Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Ketakwaan Sebagai Sumber Ketenangan Psikologis Bagi Perawat dalam Menghadapi Kegawatdaruratan Medis

    • Sep 05 2026 • 77 Dilihat

    Pendahuluan

    Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan terdepan yang berinteraksi secara intensif dengan pasien dalam berbagai kondisi klinis. Salah satu situasi pelayanan keperawatan yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan emosional tingkat tinggi adalah saat berhadapan dengan kegawatdaruratan medis. Dalam kondisi kritis, perawat dituntut untuk bertindak secara cepat, tepat, dan cermat karena kondisi keselamatan jiwa pasien dapat berubah secara drastis dalam hitungan detik. Selain penguasaan keterampilan teknis klinis dan keahlian resusitasi, seorang perawat juga wajib memiliki kemampuan regulasi emosi agar tetap tenang, fokus, dan tidak panik di bawah tekanan tinggi. Di lapangan, keadaan darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun Intensive Care Unit (ICU) kerap memicu tekanan emosional, kecemasan, kelelahan fisik, hingga potensi kecemasan akut, terlebih saat perawat harus berhadapan dengan kepanikan keluarga pasien. Jika tekanan psikologis tersebut tidak dikelola dengan baik, konsentrasi, ketelitian, dan kualitas asuhan keperawatan dapat terganggu secara signifikan.

    Dalam perspektif keperawatan holistik, dimensi spiritualitas dan ketakwaan kepada Allah SWT memegang peranan yang sangat vital dalam membentengi batin tenaga kesehatan. Ketakwaan menghadirkan ketenangan batin (sakinah) karena seorang perawat yang beriman memiliki keyakinan mendalam bahwa setiap ikhtiar medis yang dilakukan secara sungguh-sungguh merupakan bentuk penyempurnaan amanah dan nilai ibadah kepada Allah SWT. Dengan landasan tauhid dan ketakwaan ini, perawat dapat mencurahkan segenap kemampuan profesionalnya secara optimal tanpa terjebak dalam rasa cemas yang berlebihan terhadap hasil akhir yang berada di luar batas kendali manusia. Pembahasan mengenai ketakwaan sebagai sumber ketenangan psikologis perawat ini sangat penting untuk dikaji secara mendalam. Berdasarkan latar belakang tersebut, esai ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi ketakwaan—yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis Nabi, pemikiran ulama, dan bukti riset ilmiah keperawatan modern—dapat ditransformasikan menjadi fondasi ketenangan psikologis serta profesionalisme perawat saat menangani kegawatdaruratan medis.

    Pembahasan

    Secara konseptual, ketakwaan merupakan manifestasi kesadaran seorang Muslim untuk menjalankan seluruh perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, serta menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ranah profesi keperawatan, ketakwaan berkaitan erat dengan konsep spiritual self-care dan keperawatan holistik yang memandang manusia secara utuh meliputi aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Asuhan keperawatan yang berorientasi pada nilai spiritual tidak hanya ditujukan kepada pasien, melainkan juga menjadi sarana perlindungan mental bagi diri perawat itu sendiri (nurse spiritual self-care). Ausar et al. (2021) menyatakan bahwa praktik spiritual self-care dalam literatur keperawatan terbukti menjadi strategi penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis dan membantu perawat mengelola stres kerja di lingkungan yang bertekanan tinggi. Situasi kegawatdaruratan menuntut pengambilan keputusan klinis secara cepat. Jika perawat dikuasai kepanikan, kemampuan berpikir kritis dan komunikasi terapeutik akan terganggu. Di sinilah ketakwaan berperan sebagai jangkar emosional yang memberikan kestabilan jiwa.

    Landasan utama mengenai pentingnya mengingat Allah SWT sebagai sumber ketenangan batin tertuang secara eksplisit dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28:

    ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

    Alladhīna āmanū wa taṭma’innu qulūbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb.

    Terjemahannya:

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

    Ayat ini menegaskan bahwa mengingat Allah (dzikrullah) merupakan penawar utama bagi gejolak kecemasan. Dalam praktik kegawatdaruratan, perawat dapat menerapkan nilai ayat ini dengan memanjatkan doa singkat atau berzikir dalam hati saat menghadapi situasi kritis, tanpa mengurangi kecepatan dan ketepatan tindakan medis yang harus dilakukan. Ketenangan spiritual ini diperkuat oleh petunjuk Rasulullah SAW mengenai kedudukan ujian dan kelelahan seorang mukmin. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

    Mā yuṣībul-muslima min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammin wa lā ḥazanin wa lā ażan wa lā ghammin ḥattāsy-syaukati yusyākuhā illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāh.

