Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Menabur Sedekah Jariyah lewat Edukasi Kesehatan Jantung yang Berkesinambungan

    • Oct 30 2026 • 9 Dilihat

    Pendahuluan

    Kesehatan jantung merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup manusia. Penyakit jantung tidak hanya terjadi karena faktor keturunan atau usia, tetapi juga berkaitan dengan berbagai kebiasaan yang dapat diubah, seperti pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, dan kebiasaan hidup lainnya. Lim et al. (2024) menjelaskan bahwa faktor gaya hidup tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Karena sebagian faktor risiko dapat dimodifikasi, pencegahan menjadi langkah yang sangat penting dan perlu dilakukan sebelum seseorang mengalami penyakit.

    Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendukung pencegahan tersebut adalah melalui edukasi kesehatan. Edukasi membantu masyarakat memahami penyakit, mengenali faktor risikonya, dan mengetahui tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan. Namun, edukasi kesehatan tidak seharusnya berhenti pada penyampaian informasi dalam satu kali pertemuan. Pengetahuan perlu diterima dengan cara yang sesuai, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan terus diperkuat agar manfaatnya dapat bertahan. Dalam perspektif Islam, proses memberikan ilmu yang bermanfaat juga memiliki nilai yang lebih luas. Ilmu yang dimanfaatkan dan diteruskan kepada orang lain dapat menjadi salah satu bentuk amal yang terus memberikan manfaat. Oleh karena itu, esai ini membahas bagaimana edukasi kesehatan jantung dapat dilakukan secara berkesinambungan sehingga tidak hanya membantu mencegah penyakit, tetapi juga menjadi bentuk nyata dalam menebarkan ilmu yang bermanfaat bagi sesama.

    Pembahasan

    Pencegahan penyakit jantung pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan seseorang mengenai faktor risiko dan cara menjaga kesehatan. Seseorang akan lebih mudah mengambil keputusan yang sehat apabila memahami alasan di balik perilaku tersebut. Hassen et al. (2022) menjelaskan bahwa peningkatan pengetahuan merupakan bagian penting dalam mendorong perubahan perilaku untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Melalui systematic review terhadap tujuh penelitian randomized controlled trial dan sembilan penelitian non-randomized controlled trial dengan total 34.845 peserta, sebagian besar intervensi berbasis komunitas menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai penyakit kardiovaskular dan faktor risikonya. Intervensi tersebut dilakukan melalui berbagai cara, seperti pendidikan kesehatan, diskusi kelompok, pelatihan, kampanye, konseling, dukungan sebaya, dan pemberian materi edukasi.

    Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi memiliki posisi penting dalam pencegahan penyakit jantung. Akan tetapi, pengetahuan saja belum tentu langsung menghasilkan perubahan perilaku. Seseorang dapat mengetahui bahwa aktivitas fisik penting bagi kesehatan jantung, tetapi belum tentu menjadikannya kebiasaan. Seseorang juga dapat mengetahui pentingnya pola makan sehat, tetapi tetap sulit menerapkannya jika lingkungan dan kebiasaan sehari-hari tidak mendukung. Karena itu, edukasi yang baik perlu menjembatani pengetahuan dengan tindakan. Pesan kesehatan harus disampaikan dengan cara yang dapat dipahami dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

    Hal tersebut terlihat pada penelitian Prasetyo et al. (2026) yang menggunakan budaya gandrung banyuwangi sebagai pendekatan dalam edukasi pencegahan penyakit jantung. Kegiatan dilakukan dalam bentuk workshop melalui ceramah dan diskusi interaktif kepada 30 seniman gandrung. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dengan pengetahuan baik meningkat dari 6,67% sebelum kegiatan menjadi 83,33% setelah mengikuti workshop. Peserta juga diberikan buku saku sebagai media pendamping, dan mereka menilai media berbasis budaya lebih mudah dipahami, menarik, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari penelitian tersebut dapat dipahami bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang formal dan sama untuk semua orang. Masyarakat memiliki budaya, kebiasaan, dan cara memahami informasi yang berbeda. Ketika edukasi menggunakan sesuatu yang sudah dikenal oleh masyarakat, pesan kesehatan menjadi lebih dekat dan tidak terasa sebagai informasi yang asing. Hal ini penting karena tujuan edukasi bukan sekadar membuat seseorang dapat menjawab pertanyaan setelah diberikan materi, tetapi membantu seseorang memahami mengapa kesehatan perlu dijaga dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan.

