Widy Amelya Maylanie • Sep 05 2026 • 37 Dilihat

Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan terdepan yang berinteraksi secara intensif dengan pasien dalam berbagai kondisi klinis. Salah satu situasi pelayanan keperawatan yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan emosional tingkat tinggi adalah saat berhadapan dengan kegawatdaruratan medis. Dalam kondisi kritis, perawat dituntut untuk bertindak secara cepat, tepat, dan cermat karena kondisi keselamatan jiwa pasien dapat berubah secara drastis dalam hitungan detik. Selain penguasaan keterampilan teknis klinis dan keahlian resusitasi, seorang perawat juga wajib memiliki kemampuan regulasi emosi agar tetap tenang, fokus, dan tidak panik di bawah tekanan tinggi. Di lapangan, keadaan darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun Intensive Care Unit (ICU) kerap memicu tekanan emosional, kecemasan, kelelahan fisik, hingga potensi kecemasan akut, terlebih saat perawat harus berhadapan dengan kepanikan keluarga pasien. Jika tekanan psikologis tersebut tidak dikelola dengan baik, konsentrasi, ketelitian, dan kualitas asuhan keperawatan dapat terganggu secara signifikan.
Dalam perspektif keperawatan holistik, dimensi spiritualitas dan ketakwaan kepada Allah SWT memegang peranan yang sangat vital dalam membentengi batin tenaga kesehatan. Ketakwaan menghadirkan ketenangan batin (sakinah) karena seorang perawat yang beriman memiliki keyakinan mendalam bahwa setiap ikhtiar medis yang dilakukan secara sungguh-sungguh merupakan bentuk penyempurnaan amanah dan nilai ibadah kepada Allah SWT. Dengan landasan tauhid dan ketakwaan ini, perawat dapat mencurahkan segenap kemampuan profesionalnya secara optimal tanpa terjebak dalam rasa cemas yang berlebihan terhadap hasil akhir yang berada di luar batas kendali manusia. Pembahasan mengenai ketakwaan sebagai sumber ketenangan psikologis perawat ini sangat penting untuk dikaji secara mendalam. Berdasarkan latar belakang tersebut, esai ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi ketakwaan—yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis Nabi, pemikiran ulama, dan bukti riset ilmiah keperawatan modern—dapat ditransformasikan menjadi fondasi ketenangan psikologis serta profesionalisme perawat saat menangani kegawatdaruratan medis.
Secara konseptual, ketakwaan merupakan manifestasi kesadaran seorang Muslim untuk menjalankan seluruh perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, serta menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman etis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ranah profesi keperawatan, ketakwaan berkaitan erat dengan konsep spiritual self-care dan keperawatan holistik yang memandang manusia secara utuh meliputi aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Asuhan keperawatan yang berorientasi pada nilai spiritual tidak hanya ditujukan kepada pasien, melainkan juga menjadi sarana perlindungan mental bagi diri perawat itu sendiri (nurse spiritual self-care). Ausar et al. (2021) menyatakan bahwa praktik spiritual self-care dalam literatur keperawatan terbukti menjadi strategi penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis dan membantu perawat mengelola stres kerja di lingkungan yang bertekanan tinggi. Situasi kegawatdaruratan menuntut pengambilan keputusan klinis secara cepat. Jika perawat dikuasai kepanikan, kemampuan berpikir kritis dan komunikasi terapeutik akan terganggu. Di sinilah ketakwaan berperan sebagai jangkar emosional yang memberikan kestabilan jiwa.
Landasan utama mengenai pentingnya mengingat Allah SWT sebagai sumber ketenangan batin tertuang secara eksplisit dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Alladhīna āmanū wa taṭma’innu qulūbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb.