    Terjemahannya:

    “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kedukaan, bahkan kecemasan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab situasi tersebut.” (HR. Muslim no. 2573, shahih).

    Hadis ini memberikan motivasi spiritual yang mendalam bagi perawat. Rasa lelah, ketegangan, dan tekanan mental yang dialami saat berjuang menyelamatkan nyawa pasien di ruang gawat darurat tidak akan sia-sia, melainkan bernilai pahala dan penggugur dosa apabila dihadapi dengan sikap sabar dan ikhlas. Dalam tradisi pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali dalam karya monumental Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ketenangan jiwa (thuma’ninah) hanya dapat dicapai melalui penyucian hati (tazkiyatun nafs) dan pendekatan diri kepada Allah. Hati yang bersih dari sifat tergesa-gesa dan dikuatkan oleh kepasrahan kepada-Nya akan melahirkan keteguhan sikap dalam menghadapi situasi sulit.

    Kajian ilmiah keperawatan modern memperkuat bukti pentingnya dimensi spiritual ini. Hasil systematic review mengenai burnout dan spiritualitas pada tenaga kesehatan menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas yang tinggi berkorelasi positif dengan penurunan tingkat stres dan burnout pada perawat (Denke et al., 2026). Selain itu, riset metaanalisis oleh Wang et al. (2024) terhadap 17.786 perawat mengungkapkan bahwa kompetensi spiritualitas dan spiritual care merupakan elemen kunci yang harus ditingkatkan secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan keperawatan. Lebih lanjut, De Diego-Cordero et al. (2022) membuktikan bahwa intervensi spiritual yang terintegrasi dalam asuhan keperawatan efektif meningkatkan kesehatan mental dan ketahanan psikologis perawat.

    Secara analitis, ketakwaan memfasilitasi ketenangan psikologis perawat melalui tiga mekanisme utama. Pertama, ketakwaan memberikan meaning in work, di mana perawat memaknai pekerjaannya bukan sekadar rutinitas pencarian nafkah, melainkan sebagai amanah profetik dan bentuk pengabdian kepada Kemanusiaan. Kedua, ketakwaan melatih kendali emosi (self-regulation) sehingga perawat mampu mengelola dorongan panik dan tetap berpikir sistematis sesuai prosedur keperawatan. Ketiga, ketakwaan mengajarkan konsep tawakal—yakni bersungguh-sungguh melakukan tindakan medis terbaik lalu menyerahkan keputusan akhir kepada Allah SWT. Tawakal mencegah perawat dari rasa bersalah yang berlebihan (secondary traumatic stress) ketika hasil medis tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Namun demikian, ketakwaan tidak boleh diartikan sebagai sikap pasif atau sekadar kepasrahan tanpa ikhtiar klinis. Prinsip keislaman justru mewajibkan perawat untuk memiliki kompetensi yang tinggi, menguasai ilmu keperawatan gawat darurat, dan mematuhi Standard Operating Procedure (SOP). Dalam praktik profesi, implementasi ketakwaan diwujudkan melalui langkah-langkah konkret: meluruskan niat dan berdoa sebelum memulai tugas shift, melakukan pengaturan napas disertai zikir saat kepanikan melanda, berkomunikasi secara empati dan santun kepada keluarga pasien, serta memfasilitasi kebutuhan bimbingan rohani pasien. Di sisi lain, manajemen rumah sakit juga berkewajiban menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, memberikan beban kerja yang proporsional, serta menyediakan fasilitas ibadah dan waktu istirahat yang cukup agar kesehatan spiritual dan mental perawat tetap terjaga secara seimbang.

    Penutup

    Ketakwaan kepada Allah SWT memegang peranan krusial sebagai sumber ketenangan psikologis bagi perawat dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan medis. Integrasi antara nilai-nilai al-Qur’an (QS. Ar-Ra’d: 28), hadis Nabi, pemikiran Imam Al-Ghazali, dan bukti ilmiah keperawatan membuktikan bahwa ketakwaan mampu membentuk pribadi perawat yang tenang, sabar, ikhlas, dan tangguh di bawah tekanan. Ketenangan spiritual ini harus senantiasa berjalan seiring dengan kompetensi klinis, profesionalisme, dan penerapan standar keselamatan pasien. Oleh karena itu, disarankan bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan untuk mengintegrasikan pelatihan spiritual self-care dan manajemen stres berbasis nilai keagamaan ke dalam program pengembangan staf keperawatan secara berkesinambungan.