    Dalam Islam, ilmu sendiri memiliki kedudukan yang tinggi. Allah swt. berfirman:

    ูˆูŽู‚ูู„ู’ ุฑูŽุจูู‘ ุฒูุฏู’ู†ููŠ ุนูู„ู’ู…ู‹ุง

    Artinya: โ€œDan katakanlah, โ€˜Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.โ€™โ€ (QS. Taha [20]: 114).

    Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang muslim. Fattah dan Yuni (2026), ketika menjelaskan pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani, menerangkan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan ilmu karena Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon tambahan ilmu. Ibnu Hajar terutama menjelaskan ilmu syarโ€˜i sebagai ilmu yang wajib dipelajari untuk menjalankan agama dengan benar. Namun, artikel tersebut juga menjelaskan bahwa ilmu umum tidak menutup kemungkinan termasuk dalam ilmu yang bermanfaat apabila ilmu tersebut dibutuhkan, dipelajari, dan diamalkan untuk kemaslahatan.

    Pemahaman ini dapat dikaitkan dengan edukasi kesehatan. Pengetahuan tentang kesehatan jantung memang bukan ilmu agama, tetapi pengetahuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Seseorang yang memahami faktor risiko penyakit jantung memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga dirinya. Ketika pengetahuan tersebut diberikan kepada orang lain, kemudian dipahami dan diamalkan, manfaatnya menjadi lebih luas. Dengan kata lain, ilmu kesehatan tidak hanya berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi dasar seseorang untuk melakukan kebaikan terhadap dirinya dan orang lain.

    Hal tersebut semakin jelas jika dikaitkan dengan hadis Rasulullah SAW.:

    ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุงู†ู’ู‚ูŽุทูŽุนูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู: ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉูุŒ ุฃูŽูˆู’ ุนูู„ู’ู…ู ูŠูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ูุŒ ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู ุตูŽุงู„ูุญู ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ู„ูŽู‡ู

    Artinya: โ€œJika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.โ€ (HR. Muslim No. 1631).

    Hadis tersebut menjadi dasar penting bagi gagasan bahwa manfaat ilmu dapat terus berlanjut. Fattah dan Yuni (2026) menjelaskan bahwa โ€˜ilmun yuntafaโ€˜u bih berkaitan dengan ilmu yang memberikan manfaat, kemudian diajarkan dan diwariskan kepada orang lain sehingga menghasilkan kebaikan melalui proses transfer ilmu.

    Namun, jika dikaitkan dengan kata โ€œberkesinambunganโ€, ada hal yang perlu diperhatikan. Edukasi satu kali tidak otomatis membuat perubahan perilaku bertahan dalam jangka panjang. Hal ini didukung oleh Hassen et al. (2021) yang melakukan systematic review dan meta-regression terhadap 44 randomized controlled studies dan 20 non-randomized controlled studies dengan total 98.919 peserta. Intervensi berbasis komunitas meningkatkan kemungkinan peserta mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan pada follow-up 12 bulan dengan OR 1,62 dan pada 18โ€“24 bulan dengan OR 1,46. Intervensi juga meningkatkan beberapa ukuran aktivitas fisik, seperti waktu aktivitas fisik sedang hingga berat dan jumlah langkah per hari.

    Akan tetapi, penelitian tersebut juga memberikan pelajaran penting mengenai keberlanjutan. Pada follow-up 36 bulan atau lebih, peningkatan pencapaian aktivitas fisik yang direkomendasikan tidak lagi menunjukkan hasil yang signifikan. Penulis juga menekankan bahwa efektivitas intervensi dapat menurun dalam follow-up yang lebih panjang sehingga program perlu memikirkan mekanisme untuk mempertahankan dampaknya setelah intervensi selesai.

    Temuan tersebut membuat makna edukasi berkesinambungan menjadi lebih jelas. Berkesinambungan bukan berarti seseorang harus terus-menerus menerima ceramah yang sama, tetapi harus ada cara agar pesan kesehatan tetap diingat dan dapat diterapkan. Media edukasi dapat menjadi salah satu caranya. Dukungan keluarga dan kelompok sebaya juga dapat membantu. Selain itu, tindak lanjut secara berkala dapat digunakan untuk menguatkan kembali perilaku yang sudah mulai terbentuk. Jadi, edukasi sebaiknya dipandang sebagai sebuah proses, bukan hanya sebuah kegiatan.

    Peran lingkungan sosial menjadi semakin penting ketika seseorang berusaha mempertahankan perubahan perilaku. Lim et al. (2024) menjelaskan bahwa peer support dapat membantu seseorang mempertahankan perilaku kesehatan karena individu dengan latar belakang atau pengalaman yang serupa dapat memberikan rasa kebersamaan dan dukungan emosional. Dukungan tersebut dapat memperkuat motivasi ketika seseorang menghadapi hambatan dalam mempertahankan perubahan perilaku.

    Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa frekuensi edukasi dapat memengaruhi penguatan perilaku. Pada beberapa penelitian yang ditelaah, perubahan perilaku lebih terlihat ketika edukasi kelompok diberikan secara lebih sering dan terdapat follow-up setelah peserta memiliki waktu untuk menerapkan perubahan. Sebaliknya, edukasi yang hanya diberikan satu kali atau dengan frekuensi rendah tidak selalu menghasilkan perbedaan yang sama. Penulis menyimpulkan bahwa edukasi yang lebih sering dapat memberikan penguatan terhadap pesan dan perilaku, sedangkan follow-up memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba dan mempertahankan perubahan tersebut.

    Jika ketiga temuan tersebut digabungkan, terlihat suatu alur yang cukup jelas. Edukasi memberikan pengetahuan, pendekatan yang sesuai budaya membantu masyarakat menerima pesan, kemudian dukungan komunitas membantu pengetahuan tersebut diterapkan dan dipertahankan. Karena itu, edukasi kesehatan jantung yang berkesinambungan sebaiknya dibangun sebagai rangkaian yang saling terhubung. Kegiatan edukasi dapat dimulai dengan memberikan informasi yang benar, dilanjutkan dengan media yang dapat dipelajari kembali, kemudian diperkuat melalui keluarga, kelompok sebaya, dan tindak lanjut. Pola seperti ini membuat ilmu tidak berhenti ketika kegiatan edukasi selesai.

    Konsep tersebut juga dapat diterapkan dalam pelayanan kebidanan. Pelayanan kebidanan tidak hanya berkaitan dengan penanganan masalah kesehatan ketika sudah terjadi, tetapi juga memiliki ruang dalam upaya promotif dan preventif. Edukasi mengenai gaya hidup sehat dapat diberikan kepada perempuan dan keluarga sesuai dengan kebutuhan mereka. Pengetahuan mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, penghindaran rokok, pengenalan faktor risiko, serta pentingnya mencari pertolongan ketika muncul tanda atau keluhan yang memerlukan pemeriksaan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran kesehatan.

    Perempuan juga memiliki posisi yang penting dalam keluarga. Pengetahuan yang diperoleh seorang perempuan tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan tersebut dapat dibagikan kepada pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya. Karena itu, pelayanan yang memberikan edukasi kepada perempuan sekaligus melibatkan keluarga memiliki peluang untuk memperluas manfaat informasi kesehatan. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan komunitas yang digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu menjadikan lingkungan sosial sebagai bagian dari proses perubahan perilaku.

    Dalam konteks inilah pelayanan kebidanan dapat menjadi salah satu ruang untuk โ€œmenaburโ€ ilmu. Bidan tidak hanya memberikan informasi ketika pasien membutuhkan, tetapi dapat membantu membangun pemahaman kesehatan yang dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan keluarga. Edukasi juga dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran sehingga lebih mudah dipahami. Pendekatan seperti penggunaan bahasa sederhana, diskusi, media edukasi, dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membantu masyarakat menerima informasi dengan lebih baik. Pengalaman Prasetyo et al. (2026) menunjukkan bahwa ketika pesan kesehatan disampaikan melalui pendekatan yang dekat dengan identitas masyarakat, penerimaan terhadap pesan menjadi lebih baik.

    Pada akhirnya, hubungan antara edukasi kesehatan dan amal jariyah tidak hanya terletak pada tindakan โ€œmengajarโ€, tetapi pada manfaat yang lahir setelah ilmu tersebut diberikan. Satu orang mendapatkan pengetahuan, kemudian menerapkannya. Setelah itu, ia dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada keluarganya. Keluarga dapat membangun kebiasaan yang lebih sehat, dan kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya kesehatan di lingkungan mereka. Inilah yang membuat sebuah edukasi memiliki kemungkinan untuk memberikan dampak yang lebih luas daripada kegiatan awalnya.

    Tentu, seseorang tidak dapat memastikan sendiri bahwa setiap edukasi yang diberikan pasti menjadi amal jariyah, karena nilai amal merupakan perkara yang berada dalam penilaian Allah SWT. Namun, manusia dapat berusaha agar ilmu yang diberikan benar-benar bermanfaat, disampaikan dengan niat yang baik, dan dapat digunakan oleh orang lain. Fattah dan Yuni (2026) menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat berkaitan dengan ilmu yang tidak hanya dimiliki, tetapi juga disebarkan dan menghasilkan manfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, memberikan edukasi kesehatan jantung dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk menghadirkan manfaat yang terus mengalir melalui pengetahuan dan perubahan perilaku.

