Bintang Marsitta S • Oct 30 2026 • 17 Dilihat

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang kesehatan dan gizi. Berbagai informasi mengenai pola makan sehat, kebutuhan gizi, pencegahan stunting, hingga konsultasi kesehatan kini dapat diakses dengan mudah melalui internet dan berbagai aplikasi digital. Kemajuan teknologi ini memberikan banyak manfaat karena mampu mempercepat penyebaran informasi, mempermudah komunikasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, serta meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan. Di Indonesia, pemanfaatan teknologi digital dalam bidang kesehatan terus mengalami perkembangan. Pemerintah dan berbagai institusi kesehatan mulai memanfaatkan media digital untuk mendukung program kesehatan masyarakat, termasuk program perbaikan gizi. Berbagai aplikasi kesehatan, layanan konsultasi daring, dan platform edukasi gizi telah dikembangkan untuk membantu masyarakat memperoleh informasi yang cepat dan mudah diakses. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat.
Namun, perkembangan teknologi yang pesat belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Masih terdapat kesenjangan akses terhadap internet, perangkat digital, dan kemampuan menggunakan teknologi yang dikenal sebagai jurang digital. Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, memiliki kondisi ekonomi rendah, atau tingkat pendidikan yang terbatas sering kali mengalami kesulitan dalam mengakses layanan digital. Akibatnya, mereka memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk memperoleh informasi dan layanan kesehatan dibandingkan masyarakat yang memiliki akses teknologi yang lebih baik. Dalam bidang gizi, jurang digital dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti rendahnya akses terhadap edukasi gizi, terbatasnya pemanfaatan layanan konsultasi kesehatan, serta kurang optimalnya penyebaran informasi mengenai pencegahan masalah gizi. Kondisi tersebut dapat memperlebar kesenjangan kesehatan antar kelompok masyarakat dan menghambat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemerataan akses teknologi menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung pembangunan kesehatan yang berkeadilan.
Dari perspektif agama, keadilan dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap individu memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, upaya mengurangi jurang digital dalam akses teknologi gizi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Berdasarkan uraian tersebut, esai ini akan membahas mengenai jurang digital dan kaitannya dengan keadilan akses teknologi gizi bagi seluruh lapisan masyarakat, ditinjau dari perspektif agama, hasil kajian ilmiah, serta implementasinya dalam praktik profesi gizi.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kesehatan dan gizi. Melalui internet, media sosial, aplikasi kesehatan, dan berbagai platform digital lainnya, masyarakat kini dapat memperoleh informasi kesehatan dengan lebih cepat dan mudah. Dalam bidang gizi, teknologi dimanfaatkan untuk memberikan edukasi mengenai gizi seimbang, konsultasi dengan ahli gizi secara daring, pemantauan status gizi, serta penyebaran informasi mengenai pencegahan stunting dan pola hidup sehat. Kehadiran teknologi tersebut memberikan banyak kemudahan karena masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada layanan tatap muka untuk mendapatkan informasi kesehatan.
Namun, manfaat perkembangan teknologi tersebut belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Masih terdapat kelompok masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam mengakses internet, memiliki perangkat digital yang memadai, maupun memahami cara menggunakan teknologi dengan baik. Kondisi ini dikenal sebagai jurang digital, yaitu kesenjangan antara masyarakat yang memiliki akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi dengan masyarakat yang memiliki akses terbatas atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali. Jurang digital dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, usia, serta lokasi geografis. Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil sering kali menghadapi keterbatasan jaringan internet dan infrastruktur digital sehingga lebih sulit memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan.
Dalam perspektif Islam, keadilan merupakan salah satu nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia berhak memperoleh perlakuan yang adil dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks perkembangan teknologi, keadilan dapat diwujudkan melalui pemerataan akses terhadap informasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Teknologi seharusnya menjadi sarana yang membantu meningkatkan kualitas hidup seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik. Oleh karena itu, upaya mengurangi jurang digital merupakan salah satu bentuk penerapan nilai keadilan yang diajarkan dalam Islam.
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Hadis tersebut mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus dimanfaatkan untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada masyarakat. Kemajuan teknologi yang hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat tentu belum mencerminkan tujuan kemanfaatan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat perlu bekerja sama agar teknologi kesehatan dan gizi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya diskriminasi.
Nilai keadilan dan kepedulian terhadap sesama juga diajarkan dalam agama Kristen. Dalam Kitab Mikha 6:8 disebutkan:
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan yang adil, termasuk dalam mengakses informasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Dalam konteks jurang digital, nilai keadilan dapat diwujudkan melalui pemerataan akses teknologi sehingga seluruh masyarakat dapat memperoleh manfaat yang sama dari perkembangan teknologi kesehatan dan gizi. Selain itu, dalam Kitab Galatia 6:2 tertulis:
