Breaking News
Categories
  • Akademik
  • Berita
  • Esai Ilmiah
  • Esai Umum
  • Feature
  • Jurnalistik
  • Kajian Ilmiah
  • Kajian Islam
  • Keislaman
  • Keislaman Populer
  • Literasi & Budaya
  • Opini Ilmiah
  • Opini Umum
  • Populer
  • Refleksi Islam
  • Refleksi Umum
  • Resensi Buku
  • Resensi Film
  • Sastra
  • Uncategorized
  • Wawancara
  • Kecerdasan Buatan dan Etika Keilahian: Tantangan Profesionalisme Teknik Elektro Menuju Society 5.0

    May 23 2026254 Dilihat

    1.  PENDAHULUAN

    Dunia teknik elektro saat ini sedang mengalami pergeseran yang sangat besar. Kita tidak lagi sekadar bicara soal otomatisasi mesin atau efisiensi produksi seperti di era Industri 4.0. Perlahan tapi pasti, kita mulai melangkah ke era Society 5.0, sebuah fase di mana teknologi diciptakan untuk kembali berpusat pada manusia. Berbagai inovasi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things, dan smart grid kini tidak hanya dituntut untuk mencetak profit atau mempercepat kerja industri. Lebih dari itu, sistem kelistrikan modern memikul beban yang jauh lebih berat: bagaimana infrastruktur bisa terus maju, tetapi lingkungan tetap lestari dan kesejahteraan masyarakat luas ikut terangkat.

    Sayangnya, realita di lapangan sering kali tidak seindah teorinya. Transisi ke sistem kelistrikan yang serba cerdas ini justru membuka celah masalah baru, terutama yang menyinggung soal etika. Teknologi pada dasarnya ibarat pisau bermata dua; ia tidak pernah netral secara moral. Bayangkan saja, demi mengejar target efisiensi atau menekan anggaran proyek, masih sering kita temui praktik pengurangan spesifikasi material, manipulasi data teknis, hingga pengabaian standar keselamatan. Padahal, saat sebuah jaringan listrik vital sudah dikendalikan oleh algoritma digital, satu kelalaian kecil dari insinyurnya bukan lagi sekadar “error teknis”. Itu adalah ancaman nyata yang bisa membahayakan nyawa banyak orang.

    Berangkat dari kegelisahan inilah, rasanya modernisasi sistem kelistrikan mutlak membutuhkan fondasi moral yang kokoh. Pintar merangkai sirkuit atau jago menghitung kalkulasi daya saja ternyata tidak cukup. Memasukkan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, sikap amanah, dan rasa tanggung jawab ke dalam profesi Teknik Elektro bukan lagi sekadar tempelan moralitas, melainkan sebuah keharusan. Kita sangat membutuhkan insinyur yang tidak cuma cerdas secara teknis, tetapi juga punya integritas. Kajian ini menjadi sangat penting agar kecanggihan teknologi yang kita kembangkan benar-benar membawa kebaikan bagi peradaban, bukan malah menjadi bumerang yang menghancurkan kemanusiaan.

    2.  TESIS

    Menyikapi tantangan tersebut, posisi saya dalam tulisan ini sangat tegas: kecerdasan intelektual dan kepiawaian teknis dalam merangkai sistem kelistrikan tidak akan pernah cukup untuk memandu kita di era Society 5.0. Profesionalisme calon insinyur dan praktisi Teknik Elektro mutlak harus dikawinkan dengan nilai-nilai keislaman terutama prinsip amanah, kejujuran (shidiq), dan orientasi pada pencegahan kerusakan (maslahah). Ketiga pilar ini tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai teori hafalan di kelas agama, melainkan harus menjadi fondasi utama yang bertindak sebagai kendali etis di lapangan kerja. Tanpa integrasi nilai-nilai ini, kecerdasan buatan dan lompatan teknologi hanya akan melahirkan insinyur bermental robot yang buta akan keselamatan publik, integritas, dan pertanggungjawabannya kepada Sang Pencipta.