    Penutup

    Edukasi kesehatan jantung yang berkesinambungan bukan sekadar kegiatan menyampaikan informasi mengenai penyakit, tetapi merupakan proses untuk membantu seseorang mengetahui, memahami, menerapkan, dan mempertahankan perilaku yang mendukung kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas dapat meningkatkan pengetahuan dan aktivitas fisik, sementara pendekatan budaya dan dukungan sebaya dapat membantu masyarakat menerima serta mempertahankan pesan kesehatan. Namun, keberlanjutan tidak terjadi secara otomatis sehingga diperlukan media edukasi, penguatan, dukungan keluarga atau komunitas, dan tindak lanjut. Dalam perspektif Islam, upaya tersebut memiliki makna yang lebih dalam karena ilmu yang dimanfaatkan dan memberikan kebaikan kepada orang lain termasuk salah satu bentuk amal yang manfaatnya dapat terus berlanjut. Pelayanan kebidanan dapat menjadi salah satu ruang untuk menjalankan proses tersebut melalui edukasi promotif dan preventif kepada perempuan, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, edukasi kesehatan jantung dapat menjadi lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan: ia dapat menjadi usaha menanam ilmu yang tumbuh menjadi kesadaran, perilaku sehat, dan manfaat bagi orang lain. Ilmu yang diberikan hari ini mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk disampaikan, tetapi manfaatnya dapat terus hidup ketika ilmu tersebut dipahami, diamalkan, dan diteruskan.

    Daftar Pustaka

    Fattah, M., & Yuni, B. H. N. (2026). Pendidikan sebagai sarana amal jariyah: Analisis hadits tentang amal pasca kematian dalam perspektif pendidikan Islam. Al-Alim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 254โ€“264. https://doi.org/10.65118/alim.v2i2.24

    Hassen, H. Y., Ndejjo, R., Musinguzi, G., Van Geertruyden, J.-P., Abrams, S., & Bastiaens, H. (2021). Effectiveness of community-based cardiovascular disease prevention interventions to improve physical activity: A systematic review and meta-regression. Preventive Medicine, 153, 106797. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2021.106797

    Hassen, H. Y., Ndejjo, R., Van Geertruyden, J.-P., Musinguzi, G., Abrams, S., & Bastiaens, H. (2022). Type and effectiveness of community-based interventions in improving knowledge related to cardiovascular diseases and risk factors: A systematic review. American Journal of Preventive Cardiology, 10, 100341. https://doi.org/10.1016/j.ajpc.2022.100341

    Lim, G. P., Appalasamy, J. R., Ahmad, B., Quek, K. F., & Ramadas, A. (2024). Peer-led lifestyle interventions for the primary prevention of cardiovascular disease in community: A systematic review of randomised controlled trials. BMC Public Health, 24, 812. https://doi.org/10.1186/s12889-024-18328-w

    Prasetyo, J., Gustian, C. I., & Suhita, B. M. (2026). Upaya pemberian edukasi pencegahan penyakit jantung berbasis budaya Gandrung Banyuwangi. PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 11(2), 641โ€“647. https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v11i2.11027

    Kontributor:ย Luthfiyyah Labibah

    Editor:ย Ahmad Fauzi, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Tata Kelola Kampus Berintegritas: Strategi Peny...

    1. PENDAHULUAN Konflik nilai di lingkungan kampus merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan akademik modern. Keberagaman lat...

    11 Apr 2026

    Desain Materi Penyuluhan Anti Korupsi yang Mena...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu permasalahan paling mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia sejak lama dan hingga kini belum sepenuh...

    25 Apr 2026

    Nilai A, tapi Kosong: Krisis Amanah di Dunia Pe...

    1. PENDAHULUAN Di sebuah kelas perkuliahan, seorang mahasiswa menyerahkan laporan praktikum dengan hasil yang sempurna. Grafik yang rapi, data y...

    Kerugian Negara VS Hukuman Koruptor: Ketidaksei...

    1. PENDAHULUAN Korupsi yang menyebabkan kerugian keuangan negara merupakan persoalan serius di Indonesia karena efeknya langsung menurunkan kapa...

    09 Apr 2026

    Indikator Keberhasilan Penyuluhan Anti Korupsi

    PENDAHULUAN Korupsi di Indonesia telah menjadi masalah struktural yang sangat kompleks dan memberikan dampak destruktif terhadap seluruh sendi k...

    back to top