Terjemahannya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Ayat ini menegaskan bahwa mengingat Allah (dzikrullah) merupakan penawar utama bagi gejolak kecemasan. Dalam praktik kegawatdaruratan, perawat dapat menerapkan nilai ayat ini dengan memanjatkan doa singkat atau berzikir dalam hati saat menghadapi situasi kritis, tanpa mengurangi kecepatan dan ketepatan tindakan medis yang harus dilakukan. Ketenangan spiritual ini diperkuat oleh petunjuk Rasulullah SAW mengenai kedudukan ujian dan kelelahan seorang mukmin. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Mā yuṣībul-muslima min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammin wa lā ḥazanin wa lā ażan wa lā ghammin ḥattāsy-syaukati yusyākuhā illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāh.
Terjemahannya:
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kedukaan, bahkan kecemasan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab situasi tersebut.” (HR. Muslim no. 2573, shahih).
Hadis ini memberikan motivasi spiritual yang mendalam bagi perawat. Rasa lelah, ketegangan, dan tekanan mental yang dialami saat berjuang menyelamatkan nyawa pasien di ruang gawat darurat tidak akan sia-sia, melainkan bernilai pahala dan penggugur dosa apabila dihadapi dengan sikap sabar dan ikhlas. Dalam tradisi pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali dalam karya monumental Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ketenangan jiwa (thuma’ninah) hanya dapat dicapai melalui penyucian hati (tazkiyatun nafs) dan pendekatan diri kepada Allah. Hati yang bersih dari sifat tergesa-gesa dan dikuatkan oleh kepasrahan kepada-Nya akan melahirkan keteguhan sikap dalam menghadapi situasi sulit.
Kajian ilmiah keperawatan modern memperkuat bukti pentingnya dimensi spiritual ini. Hasil systematic review mengenai burnout dan spiritualitas pada tenaga kesehatan menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas yang tinggi berkorelasi positif dengan penurunan tingkat stres dan burnout pada perawat (Denke et al., 2026). Selain itu, riset metaanalisis oleh Wang et al. (2024) terhadap 17.786 perawat mengungkapkan bahwa kompetensi spiritualitas dan spiritual care merupakan elemen kunci yang harus ditingkatkan secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan keperawatan. Lebih lanjut, De Diego-Cordero et al. (2022) membuktikan bahwa intervensi spiritual yang terintegrasi dalam asuhan keperawatan efektif meningkatkan kesehatan mental dan ketahanan psikologis perawat.
Secara analitis, ketakwaan memfasilitasi ketenangan psikologis perawat melalui tiga mekanisme utama. Pertama, ketakwaan memberikan meaning in work, di mana perawat memaknai pekerjaannya bukan sekadar rutinitas pencarian nafkah, melainkan sebagai amanah profetik dan bentuk pengabdian kepada Kemanusiaan. Kedua, ketakwaan melatih kendali emosi (self-regulation) sehingga perawat mampu mengelola dorongan panik dan tetap berpikir sistematis sesuai prosedur keperawatan. Ketiga, ketakwaan mengajarkan konsep tawakal—yakni bersungguh-sungguh melakukan tindakan medis terbaik lalu menyerahkan keputusan akhir kepada Allah SWT. Tawakal mencegah perawat dari rasa bersalah yang berlebihan (secondary traumatic stress) ketika hasil medis tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Namun demikian, ketakwaan tidak boleh diartikan sebagai sikap pasif atau sekadar kepasrahan tanpa ikhtiar klinis. Prinsip keislaman justru mewajibkan perawat untuk memiliki kompetensi yang tinggi, menguasai ilmu keperawatan gawat darurat, dan mematuhi Standard Operating Procedure (SOP). Dalam praktik profesi, implementasi ketakwaan diwujudkan melalui langkah-langkah konkret: meluruskan niat dan berdoa sebelum memulai tugas shift, melakukan pengaturan napas disertai zikir saat kepanikan melanda, berkomunikasi secara empati dan santun kepada keluarga pasien, serta memfasilitasi kebutuhan bimbingan rohani pasien. Di sisi lain, manajemen rumah sakit juga berkewajiban menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, memberikan beban kerja yang proporsional, serta menyediakan fasilitas ibadah dan waktu istirahat yang cukup agar kesehatan spiritual dan mental perawat tetap terjaga secara seimbang.