    3.  ARGUMEN ILMIAH

    3.1  Sikap Amanah di Balik Ketelitian Teknis

    Di era Society 5.0, kolaborasi antara manusia dan sistem cerdas menuntut tanggung jawab yang jauh lebih intim. Menjadi seorang insinyur elektro bukan sekadar soal lulus ujian, menyelesaikan tugas, atau mengejar sertifikasi profesi semata. Lebih dari itu, setiap rumus yang kita hitung punya dampak nyata pada keselamatan publik. Sebagai contoh, saat kita harus memecahkan persamaan diferensial untuk sistem kendali otomatis, atau menghitung kalkulasi fungsi waktu dari transformasi Laplace seperti 1/8 t2 e3t, ketelitian adalah harga mati. Begitu pula saat menentukan parameter sirkuit daya dengan tetap mempertahankan penggunaan simbol j untuk bilangan imajiner secara presisi demi menghindari kesalahan pembacaan fase. Di sinilah konsep amanah dalam Islam menemukan bentuk konkretnya. Ketika kita malas memeriksa ulang simulasi rangkaian misalnya saat melakukan pengujian sirkuit atau asal-asalan dalam menghitung kapasitas proteksi arus demi mempercepat pekerjaan, kita sebenarnya sedang menggadaikan keselamatan orang banyak demi kenyamanan pribadi. Islam memandang ketelitian teknis ini bukan cuma standar operasional baku, melainkan sebuah tanggung jawab spiritual langsung kepada Sang Pencipta.

    3.2  Menjaga Keseimbangan Alam Melalui Prinsip Maslahah

    Pilar utama Society 5.0 tidak hanya berhenti pada kemudahan hidup manusia, melainkan juga menekankan pentingnya keberlanjutan ekologis (sustainability). Transisi menuju energi terbarukan, perancangan smart grid, hingga pengelolaan limbah elektronik menuntut sudut pandang yang tidak serakah. Di titik inilah nilai maslahah yaitu dorongan untuk membawa manfaat dan mencegah kerusakan menjadi kompas yang sangat krusial. Islam menempatkan manusia di bumi sebagai khalifah yang ditugaskan untuk merawat, bukan mengeksploitasi alam demi keuntungan korporasi semata. Seorang profesional teknik elektro yang menjiwai nilai ini tidak akan sudi merancang sistem yang merusak lingkungan atau membiarkan proyek ketenagalistrikan mengabaikan dampak ekologis di sekitarnya. Inovasi teknologi justru harus diarahkan untuk menyembuhkan bumi, memastikan pasokan energi bersih yang berkeadilan, dan menjaga harmoni kehidupan.

    3.3  Perisai Integritas (Shidiq) di Hadapan Kendali Kecerdasan Buatan

    Ketika kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil alih pengambilan keputusan dalam jaringan listrik modern, muncul sebuah pertanyaan besar: siapa yang mengontrol moralitas si mesin? AI bisa sangat pintar menghitung efisiensi, tetapi ia tidak punya hati nurani untuk membedakan mana tindakan yang adil dan mana yang eksploitatif. Di sinilah integritas manusia diuji, dan Islam menjawabnya dengan prinsip shidiq atau kejujuran universal. Tekanan industri modern sering kali menggoda kita untuk mengambil jalan pintas demi mengejar profit. Manipulasi data hasil pengujian sistem grounding, menyembunyikan cacat desain algoritma kelistrikan dari klien, atau menurunkan spesifikasi kabel tembaga demi memotong anggaran adalah bentuk nyata dari krisis moral. Tanpa kejujuran internal yang kokoh dari insinyurnya, kecanggihan sistem digital di era Society 5.0 justru akan menjadi senjata makan tuan yang sewaktu-waktu bisa runtuh dan merugikan hajat hidup orang banyak.

    4.  IMPLIKASI

    Lalu, apa dampak nyatanya jika kita benar-benar menghidupkan nilai-nilai keilahian ini? Di sinilah implikasinya terasa sangat kuat, terutama bagi kita yang berada di lingkungan pendidikan tinggi vokasi atau politeknik. Membangun karakter seorang profesional sejati tidak bisa dilakukan secara instan hanya dalam semalam sebelum wisuda; mentalitas ini harus ditempa sejak hari pertama kita duduk di bangku kuliah. Praktiknya sebenarnya sangat sederhana. Misalnya, saat kita dihadapkan pada tugas merancang simulasi sirkuit penguat sinyal, kita memilih untuk mengerjakan setiap perhitungannya dengan jujur. Kita membiasakan diri untuk taat dan runut pada langkah-langkah analitis yang diajarkan oleh dosen kita, tanpa tergoda untuk sekadar menyalin hasil kerja teman. Kebiasaan-kebiasaan kecil namun konsisten inilah yang nantinya akan mengkristal menjadi prinsip ihsan yakni sebuah komitmen pantang menyerah untuk selalu memberikan hasil kerja dengan standar kualitas paling tinggi.