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2).
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya kepedulian dan sikap saling membantu sesama manusia. Dalam konteks jurang digital, masyarakat yang memiliki akses dan kemampuan teknologi yang lebih baik dapat membantu kelompok yang masih mengalami keterbatasan melalui edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan. Dengan demikian, manfaat teknologi dapat dirasakan oleh lebih banyak orang tanpa meninggalkan kelompok yang masih tertinggal.
Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa jurang digital masih menjadi tantangan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Meskipun penggunaan internet terus meningkat dari tahun ke tahun, tidak semua masyarakat dapat menikmati akses yang sama terhadap teknologi digital. Masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan umumnya lebih mudah memperoleh akses internet dan memanfaatkan layanan kesehatan digital dibandingkan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan maupun wilayah terpencil. Penelitian Nababan (2024) menunjukkan bahwa keterbatasan jaringan internet dan sarana pendukung digital masih menjadi hambatan utama dalam pemanfaatan layanan kesehatan berbasis teknologi di beberapa daerah Indonesia. Selain itu, Kunnati dkk. (2025) menjelaskan bahwa rendahnya literasi digital menyebabkan sebagian masyarakat kesulitan memahami dan menyaring informasi kesehatan yang diperoleh melalui internet. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan akses internet saja belum cukup, tetapi perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.
Jurang digital tidak hanya berdampak pada akses informasi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Ketika sebagian masyarakat tidak mampu mengakses informasi kesehatan dan gizi yang akurat, mereka berisiko mengalami kesalahan dalam menerapkan pola makan maupun mengambil keputusan terkait kesehatan keluarga. Orang tua yang sulit memperoleh informasi mengenai gizi seimbang, pemberian makan bayi dan anak, serta pencegahan stunting tentu memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki akses teknologi lebih baik cenderung lebih mudah memperoleh pengetahuan kesehatan terbaru. Perbedaan ini dapat menimbulkan kesenjangan pengetahuan yang pada akhirnya memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Misalnya, kurangnya akses terhadap informasi mengenai gizi seimbang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih, sedangkan keterbatasan informasi mengenai pencegahan stunting dapat menghambat upaya peningkatan kualitas kesehatan anak di Indonesia (Saragi, 2025).
Masalah jurang digital sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini karena masih terdapat perbedaan akses teknologi antara daerah perkotaan dan pedesaan. Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi berbagai permasalahan gizi, seperti stunting, anemia pada remaja, serta meningkatnya kasus gizi lebih pada anak maupun orang dewasa. Saat ini berbagai informasi mengenai pencegahan dan penanganan masalah gizi banyak disebarkan melalui media digital, baik melalui aplikasi kesehatan, media sosial, maupun layanan konsultasi daring. Namun, apabila sebagian masyarakat tidak memiliki akses terhadap teknologi atau belum mampu memanfaatkannya dengan baik, maka informasi tersebut tidak dapat diterima secara merata. Akibatnya, kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses teknologi berisiko tertinggal dalam memperoleh pengetahuan dan layanan yang dapat membantu memperbaiki status gizinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan akses teknologi memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program perbaikan gizi di Indonesia.
Di era digital saat ini, berbagai program kesehatan pemerintah mulai memanfaatkan teknologi sebagai sarana penyebaran informasi dan pelayanan kepada masyarakat. Program edukasi kesehatan melalui media sosial, aplikasi kesehatan, serta layanan konsultasi daring menjadi semakin umum digunakan. Namun, apabila masih terdapat kelompok masyarakat yang belum memiliki akses terhadap teknologi tersebut, maka manfaat program yang dijalankan tidak dapat dirasakan secara optimal. Oleh karena itu, pemerataan akses teknologi perlu menjadi bagian penting dalam pembangunan kesehatan nasional agar tidak menimbulkan kesenjangan baru di tengah masyarakat.
Selain pembangunan infrastruktur, peningkatan literasi digital juga menjadi faktor penting dalam mengurangi jurang digital. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menilai, dan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari internet secara bijak. Masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik akan lebih mampu membedakan informasi kesehatan yang benar dengan informasi yang menyesatkan. Dengan demikian, peningkatan literasi digital dapat membantu masyarakat memperoleh manfaat yang lebih besar dari perkembangan teknologi kesehatan dan gizi (Sumarliah et al., 2026).
Dalam bidang gizi, pemanfaatan teknologi yang merata dapat memberikan dampak positif yang besar bagi masyarakat. Informasi mengenai kebutuhan gizi berdasarkan usia, pemantauan pertumbuhan anak, pola makan sehat, hingga pencegahan berbagai penyakit dapat disebarkan secara lebih luas dan cepat. Teknologi juga dapat membantu tenaga kesehatan menjangkau masyarakat yang berada di lokasi jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, pengembangan teknologi gizi yang mudah diakses, mudah dipahami, dan ramah pengguna perlu terus didukung agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali (Yoghatama & Pamungkas, 2025).