Ketakwaan kepada Allah SWT memegang peranan krusial sebagai sumber ketenangan psikologis bagi perawat dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan medis. Integrasi antara nilai-nilai al-Qur’an (QS. Ar-Ra’d: 28), hadis Nabi, pemikiran Imam Al-Ghazali, dan bukti ilmiah keperawatan membuktikan bahwa ketakwaan mampu membentuk pribadi perawat yang tenang, sabar, ikhlas, dan tangguh di bawah tekanan. Ketenangan spiritual ini harus senantiasa berjalan seiring dengan kompetensi klinis, profesionalisme, dan penerapan standar keselamatan pasien. Oleh karena itu, disarankan bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan untuk mengintegrasikan pelatihan spiritual self-care dan manajemen stres berbasis nilai keagamaan ke dalam program pengembangan staf keperawatan secara berkesinambungan.
Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya ‘Ulumuddin. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. https://archive.org/details/ihya-ulumuddin-al-ghazali
Al-Qur’anul Karim. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya (Edisi Penyempurnaan 2019). Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI. https://quran.kemenag.go.id/
Ausar, K., Lekhak, N., & Candela, L. (2021). Nurse spiritual self-care: A scoping review. Nursing Outlook, 69(4), 660–671. https://doi.org/10.1016/j.outlook.2021.01.014
de Diego-Cordero, R., Suárez-Reina, P., Badanta, B., Lucchetti, G., & Vega-Escaño, J. (2022). The efficacy of religious and spiritual interventions in nursing care to promote mental, physical and spiritual health: A systematic review and meta-analysis. Applied Nursing Research, 67, 151618. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2022.151618
Denke, L., Atem, F. D., & Rubin, M. A. (2026). Can spirituality help burnout in nurses? A correlational study. Journal of Christian Nursing, 43(3), 166–173. https://doi.org/10.1097/CNJ.0000000000001188
Muslim, I. H. (2006). Shahih Muslim. Dar Thaikib. https://archive.org/details/syarh-shahih-muslim-an-nawawi
Wang, W., Yang, J., Bai, D., Lu, X., Gong, X., Cai, M., Hou, C., & Gao, J. (2024). Nurses’ perceptions and competencies about spirituality and spiritual care: A systematic review and meta-analysis. Nurse Education Today, 132, 106006. https://doi.org/10.1016/j.nedt.2023.106006
Kontributor: Widy Amelya Maylanie
Editor: M. Jamaluddin Afghoni, M.Pd.
I. Pendahuluan Profesi bidan merupakan salah satu profesi kesehatan dengan tingkat tekanan kerja yan...
PENDAHULUAN Kebidanan adalah salah satu profesi yang berhadapan langsung dengan peristiwa paling men...
I. Pendahuluan Pelayanan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan keberhasilan tindakan klinis, teta...
Pendahuluan Di era modern, profesi kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan ma...
I. Pendahuluan Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang melibatkan berbagai te...
I. Pendahuluan Dunia pelayanan gizi, baik di rumah sakit, puskesmas, industri katering, maupun insti...

1. PENDAHULUAN Dunia terus berubah dengan akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi industri 4.0, digitalisasi masif, dan global...

Sinergi Zakat dan Pajak untuk Kesejahteraan Bersama 1. PENDAHULUAN Indonesia hingga kini masih bergumul dengan masalah ketimpangan sosial-ekonom...

PENDAHULUAN Hubungan antara akal dan wahyu merupakan salah satu warisan penting dalam sejarah intelektual Islam yang menegaskan adanya keselaras...

PENDAHULUAN Bidan adalah seorang Perempuan yang telah lulus Pendidikan kebidanan yang diakui pemerintah serta memenuhi kualifikasi untuk didafta...

1. PENDAHULUAN Indonesia memiliki banyak sekali lulusan mahasiswa berkompeten. Namun di balik angka yang membanggakan itu, muncul fenomena yang ...

No comments yet.