    Jika budaya moral yang kuat ini berhasil kita bawa ke dunia kerja sesungguhnya, dampaknya terhadap industri ketenagalistrikan akan sangat luar biasa. Insinyur atau praktisi yang memegang teguh integritas tidak akan mudah disetir oleh tekanan proyek yang meminta “jalan pintas”. Transparansi dalam bekerja akan secara drastis menekan angka kecelakaan fatal akibat kegagalan instalasi, dan pada gilirannya, masyarakat luas akan menaruh kepercayaan penuh pada infrastruktur publik yang kita rancang.

    5.  PENUTUP

    Pada akhirnya, pergerakan kita menuju Society 5.0 menitipkan sebuah pesan yang sangat mendalam: secanggih apa pun kecerdasan buatan, sistem digitalisasi energi, maupun algoritma jaringan kelistrikan yang berhasil kita ciptakan, teknologi tersebut tetap tunduk pada kualitas etika sang pembuatnya. Menguasai ilmu teknik elektro tentu menjadi kebanggaan intelektual, namun menyematkan nilai-nilai keislaman di dalam setiap penerapannya adalah sebuah kemutlakan. Institusi pendidikan vokasi dan dunia industri tidak boleh lagi menganggap etika profesi sekadar sisipan teori; keduanya harus dilebur menjadi satu kesatuan. Mari kita wujudkan generasi insinyur yang sadar betul bahwa setiap tarikan kabel, setiap perhitungan beban arus, dan setiap sistem kontrol yang dibangun bukan sekadar deretan angka untuk memuaskan atasan, melainkan sebuah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Sang Pencipta.

    Kontributor: M. Izaky Eka Putra

    Editor: M. Jamaluddin Afghoni

    Share to

    Written by

    Mahasiswa Prodi Teknik Elektro Politeknik Negeri Sriwijaya

    Related News

    Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan Sebagai...

    by M. Fariz Al Farezi Jun 17 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang menempatkan aspek ketuhanan (ilahiyah) ...

    AGAMA DAN KEWARGANEGARAAN

    by Achmad Arzaqi Jun 16 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Agama dan kewarganegaraan merupakan dua aspek penting yang membent...

    Toleransi Beragama dalam Masyarakat Mult...

    by M. Miftahul Huda Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama....

    KONSEP KETUHANAN DAN KEIMANAN

    by M. Hafiidh Ghoniyy Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuhanan dan keimanan merupakan konsep fundamental dalam ajaran I...

    Mengindonesiakan Islam: Menyelaraskan Ag...

    by Muhammad Davidio Hazel Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Islam hadir di Nusantara bukan sebagai entitas yang berdiri terpisah dari masyarakat ...

    Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (Artificia...

    by Randy Tri Gustira Jun 15 2026

    1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam ...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Jurnal Dedikasi

    Jurnal Madani

    Jurnal Cendekia

    Other News

    Gambaran Kondisi Indonesia Jika Tanpa Korupsi: ...

    1. PENDAHULUAN Korupsi merupakan salah satu masalah struktural paling mendasar yang dihadapi Indonesia sejak era kolonial hingga era reformasi. ...

    26 Apr 2026

    Tata Kelola Kampus Berintegritas : Tata Kelola ...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan yang memegang peranan strategis dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas se...

    13 Apr 2026

    SCROLLING TANPA BATAS, EMPATI YANG TERHEMPAS

    Mengembalikan Nilai Kemanusiaan di Era Gen-Z 1. PENDAHULUAN Generasi Z tumbuh sebagai generasi paling terhubung secara digital dalam sejarah, na...

    04 Jun 2026

    Agama dan Kewarganegaraan: Dua Pilar yang Salin...

    1. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara yang lahir dari pertemuan berbagai suku, budaya, dan agama. Sejak awal berdirinya, para pendiri bangsa su...

    26 May 2026

    Tata Kelola Kampus Berintegritas : Konflik Nila...

    1. PENDAHULUAN Perguruan tinggi sejatinya bukan sekadar lembaga pencetak tenaga ahli, melainkan pusat pembentukan karakter dan nilai-nilai luhu...

    12 Apr 2026
    back to top