Menurut penulis, pemerataan akses teknologi gizi perlu menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah perlu terus memperluas pembangunan jaringan internet hingga ke daerah terpencil agar masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh informasi kesehatan. Selain itu, edukasi mengenai penggunaan teknologi dan literasi digital juga perlu ditingkatkan sehingga masyarakat mampu memilih informasi yang benar dan bermanfaat. Dengan adanya akses dan kemampuan yang memadai, masyarakat akan lebih mudah memperoleh informasi gizi, mencegah berbagai masalah kesehatan, serta mengambil keputusan yang lebih baik bagi diri sendiri maupun keluarganya. Dengan demikian, manfaat perkembangan teknologi dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai calon ahli gizi, saya memiliki peran dalam mendukung pemerataan akses teknologi gizi melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Pemanfaatan media digital dapat digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai gizi seimbang, pencegahan stunting, pentingnya konsumsi makanan bergizi, dan pola hidup sehat. Namun, pelayanan secara langsung juga tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang belum memiliki akses teknologi yang memadai. Dengan menggabungkan pendekatan digital dan pelayanan langsung, ahli gizi dapat membantu menjangkau lebih banyak masyarakat serta memastikan bahwa manfaat perkembangan teknologi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam bidang kesehatan dan gizi. Teknologi digital memungkinkan masyarakat memperoleh informasi kesehatan dengan lebih cepat dan mudah melalui internet, media sosial, aplikasi kesehatan, serta berbagai platform digital lainnya. Pemanfaatan teknologi juga mendukung pelaksanaan edukasi gizi, konsultasi kesehatan secara daring, pemantauan kondisi kesehatan, dan penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat secara lebih luas.
Meskipun demikian, manfaat teknologi tersebut belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat karena masih adanya jurang digital. Jurang digital merupakan kesenjangan yang terjadi akibat perbedaan akses terhadap teknologi, jaringan internet, kemampuan menggunakan perangkat digital, tingkat pendidikan, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kesenjangan ini menyebabkan sebagian masyarakat, khususnya yang berada di daerah terpencil atau memiliki keterbatasan ekonomi, mengalami kesulitan dalam mengakses informasi kesehatan dan gizi yang akurat dan terpercaya.
Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa jurang digital dapat berdampak pada rendahnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan dan gizi, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan berbasis digital, serta meningkatnya risiko penyebaran informasi yang tidak benar. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk meningkatkan pemerataan akses teknologi serta kemampuan literasi digital. Dengan tersedianya akses teknologi yang lebih merata dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara bijak, informasi kesehatan dan gizi dapat dijangkau oleh semua kalangan sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Ahmad. (n.d.). Musnad Ahmad. Sunnah.com. https://sunnah.com/ahmad
Alkitab. (2015). Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia. https://alkitab.mobi
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2020). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia. https://quran.kemenag.go.id
Kunnati, K., Supriadi, A., Yuliyati, I., & Listiyaningsih. (2025). Kesenjangan digital dalam telemedicine sebagai faktor penentu ketimpangan kesehatan di Indonesia: Tinjauan skoping. Journal of Public Health Education, 2(1), 15–24. https://doi.org/10.53801/jphe.v4i3.422
Nababan, H. (2024). Digital health divide in Indonesia: Evidence from national-level data. European Journal of Public Health, 34(Supplement_3), ckae144.426. DOI: https://doi.org/10.1093/eurpub/ckae144.426
Saragi, M. (2025). A narrative review of AI-based digital health policies to enhancenutrition service quality in primary healthcare in Indonesia. AcTion: Aceh Nutrition Journal, 10(4), 875–887. https://doi.org/10.30867/action.v10i4.2940
Sumarliah, E., Mousa, K., & Iskandar, Y. (2026). Beyond the digital divide: Multi-group SEM examination of socioeconomic status, mHealth utilization, and urban-rural physical activity disparities in Indonesia. Frontiers in Digital Health, 8, 1831481. https://doi.org/10.3389/fdgth.2026.1831481
World Health Organization. (2024, June 14). Digital health. World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/digital-health
Yoghatama, A., & Pamungkas, E. W. (2025). Development of a web-based platform for nutrition education and early stunting detection. Bit-Tech (Binary Digital-Technology), https://doi.org/10.32877/bt.v8i1.2559
Kontributor: Bintang Marsitta S
Editor: Ahmad Fauzi, M.Pd.
PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...
Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...
1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...
PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...
PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...
Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

1. PENDAHULUAN Perkembangan masyarakat perkotaan pada era modern ditandai oleh meningkatnya kompleksitas sosial yang melibatkan keberagaman agam...

I. Pendahuluan Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu masalah kese...

1. PENDAHULUAN Dalam diskursus keamanan kontemporer, ancaman terhadap stabilitas negara sering kali dikategorikan ke dalam dua spektrum: ancaman...

1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang kesehatan dan pelay...

Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi paling terhubung secara digital dalam sejarah, na...

No comments yet.