makan yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun, jika kegiatan tersebut lebih banyak digunakan untuk menunjukkan kemampuan diri, mendapatkan pujian, atau membangun popularitas, maka orientasi pelayanan dapat bergeser. Contohnya adalah ketika seseorang terlalu berfokus memperlihatkan kegiatan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial, sementara manfaat dan kebutuhan masyarakat justru menjadi perhatian kedua.
Menurut penulis, penggunaan media sosial dalam pelayanan kesehatan sebenarnya tidak selalu merupakan bentuk riya. Media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan edukasi kesehatan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Hal yang perlu diperhatikan adalah niat, cara penyampaian, serta tujuan publikasi tersebut. Informasi kesehatan sebaiknya disampaikan secara bertanggung jawab, tidak berlebihan dalam menonjolkan diri, dan tetap menjaga privasi serta martabat pasien. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan edukasi, bukan sekadar tempat untuk mendapatkan pengakuan.
Untuk mencegah riya, tenaga kesehatan perlu melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap niat sebelum dan setelah memberikan pelayanan. Membiasakan diri bertanya kepada diri sendiri mengenai alasan melakukan suatu tindakan dapat membantu menjaga keikhlasan. Selain itu, seseorang perlu membangun kebiasaan memberikan pelayanan secara konsisten, baik ketika dilihat maupun tidak dilihat oleh orang lain. Pendidikan agama dan pembentukan karakter juga penting diberikan sejak masa pendidikan tenaga kesehatan agar mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan integritas.
Dalam praktik profesi gizi, keikhlasan dapat diterapkan dengan memberikan edukasi sesuai kebutuhan pasien, menjaga kerahasiaan informasi pasien, tidak membeda-bedakan pasien, serta memberikan pelayanan berdasarkan ilmu dan tanggung jawab profesi. Seorang ahli gizi juga perlu menghindari penggunaan kondisi pasien sebagai bahan pencitraan pribadi. Apabila dokumentasi kegiatan diperlukan untuk kepentingan edukasi atau institusi, maka privasi dan persetujuan pasien tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Dengan demikian, menjauhi riya bukan berarti seorang tenaga kesehatan tidak boleh menerima penghargaan atau membagikan kegiatan positif. Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa penghargaan dan publikasi tersebut bukan menjadi tujuan utama. Keikhlasan perlu berjalan bersama dengan profesionalisme, sehingga seorang tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan terbaik tanpa kehilangan nilai moral dan spiritual dalam pekerjaannya.
Kesimpulan
Riya merupakan penyakit hati yang dapat merusak keikhlasan seseorang dalam melakukan amal. Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an dan Hadis memberikan peringatan mengenai bahaya riya dan pentingnya menjaga niat hanya karena Allah SWT. Dalam pelayanan kesehatan, riya dapat muncul melalui keinginan mendapatkan pujian, penghargaan, popularitas, maupun pengakuan dari pasien, rekan kerja, atasan, atau masyarakat.
Riya juga dapat memberikan dampak terhadap profesionalisme apabila seseorang lebih mengutamakan pencitraan dibandingkan kepentingan pasien. Oleh karena itu, tenaga kesehatan, termasuk ahli gizi, perlu menjaga keseimbangan antara kompetensi profesional dan akhlak. Pelayanan yang diberikan harus berorientasi pada kebutuhan pasien, dilakukan secara konsisten, serta dilandasi keikhlasan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
Saran
Tenaga kesehatan dan mahasiswa bidang kesehatan perlu membiasakan diri melakukan introspeksi terhadap niat dalam menjalankan tugas. Pendidikan agama dan pembentukan karakter juga perlu terus diperkuat selama proses pendidikan maupun dalam lingkungan kerja. Dalam penggunaan media sosial, tenaga kesehatan sebaiknya mengutamakan manfaat edukasi, menjaga privasi pasien, dan menghindari publikasi yang hanya bertujuan membangun citra diri. Dengan menjaga keikhlasan dan profesionalisme secara bersamaan, pelayanan kesehatan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pasien sekaligus menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali. (2011). Ihya’ ulumuddin. Republika Penerbit.
Beauchamp, T. L., & Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.). Oxford University Press.
Ilyas, Y. (2004). Kuliah akhlaq. LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
Ahmad bin Hanbal. (n.d.). Musnad Ahmad.
Kontributor: Keisha Aulia Chandra
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

Pendahuluan Penulisan esai ini bertujuan untuk membahas bagaimana keteladanan akhlak Rasulullah SAW dan selawat dapat menjadi refleksi dalam mem...

I. Pendahuluan Setiap kali seseorang mengalami sakit gigi, seluruh badan ikut merasa tidak nyaman. Tidur jadi susah, makan jadi tidak nikmat, ba...

Pendahuluan Perkembangan ilmu gizi sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya peningkatan kualitas hidup manusia menuntut kompetensi tinggi, sehi...

Pendahuluan Profesi tenaga kesehatan merupakan salah satu bentuk pekerjaan yang memiliki tanggung jawab besar karena berhubungan langsung dengan...

Pendahuluan Dalam setiap proses persalinan, bidan sering menjadi pihak yang paling pertama berhadapan dengan tanda bahaya pada pasien, dan dari ...

No comments yet.