    Daftar Pustaka

    Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya ‘Ulumuddin. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. https://archive.org/details/ihya-ulumuddin-al-ghazali

    Al-Qur’anul Karim. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya (Edisi Penyempurnaan 2019). Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/

    Ausar, K., Lekhak, N., & Candela, L. (2021). Nurse spiritual self-care: A scoping review. Nursing Outlook, 69(4), 660–671. https://doi.org/10.1016/j.outlook.2021.01.014

    de Diego-Cordero, R., Suárez-Reina, P., Badanta, B., Lucchetti, G., & Vega-Escaño, J. (2022). The efficacy of religious and spiritual interventions in nursing care to promote mental, physical and spiritual health: A systematic review and meta-analysis. Applied Nursing Research, 67, 151618. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2022.151618

    Denke, L., Atem, F. D., & Rubin, M. A. (2026). Can spirituality help burnout in nurses? A correlational study. Journal of Christian Nursing, 43(3), 166–173. https://doi.org/10.1097/CNJ.0000000000001188

    Muslim, I. H. (2006). Shahih Muslim. Dar Thaikib. https://archive.org/details/syarh-shahih-muslim-an-nawawi

    Wang, W., Yang, J., Bai, D., Lu, X., Gong, X., Cai, M., Hou, C., & Gao, J. (2024). Nurses’ perceptions and competencies about spirituality and spiritual care: A systematic review and meta-analysis. Nurse Education Today, 132, 106006. https://doi.org/10.1016/j.nedt.2023.106006

    Kontributor: Widy Amelya Maylanie

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.

    Share to

    Related News

    Maqashid Syariah sebagai Akar Filosofis ...

    by Keyla Calli Genia • Nov 02 2026

    PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. HAM ...

    Narrative Medicine dan Integritas Seni d...

    by Ayla Azzura • Nov 02 2026

    Pendahuluan Perkembangan dunia kesehatan dewasa ini yang didominasi oleh teknologi medis yang semaki...

    Transformasi Digital Pelayanan Gizi dala...

    by Fathahila Nailhan • Nov 02 2026

    1. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang ke...

    Konsep Ulul Albab sebagai Profil Ideal P...

    by Moses Beladio Sihombing • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberik...

    Tiga Tingkatan Nafsu dalam Perspektif Ib...

    by Aliya Rahadatul Aisyi • Nov 01 2026

    PENDAHULUAN Profesi keperawatan merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kematan...

    Politik Sebagai Sarana Mewujudkan Kemasl...

    by Tata Rina Sigita • Oct 31 2026

    Pendahuluan Politik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui po...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Etos Kerja Transenden: Menghidupkan Kembali Kon...

    1. PENDAHULUAN Abad ke-21 membawa perubahan masif dalam lanskap ketenagakerjaan global, yang didorong oleh digitalisasi dan tuntutan produktivit...

    31 May 2026

    Evaluasi Efektivitas Kebijakan Anti Korupsi Pad...

    1. PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor kesehatan merupakan salah satu sektor vital yang berperan penting dalam menjamin kesejahteraan masyarakat. ...

    15 Apr 2026

    Sikap Toleransi dan Menghargai Perbedaan dalam ...

    1. PENDAHULUAN Lingkungan akademik adalah tempat belajar di mana banyak orang berkumpul, mereka berasal dari latar belakang yang beragam, sepert...

    21 Apr 2026

    HIDUP BUKAN CUMA SOAL FEEDS

    Menemukan Makna Hidup di Era yang Serba Cepat 1. PENDAHULUAN Begitulah ritme hidup banyak anak muda hari ini. Di tengah notifikasi yang tak pern...

    Dualitas Fungsi Abdullah dan Khalifah SebagaiKe...

    I. PENDAHULUAN Gizi merupakan bidang kesehatan yang berperan penting dalam mempertahankan kesehatan, mencegah penyakit, dan meningkatkan kualita...

    28 Aug 2026
    back to top